Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Love is The Winner


__ADS_3

Aku gemetar mendengar kalimatnya yang entah kenapa sangat menyakitkan. Seharusnya aku tidak perlu merasa terusik dengan kisah masa lalunya. Aku hanya tidak percaya dia menutupi fakta sepenting ini dariku. Dia mencintaiku tapi tidak mau bersikap terbuka, dan itu menyakitiku. Aku ingin dia menerimaku seperti aku menerimanya. Dia bisa saja berbagi denganku agar aku paham bagaimana situasinya, agar aku bisa menahan diri untuk tidak terpancing dengan ucapan siapapun.


"Setelah kehamilan Ashley, aku meminta pamanku membantu agar aku bisa bekerja dan dia bersedia. Aku kembali ke indonesia dan berjanji pada keluarga Ashley bahwa aku akan kembali untuk menjemputnya setelah keadaan finansialku cukup untuk menopang kehidupan kami. Beberapa minggu pertama, semuanya berjalan lancar. Kami masih berkabar dan dia juga masih menceritakan tentang kehamilanya." Suaranya kini bergetar. Dia sedang berusaha menahan tangis yang mungkin akan meledak jika aku tidak menghentikannya.


Aku ingin bergerak, lalu memeluknya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku masih ingin mendengarnya berbicara lebih lama. Akhirnya aku hanya diam sambil menggigit bibirku sendiri sementara dia melanjutkan ucapannya.


"Setelah beberapa waktu, Ashley berhenti mengabariku. Hanya Fairley, kakak perempuannya yang selalu memberitahuku perkembangan kehamilan Ashley sampai dia melahirkan." Sean terisak. Jantungku berdebar keras saat mendengarnya, mendadak aku ingin sekali memandang wajahnya.


"Di hari dia melahirkan, seharusnya itu adalah momen paling membahagiakan dalam hidupku karena aku akan menjadi seorang ayah. Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Karena beberapa jam setelahnya, anak kami dinyatakan meninggal akibat kebodohan Ashley. Dia mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar, alasannya adalah dia frustasi karena mengira aku akan meninggalkannya, padahal dia sendiri tahu aku sedang berjuang untuk membuat hidupnya dan anak kami nyaman."


"Kemudian, saat itu aku merasa semua orang pergi dan aku sendirian. Lalu kutemukan keadaanku menjadi lebih buruk dari saat aku kehilangan mommy,"


Sekarang aku tak bisa menahan diri untuk beringsut duduk, menyingkirkan rambut dari wajahku, menyelipkan dengan gusar ke belakang telinga lalu memutar diriku menghadapnya. Dia memandangku, sebuah senyum getir melintas di bibirnya saat melihatku. Dan aku melihat kelegaan terpancar dari sorot matanya.


Lalu dia kembali melanjutkan. "Ada kalanya, semua menjadi tak tertahankan, orang-orang sekitarku juga tidak membantu. Yah, mereka memang tidak bisa." Dia mengedikkan bahunya sambil bersandar ke belakang. "Saat itu terjadi, biasanya aku akan mengambil waktu berada di suatu tempat, mencoba mengatasinya sendiri. dan aku memutuskan kembali ke Indonesia beberapa hari setelah Ashley melahirkan."


"Dulu, aku sering pergi ke gedung gymnasium kampus. Tempat itu sunyi, jadi takkan ada yang tahu jika aku mematahkan satu atau dua peralatan olahraga dengan sengaja." Dia tersenyum, pandangannya menerawang. "Tapi sore itu bukan ring bola atau matras yang ingin kupukul. Aku ingin menyakiti diriku sendiri, berpikir itu mungkin bisa membantu menyingkirkan kenangan yang menghantuiku dan membuatku merasa lebih baik."


Sean berhenti sejenak, menarik napas berat. Pandangannya kembali padaku, lalu dia tersenyum lemah. Aku tanpa sadar beringsut mendekat ke arahnya selagi dia berbicara kembali. Hatiku berdebar lebih kencang saat kusadari kemana arah pembicaraannya.


"Tepat saat itu aku mendengar suara, sebuah nyanyian lebih tepatnya. Berasal dari ruang kesenian yang ada di belakang gudang peralatan. Jadi, aku pergi kesana. Saat itulah aku melihat seorang gadis, yang sudah kukagumi sejak pertama kali aku melihatnya. Aku tidak tahu lagu apa yang dinyanyikannya, tapi itu benar-benar menawanku, seolah aku bisa merasakan jiwanya berbicara padaku."


"Sejak hari itu, aku menjadi lebih sering pergi kesana, melihat dia menyanyi, kadang dengan gitar, dan aku selalu menyaksikannya. Suaranya mengalihkanku dari pikiran-pikiran buruk, dan aku mulai terbiasa dengannya. Rasanya seperti aku punya penyanyi pribadi, karena aku satu-satunya orang yang melihatnya." Matanya berbinar melihatku.


"Love of my life," Aku mendengar diriku sendiri berkata.

__ADS_1


Sean tersenyum padaku. "Benar, aku baru tahu lama setelahnya kalau itu judul lagunya. Bagaimanapun, lagu lama bukan kegemaranku."


Aku menelan ludah dengan susah payah sebelum berbicara. "Jadi, kau seorang penguntit?"


Dia tertawa. "Tidak, Franda. Aku yang lebih dulu berada disana." ujarnya geli.


"Well, kalau begitu seharusnya kau menunjukkan dirimu padaku. Kalau saat itu aku tahu kau menjadikan gymnasium sebagai ruang pribadimu, aku takkan pernah lagi kesana."


Sean memberiku tatapan yang membuat napasku terhenti sebelum dia berbicara pelan. "Itulah sebabnya aku tidak memberitahumu," Dia beranjak dari kursi, lalu perlahan melangkah menghampiriku, kemudian duduk di tepi ranjang tepat di hadapanku.


Sean mengulurkan tangan lalu mengusap sisi wajahku sambil memandangi jejak air mata yang kupikir membuat rupaku tampak seperti zombie sekarang. Saat aku berusaha menarik diri, dia menahanku dengan kedua tangannya masing-masing menangkup wajahku. "Dengar... kau bukan proyek amal, Franda. Kau penyelamatku. Aku memang sering bertindak bodoh dan mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya saat aku sedang marah,"


"Tidak, a-aku... bereaksi berlebihan." ujarku lirih.


Dia menggeleng tegas, matanya memancarkan keteguhan. "Kau tidak begitu, dan sudah sepantasnya kau marah. Aku sangat menyesal, Franda. Tapi aku akan memperbaiki semuanya untukmu, tetaplah disampingku dan biarkan aku menjagamu."


Kami berpelukan untuk beberapa saat lamanya. Aku merasa lebih tenang setelah mendengar semua penjelasan Sean tentang Ashley, namun itu bukan berarti tidak ada masalah yang akan menerjang kami kedepannya. Wanita-wanita seperti Ashley atau Carla, yang sudah kuatasi saat ini, akan melahirkan bibit baru dengan cerita yang beragam. Entah aku akan bereaksi seperti apa nanti ketika berhadapan dengan mereka lagi, tapi setidaknya aku yakin bahwa Sean akan memenangkanku kembali.


Aku tersentak saat teringat sesuatu yang sempat menggangguku ketika aku berbicara dengan Ashley. Dengan cepat aku menarik tubuhku menjauh dari Sean dan menarik kepalanya sampai berada di depan dadaku.


"Hei, apa yang kau lakukan?" gumamnya protes dengan gerakanku yang tiba-tiba.


Aku mendengus kesal. "Diamlah, aku perlu memastikan sesuatu." Aku menyusuri rambutnya dengan jemariku sambil mengamati apakah ada tato yang di maksud oleh Ashley.


Seketika mataku melotot, tak percaya bahwa wanita itu mengatakan yang sebenarnya. Di bagian kepala di belakang telinganya yang tertutup rambut, terdapat tulisan 'Ashley Glams' dengan font lote santos atau kalista, dan tintanya agak pudar namun masih bisa dibaca.

__ADS_1


Detik itu juga aku mendorong kepalanya dengan kasar, lalu memandanginya dengan tatapan tajam. "Kenapa tidak sekalian membuat tato namanya di jidatmu?" kataku sinis.


Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, dia justru tertawa. "Jadi, kau terusik dengan ini?" ucapnya tenang, seakan tato itu tidak ada arti baginya. Mungkin memang begitu, tapi tetap saja itu mengusikku. Bagaimana bisa dia meniduriku sementara dikepalanya jelas tertulis nama wanita lain?


"Aku tidak mau melihat itu lagi besok pagi." Aku menusuknya dengan mataku.


"Franda, menghilangkan tato tidak semudah itu. Kemana aku harus mencari tempat menghapus tato selarut ini?"


"Aku tidak mau tahu, itu urusanmu. Terserah apakah kau harus memotong kepalamu atau apa, yang jelas tato itu harus sudah hilang saat aku membuka mata besok. Atau kau akan terima akibatnya."


Aku beranjak turun dari ranjang, lalu melangkah cepat menuju kamar mandi. Aku butuh melakukan sesuatu untuk menghilangkan kekesalanku padanya, dan berendam adalah jawabannya.


"Baiklah, kabari aku lagi jika kau mendengar kabar dari Dave." kata Sean, lalu memutus panggilan teleponnya ketika aku keluar dari kamar mandi.


Aku berderap ke arah sofa sambil memandanginya. Garis kemarahan sangat nampak tersirat di wajahnya. Rahangnya mengeras, namun segera berubah ketika dia beralih menolehku. Seketika dia mendadak lebih tenang.


Aku mengeringkan rambut dengan handuk sambil berbicara, "Ada apa dengan Dave?"


Sean mendengus, menyempatkan diri menarik napas dalam-dalam sebelum menjawabku. "Dia melakukan penggelapan dana perusahaan." gumamnya seraya menarikku duduk di sebelahnya.


Aku belum tahu sebesar apa masalah yang tengah di hadapinya, tapi pasti cukup besar karena dia terlihat sangat putus asa. Sean memelukku, membenamkan wajahnya di dadaku seakan dia anak kecil yang sedang merengek pada ibunya. Aku ingin bertanya lagi, namun dia segera menghentikanku.


"Aku akan menjelaskan masalah ini padamu besok. Sekarang, aku sedang membutuhkan pelukanmu untuk menghadapi semuanya."


Aku spontan melempar handuk ke ujung sofa lalu memeluknya erat. "Semuanya akan baik-baik saja." gumamku, terdengar tidak yakin dengan kalimatku sendiri, tapi hanya itu yang bisa kukatakan untuk membuatnya merasa lebih baik.

__ADS_1


Sean mengangguk di dadaku. "Aku berharap begitu."


__ADS_2