Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Kidnapped


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Tadi malam, Franda mengirimiku pesan singkat yang dibubuhi begitu banyak antusiasme dan keceriaan sampai aku dapat merasakannya memancar dari ponselku.


..."Malam ini aku dan para cewek akan bersenang-senang....


...Cepat selesaikan urusanmu, dan kita akan bersenang-senang lagi."...


Aku begitu senang saat menerima pesan itu darinya sampai-sampai aku berulang kali membacanya. Franda, wanita itu benar-benar ajaib. Entah dengan cara apa lagi aku harus menjelaskan pada dunia betapa kehadirannya sangat berpengaruh pada hidupku. Sepanjang malam aku membayangkannya, mengingat kembali kisah perjalanan kami yang unik, dan mengantarkanku pada waktu aku meminta saran Mr. Clevert dua tahun lalu.


Queensland, dua tahun yang lalu.


Jam enam pagi itu, dia mengajakku bertemu di Pasar Kaget Secret Treasure untuk mencari beberapa barang antik yang mungkin bisa memberinya semacam jackpot.


Bagi kebanyakan orang, pergi ke pasar kaget yang kebanyakan stannya berupa bagasi mobil itu menjadi kegiatan akhir pekan yang menyenangkan. Bagi Mr. Clevert, kegiatan itu merupakan serangkaian aturan tak tertulis yang rumit, seluruhnya dirancang untuk membawanya ke Cawan Suci, penemuan yang suatu hari nanti akan menghasilkan kekayaan baginya.


Menyaksikan dia beraksi seperti belajar strategi. Sementara para pengunjung biasanya hanya akan melihat seorang laki-laki berusia lima puluhan bercakap-cakap seru dengan pemilik stan, bagi mata terlatih jelas bahwa Mr. Clevert adalah negosiator ulung, dengan lihai menyetir pembicaraan ke arah harga yang pas.


"Semua ini soal kelihaian dan kesabaran, kid." dia menjelaskan, setelah aku melihatnya menawar ornamen tank kecil berhias, menurunkan harganya dari 35 dolar menjadi 15 dolar. "Si cantik ini dibuat oleh salah satu pabrik perlengkapan perang terkenal di Melbourne sebagai contoh untuk para penjual saat Perang Dunia Kedua. Dia menginginkan 35 dolar untuk ini dan aku bisa saja dengan senang hati membayar 40 dolar. Mereka yang mengaku paling tahu banyak soal barang adalah yang tidak tahu apa-apa, mengerti kan? Kalau mereka tidak bilang apa-apa tapi harganya tidak mau beranjak, kemungkinannya mereka benar-benar mengerti."


Kami berjalan ke Frost Dine, van penjual makanan yang tampak kumuh di tengah-tengah lapangan, lalu memesan dua gelas teh panas.


"Jadi, bagaimana menurutmu, Brad?" Aku bertanya pada Mr. Clevert setelah menceritakan tentang gadis yang kukagumi padanya.


"Cinta, mengalahkan kemustahilan, kid." Pasangan yang dipertemukan kembali setelah tiga puluh, empat puluh, bahkan kadang-kadang lima puluh tahun, dan kebetulan-kebetulan itu menakjubkan yang mempersatukan cinta lama kembali. Tidakkah kau mengerti apa artinya ini?"


Harus kuakui, aku tidak mengerti. Walaupun kisah pasangan yang dimaksudnya berakhir indah, apa artinya itu bagi gadis pujaanku dan aku? Aku tidak punya waktu sepanjang dua puluh tahun untuk menunggu reuni. "Maaf, Brad."


"Artinya itu mungkin, kid! Ada begitu banyak orang yang mengikuti suara hati mereka dan percaya dalam mimpi-mimpi yang dianggap bodoh oleh orang lain, dan impian itu terwujud. Nah, aku tidak bilang kau harus menunggu sampai tiga puluh tahun untuk mendapatkan gadismu. Yang kumaksud adalah, kau harus mengambil setiap kesempatan yang ada."


"Bradley Clevert, kau menjanjikanku donat!" seru Mrs. Clevert sambil melintasi lapangan berlumpur dengan kesal ke arah kami. Dia baru berani turun dari mobil setelah langit agak sedikit terang. Dia membawa Presley, tampak keren dalam mantel berbantalan biru pupus, dan tampak lebih dari sekedar bersyukur bisa menjejakkan kaki di dataran padat.


"Dan donat akan kau dapatkan, cintaku. Mau teh juga?"

__ADS_1


Mrs. Clevert melirik ke arah van penjual makanan lalu bergidik. "Sepertinya tidak. Aku tidak keberatan membeli banyak barang dari tempat ini, tapi tidak dengan bakteri listeria." ketusnya, membuat Mr. Clevert dan aku tertawa.


***


Dari situlah tekadku untuk mengejar Franda menjadi semakin kuat. Mr. Clevert benar-benar seorang motivator terbaik bagiku. Aku berani bertaruh dia sudah membantu ratusan orang dalam hal pencarian jodoh. Ah, satu lagi yang menjadi sumber motivasiku untuk mendapatkan Franda, yaitu kata-kata bijak yang kusalin dari meja kalender Dad waktu umurku dua belas tahun: Tiap perjalanan dimulai dari satu langkah.


Getaran ponsel yang ada dalam genggamanku menarik pikiranku kembali. Pemberitahuan baru muncul di layarnya, sederet nomor tanpa nama. Tidak ada alasan bagiku untuk mengacuhkan panggilan ini, tapi aku punya firasat dia akan berusaha menghubungiku selama aku terus menghindarinya. Mungkin kali ini dia akan menyebutkan sesuatu yang berguna berkaitan dengan lokasinya.


"Kau melaporkanku ke polisi?" semburnya begitu aku mengangkat telepon. Suaranya terdengar gusar dan mendesak. "Sudah kubilang, jika mereka menangkapku, aku akan mati sebelum sampai ke penjara."


"Apa yang kau bicarakan?"


Dia menarik napas dalam-dalam. "Tolong, bantu saja aku menemukan Frank. Setelah itu aku akan menyerahkan diri, lalu kita semua bisa kembali ke urusan masing-masing."


"Aku sudah memberitahumu, kau sama sekali tidak mempunyai hak untuk bernegosiasi. Berhentilah merengek dan serahkan saja dirimu, Dave."


"Dengar, kau harus tahu bahwa aku menempuh resiko yang sangat besar dengan menghubungimu seperti ini. Salah satu dari mereka mungkin saja telah melacak panggilan teleponku,"


"Itu bagus." kataku memotong dengan cepat.


Dave menutup sambungan teleponnya tepat sebelum aku sempat bertanya lebih jauh. Kupandangi telepon di tanganku dengan kening berkerut seolah jawabannya akan muncul begitu saja.


"Hei."


Aku mendongakkan kepala dan beradu pandang dengan seorang pemuda berbadan tegap, yang entah dari mana, tengah berjalan mendekat dari seberang jalan menuju arahku. Dia mengenakan jumpsuit berwarna gelap, rambut hitamnya tampak mencuat dari tepian topi snapback-nya. Wajahnya kekanakan, hidungnya bengkok seperti paruh elang, dan sorot matanya seolah tersenyum saat menatapku.


"Kau Sean Danial Warner, bukan?"


Aku menyipitkan mata memandangnya tapi bergeming dengan pertanyaannya.


"Harus kukatakan, aku salah satu penggemarmu, bagaimanapun." Dan kini dia telah sampai di hadapanku. "Melihatmu secara langsung, ini... entahlah." ujarnya ringan.


"Siapa kau?"

__ADS_1


Dia mengangkat bahu seraya menekuk bibir tak acuh. "Seorang teman." sahutnya, dan nadanya terdengar seperti pertanyaan.


"Hei, Rud! Kita bukan datang untuk mengobrol, selesaikan dengan cepat."


Aku mencari asal suara dan melihat seorang pria setengah baya ada di kursi pengemudi sebuah van berwarna hitam dengan jendelanya terbuka yang di parkir di dekat trotoar.


"Dasar, bajingan tua! Selalu saja memerintahku melakukan ini itu." gerutu sang pemuda di depanku. "Aku benci mengakhiri perbincangan ini, tapi..." Dia bergumam sambil menarik sesuatu yang mirip lipatan kain dari saku celananya, menggenggamnya dengan kedua tangan lalu mendongak kembali menatapku. "Kau harus ikut dengan kami."


Seiring perkatannya, kegelapan pekat tiba-tiba saja menyelubungiku dan saat sesuatu yang berbau tajam menyentuh hidungku, aku mulai kehilangan kesadaranku.


Aku mencoba membuka mata, cahaya dimana-mana. Itu berasal dari atas, atau dari samping, atau keduanya. Terasa seperti berada di titik-titik yang menyakitkan, terlebih di kepalaku. Seakan ada awan yang menggantung rendah di atasnya, seperti kabut tipis dari terowongan di pagi hari. Memblokir pikiranku saat berusaha mengingat sesuatu.


Aku menggoyangkan kepalaku dan berusaha mengusir kabutnya, tapi itu tidak mau pergi.


Sekarang terdengar suara-suara, bergema seperti dari dalam terowongan. Aku mengernyit, sangat sulit memusatkan pikiran untuk mendengarnya dengan jelas. Kupejamkan mata kembali, berharap hal ini bisa meredam dengungan di telingaku serta menyingkirkan kabutnya.


"Berapa banyak sebenarnya profol yang kau gunakan? Dasar idiot! Jika sesuatu terjadi padanya..." Suara seorang pria. Berat dan dalam, dengan logat batak yang kental. Lalu suara berirama seperti sol sepatu yang beradu dengan lantai, hilir mudik.


"Hanya empat miligram, lagi pula, kaulah yang menyuruhku bergegas, bos." Kali ini suaranya lebih muda, terdengar gugup. Lalu ada bunyi lain seperti benda-benda yang di geser.


"Kubilang suruh dia masuk ke mobil, bukan membiusnya. Demi Tuhan!"


Membius? Kini mataku membuka tanpa bisa di cegah, bayangan-bayangan samar pada awalnya, seperti tiang-tiang tinggi yang menjulang berwarna gelap. Aku mengerjapkan mata, mengerang pada rasa sakit yang tiba-tiba menekan kepalaku. Kini pandanganku semakin jelas, seterang di bawah sinar matahari.


Aku berada di atas sofa kulit berwarna hitam, di sebuah ruangan yang asing. Dengan dinding kedap suara, seperti yang biasa terlihat di studio rekaman. Beberapa peralatan dengan monitor besar yang tidak kukenali memenuhi sisi ruangan. Kemudian aku melihat empat orang pria, mereka semua sedang mengelilingi sebuah meja logam yang ada di tengah ruangan, dan ada banyak... senjata berserakan di atasnya. Sial!


"Hei, dia sudah sadar." Salah seorang dari mereka yang berpenampilan serba hitam berkata ketika melihatku beringsut duduk. Kini ketiga orang yang lain ikut mengarahkan pandangannya padaku.


Alarm peringatan berbunyi di kepalaku. Aku memikirkan skenario yang buruk dalam benakku saat ini, amat sangat buruk. Sial, seharusnya aku meminta Ameer mengantarku makan malam tadi. Setidaknya, aku mungkin tidak perlu berada dalam situasi seperti ini. Aku berpegangan pada sandaran sofa untuk membantuku berdiri, mencegah diriku terhuyung.


"Hei, bung. Bagaimana kondisimu?" pemuda yang kuingat mendatangiku di jalan sebelumnya, berjalan mendekat ke arahku dengan langkah cepat.


Brengsek!

__ADS_1


"Hei, Rud, tunggu! Kupikir itu bukan ide yang bagus untuk..."


Dia sudah berada di depanku, dan ketika dia hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahuku, kulepaskan tinjuku dengan sekuat tenaga ke wajahnya.


__ADS_2