Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Mia's Problem


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Franda enggan menyapaku sejak kemarin siang kami berdebat masalah psikiater sampai pagi ini kami duduk di ruang tengah sambil menunggu Ibu dan Mia selesai berkemas. Dia menghabiskan waktu bermain dengan Ben karena hari ini Ben, Ibu, Edward, dan Mia harus kembali ke Indonesia dan akan datang lagi kesini minggu depan.


Kami baru saja akan masuk ke dalam mobil saat aku mendengar ponselku berdering di saku celana jins-ku. Tanganku merogoh kocek dan mendapati nama Dave tertera di layar ponsel. Alisku bertaut. Dave belum pernah meneleponku secara langsung selama seminggu aku di Queensland, biasanya dia hanya mengirim pesan atau email. Jika sekarang dia menghubungiku secara langsung, maka sudah di pastikan ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.


Aku menoleh Franda, dia berdiri tepat di samping pintu mobil. Sebelah tangannya sudah menyentuh handle dan aku buru-buru menyerahkan kunci padanya. "Dave menelepon. Aku akan berbicara dengannya sebentar." gumamku. Franda cuek, dia mengambil kunci dariku dan langsung melesak masuk ke dalam mobil.


"Ya, Dave. Ada apa?" Aku bertanya sambil berjalan agak menjauh dari mobil.


"Hei, buddy. Aku tak mendengar apapun darimu sejak kau pergi... kalian baik-baik saja?" Ada sesuatu dalam nada bicaranya.


"Ya, beberapa hal terjadi, tapi semuanya masih aman." sahutku.


Dave terdengar mengembuskan napas. "Syukurlah. Sepertinya kau tidak terganggu dengan berita yang sedang panas disini."


"Apa maksudmu?" tanyaku curiga.


"Ya Tuhan, apa kau belum tahu?" balasnya heran. "Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu acaramu, tapi kupikir kau sudah mengetahuinya."


Beberapa detik kemudian ponselku bergetar, dan aku membuka dengan cepat pesan yang di kirim oleh Dave.


Aku membuka tautan sebuah berita online yang memuat foto Mia bersama dengan seorang pria yang sangat kukenal. Mereka berbicara sangat dekat sambil berpegangan tangan, siapapun yang melihatnya mau tak mau akan berprasangka buruk. Aku mulai membaca judulnya.


...Seorang Walikota Saling Menggoda Dengan Adik Ipar Pemilik Warner Enterprise. Skandal Baru Sang Walikota Yang Menjadi Panutan Masyarakat?...


Keparat!


Aku meletakkan kembali ponsel ditelingaku dan mendengar suara Dave mencoba menenangkanku, tapi aku tak dapat memahami apapun yang sedang dikatakannya.

__ADS_1


"Siapa yang menyebarkan berita bodoh ini? Astaga, kenapa kau baru mengabariku sekarang, sialan!" semburku.


"Maafkan aku, kupikir kau sudah mengetahuinya. Lagi pula, aku tidak memiliki waktu untuk bergosip. Kau sendiri yang memberiku pekerjaan menumpuk dan aku nyaris gila mengurusi perusahaanmu." gerutunya, membela diri.


Aku tahu ucapannya benar. Tetapi, brengsek... artikel ini benar-benar...


"Mungkin Mia harus berdiam diri disana lebih lama, mengabaikannya dan rumornya akan mereda dalam beberapa hari. Seperti biasanya." katanya menyarankan.


Aku mendesah frustasi sambil memejamkan mataku. "Ya, Dave. Kita berdua tahu itu... tapi, Franda tidak."


Kakiku kembali melangkah ke mobil sambil berpikir bagaimana menyampaikan masalah ini pada mereka. Ya Tuhan... kenapa selalu saja ada masalah baru yang datang?


Didalam mobil, aku terdiam beberapa saat sampai aku terkesiap mendengar suara Franda. "Ada apa?" gumamnya lembut, membuatku agak tenang.


Aku menoleh padanya sekilas, lalu melempar pandangan ke belakang, menatap ibu, Mia, dan Ed bergantian. Dan sekarang mataku terpusat pada Mia. "Mia," desahku. "Bisakah kau tinggal disini lebih lama? Kurasa Franda membutuhkan teman sementara menunggu teman-temanku yang lain datang berkunjung." Sial, tidak seharusnya aku menjadikan Franda sebagai alasan. Dia akan mengumpatku habis-habisan setelah ini.


Aku mengernyit. "Untuk sementara aku akan meminta Dave yang mengurus kedaimu, Mia. Tidak akan lama... hanya seminggu." Alisku terangkat kilat, menyiratkan sedikit ancaman dengan mataku. Aku tidak mungkin mengatakan alasanku di depan ibu, apa lagi Edward. Dia akan sangat marah jika mengetahui ini. Aku merasa lega karena sempat mengirim pesan kepada Dave agar dia menarik semua berita tentang Mia sebelum masuk ke mobil.


Sekarang giliran Mia yang mengernyit. Dia menatap curiga padaku, dan aku hanya menggerakkan kepalaku sebagai respon. "Baiklah," ucapnya pasrah. "Tapi hanya seminggu. Aku tidak bisa meninggalkan kedaiku terlalu lama, aku harus memastikan semuanya sesuai dengan keinginanku." lanjutnya.


Aku menarik napas lega. "Ya, seminggu sudah cukup."


Aku kembali menghadap ke depan, melajukan mobil dengan kecepatan sedang tanpa berani menoleh Franda. Beruntung Ibu dan Edward tidak bertanya apapun tadi, karena alasanku memang cukup masuk akal.


Setelah memastikan Ibu, Edward, dan Ben masuk ke dalam pesawat, aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan langsung menuju rumah hutan. Kurasa lebih baik membahas masalah Mia disana, selain lebih tenang, aku juga bisa lebih leluasa bertanya pada Mia.


Sialan!


Aku menggerutu dalam hati sepanjang perjalanan. Tidak sedetikpun mengalihkan mata kepada Franda yang kuyakin sedang heran saat ini. Aku bersyukur dia bisa menahan mulutnya untuk tidak berbicara selama di dalam mobil, karena aku sendiri bingung bagaimana cara menyampaikan masalah ini padanya.

__ADS_1


Tiba di rumah hutan, aku membiarkan Franda dan Mia turun lebih dulu sementara aku memutar otak, menyusun kata-kata yang pantas untuk kukeluarkan. Tidak mungkin aku bisa menutupi kasus Mia dari Franda, dia pasti akan bertanya terus-menerus tentang alasanku menahan Mia lebih lama bersama kami.


"Ada yang ingin kusampaikan padamu, Mia." kataku memulai saat aku sudah duduk di kursi kayu di ruang tengah, menyusul mereka yang lebih dulu duduk disana.


Aku duduk disamping Franda dan menghela napas lega saat mendapati rautnya sejenak melembut. Dia mengenakan gaun sederhana pendek berwarna nude tanpa lengan, dan membiarkan rambut panjang bergelombangnya tergerai di punggungnya. Selain wajahnya yang sedikit pucat, dia terlihat cantik seperti biasa. Kulitnya sehalus pualam dan tidak menggunakan riasan, bukan berarti dia memelukannya juga.


Aku beralih pada Mia. "Ini tentang hubunganmu dengan walikota itu." ucapku tanpa basa-basi.


Mia tersentak kaget, begitu juga dengan Franda. Namun ekspresi terkejut yang kutangkap di wajah Franda diluar perkiraanku. Sebelumnya aku mengira dia akan kaget setengah mati lalu bereaksi layaknya orang syok, tapi ini tidak. Dia hanya terlonjak sekilas lalu wajahnya kembali murung menatapku. Tunggu, apakah dia sudah mengetahui pria yang menghamili Mia?


Mia menggigit bibirnya, tangannya bertautan dengan gelisah di atas pangkuannya. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kalian malu." Dia berkata muram.


Mengawasi kepalanya yang tertunduk lesu, kusadari bahwa ada satu hal yang harusnya kulakukan untuknya bila aku memang benar-benar peduli padanya. Tekanan publik. Itu yang membuatku malas tampil didepan umum, dan bahkan sekarang Mia mengalaminya. Menjadi pusat perhatian orang banyak bukanlah hal yang menyenangkan, apa lagi berita yang tersebar merupakan sesuatu yang memalukan.


Aku menyodorkan ponselku pada Mia. Seketika mulutnya terbuka lebar. "Ya Tuhan..." desahnya gemetar, lalu tak lama dia menangis tersedu-sedu.


Franda berpindah ke samping Mia, ikut melihat layar ponsel. Kali ini, reaksinya tak jauh berbeda dengan Mia. Gemetar, lalu menangis.


Seharusnya Mia tidak menganggap enteng resiko menjalin hubungan dengan Taka, karena selain pria itu sudah berkeluarga, dia juga terkenal dan wartawan tidak pernah berhenti menyoroti kehidupannya. Dan sekarang mau tidak mau, Mia akan ikut menjadi sorotan publik. Orang-orang akan memantau semua hal yang dia lakukan, dan jelas sekali mereka tidak akan pernah berhenti.


Setelah beberapa saat menangis, Mia mengangkat kepala menatapku, sementara Franda memeluknya. "Bagaimana jika Ed dan Ibu mengetahui ini?" Aku tersenyum, setidaknya dia masih khawatir pada ibu walau seharusnya dirinyalah yang harus dikhawatirkan.


"Dave akan mengatur berita-berita itu." kataku. "Berdoa saja dia melakukannya dengan cepat sebelum mereka tiba di Jakarta."


"Bisakah kau menjelaskan padaku apa yang terjadi?" sambungku. Sebisa mungkin tidak menunjukkan bahwa aku sedang kecewa dengan sikapnya.


Mia mendesah, "Itu terjadi begitu saja, aku bahkan tidak sempat menyadari bahwa kami sudah melangkah terlalu jauh, aku..." Dia menangis lagi, terdengar lebih menyedihkan daripada sebelumnya.


Aku memijat pelipis sejenak. Rasanya sangat tidak nyaman menyaksikan seseorang terisak seperti itu di hadapanku, walau ini bukan kali pertama aku melihat wanita menangis.

__ADS_1


__ADS_2