
"Ah, Franda," Sean mengerang tertahan, matanya yang putus asa berusaha menatapku selagi aku menggerakkan pinggulku naik turun di atas tubuhnya yang nikmat. "Pumpernickel,"
"Franda, buka ikatannya." gerutunya lagi sementara pinggulnya bergerak mendesakku dari bawah. "Sekarang."
"Oh, Lord..." aku menghembuskan napas dan memperlambat gerakanku saat pikiranku berhasil mencerna ucapannya, lalu duduk di atas pinggulnya. "Tunggu sebentar..."
Perlahan aku mendorong tubuhku ke depan dan membuka ikatan tangannya, namun aku kesulitan karena tanganku masih gemetar. Membuat Sean semakin gelisah di bawahku.
Ketika pada akhirnya aku berhasil melepaskan ikatan pada kedua tangannya, dia langsung mengangkat tubuhnya hingga duduk dan menangkup kedua dadaku, kemudian membenamkan salah satu puncak dadaku ke mulutnya, membuatku mendesah. Jemariku secara spontan meremas rambutnya dengan lembut, sementara mataku terpenjam menikmati serangan mulutnya yang lihai.
"Kakiku, Franda..." Napas dan bibirnya yang panas menyapu dadaku dan matanya yang menggelap menatapku. "Kau belum membukanya."
"Ya," Aku menarik napas dan bertumpu pada sebelah lenganku untuk meraih ikatan tali di pergelangan kakinya tanpa melepaskan tubuhku darinya.
Selagi aku berjuang melepaskan ikatan di kakinya, Sean membuatku semakin gila, dia menyiksaku dengan mulutnya yang liar membelai dadaku dengan sebelah tangannya ikut meremas sementara sebelah tangannya yang lain menahan pinggangku.
Tanpa mau menyia-nyiakan waktu, sambil membuka ikatan tali, aku menggerakkan pinggulku di atas pangkuannya. Aku bisa mendengar Sean menggeram, ketika dia merasakan sensasi lain dalam posisi kami. Kemudian, tanpa mengatakan apa-apa dia bergerak pelan, membantuku melepas ikatan pada kakinya yang lain.
Aku bisa melihat tanda merah bekas ikatan pada pergelangan tangan dan kakinya, tapi tidak ada waktu untuk menyesali apa yang sudah kulakukan padanya. Pikiran dan jiwaku hanya berpusat pada satu hal; kenikmatan yang diberikan oleh tubuhnya.
Setelah entah bagaimana akhirnya aku berhasil membuka ikatan di kakinya, kepalaku kembali menghadap kedepan untuk mencium bibirnya dengan lembut sebelum dia perlahan membalikkan posisi kami. Matanya yang dipenuhi gairah menggelap menatapku.
"Hai," gumamku tanpa malu-malu, menggodanya seraya melengkungkan bibirku tinggi-tinggi
Sean menyeringai lebar sebelum menyerang bibirku dengan bibirnya. Kemudian dia melepaskan dirinya sejenak dariku dan menaruh perhatian penuh pada ciuman kami yang nikmat.
"Itu tidak akan terjadi lagi, Franda." gumamnya di mulutku. Aku terkikik pelan sambil menggerakkan tanganku di punggungnya hingga menyentuh bokongnya. "Aku yang akan mengikatmu nanti."
"Oh, God." desahku, mengamati seluruh wajahnya yang mempesona. "Please, itu akan menyenangkan."
"Kau sangat seksi, Franda. Apa kau tahu itu?" dia berbisik di telingaku, membuat sekujur tubuhku gemetar saat lidahnya yang nakal menjilat leherku, sementara sebelah tangannya mengusap perutku.
__ADS_1
Sean perlahan memundurkan tubuhnya, lalu mengarahkan kejantanannya yang keras dan mendesakku tanpa ampun. "Slowly," ucapku mengingatkan, dengan napas tersengal-sengal.
"Oops, sorry, baby." Tawa pelan terdengar dari mulut kami berdua.
Dengan pelan, Sean menggerakkan pinggulnya lagi, tapi tidak mengurangi rasa nikmat yang kudapatkan. Aku mendesah dan mengerang ketika kurasakan gelombang panas akan menyerbu sekujur tubuhku. "Aku sudah dekat..." kataku sambil meremas lengannya.
"Good." Sean menurunkan kepalanya dan menciumku dengan rakus, membuatku semakin dekat dengan pelepasanku. Beberapa detik setelahnya, aku menenggelamkan wajahku di lehernya dan menahan jeritanku dengan menggigitnya.
Kemudian aku meraih wajahnya dengan cepat, dan menciumnya lebih keras sampai aku menggigit bibirnya, membuat Sean tersenyum puas di mulutku. "Franda, kau benar-benar..." kalimatnya terpotong dan berganti menjadi suara erangan yang keluar dari mulutnya saat dia meledakkan dirinya di dalamku.
Sean melepaskan diri dariku, lalu bergeser ke sebelah dan berbaring sambil menarik selimut menutupi tubuh kami yang masih berkeringat. Aku memejamkan mata, menikmati sisa kenikmatan yang masih terasa di antara kedua pahaku sambil mengatur napasku yang tersengal-sengal. Rasanya seperti aku baru saja berlari mengelili lapangan bola, terengah-engah dan berkeringat.
"I love you, husband." dengkurku pelan, menyapukan jemariku pada rambutnya yang lembab sementara mata dan bibirku tersenyum padanya.
Sean menolehku lalu mencium keningku. "I love you too, wife." Kemudian dia mendorong tubuhnya ke bawah, menyibak selimut hingga wajahnya berhadapan dengan perutku yang buncit. "Hei, baby, maaf kalau daddy mengganggu tadi, mommy-mu terlalu seksi."
Aku terkekeh sementara Sean mencium dan mengusap-usap perutku. Dengan lembut aku menyusuri rambutnya dengan jemariku lagi, mengagumi sosoknya yang bagai manusia setengah dewa. Aku bingung bagaimana caranya Tuhan bisa menciptakan seseorang sesempurna Sean tanpa celah sedikitpun.
Sean tergelak, mengarahkan mata biru lautnya padaku. "Ya," balasnya singkat.
"Jadi, apa kau menyukainya?" kataku penasaran, dalam hati merasa bangga ketika aku bisa menenggelamkan seseorang sehebat Sean dan membuatnya mengikuti pikiran gilaku.
"Tidak." Secepat kilat dia menyambar, seakan sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaanku. "Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya saat tidak bisa menyentuhmu. Itu sangat menyiksa, Franda."
Aku tersenyum genit padanya. "Ayolah, Sean..." Kedua tanganku menariknya agar berbaring di sebelahku. "Katakan saja kau menyukainya. Aku benar-benar tahu apa yang di inginkan oleh pria sepertimu."
Alisnya bertaut sementara matanya menatapku. "Pria sepertiku? Memangnya apa yang kuinginkan?"
"Kau suka seseorang mengontrolmu. Kau akan memohon agar aku mengikatmu lagi." balasku genit. "Aku yakin itu."
"Aku tidak setuju, itu tidak akan pernah terjadi lagi, Franda."
__ADS_1
Aku tersenyum padanya. "Tidak masalah," sahutku percaya diri, karena aku tahu aku benar dalam hal ini.
Mendadak kamar kami terasa sepi saat kami larut dalam pikiran masing-masing. Aku terpejam sambil mengusap dadanya perlahan sementara Sean mengusap punggungku dengan lembut, hingga suaranya terdengar di telingaku.
"Franda," suaranya terdengar serak dan dalam.
"Hm." sahutku tanpa membuka mata.
Sean menarik napas panjang dan berat, membuatku penasaran apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Sean lembut di depan wajahku.
Aku bisa merasakan dari deru napasnya bahwa dia sedang menatapku sekarang, dan aku sangat ingin berpaling untuk menatapnya, tapi kepalaku terlalu nyaman di lengannya, dan aku tidak mau meninggalkan kenyamanan itu. "Tenang dan bahagia." sahutku.
Untuk beberapa detik Sean hanya terdiam, sebelum suaranya yang nyaring terdengar kembali. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Hm," Aku menjawab tanpa repot-repot memikirkan maksud pertanyaannya, tubuhku masih terlalu nyaman berada di pelukannya.
Sean menarik napas dalam, "Jika... seandainya orang tuamu masih ada, apa yang akan kau lakukan?" ucapnya dengan nada terdengar was-was.
Untuk sesaat aku terdiam dan membuka mata, memikirkan jawaban yang akan kukeluarkan. "Aku tidak tahu," gumamku pada akhirnya. "Mungkin aku akan senang, tapi mungkin juga tidak. Karena jika mereka ada bersamaku, maka kesempatan kita untuk bersama akan sangat mustahil. Aku pasti bahagia bersama kedua orangtuaku, tapi kebahagiaan yang kudapatkan ketika aku menjadi istrimu bukan sesuatu yang ingin kutukar dengan apapun. Aku bahagia bersamamu."
"Aw, itu sangat menyentuh." selorohnya sambil memegang dadanya, berpura-pura sakit. Lalu dia mencium keningku sekilas.
Aku mengangkat wajah menatapnya. Sean tersenyum, namun sorot matanya menyiratkan kesedihan. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" kataku penasaran.
Sean menggeleng, "No reason, bayangan itu terlintas begitu saja dalam kepalaku. Aku akan senang jika kau bahagia dan aku berharap kau akan selalu bahagia bersamaku. Kau tahu? Aku tidak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu, kau dan segala tingkahmu selalu membuatku tergila-gila. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal padaku, sayang."
"Sean," Aku tersenyum, memajukan kepalaku untuk mencium bibirnya dengan lembut. "That's so cheesy, but so sweet."
"Thank's" Dia balas menciumku. "Aku mau pipis, tapi terlalu nyaman disini."
"Sean!" Aku menepuk dadanya pelan, lalu tertawa geli dengan perkataannya yang tiba-tiba. "Pergilah ke kamar mandi, aku tidak akan kemana-mana."
__ADS_1
Sean menciumku lagi, lebih lama dan dalam sebelum beranjak dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi.