
Aku melempar pandangan keluar, menatap langit yang mulai menggelap di kejauhan. Jantungku berdebar keras, namun bukan karena hasrat seperti yang biasa terjadi saat aku berdekatan dengannya. Kali ini jantungku berpacu karena menahan kemarahan dan sakit yang luar biasa yang menghujam dadaku.
"Franda, sayang..."
Dia memanggilku lagi, mungkin sudah ke seratus kali sejak dia masuk ke ruanganku dua jam yang lalu. Aku tidak ingin menatapnya, tahu bahwa aku akan dengan cepat meleleh dan langsung menghambur ke pelukannya jika aku bertatapan dengan matanya yang indah itu.
Aku menancapkan earphone ke telinga, milik salah satu perawat yang sengaja kupinjam, agar aku bisa menghindari percakapan ini. Lalu kusambungkan ke ponsel dan memutar lagu dengan menekan tombol volume hingga penuh. Kemudian perlahan-lahan kugerakkan tubuhku hingga berbaring miring, membelakanginya.
Aku memejamkam mata menikmati suara merdu Lionel Richie yang menyanyikan Stuck On You, membuatku ikut terhanyut dalam iramanya yang nyaring di telingaku. Dengan syahdu memanjakan pendengaranku. Mendengarkan musik memang terbukti sangat membantu dalam menenangkan pikiran, walaupun hanya beberapa saat.
Kemudian aku semakin terbawa arus dalam playlist favorit yang kuputar secara acak, hingga tanpa kusadari air mataku mengalir saat Freddie Mercury melantunkan Love of my life. Aku teringat ketika Sean menceritakan momen saat dia mendengarku menyanyi di dekat gedung gymnasium kampus. Lagu ini yang kunyanyikan waktu itu.
Ah, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menikmati hidup seperti itu. Dulu, aku sering mengisi waktu luang dengan bernyanyi bersama ayahku sebelum dia meninggal. Kami sanggup melakukannya hingga berjam-jam, kadang dia yang mengiriku bernyanyi dengan gitar akustik miliknya yang di pesannya secara khusus pada salah satu temannya. Di bagian kepala gitar itu tertulis namaku dan nama ayahku.
Aku pernah bertanya kenapa dia hanya menulis namaku disana dan dia menjawab karena hanya aku anaknya yang memiliki ketertarikan yang sama dengannya. Ayahku bilang dia tidak ingin mengotori hobinya dengan memaksakan orang lain menjadi bagian dari itu. Edward dan Mia memang tidak pernah menganggap musik sebagai sesuatu yang cocok untuk selera mereka. Edward lebih cenderung ke arah sains, sementara Mia... ah, aku tidak tahu apa minatnya hingga sekarang.
"Dad, aku merindukanmu," gumamku, tanpa sadar suara isakanku berubah menjadi lebih kencang.
Lalu aku merasakan tangannya yang hangat dan lembut mengusap kepalaku. Rasanya sangat menenangkan. Ada sebagian dari diriku yang ingin berbalik menghadapnya dan memeluknya, aku ingin sekali lagi menyakinkannya bahwa aku baik-baik saja, dia tidak perlu mencemaskan keadaanku. Tapi aku belum bisa memaafkan kesalahannya.
"... begitu, Franda. Aku mencintaimu dan aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Kumohon, percaya padaku." suaranya terdengar bergetar saat lagu berhenti sejenak sebelum masuk ke lagu yang berikutnya. "Semuanya sudah...." Sekarang aku hanya mendengar musik yang keras dari earphone-ku. Bunyinya memekakkan telinga, persis seperti yang kubutuhkan saat ini.
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis sambil merasakan sentuhan tangannya yang selalu hangat di kepalaku, lalu entah sejak kapan, tanpa kusadari aku tertidur. Dan ketika aku terbangun, wajahnyalah yang pertama kali menyambutku. Dia memberiku senyum paling indah yang pernah kusaksikan sepanjang hidup.
__ADS_1
Tapi, memandangnya dari jarak sedekat ini, hanya membuatku semakin menyadari kalau dia tidak akan pernah tahu sebesar apa aku mengharapkan kepercayaannya. Hanya sebatas itu yang kuinginkan, sesederhana dia membiarkanku mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalahku sendiri, tapi rupanya itu permintaan yang terlalu sulit untuk dikabulkan.
Tidak bisa kuhitung berapa kali aku memintanya, bahkan hingga aku nyaris memohon agar dia tidak menutupi sesuatu dariku. Aku selalu menyelipkan permintaanku itu setiap kali ada kesempatan berbicara serius dengannya. Tapi aku tidak pernah mendapatkannya.
Pada akhirnya... aku dipermainkan lagi. Itu membuatku bertanya-tanya dalam hati, sepenting apa sebenarnya kehadiranku di dekatnya?
"Hai," Aku memperhatikan barisan giginya yang putih bersih mengintip di sela-sela bibirnya. Tidak sanggup menaikkan pandangan ke arah matanya yang berbahaya. Mulutnya saja hampir membuatku goyah.
Aku menutup mata lagi. Mencoba mengatur napasku yang memberat akibat sapuan napasnya di wajahku. Aku yakin dia bisa melihatku gemetaran saat ini, dan aku bisa merasakan dia sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Pergilah, Sean. Aku tidak ingin berbicara denganmu." gumamku tanpa membuka mata, menghentikan niatnya untuk menggodaku.
"Franda," dengkurnya putus asa. "Bisakah kau percaya padaku? Aku melakukannya..."
Dia terdiam, kepalanya menunduk sementara suara hembusan napas berat terdengar di telingaku. Setelah menunggu cukup lama dan tidak berbicara, aku pun melanjutkan. "Apakah memang sesulit itu bagimu percaya padaku, Sean? Apakah aku memang tidak boleh mengambil keputusan untuk diriku sendiri? Sampai kapan kau akan menjadikanku boneka pajangan di rumahmu?"
"Franda,"
"Tidak! Dengarkan aku," potongku tajam, disertai tatapan dingin yang menusuk ke dalam matanya. "Kau, kakakku, dan bahkan ibuku... kalian semua tidak bisa percaya padaku, kalian selalu mengendalikanku, tidak pernah memberiku kesempatan untuk bertindak sebagai diriku sendiri. Katakan padaku, Sean, apa kau percaya bahwa aku baik-baik saja?" Aku menarik napas dan memejamkan mata sejenak untuk menenangkan jantungku yang berpacu. Sikapnya yang bungkam menjelaskan pandangannya terhadapku. Itu sudah cukup.
Kemudian aku memandangnya lagi. "Aku tahu aku wanita yang payah. Aku tahu berapa banyak waktumu yang terbuang sia-sia saat bersamaku. Tapi, untuk sekali saja, bolehkah aku memilih jalanku sendiri? Kenapa kau harus menutupinya dariku, Sean?" Aku tidak sanggup lagi menahan air mataku, mereka mengalir deras dan panas.
Dia berusaha meraih pipiku, namun aku menepis tangannya. "Aku tidak menutupinya darimu, Franda,"
__ADS_1
"Lalu apa?" sergahku dengan suara tercekat. Aku mengusap pelan air mataku sembari menarik napas beberapa kali, dan melanjutkan perkataanku lagi. "Kau sudah mengetahuinya ketika kau bertanya bagaimana perasaanku jika orang tuaku ternyata masih hidup, bukan?" Dia mengangguk. "Nah, sekarang katakan apa alasanmu menyembunyikan itu dariku?"
"Aku tidak menyembunyikannya, Franda. Aku berniat memberitahumu tapi setelah kau melahirkan. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu atau bayi di kandunganmu..."
"Dan itu yang terjadi saat aku tanpa sengaja mendengar pembicaraan kalian." balasku sengit. "Apa kau tahu salah satu alasan aku memutuskan untuk bercerai dengan Nino? Karena dia terlalu mengendalikan hidupku, dan sekarang kau melakukan hal yang sama. Jadi,"
"Jangan bilang kau ingin berpisah denganku," dengan cepat dia memotong kata-kataku, mengatakan hal yang paling kutakutkan dan tidak pernah kuinginkan akan terjadi lagi dalam hidupku. "Franda, kau tidak bisa melakukan itu padaku karena aku tidak akan membiarkanmu."
Aku tertawa getir. "See? Kau mengendalikanku, Sean. Belum apa-apa kau sudah menunjukkan kekuasaanmu di hadapanku." Mulutku melengkung sinis padanya. "Jangan kira aku tidak bisa hidup tanpamu, Sean. Aku tidak mau membuang waktu bersama orang yang tidak menghargaiku."
"Franda..."
Aku menggeleng keras. "Keluarlah. Tidak ada lagi yang perlu kubicarakan denganmu." kataku tegas, lalu aku berbalik memunggunginya, memutar kembali playlist di ponselku.
Ini terlalu menyakitkan. Aku tidak mengira akan mengatakan sesuatu sekeras itu padanya. Tapi tidak ada cara lain yang bisa kulakukan untuk mengusirnya. Aku ingin sendiri. Setidaknya, untuk sekarang.
Aku tidak tahu kemana arah hubungan kami selanjutnya, namun berpisah dengannya merupakan satu-satunya hal yang ingin kuhindari meskipun tidak tertutup kemungkinan itu akan terjadi pada akhirnya.
Aku mulai memiliki krisis kepercayaan terhadap orang-orang di sekitarku. Bukan salahku, mereka sendiri yang menggiringku ke arah itu, membuatku tampak seperti orang bodoh, lalu mengatakan seolah-olah mereka melakukannya demi kebaikanku. Alih-alih menjaga, mereka justru menghantamku dengan kenyataan itu. Dan aku tidak bisa menerimanya begitu saja.
Aku melirik dari sudut mataku, menyaksikan dia melangkah keluar, meninggalkanku tanpa mengatakan apapun. Aku sangat ingin memanggil dan memeluknya, tapi dengan sekuat tenaga kutahan semua perasaan itu hingga dia menghilang di balik pintu.
Detik itu juga, air mataku mengalir deras. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana hidupku jika aku benar-benar harus berpisah dengannya, dan aku tidak ingin... tidak pernah berniat berpisah dengannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sean..."