Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Lady on Fire


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku, Franda, dan Edward baru saja masuk ke dalam ruang perawatan, mengikuti beberapa perawat yang memindahkan Mia. Aku dan Edward duduk bersandar di sofa sementara Franda memilih berada di dekat Mia.


Semua yang tertangkap oleh mataku sekarang sangat menghancurkanku. Franda masih sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Mia. Air mata terus mengalir membasahi pipinya, tak mau berhenti meskipun dia terlihat berkali-kali berusaha menahan diri. Kedua tangannya menggenggam sebelah tangan Mia dan meletakkannya pada pipinya, matanya tak berpindah sedetikpun dari wajah Mia, dan mulutnya sejak tadi gemetar menahan tangis. Demi Tuhan, aku ingin sekali menghancurkan pria yang menyebabkan semua kekacauan ini, memukulnya sampai babak belur, lalu melemparnya ke dasar jurang. Tetapi aku belum tahu siapa pria itu.


Sialan!


Aku mengumpat dalam hati, merutuki kebodohanku sendiri yang lengah sampai bisa kecolongan seperti ini. Seandainya aku memberikan pengawasan lebih pada Mia, hal seperti ini tidak akan terjadi. Semuanya memang salahku, dan Edward pantas marah dan merasa kecewa. Aku yang meminta Mia untuk tinggal bersama kami karena berharap Franda tidak akan merasakan kesepian, tapi aku tidak menyangka jika akhirnya Mia akan terjerumus pada lubang yang membuatku dan Franda juga ikut terperosok ke dalamnya.


Berpaling dari Franda, aku memutar kepala menoleh pada Edward yang duduk di sampingku. Dia juga sedang menatap kedua adiknya. Menyaksikannya sekalut itu, membuatku semakin merasa bersalah. "Maafkan aku, John. Ini memang salahku." ucapku tulus dan sungguh-sungguh dengan kalimatku.


Muncul sebaris senyum tipis di sudut bibir Edward. Tanpa mengalihkan pandangan dari arah Franda dan Mia, dia menjawabku. "Aku juga gagal menjaga mereka, Sean." katanya dengan suara bergetar. "Entah apa yang akan kusampaikan pada Ayah jika bertemu dengannya di akhirat nanti, dia pasti mencekikku sampai rasanya aku ingin mati lagi, tapi aku tidak mungkin mati di akhirat." sambungnya sedikit bergurau dan tawa halus lolos dari mulutnya.


Bibirku ikut terangkat naik mendengar gurauannya. "Ya. Karena kita hanya akan mati satu kali." balasku. Membuat kami tertawa bersamaan.


Edward menghela napas, kini dia beralih menatapku. "Maafkan sikapku tadi. Tanpa sadar aku sedang melemparkan kesalahan padamu, bro."


"Aku memang bersalah dan kau pantas marah padaku." jawabku cepat. "Tapi, kumohon jangan melampiaskannya pada Franda. Kau tahu dia sedikit memiliki kesulitan dalam mengatur emosinya. Aku hanya takut Franda berlebihan dalam menanggapi ucapanmu, yang akhirnya akan membuatnya menyalahkan dirinya lagi."

__ADS_1


"Aku tidak sanggup jika harus melihatnya tersiksa seperti saat kami kehilangan calon anak kami, kau sendiri menyaksikan betapa kacau dia saat itu. Dia memusuhi kita, berpikir dia hanya akan menjadi beban untuk kita, dan tanpa disadarinya itu semakin membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Aku masih beruntung bisa membantunya bangkit dan mengembalikan kepercayaan dirinya."


Dadaku terasa sesak seakan ada batu besar yang menghimpitku saat membayangkan lagi hari-hari itu. Aku mengangkat tangan untuk mengusap mataku yang terasa panas sementara aku merasakan tangan Edward menepuk pundakku.


"Bersabarlah, bro. Aku yakin kau bisa menghadapinya. Belum pernah aku melihat dia bahagia seperti saat bersamamu, bahkan dengan mantan suaminya dulu Franda tidak segila itu. Kau membuatnya lebih hidup dari sebelumnya." Aku tersenyum getir mendengar kata-kata Edward. Dia benar, Franda memang menggila ketika bersamaku, tetapi itu tetap tidak menjamin bahwa dia akan selalu kuat.


Ada sisi lain dalam diri Franda yang masih harus kugali lebih dalam. Aku harus menyelam sampai ke dasar jiwanya untuk mengerti dirinya yang sesungguhnya, agar aku tahu bagaimana cara membantunya. Franda bukan gadia remaja yang bisa diperdaya. Semua rentetan kisah masa lalunya terlalu kuat mengikat jiwanya, enggan terlepas meskipun dia berusaha memotongnya berkali-kali.


Tapi aku yakin dan percaya Franda masih bisa kubantu. Tidak tahu kapan, tapi hari itu pasti akan datang. Pasti.


Aku memejamkan mata menikmati keheningan di ruangan kami sementara kepalaku di penuhi segala macam hal. Terlalu banyak pekerjaan tambahan yang menantiku. Mulai dari mencari keberadaan Tante Lucy, memastikan Franda baik-baik saja setelah ini, lalu mencari pria yang membuat Mia hamil. Untuk tugas yang terakhir mungkin tidak terlalu sulit karena kami bisa bertanya pada Mia, perlahan-lahan dia akan memberitahu kami siapa pria itu. Dan yabg tersulit adalah meyakinkan Franda, membuatnya tetap kuat mengatasi semua ini.


"Hei." Aku tersentak dan langsung membuka mata saat mendengar suara Franda. Dari tempatku, aku bisa melihat dia sedang tersenyum pada Mia. Aku dan Edward bergegas mendekati mereka.


Mia memandangi kami lagi. "Ada apa?" tanyanya. Dari pertanyaannya aku bisa menangkap bahwa dia benar-benar tidak tahu jika dia sedang mengandung kemarin.


Aku dan Edward serentak menunduk. Kami tidak di latih untuk menghadapi wanita-wanita yang tengah menderita, dan itu terkadang membuat kami merasa bodoh karena tidak tahu harus bersikap bagaimana. Hanya Franda yang bersuara menjawab pertanyaan Mia.


"Kita akan membicarakannya nanti karena sekarang kau lebih membutuhkan waktu untuk memulihkan tenagamu."

__ADS_1


"Tidak." sergah Mia cepat. "Katakan padaku, ada apa?" ulang Mia tak sabar.


Kami terdiam cukup lama. Lidah kami kelu, suara kami tiba-tiba tertahan di tenggorokan, dan kami takut dengan kemungkinan yang akan terjadi jika kami memberitahu Mia tentang kehamilannya.


"Panda, Ed, Sean... ada apa denganku?" Mia bertanya lagi, kali ini suaranya lebih keras.


"Kau baru saja kehilangan janin dalam kandunganmu." Aku terkesiap ketika Franda menjawab pertanyaan Mia tiba-tiba. Wajahku terangkat untuk menatapnya. "Bodoh! Apa kau tidak sadar kau sedang mengandung?" tambahnya lagi.


Ini mengejutkan. Tadinya aku mengira Franda akan diam dan mungkin menangis terus-menerus. Tapi dia membuatku dan terperangah dengan ucapannya. Raut kesedihan yang beberapa saat lalu menghiasi wajahnya kini menguap, berubah menjadi raut kemarahan. Matanya menatap tajam pada Mia. Dadanya mengembang menandakan dia akan meledak sebentar lagi.


Aku tersenyum dalam hati melihat Franda yang mendadak garang sementara Mia menciut, wajahnya memutih, dan dia terlihat menelan ludah. Mendapati reaksinya yang ketakutan, aku yakin jika Mia masih sangat menghargai Franda sebagai kakaknya walaupun selama ini dia terlihat bersikap tidak sopan pada Franda.


"Aku menjagamu setengah mati, memberikan apapun yang kau minta, membiarkanmu hidup sesuka hati karena percaya kau tidak akan melakukan sesuatu yang membuatku malu. Tapi apa yang kudapat sebagai balasan? Alih-alih membuatku bangga karena berhasil melakukan seauatu, kau malah melempar kotoran tepat di wajahku."


Bagus. Wanita apiku kembali. Tanpa kami sadari, aku dan Edward tersenyum melihat pemandangan dua wanita di depan kami dengan ekspresi yang jauh berbeda. Franda dengan wajahnya yang mengeras, dan Mia yang menunduk ketakutan. Sungguh, ini adalah momen terbaik yang terjadi hari ini.


Franda memejam, tubuhnya sedikit gemetar, kedua tangannya saling mengepal di atas pangkuannya. Dan ketika dia membuka mata, mulutnya kembali berbicara. "Kau tahu, Mia? Aku sangat malu, aku marah, aku kecewa. Kau membuatku muak dengan tingkahmu padahal baru beberapa hari lalu aku merasa senang kau memiliki kesibukan selain menatap ponselmu, tapi sekarang kau menghantamku dengan kenyataan yang... Ya Tuhan,"


Franda terisak. "Kau mengecewakanku, Mia." Kedua tangan Franda naik menangkup wajahnya. Dia menangis. Aku sungguh ingin memeluknya tapi segera kutahan keinginan itu semata-mata aku percaya padanya. Franda butuh dipercaya, dan aku memberikannya.

__ADS_1


Franda menghapus air matanya kasar, dia sempat menarik napas beberapa kali sebelum kembali berbicara. "Sekarang, katakan padaku siapa yang menghamilimu?"


Aku, Edward, dan Franda menatap Mia yang masih menunduk bersamaan. Kedua tangannya gemetar dan saling meremas, dia terlihat menggigit bibir. "Bicaralah, Mia! Kemana sikap berani yang selama ini menguasai dirimu?" gumam Franda sinis, namun Mia belum bersedia membuka mulut.


__ADS_2