
Franda berjalan masuk ke gedung yang menjulang tinggi itu dengan penuh percaya diri, penampilannya begitu anggun. Menggunakan gaun ketat selutut berwarna peach, dipadukan dengan blazer merah muda, dan high heels yang setinggi 10 centimeter senada dengan gaunnya, tak ketinggalan clutch bag keluaran Dior yang semakin menyempurnakan penampilannya. Bentuk tubuh sempurnanya sudah kembali sejak terakhir kali menggembung karena mengandung Ben, putra semata wayangnya dengan Nino.
Franda begitu memperhatikan penampilannya kali ini, walaupun sebelumnya juga seperti itu, namun hari ini lebih maksimal lagi, sebab yang akan ditemuinya adalah orang yang sangat berpengaruh, terlebih Ia belum tahu wajah calon kliennya yang tertutup itu, membuatnya merasa harus menarik dan menggunakan kesempatan langka ini.
Berkali-kali Franda bertanya pada Dhea tentang penampilannya, apakah masih ada yang kurang atau ada yang sesuatu yang salah melekat di tubuh rampingnya. Dhea dengan sabar mengatakan bosnya itu sudah sangat sempurna.
Seorang sekretaris wanita yang begitu cantik menyambut mereka, senyum manis di bibirnya seolah tak pernah hilang, Franda kagum sekaligus heran bagaimana bisa ada wanita secantik itu bekerja sebagai sekretaris, menjadi model pasti lebih cocok untuknya.
"Mrs. Franda, Tuan sudah menunggu di dalam. Mari, saya antar..." katanya dengan sopan, berjalan dengan langkah pasti memimpin Franda dan Dhea.
Sang sekretaris mengetuk pintu, dan langsung memutar kenop begitu mendapat ijin dari dalam. "Tuan, Mrs. Franda sudah disini." katanya memberitahu. Lalu mempersilahkan Franda dan Dhea masuk kedalam ruangan yang ukurannnya terlalu luas untuk sebuah kantor.
Franda masuk diikuti oleh Dhea dibelakangnya, memperhatikan ruangan itu sebentar, lalu berhenti saat kedua matanya beradu pandang dengan seseorang yang dikenalnya, matanya membulat seketika.
"Sean!" pekiknya. Pria tampan di hadapannya benar-benar Sean, orang yang pernah membantunya menyelidiki suaminya dan Jenny dulu.
Sean tersenyum cerah, berjalan mendekat dan memajukan tangannya untuk bersalaman dengan Franda. "Lama tidak bertemu." katanya.
Franda menoleh ke belakang, meminta penjelasan pada Dhea yang tidak mengatakan apapun tentang kliennya, padahal Ia tahu jelas bahwa Dhea adalah sepupu Sean, tidak mungkin asistennya itu tak mengenal calon kliennya ini. Sementara Dhea hanya mengedikkan bahunya, tidak menjawab apapun.
Franda memutar bola matanya, menyambut uluran tangan Sean, "Ya, setahun lebih. Aku tidak mengira kau pemilik gedung ini. Wah, kau sungguh mengejutkan!" Franda kembali manatap sekeliling ruangan mewah itu, furnitur yang digunakan bahkan bukan sembarangan, bisa dipastikan harganya fastastis.
"Aku anggap itu pujian. Duduklah..." kata Sean menunjuk sofa, tak jauh dari meja kerjanya. "Bagaimana kabarmu?" lanjut Sean bertanya setelah mereka duduk di sofa.
__ADS_1
Dhea tampak cuek dengan mereka berdua, fokus dengan ponselnya dan sesekali mencuri dengar obrolan mereka. Sean memang sengaja meminta Dhea untuk tidak mengatakan pada Franda tentang dirinya, agar wanita itu mau menemuinya. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Sean pada Franda, dan ini sangat penting.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kau sendiri?" Franda balik bertanya.
"Aku juga baik. Bagaimana putramu? Ku dengar kau sudah memiliki anak, berapa usianya?"
Franda Mengangguk. "Hm, ya. Memasuki 8 bulan, dia sangat luar biasa." Franda menerawang, teringat pada Ben, putranya yang begitu menggemaskan dengan segala tingkah laku bayinya.
"Aku senang mendengarnya, aku berharap bisa bertemu dengannya suatu saat nanti." ucap Sean penuh harap.
Ketukan dipintu menyela acara basa-basi itu sejenak, kemudian terlihat sang sekretaris yang masuk dan membawa tiga gelas kopi, menatanya di meja, lalu kembali keluar.
"Minumlah." kata Dean mempersilahkan.
"Bagaimana bisa kau memiliki perusahaan ini?" tanya Franda heran.
Sean tersenyum "Kerja keras, dan cinta." jawabnya santai.
Jawabannya sontak membuat wajah Franda memerah, Ia mengetahui kata cinta yang dimaksud Sean. Dirinya kembali teringat obrolannya dengan Dhea tempo lalu yang membahas tentang obsesi Sean padanya. Sebisa mungkin Ia bersikap biasa, mengingat Sean belum menyadari bahwa dirinya sudah mengetahui perasaan lelaki 36 tahun itu padanya.
"Klasik sekali!" ejek Franda setelah menetralkan kembali pikirannya.
"Hm... Tapi itu kenyataannya, cinta yang membuatku bisa meraih semua ini." jawab Sean dengan bangga.
__ADS_1
"Boleh aku tahu siapa cintamu?" pancing Franda, ingin memastikan apa yang dikatakan Dhea. Tangannya meraih kopi yang mulai terlihat menarik untuk memanjakan lidahnya selagi telinganya fokus dengan kata-kata yang terucap dari mulut Sean.
"Kau!"
Franda langsung tersedak, kopi yang belum sepenuhnya melewati tenggorokannya tersembur keluar begitu saja, Ia tidak mengira Sean akan mengatakannya begitu lantang. Dhea yang sejak tadi diam langsung bereaksi, meraih tisu dan memberinya pada bosnya itu.
"Pelan-pelan saja, aku yakin dia masih memiliki banyak stok kopi untukmu, bos!" sindir Dhea. Franda langsung melayangkan tatapan tajam pada asistennya itu. Lalu kembali menatap Sean.
"Maaf..." katanya sembari membersihkan bekas semburan kopinya. "Apa kau memintaku kesini untuk mengatakan itu?" lanjut Franda.
Sean menggeleng, "Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Ini bukan berita baik, tapi rasanya sulit untukku menyembunyikannya terlalu lama. Jadi, ku pikir aku harus memberitahumu." jawab Sean, Ia berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke meja kerjanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah amplop berwarna cokelat Ia bawa dan diletakkannya di meja.
Franda menatap Sean dan amplop itu bergantian, "Apa ini?" tanyanya penasaran, Ia hendak meraih amplop tersebut, namun Sean masih menahan dengan jarinya. Membuat Franda semakin heran.
"Jangan membukanya disini, aku tidak sanggup melihat reaksimu. Bukalah saat kau tiba dirumah." ucap Sean. "Aku minta maaf jika terlalu lancang melakukan ini, tapi aku yakin kau pasti sudah tahu kalau aku menyukaimu. Aku tidak memiliki alasan apapun, aku melakukannya sebagai temanmu." jelas Sean.
Lagi-lagi ucapannya membuat Franda semakin bingung. Ia benar-benar penasaran akan isi amplop tersebut. Kenapa Sean merasa lancang melakukannya? Kenapa harus membukanya di rumah? Memangnya akan seperti apa reaksinya saat melihat amplop itu hingga Sean tidak ingin melihatnya.
"Memang apa isinya?" Franda tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, sikap Sean begitu aneh, ini bahkan pertemuan pertama mereka sejak setahun lebih berlalu. Kenapa tiba-tiba pria itu mengundangnya untuk alasan pekerjaan, namun sekarang memberikan sesuatu yang lain. Franda tidak bisa menebak apapun saat ini.
"Kau akan melihatnya nanti, berjanjilah untuk membukanya dirumah." pinta Sean.
Mau tidak mau Franda mengangguk. Ditahannya rasa penasarannya, menunggu sampai pulang ke rumah tidak begitu lama.
__ADS_1
"Aku akan tetap disini, hubungi aku jika membutuhkan sesuatu."