Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 55


__ADS_3

Franda dan Nino sudah kembali ke ruang perawatan, ditemani dua orang perawat yang mendorong brankar. Mereka disambut wajah cemas seluruh anggota keluarga yang sudah menunggu sejak satu setengah jam lalu, Nino sengaja tidak memberitahu mereka kalau bayinya sudah lahir.


"Hey! Bagaimana? Mana cucuku?" tanya Mama Rossa tidak sabar, suaranya nyaris memekakkan telinga, dan matanya menatap sekeliling berusaha mencari keberadaan cucunya.


"Ma, pelan sedikit! Franda baru saja tertidur..." ucap Nino cepat sembari menatap wajah lelah istrinya. "Ben masih di ruang bayi, nanti akan diantar kesini." lanjutnya.


"Apa yang terjadi? Apakah cucuku baik-baik saja?" tanya Mama cemas. Sementara yang lainnya mendekat ke hospital bed untuk melihat Franda.


"Ya, dia baik-baik saja, Ma! Sangat sehat, dan tampan sepertiku." jawab Nino bangga dengan senyum lebarnya.


"Lalu, kenapa tidak dibawa kesini?" tanya mama lagi, wanita tua itu benar-benar tidak sabar.


"Dokter masih harus melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan tidak ada yang salah... Hanya beberapa jam." kata Nino.


"Tapi dia baik-baik saja, kan?"


"Iya, Ma. Cucumu baik-baik saja, jangan khawatir..." Nino memeluk Mama Rossa dengan erat, Ia paham kekhawatiran Mamanya yang berlebihan, apalagi terkait cucu yang sudah dinantikannya selama beberapa tahun ini.


Mama Rossa menangis haru begitu menerima pelukan putranya, rasa bahagianya tak mampu di ucapkan dengan kata-kata, memiliki seorang penerus dari keluarganya adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Perasaan bahagia yang sama seperti saat melahirkan Nino dulu, namun kali ini lebih bahagia lagi karena melihat perjuangan anak dan menantunya yang begitu sabar.


"Selamat untuk kalian, Sayang." kata Mama Rossa setelah pelukan mereka terlepas.


Nino mengangguk, lalu menerima pelukan dan ucapan selamat dari yang lainnya, dimulai dari Papa Azka, Edward, Ibu, dan Mia yang begitu bersemangat.


"You made it, huh? Stop being stupid, from now focus on them. I'm gonna kill you if you make her cry again!" ucap Mia di telinga kakak iparnya, membisikkan kalimat terakhirnya untuk mengancam Nino.


Nino tersenyum dan mengangguk, tidak tersinggung sedikitpun dengan ancaman adik iparnya itu, Ia merasa wajar Mia mengatakannya karena sudah pasti gadis muda itu sangat menyayangi kakaknya.


"Thank you, Mia! Sebaiknya mulai sekarang kau berhenti meracuni istriku dengan selera fashionmu yang luar biasa high class itu, dia akan membuatku bangkrut seketika." Nino menyindir balik, menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Aku melakukannya supaya kau tidak memiliki sisa untuk diberikan kepada wanita lain, lebih baik Panda yang menghabiskannya! Aku bahkan bisa membantunya membuatmu bangkrut lebih cepat dari yang kau kira." jawab Mia santai.


Jawabannya sontak membuat semua orang tertawa saat mendengar Mia yang mengatakannya dengan lantang, terlebih Nino yang tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Ucapan Mia begitu pedas, meskipun tidak menyakitkan namun tetap saja mengganggu karena gadis itu menyindir perselingkuhannya dahulu dengan Jenny.


"Jangan dengarkan Mia, dia tidak serius mengatakannya." kata Ibu Marissa menengahi.


Nino mengangguk, "Tidak apa-apa, Bu. Aku memang pernah bersalah pada putrimu." jawab Nino sembari menunduk, tak berani menatap mata Ibu mertuanya.


Ibu Marissa tersenyum, ditepuknya pangkal lengan Nino beberapa kali. "Lupakan, hiduplah dengan baik kedepannya." pesan Ibu.


Nino mengangguk lagi.


"Lebih baik kau istirahat sekarang, karena kau tidak akan memiliki kesempatan lagi begitu istrimu bangun dan anakmu diantar kesini." ucap Mama yang sudah paham bagaimana situasi Nino nanti.


Nino menuruti saran Mamanya, Ia juga merasakan lelah yang teramat sangat, seluruh tubuhnya baru terasa remuk begitu istrinya melahirkan, karena sebelumnya Ia tidak sempat merasakannya. Fokusnya terus berpusat pada Franda, mengajak Franda mengobrol atau melakukan hal konyol yang membuat istrinya tertawa.


Franda menggeliat, tidurnya terganggu akibat dingin yang menusuk hingga ke tulangnya, tangan dan bibirnya gemetar, bahkan sampai membuat gigi atas dan bawahnya beradu.


"You need something?" tanya Mia, sambil memegang lengan kakaknya.


Franda melipat kedua tangan di dadanya, Ia ingin menyamping namun tidak bisa karena tubuh bagian bawahnya masih kaku pasca operasi sejam lalu. "Hm, selimut! Tolong naikkan suhu AC-nya." kata Franda setelah membuka mata.


Mia dengan cepat menarik selimut, menutup tubuh Franda hingga ke leher. Lalu dengan cepat meraih remot AC, keningnya berkerut saat melihat suhu yang menunjukkan angka 27°C, seharusnya tidak dingin, pikir Mia.


"Tidak usah di kecilkan, Franda kedinginan karena baru selesai operasi, itu biasa terjadi." kata Ibu menjawab pertanyaan dikepala Mia.


"Oh, tapi kenapa bisa?" tanya Mia.


"Penyebabnya banyak, tapi ini memang biasa terjadi, istilah medisnya pospartum shivering." jelas Ibu.

__ADS_1


Mia mengangguk paham. Ibu menambah selimut tebal yang dibawanya dari rumah bersama dengan barang-barang lain milik Franda, Nino, dan Ben, bayi mungil mereka.


"Thank's, Mom!" kata Franda dengan bibir bergetar, "Nino mana?" lanjutnya lagi, Ia belum melihat suaminya yang tertidur di sofa, karena Mama Rossa duduk menghalangi pandangannya.


"Tidur, tuh! Mau dibangunkan?" jawab Mama Rossa, sembari memiringkan badannya.


Franda menggeleng, "Biarkan saja, Ma. Dia pasti lelah sejak kemarin."


"Itu memang tugasnya, yang kau lahirkan itu anaknya juga." kata Mama Rossa. "Franda, selamat untukmu, Sayang. Terimakasih sudah bersabar dengan kondisi Nino, Mama bersyukur kau yang menemaninya selama ini, Maafkan kesalahannya di masa lalu, hm?" lanjut Mama Rossa.


Franda tersenyum, "Aku sudah melupakannya, Ma." jawabnya jujur.


Mama Rossa menggeleng, "Mama tahu tidak semudah itu melupakannya, masa lalu akan selalu menghantui pernikahan kalian. Percayalah pada suamimu, percaya pada putraku, yakinlah bahwa dia sudah benar-benar menyesali perbuatannya, Sayang. Mama sendiri yang akan langsung menghajarnya jika dia berani melalukannya lagi padamu, itu janji Mama padamu."


"Ya, Ma. Aku percaya padanya."


"Mau makan sesuatu?" tanya Ibu setelah beberapa saat.


Franda menggeleng, "Aku tidak lapar, Bu!" jawabnya, tangannya sibuk memeluk erat selimut agar menghangatkan tubuhnya.


Suara pintu ruang perawatan yang terbuka mengalihkan pandangan mereka, tampak Edward yang baru saja kembali membawa makanan, Ia tersenyum mendekat dan meletakkan bawaannya di atas meja disamping hospital bed.


"How was it?" tanyanya sambil tersenyum.


"Terrifiying!" jawab Franda singkat.


"Hah, kau seperti orang yang akan mati besok!" ejek Edward yang melihat adiknya menggigil dengan bibir yang terus bergetar.


Franda memutar bola matanya, "Thank you!" ucapnya, malas meladeni candaan kakaknya.

__ADS_1


Edward tergelak, "Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali?" katanya santai. "Anyway, congratulation! I'm happy for you!" lanjutnya lagi.


"Hmm."


__ADS_2