Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Honeymoon.


__ADS_3

Aku menggigit bibir dan mengedipkan mata sekali lagi untuk menggodanya.


"Apakah itu isyarat untuk bercinta, Sayang?" ucapnya dengan alis terangkat tinggi.


Dengan gerakan pelan dan hati-hati aku berjalan dan naik ke ranjang, lalu berbaring setengah telungkup. Aku membiarkan tubuhku yang berdenyut-denyut terbaring sambil menunggu responnya. Tanpa menunggu, Sean naik ke ranjang dan merangkak seperti macam kumbang mendekatiku. Satu tangannya bertopang disalah satu sisi bahuku, dan satu tangannya yang lain mengusap rambutku.


Demi Tuhan, Sean sangat seksi sampai rasanya aku ingin pingsan. Aroma citrus yang menguak darinya luar biasa memabukkan, dan ketika dia berbicara, aroma sampanye yang manis keluar dari mulutnya, membuatku ingin menciumnya. "Ada apa sugar baby-ku yang sombong? Apa yang kau inginkan?"


Aku hanya tersenyum dan Sean mencium keningku.


"Sean..." godaku dengan suara pelan dan malas.


Sean memiringkan kepalanya dan mendekatkan dirinya lebih rapat, "Ada apa, Sayang?"


Tanganku naik ke perutnya, naik lagi ke dada menyusuri kemejanya, dan berhenti di kancing paling atas. Aku mengusap kancing itu seolah-olah mengusap kulitnya, dengan sekujur tubuh yang gemetar dan rapuh, aku mengangkat dagu dan mengatakan keinginanku, "Sean..." lirihku.


"Mungkin ini pertama dan terakhir kalinya aku merasakan ini... Berbaring di ranjang ini..." Aku menjilat bibir, "Bolehkah aku mendapat kenangan manis disini?"


"Katakan padaku kenangan manis seperti apa yang kau inginkan, Sayang." tanyanya, menatapku dengan seksama. "Katakan apa yang bisa ku lakukan untukmu."


"Sentuh aku sepanjang malam di ranjang ini, Sean. Sementara tirai-tirai terbuka menampilkan pemandangan laut yang indah. Aku ingin sombong, menunjukkan pada lautan, bahwa aku sekarang didambakan, bukan dicampakkan. Bahwa aku sekarang merasa bahagia, bukan menderita. Aku ingin seisi lautan iri karena aku memilikimu."


"Sayang..." desis Sean kirih membelai pipiku, "Kau mendapatkannya. Kita akan membuat seluruh lautan iri karena kau adalah milikku dan aku adalah milikmu.


Sean perlahan mundur. Tangannya sudah berada dikancing kemejanya, namun sebelum membukanya, dia bergumam padaku, "Persiapkan dirimu, Sayang. Siapkan suaramu. Kau akan bersuara senyaring mungkin malam ini. Kau akan membuat mereka mendengar kebahagiaanmu. Apakah kau siap?"


Aku mengangguk lemah sambil menarik napas getir, "Ya, aku siap, Sean..."


Sambil menggigit jari aku mengamati jemari Sean yang panjang dan magis itu menarik kemejanya keluar dari dalam celana. Sementara dia mulai melepas kancing kemejanya, aku merapatkan pahaku dengan gelisah. Sampai kemejanya menyatu dengan lantai dan mempertontonkan otot tubuhnya yang mengagumkan, aku semakin bergairah dengan pinggul bergerak-gerak.


"Sayang..." panggilnya dengan suara berat, "Pipimu merah."

__ADS_1


Aku yakin tidak hanya pipiku yang merah, namun bagian tubuhku dibawah sana juga memerah apabila dia membuka tabirnya sekarang. Namun Sean berlutut dengan kuat diseberangku. Kedua pahanya membuka, dan kedua tangannya sudah berada di pengait celana panjangnya. Demi Tuhan, aku ingin menggapainya, karena gairahnya yang tersembunyi di balik celana panjangnya saja sudah sangat besar dan mengesankan. Membuat mulutku berair dan bergairah.


"Kau menginginkannya, Sayang?" tanyanya dengan kilat mata yang perlahan menggelap.


Rasa panas dan denyut yang halus menyebar dari ujung kakiku sampai ke sudut wajahku. Tubuh Sean yang luar biasa sempurna adalah pancingan besar bagiku. Sekujur tubuhnya bersih dan halus, otot dadanya menakjubkan, otot perut dan panggulnya menawan dan dihiasi urat-urat nadi yang tebal.


Sean melepas pengait celana panjangnya, menarik turun berikut pelapis terakhir yang melindungi inti tubuhnya yang luar biasa. Aku menelan liur yang membanjiri mulutku.


Dengan kedua tangan yang merayap naik ke tulang belikatku, Sean berbicara dengan suara yang sangat berat, "Aku akan memberikan semua yang kau inginkan, Sayang. Mari tunjukkan pada dunia apa yang kau rasakan."


Sebagai rasa syukurku yang luar biasa atas pengertian dan sikap manisnya, aku ingin menawarkan diri menepati janjiku tadi sore padanya. Namun belum sempat aku melakukan itu, Sean menarikku menempel pada tubuhnya, dan sebelah pipinya menekan dadaku yang semakin penuh dan kencang karena hasrat.


Sean mendengus keras, suaranya begitu berat, "Aku ingin menghabisimu sekarang, Sayang. Aku akan meremukkan tulang-tulangmu yang indah. Kau harus menghentikanku sebelum aku benar-benar melakukannya."


Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku, menarik dagunya agar memandangku. Ketika mata kami bertemu, aku menaikkan dadaku dengan nakal, "Aku tidak peduli, Sean. Kalaupun harus mati, aku siap mati di tanganmu."


"Sayang..." katanya, kedua tangannya sudah menjalari bahuku.


Puncak dadaku tenggelam ke dalam mulutnya, dan aku tidak tahan untuk mengerang. Ketika dia menggigitku, tubuhku melenting tapi aku tidak ingin dia berhenti. Jemariku menekan bagian belakang kepalanya, sementara kepalaku berputar seperti orang mabuk, membiarkan rasa nikmat menjalari tubuhku.


"Kau sangat penuh, Sayang. Kau sangat indah." bisiknya sambil menikmati tubuhku.


Sean menangkupku kuat-kuat, lalu menancapkan lagi bibirnya ke puncak dadaku. Mulut dan lidahnya membelaiku dengan indah. Aku terpejam, mengerang, dan meracau hingga aku merasakan ledakan yang luar biasa dibawah sana. Rasa nikmat, bahagia, dan puas menyerbu diriku. Sean sungguh mengerti cara memanjakanku.


Belum sempat aku mengatur napasku yang tersengal, wajah Sean sudah berada diantara kedua pahaku. Membelaiku dengan cara yang kasar namun nikmat, rambut halus disekitar wajahnya menambah sensasi kenikmatan yang kurasakan berkali-kali lipat. Aku meremas bantal, tubuhku melengkung, aku merasa akan meledak lagi, "Sean, aku..."


Aku ingin memperingatkan Sean untuk segera menjauhi tubuhku, tapi dia menahan pergelangan kakiku dengan kedua tangan sementara wajahnya terus-menerus mengirimkan gelombang sensasi yang nikmat dan tak tertahankan sampai aku menjerit, "Ya ampun, Sean!"


Sean menggeram puas, menerima dan mengamati bagaimana kepuasanku mengalir deras hingga membasahi sprei. "Kau memang luar biasa, Sean."


Degan gerakan cepat dan agresif, Sean membuka lebar pahaku yang masih gemetar, lalu merangkak naik. Kedua tangannya bertumpu disisi kiri dan kananku, tatapannya beralih ke mataku. "Kau siap, Sayang? Aku benar-benar akan menghancurkanmu sekarang." ucapannya berat akibat dipenuhi gairah.

__ADS_1


"Ya," Aku mendesah dengan bibirku yang kering, "Lakukan, Sean... Lakukan apapun yang kau inginkan, buktikan ucapanmu. Hancurkan aku."


Aku mengerang begitu Sean menyentak tubuhku dengan keras, menghujamku dengan cepat dan nikmat, menenggelamkan tubuhnya padaku sedalam mungkin. Tanganku berpegangan pada kedua lengannya yang kokoh. Aku bisa merasakan kukuku menancap disana karena kenikmatan yang luar biasa.


Sean begitu lihai, begitu hebat, begitu panas. Aku benar-benar terpuaskan, sampai akhirnya Sean menenggelamkan segenap dirinya ke tubuhku yang terdalam, dan memuntahkan seluruh hasratnya padaku.


Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Cara Sean menyentuhku benar-benar berbeda. Kasar namun lembut, liar namun teratur. Aku menikmati semuanya meakipun Sean menyentakku dengan irama keras dan tak terkendali. Aku tahu tekadnya bukan untuk menyakitiku, melainkan memberikan kenikmatan yang sebesar-besarnya. Dan aku menerimanya, sepenuhnya, sampai aku merasakan mencapai puncak berulang kali sambil menangis.


Kusapukan bibirku ke pipinya, menyatakan betapa aku bersyukur memilikinya. Aku lebih bersyukur lagi sampai dadaku sakit saat Sean memelukku dengan erat, "Aku ingin selamanya seperti ini, Sean."


Sean bangkit duduk dengan mendadak. Ketika punggungnya sudah menempel disenderan ranjang, diraihnya kedua bahuku yang polos, tangannya mengangkatku pelan sampai aku menempel di dadanya yang hangat. "Apakah itu artinya kau ingin aku tidur bersamamu setiap malam, Sayang?"


Aku hanya mengerling, lalu merebahkan kepalaku di dadanya yang berdegup, "Kupikir aku tak sanggup menjawabnya. Pertanyaanmu terlalu mendebarkan."


Sean tertawa dengan nada candaanku. Tangannya mengencang di pinggangku, dan satu tangannya yang lain membelai rambutku, "Memangnya bagian mana yang mendebarkan?"


Aku tertawa halus, mataku kembali menatapnya, "Ya ampun, Sean!" getutuku. "Tentu saja menghabiskan sepanjang malam bersamamu sangat mendebarkan. Kau bergerak seperti mesin, sementara aku hanya ranting yang rapuh."


Sean tertawa renyah, "Sayang, kau melewatkan bagian penting lainnya," gumamnya, membenamkan wajahnya di dadaku.


Aku merangkul lehernya. Kemudian jemariku mendongakkan dagunya agar menatapku, "Apa yang kulewatkan, Sean? Tak ada yang lebih mendebarkan selain bercinta denganmu."


Sean mengulurkan tangan ke arah nakas, membuka laci nakas, dan mengeluarkan kotak beludru dari sana. Aku menatapnya dengan tersenyum. Sean bangkit duduk dan membuka kotak beludru itu, "Hadiah resmi pertamaku untukmu, Istriku."


"Ah, Sean..."


***


Ini kalo gak ada yang komen, aku stop update!


Bye!!😠

__ADS_1


__ADS_2