Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 35


__ADS_3

"Aku ingin menjalani kehidupan yang baik denganmu, menghabiskan waktu sampai tua bersamamu, itu juga kenapa aku memintamu untuk berhenti minum... Pertama kali kau mabuk dan menginap dirumahnya aku masih bisa memaklumi karena aku yang membuatmu seperti itu, tapi aku tidak bisa menahannya sekarang. Saat itu aku ingin sekali minum dan melampiaskan kemarahanku pada barang ini, tapi sekuat tenaga aku memaksa diriku untuk tidak melakukannya. Aku tidak ingin menjadi egois padamu." Nino berdiri, tanpa sengaja Ia menginjak pecahan kaca, namun Ia mengabaikannya dan berjalan mengambil rokok diruang kerjanya.


Nino kembali dan duduk ditempat sebelumnya lalu menyalakan rokok dan menghisapnya sampai habis. Franda yang sejak tadi tertunduk tidak melihat kalau darah sudah berceceran dilantai yang diinjak Nino saat keluar masuk ke ruang kerjanya. Wanita itu sama sekali tidak bergerak ditempatnya.


"Kau memintaku memberimu waktu untuk bersenang-senang dan aku memberikannya, tapi lihat apa yang kau lakukan? Baru sekali saja kau sudah seperti ini, padahal aku sudah mengingatkanmu sebelum kau pergi... Kau tahu bagaimana perasaanku saat istriku pergi dengan penampilan seperti wanita liar dan pulang bersama seorang pria yang menemanimu mabuk sebelumnya? Oh, kau tidak akan tahu karena kau sangat bahagia bersamanya." kata Nino, sakit hatinya tak bisa lagi disembunyikan. Franda harus mengetahui bahwa Ia sangat kecewa saat ini.


Franda lagi-lagi terdiam, tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab suaminya karena yang dikatakan Nino memang benar, selain di bagian bahagia bersama Sean. Dirinya tidak merasakan itu sedikitpun.


"Aku ingin menjagamu, Sayang... Aku tidak mau kau mempermalukan dirimu diluar sana. Bagaimana jika ada seseorang yang mengenalmu dan melihat kau duduk di klub bersama pria lain saat kau masih memiliki suami? Bagaimana aku harus menghadapi orangtuaku atau keluargamu?... Semua orang akan berpikir aku tidak bisa mendidik istriku, padahal kau yang memaksaku untuk membiarkanmu!" Nino kembali membakar rokok dan menghisapnya lama.


Franda tahu Nino merokok, tapi tidak pernah merokok dihadapannya. Bahkan jika sewaktu-waktu Franda melihatnya merokok Nino pasti akan langsung membuangnya, karena Ia tahu istrinya tidak suka melihatnya merokok. Franda tidak mempunyai nyali untuk melakukan apapun sekarang, duduk diam dan mendengarkan Nino adalah hal yang bisa dilakukannya. Ia tidak ingin menambah kemarahan suaminya dengan mengucapkan sesuatu yang justru bisa saja membuat Nino semakin murka.


"Apa yang kau inginkan dengan kebebasanmu? Apa kau ingin membalasku karena mengkhianatimu dan berselingkuh dengan Jenny? Kau memintanya kesana dan menemanimu?" tanya Nino, luka dikakinya sama sekali tidak Ia rasakan meskipun darah terus mengalir dan membanjiri lantai. Rasa kecewanya lebih besar sekarang dibanding rasa sakit dikakinya. Sementara Franda juga masih belum menyadari jika sesuatu telah terjadi pada suaminya.


Franda menggeleng cepat. "Bukan begitu! Aku tidak ada hubungan apapun dengan Sean, kami tidak sengaja bertemu disana, dan juga aku bersama Mia. Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu akan bertemu dengannya." ucap Franda sambil terisak dan bibir bergetar untuk pertama kalinya sejak sedari tadi diam dan mendengarkan suaminya, air mata yang tertahan kini tumpah saat mendengar pertanyaan, atau lebih tepatnya tuduhan yang keluar dari Nino, dan menjadi lebih sedih ketika menatap wajah suaminya yang terlihat pucat akibat banyaknya darah yang keluar dari lukanya tapi Franda tidak menyadari itu.


"Lalu kenapa dia bisa mengantarmu pulang? Terlalu banyak hal buruk yang kupikirkan sekarang, entah bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu. Kau pergi dari rumah sendiri dengan pakaian seperti itu, bahkan tidak mau basa-basi untuk mengajakku sama sekali padahal aku bisa menemanimu. Lalu kau pulang diantar oleh seorang pria yang aku tahu menaruh hati padamu, kau mungkin tidak melihatnya tapi aku tahu!... Aku bahkan berpikir mungkin Mia hanya alasanmu agar bisa bertemu dengannya!" ucap Nino panjang, lalu meminum kembali wiski dihadapannya tanpa menuang ke gelas, Ia langsung minum dari botolnya.


Franda tidak percaya dengan kata-kata Nino, tapi Ia berusaha menahan amarahnya dan memilih untuk tidak melawan suaminya. Pertengkaran mereka tidak akan ada habisnya jika dirinya bersikap keras, harus ada salah satu diantara mereka yang mengalah.


"Aku tidak berbohong, Sayang... Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku memang ingin kesana bersama Mia dan tidak tahu sama sekali jika Sean juga akan ada disana." jawab Franda pelan dengan tatapan memohon pada suaminya sambil memegang lengan Nino.

__ADS_1


Nino menepis lengan istrinya. "Aku tidak tahu harus percaya padamu atau tidak, karena aku tidak tahu apa yang terjadi saat kau bersamanya, aku sedang menunggu dirumah seperti orang bodoh sementara istriku tertawa dan bersenang-senang bersama pria lain diluar sana!" kata Nino kembali menatap tajam istrinya.


"Sayang, aku mohon... Percaya padaku!" kata Franda memohon.


"Bagaimana aku harus percaya, kenyataan bahwa aku pernah berselingkuh membuatku merasa seperti kau...." Nino terdiam saat Franda tiba-tiba menggoyang tangannya.


"Sayang... Darah..." ucap Franda dengan gemetar setelah melihat darah yang membanjiri lantai bahkan tampak sudah hampir mengering di beberapa tempat, rasa panik semakin menyerangnya saat mengetahui dari mana darah tersebut berasal.


Franda turun dari sofa dan menarik kaki Nino kepangkuannya dengan tangan yang bergetar hebat. Melihat luka yang menganga lebar ditelapak kaki Nino membuatnya semakin lemas.


"Tidak apa-apa..." kata Nino pelan sambil menarik pelan kakinya.


Franda langsung berjalan tanpa mendengarkan suaminya yang bahkan belum selesai berbicara, keluar dari kamar dan berlari turun setelah menghindari beberapa pecahan kaca.


"Ya, Bu..." jawab Mbak Ika yang juga berlari mendekat, Ia bingung melihat majikannya yang tampak sangat kacau dan ketakutan.


"Tolong... Itu... Air... Air hangat, aku butuh air hangat. Tolong bawa ke kamar!" kata Franda terbata-bata, tubuhnya masih gemetar.


"Hey, ada apa?" tanya Mia pada Franda, lalu kembali bersuara saat melihat kedalam kamar Franda yang berantakan dan darah berceceran dimana-mana. "Oh, God! Apa yang terjadi?"


"Nino terluka, tolong bantu aku membersihkan pecahan kaca." kata Franda lalu masuk ke kamar dan mengambil beberapa barang dilaci meja rias untuk untuk membersihkan luka suaminya.

__ADS_1


Nino mendekati Franda yang sedang mengacak-acak laci untuk mencari kotak P3K yang tidak tahu kenapa tiba-tiba hilang.


"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir." Nino memegang lengan Franda yang sedang panik. Ia tidak merasakan sakit dikakinya sama sekali padahal wajahnya sudah sangat pucat akibat kehilangan banyak darah.


"Duduklah, kenapa kau kesini?" ucap Franda setengah putus asa melihat Nino yang berdiri disampingnya, air mata terus mengalir dipipinya. Ia menarik kursi dimeja rias dan menyuruh Nino duduk, lalu menarik kaki suaminya ke pangkuannya.


Franda membersihkan darah dikaki Nino menggunakan tisu dengan tangan yang masih bergetar. Ia semakin histeris saat melihat pecahan kaca yang tertinggal dikaki suaminya, tertancap saat Nino berjalan tadi.


"Oh, my God!... No, no, no!... How can you not feel this?" ucap Franda tak percaya saat melihat kaki Nino.


"Aku tidak apa-apa, Sayang..."


"Shut the **** up! Kau bisa lanjut memakiku nanti!" bentak Franda pada suaminya yang terus saja mengatakan tidak apa-apa padahal lukanya sangan besar, bahkan dengan pecahan kaca yang masih menancap disana. Nino menurut dan langsung diam.


Mbak Ika masuk dan menaruh air hangat disamping Franda yang sedang duduk diantara dua kakinya sambil mengelap kaki Nino menggunakan tisu. Asisten rumah tangga itu membelakak saat melihat luka majikannya yang mengerikan. Wanita itu berdiri dan tidak mengatakan apapun pada Franda dan Nino, Ia mengambil sapu ditangan Mia dan melanjutkan membersihkan ruangan itu. Ini pertama kali baginya masuk kedalam kamar majikannya yang terlihat sangat besar karena selama ini Franda tidak mengijinkan siapapun masuk kesana kecuali Ia dan Nino, bagi Franda kamar mereka adalah ruang pribadi bagi mereka berdua.


"Mia, tolong ambilkan pinset dimeja rias!" kata Franda pada Mia, yang disuruh langsung melaksanakannya secepat kilat.


"Ini!" ucap Mia sambip menyerahkan pinset ditangannya.


"Ambil tisu yang banyak. Aku akan mencabut kacanya, kau langsung tutup lukanya setelah itu." perintah Franda dan dibalas anggukan oleh Mia.

__ADS_1


"Tahan sebentar, ini akan sakit!" lanjutnya sambil menatap wajah pucat suaminya yang tersenyum padanya.


Nino tidak merasakan sakit sama sekali, Ia bersyukur wiski mahalnya sangat membantu dirinya sekarang. Ia bahkan tidak bergerak sedikitpun saat istrinya mencabut pecahan kaca yang cukup besar itu dari telapak kakinya. Ia tetap tersenyum pada istrinya yang panik setengah mati dengan air mata dan tangan yang terus bergetar.


__ADS_2