Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 60


__ADS_3

Franda turun dari SUV moonlight bluenya yang mewah, melangkah pasti masuk ke dalam rumah 2 lantai miliknya dan Nino. Kedatangannya disambut gelak tawa Bennet yang sedang bermain bersama granny-nya di ruang keluarga, bayi gempal itu begitu bersemangat merangkak kesana-kemari, mencoba kabur dari kejaran sang granny. Pemandangan yang sungguh menakjubkan, wajah tua itu tidak terlihat lelah sama sekali meskipun harus mondar-mandir mengejar sang cucu, kebahagiaan jelas terpancar disana.


"Hi, baby... You're so excited, huh!" Franda meletakkan clutch bag hitamnya di sofa, dengan cepat Ia peluk putra kesayangannya yang menggemaskan itu, menghujani seluruh wajahnya dengan ciuman, melepaskan rindu yang meluap, padahal mereka hanya terpisah selama 2 jam. Mama Rossa memperhatikan keduanya dengan senyum mengembang, napasnya masih setengah menderu akibat bermain dengan Ben.


"Apakah dia rewel, Ma?"


Mama Rossa menggeleng, "Tidak sama sekali, dia sangat pengertian." Mama Rossa duduk di sofa, menempelkan punggungnya pada sandaran, menggoda cucunya dengan kedipan mata.


Ben merespon dengan tertawa dan menaikkan kedua tangannya ke udara, dua gigi bawahnya yang belum keluar membuat ekspresinya lebih lucu, menggemaskan sekali.


Aku kasih visual baby Ben, ya.



"Good boy, I'm so proud of you!" Franda kembali menghujani ciuman di pipi putranya. "Ben sudah minum susu, Ma?"


"Sudah, sekitar setengah jam lalu." jawab Mama Rossa. Franda merespon dengan anggukan.


Suara langkah kaki mendekat mengalihkan perhatian mereka, tampak Nino yang baru pulang kerja, senyumnya begitu cerah melihat 3 orang yang disayanginya berkumpul di ruang keluarga. "Hai, Sayang..." Nino mendaratkan ciuman singkat di pipi Franda, "Hai, Ma... Ben!"


Ben begitu girang saat melihat Daddynya, tangannya terulur, isyarat minta di gendong. Nino dengan senang hati menuruti, meraih Ben dari pangkuan Franda, mengangkatnya tinggi dan bermain kecil.


Keduanya bermain beberapa saat, sampai akhirnya Nino mengajak Franda masuk ke kamar dan menitipkan Ben pada Mama Rossa lagi, " Ma, aku titip ben sebentar." katanya sambil mengedipkan sebelah mata, Mama Rossa tentu sudah paham maksud anaknya.

__ADS_1


"Ya, Tuhan! Ini masih sore, tidak bisakah kau menunggu nanti malam?" protes Mama.


Nino tidak menjawab omelan Mamanya, Ia langsung menarik lengan istrinya yang sedang malu. Franda hanya tersenyum kikuk pada Mama mertuanya, tidak sempat mengatakan apapun.


Sampai di kamar Nino langsung menyerang Franda dengan ciumannya, Franda yang kaget merasa tidak nyaman dengan suaminya yang terkesan buru-buru. "Kau kenapa?" tanya Franda setelah berhasil menarik paksa bibirnya.


Nino menggeleng, ditendangnya pintu kamar agar tertutup rapat. "Aku merindukanmu," tangannya mulai sibuk menjelajah kemana-mana, menggoda titik-titik sensitif Franda. Mendorong istrinya hingga terbaring, dan langsung kembali menyerang dengan ganas.


Franda ingin menolak, namun tidak tega melihat suaminya yang tampak begitu kelaparan. Akhirnya Franda juga terpancing untuk mengikuti permainan suaminya, menghabiskan sore hari dengan berbagi keringat dan kenikmatan, mengantar matahari sore kembali ke peraduannya, berganti tugas dengan sang rembulan. Keduanya kalap hingga hampir dua jam lamanya, menyelesaikan urusan per-ranjang-an saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Franda dan Nino turun untuk makan malam, bergabung dengan Mama Rossa dan Papa Azka yang sudah lebih dulu mengisi piring mereka.


"Maaf, Ma! Putramu yang mengurungku dikamar." ucap Franda, menahan malu sebisa mungkin. Mama Rossa pasti kesal menunggu mereka sejak tadi, bahkan sampai Papa Azka dan Mia datang pun mereka tidak tahu. Franda baru menyadari Mia sudah pulang saat melihat adiknya itu sedang bermain dengan Ben di ruang keluarga, menggantikan Mama. Bahkan Mama juga yang sudah memandikan Ben.


Mama Rossa memutar bola matanya, "Lebih baik kalian menyewa pengasuh, Mama tidak mungkin terus menjaga Ben sementara kalian enak-enakan berdua." jawab Mama Rossa ketus.


"Thank's, Pa!" sahut Nino, mulai menyendokkan nasi ke piringnya.


Makan malam yang tenang terganggu dengan suara tangis Ben dari ruang keluarga, Franda langsung meletakkan sendok di piringnya, "Aku lihat Ben sebentar, sepertinya dia haus." kata Franda pamit, lalu bergegas menghampiri putranya.


"Ben... I'm coming!" seru Franda. "Mia, makanlah... Aku akan membawa Ben ke kamarnya." lanjut Franda, diraihnya Ben dari gendongan Mia, lalu menyambar clutch bag hitamnya di sofa, Ia baru ingat tentang amplop yang diberikan oleh Sean tadi sore. Franda akan membukanya sambil menyusui Ben.


Franda berjalan cepat, menapaki anak tangga satu persatu menuju kamar putranya, duduk bersandar di sofa malas dan langsung menyumpal mulut Ben dengan dadanya. Bayi itu langsung tenang saat menyesap asi dari sumbernya.

__ADS_1


Sembari menyusui, Franda mengeluarkan amplop yang dilupakannya sejak pulang tadi, padahal Ia sangat penasaran dengan isi amplop tersebut, jarinya dengan anggun membuka amplop itu. Mata dan mulutnya membulat seketika, diperhatikannya satu persatu foto di tangannya, jumlahnya cukup banyak. Keseluruhan menunjukkan wajah Nino, suaminya bersama seorang wanita yang sangat dibencinya, Jenny.


"Apa lagi ini?" Franda bermonolog. Tidak ada foto mesra, namun setiap foto menunjukkan Nino dan Jenny menggunakan pakaian yang berbeda, artinya mereka sering bertemu dalam waktu yang berbeda.


Franda benar-benar marah, jantungnya seakan siap meledak, Ia ingin menangis tapi tidak bisa. Franda menarik napas dalam berkali-kali, menahan amarahnya sesaat, dirinya harus memastikan Ben tertidur baru kemudian bertanya tentang foto-foto itu pada suaminya.


20 menit berlalu, Franda meletakkan Ben di baby crib, lalu secepat kilat berjalan keluar setelah memastikan Ben benar-benar pulas dalam tidurnya, Franda harus meminta penjelasan Nino mengenai foto-foto itu.


"Bisakah kita bicara?" ucap Franda pada Nino dengan suara bergetar. Membuat Papa, Mama, dan Mia mencium pasti ada yang tidak beres dengan pasangan didepan mereka.


Nino menautkan kedua alisnya, "Ada apa, Sayang?" tanya Nino bingung.


"Aku tunggu di kamar!" alih-alih menjawab pertanyaan Nino, Franda langsung berbalik, acuh pada ketiga orang lain yang menatap heran padanya. Dengan setengah berlari Franda naik ke kamar mereka, diikuti Nino di belakangnya.


"Apa ini?" Franda melempar foto-foto itu tepat mengenai wajah Nino, lalu mendarat sempurna di lantai.


Nino mulai gelagapan menatap foto-fotonya besama Jenny berserakan di lantai. Bahunya lemas seketika, Nino berpikir ini adalah akhir dari segalanya. Franda sudah mengetahui kebusukannya yang tersimpan rapi selama ini.


"Bisa kau jelaskan apa itu? Kau masih berhubungan dengannya? Apa yang kau lakukan dibelakangku? Inikah yang kau janjikan waktu lalu?" Franda menyerang dengan pertanyaannya, begitu banyak yang ingin dilontarkannya, namun pikirannya buntu seketika.


Nino terdiam. Tidak mampu menjawab istrinya.


"Jawab aku, Berengsek!" teriak Franda sembari mendorong kasar suaminya, Nino bahkan hampir terjengkang.

__ADS_1


Nino bergeming, belum mau membuka suara. Diamnya tentu saja membuat Franda semakin berang. Franda menggigit bibir bawahnya menahan tangis agar tidak tumpah. Rasa sesak didanyanya begitu menyiksa, seperti ditusuk dengan ribuan jarum secara bersamaan.


"Maaf..."


__ADS_2