Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Dark Bussiness


__ADS_3

"Kau tidak apa-apa? Efek samping obat bius-nya sepertinya sudah mulai hilang."


Aku menatap skeptis pada pria paruh baya yang duduk di seberangku. Erick Sinambela. Dia memperkenalkan dirinya sebagai agen interpol Indonesia, serta sederet omong kosong lainnya. Maksudku, orang-orang seperti mereka seharusnya pergi mengurusi hal-hal penting yang super rahasia, seperti menjadi mata-mata di tempat yang berbahaya atau sebangsanya. Setidaknya itulah yang sering kulihat di film. Ketimbang duduk-duduk sambil mengobrol denganku seperti ini.


"Hei, akulah yang terluka disini. Dia baru saja mematahkan hidungku!"


Aku mengalihkan pandangan pada pemuda yang sebelumnya, Rudi. Dia menengadahkan kepalanya ke atas seraya membekap hidungnya yang masih mengucurkan darah dengan handuk yang kini nyaris seluruh permukaannya berwarna merah gelap. "Kau membiusku, memangnya apa yang seharusnya kupikirkan?" sergahku.


"Lakukan sesuatu untukku Rud. Pergi sana obati dirimu atau apa, aku perlu berbicara dengan Mr. Warner sekarang." sela Erick setengah menggeram padanya.


"Anak-anak akademi, seperti amatiran." gerutunya setelah Rudi meninggalkan ruangan. "Jadi, apa kau sudah memutuskan?" Dia berpaling padaku.


Aku mencondongkan tubuhku, bertumpu pada meja. "Jika kalian menginginkan bantuanku disini, lucu sekali cara kalian menunjukkannya dengan menyergapku lalu memperlakukanku seperti anjing yang di angkut."


"Dengar, pemerintah menginginkan kami menangkap paling tidak distributor obat-obatan terlarang itu dari Malaysia sebelum akhir bulan ini, jadi kami bisa mendapat akses ke bandar yang lebih tinggi. Dan kau adalah orang yang punya kontak dengan salah satunya, David Boseman. Rudi hanya tidak sedang berpikir panjang karena merasa terdesak oleh tenggat waktu kasus kami yang semakin dekat."


"Kenapa kalian tidak pergi saja ke polisi? Aku sudah melaporkan semuanya pada mereka."


"Ada sesuatu, kita tidak bisa mendapatkan informasinya. Mereka tidak mau berbagi." Jadi aku bukanlah satu-satunya orang yang tidak mempercayai gerombolan ini.


"Aku akan memikirkannya," ujarku seraya beranjak dari kursi. "Bisa aku pergi sekarang? Atau kau harus mengurungku selama beberapa jam untuk membuatku setuju bekerja sama?"


Dia mengabaikan kesinisanku. "Apa aku sudah menyebutkan ini soal hidup dan mati?" Kini dia mengikutiku berdiri. "Bandar juga tahu bahwa Dave telah menghubungimu, jadi kami bukanlah satu-satunya orang yang ingin 'bicara' padamu. Dan aku tidak bisa menjamin mereka akan bersikap lebih ramah dari kami."


Ada kilatan kepuasan di matanya saat dia mengatakannya. Seakan tahu jika ucapannya telah mengenai sasaran. Tapi terkutuklah aku jika membiarkan orang-orang ini, yang datang entah dari mana, lalu ingin melibatkanku dalam kekacauan mereka.


"Kubilang, akan kupikirkan." kataku sedikit menunjukkan siapa yang berkuasa disini, lalu berderap meninggalkannya.


Aku memberi anggukan singkat pada penjaga di depan gedung tempat tinggalku ketika mereka memandangi dengan heran saat van yang dikemudikan Rudi menurunkanku di depan rumah.


"Ada yang mencariku?" Aku berkata saat melihat Rubicon putih yang terparkir di depan gedung. Mobil Dean.


"Ya, sir. Sejak siang tadi, dan dia terlihat... kesal. Kami tidak bisa berbuat banyak untuk meyakinkannya agar kembali lain waktu."


Aku mendengus tawa mendengarnya, "Tidak apa-apa, aku akan menemuinya."


Dean sedang duduk di sofa ruang keluarga, membaca sesuatu pada layar ponselnya dengan wajah serius saat aku memasuki rumah. Dia mendongak saat mendengarku datang. "Apa yang terjadi padamu? Tampangmu kacau sekali." komentarnya dengan sebelah alis terangkat heran.


Aku menanggalkan jaketku lalu meletakkannya ke sandaran sofa di seberang Dean. "Ada apa, Dean?"


"Kau perlu menjelaskan tentang laporan itu. Apakah kau benar-benar melaporkan Dave?"

__ADS_1


Aku mengerang dalam hati seraya melangkahkan kaki menaiki anak tangga yang mengarah ke kamarku. "Kau kan sudah mengetahuinya." Aku mendengar dia mengikuti tepat di belakangku.


"Tapi kenapa harus sejauh itu? Dave orang baik, dia yang sudah membantumu mengurus perusahaan selama ini, dan kau jelas-jelas masih membutuhkan bantuannya. Aku tidak melihat ada alasan yang lebih masuk akal dari itu. Kecuali kau memang ingin menyingkirkannya."


Hebat. Dean jelas tidak akan menerima hal ini dengan mudah, mengingat bagaimana kedekatannya dengan Dave sejak dulu. Well, aku tidak menyalahkannya. Bagaimanapun, Dave memang orang yang baik. Pamanku bahkan lebih menyukainya ketimbang Dean, yang merupakan anak kandungnya sendiri.


"Aku lelah, Dean. Butuh istirahat jika kau tidak keberatan." ujarku tak acuh sambil melemparkan diri ke atas ranjang, berbaring memunggunginya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan." gumamnya getir. "Kau berhutang banyak padanya, Kak."


Dengan penuh gerutuan aku mengangkat tubuhku dari ranjang lalu menyandarkan diri pada headboard. Memandangi Dean yang masih bertahan di ambang pintu sambil bersedekap. Keningnya berkerut dan mulutnya terbuka sedikit dengan ekspresi keras kepala.


Jujur saja, beberapa hari terakhir ini sudah terasa cukup mengenaskan bagiku tanpa harus mendengarkannya mengoceh segala. Berurusan dengan Dave, kontraknya, dan semuanya. Lalu yang terburuk dari semua itu, aku terpaksa harus meninggalkan Franda. Jadi, aku sangat tidak memerlukan lagi omong kosong ini.


"Dengar, Dean... Aku tahu kau sangat memuja Dave, begitu pula aku. Tapi dia sudah keterlaluan, dan masalah yang dia sebabkan bukan masalah kecil. Aku harus membayar ganti rugi sebanyak dua puluh triliun jika Dave tidak segera membuat pernyataan. DUA PULUH TRILIUN, Dean!"


Dia mengangkat alis tak percaya. "Kau tak mungkin serius... kau bahkan belum mengetahui apa penyebab dia melakukan itu, Kak. Pasti ada kesalahan disini." desaknya.


"Satu-satunya kesalahanku adalah tidak sadar bahwa dia adalah penghianat paling menjijikkan." balasku sengit, tersulut oleh emosi. "Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, maka aku pun akan mempertahankan kehidupanmu juga. Hidup kita bergantung pada perusahaan ini."


***


Sentakan tiba-tiba pada pintu di kursi penumpang di sebelahku membuatku nyaris terlonjak kaget. Aku secara spontan bersiap melayangkan kepalan tanganku saat sesosok laki-laki mendadak masuk lalu duduk mengisi kursi penumpang.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku heran. Kupikir aku tidak memiliki urusan apapun lagi dengan komplotannya sejak terakhir bertemu mereka seminggu yang lalu. "Kau mengikutiku?" Aku memutar kepala melihat keluar, ke sekeliling mobil, berusaha mencari keberadaan van mereka, atau anggota yang lain, tapi tak menemukannya.


"Kau tidak menghubungi kami sejak seminggu yang lalu, jadi bos-ku merasa khawatir."


"Hentikan saja basa-basinya, kau punya waktu lima menit untuk mengatakan apa maumu sebelum aku melapor pada polisi kalau kau telah menerorku." balasku geram.


"Polisi? Bung, kami adalah interpol."


"Tapi kalian bekerja sendiri."


Dia mengangkat bahu, "Yah, kalau soal itu... tidak semua kewenangan diberikan pada kami. Dengar, ada alasan tertentu kenapa kami merasa cemas," Tiba-tiba nada suaranya menjadi lebih serius. "Kami telah mengamati, bahwa para anggota bandar terus berdatangan kesini selama sebulan terakhir, seolah mereka ingin meng-invasi kota ini atau semacamnya."


"Itu masalah kalian." sergahku.


Dia berdecak tak sabaran. "Kau adalah satu-satunya orang yang dihubungi oleh Dave. Menurutmu jika mereka ingin menemukannya, siapa yang akan ditanyai lebih dulu?"


"Adiknya, Frank, tentu saja. Mereka pasti akan mencarinya ketimbang aku."

__ADS_1


Dia menggeleng. "Itu tidak mungkin, karena dia ada pada kami sudah berbulan-bulan."


"Sialan, apa yang kalian rencanakan sebenarnya?" Aku mengertakkan rahang memandangnya.


"Kami pikir mereka sedang mengincar sesuatu," Dia mengalihkan pandangan keluar jendela. "Hanya saja, kami belum tahu apa itu." Kini dia kembali melihatku.


"Tapi pasti sesuatu yang sangat penting, jika sampai salah satu pimpinan komplotannya yang paling berpengaruh, datang kesini untuk mengawasi semuanya sendiri."


Keheningan menyelimuti kami untuk beberapa saat hingga aku memutuskan bicara lebih dulu, memecahkan keheningan. "Itu kedengarannya cukup menegangkan. Selamat bekerja keras kalau begitu."


Rudi mengembuskan napas panjang. "Dengar, sir... aku tak akan berbohong padamu, masalah ini sudah menjadi semakin rumit. Pria ini, orang yang mereka kirim, kami pikir dia mengenalmu dan juga keluargamu dengan sangat baik. Dan jika kau menolak bekerja sama dengan kami, mustahil menempatkanmu ke dalam daftar perlindungan saksi."


Ada makna yang tersirat di balik perkataannya. Bukan hal yang baik, aku bisa merasakannya. Dari yang pernah kudengar, program perlindungan saksi merupakan tindakan preventif dari kepolisian untuk kasus kriminal yang dianggap cukup serius. Mungkin inilah salah satunya.


"Kami tak mau ambil resiko dengan kedatangan mereka."


Aku mengerutkan kening menatapnya. "Mereka?"


Dia mengangguk. "Ya. Ada dua orang yang kami curigai. Pemilik jaringan properti terkemuka World Tower Co., Park Jae Beom, dan juga pengusaha ritel yang kini menjabat sebagai perdana menteri Malaysia, Syaiful Eddie. Merekalah yang memiliki profil paling mendekati dengan tersangka yang kami cari."


"Ditengah pergerakan anggota bandar yang tidak wajar akhir-akhir ini, kami pikir waktu kedatangan mereka kemari terlalu kebetulan. Menurut jadwal, harusnya mereka berdua tiba disini sehari sebelum acara peringatan hari jadi Warner Enterprise yang sudah direncanakan pamanmu sejak jauh-jauh hari sebelum dia sakit, itu berarti akhir pekan ini. Disinilah kami butuh sedikit bantuan darimu."


Aku mencoba membayangkan dalam pikiranku kedua orang yang disebutkannya sebagai anggota mafia berbahaya. Tidak masuk akal.


Jae Beom adalah pengusaha properti paling sukses dari asia, semua orang tahu itu. Dan juga, dia adalah salah satu rekanan bisnisku yang paling potensial. Untuk apa orang sepertinya mau menempuh resiko dan melibatkan diri ke dalam bisnis hitam?


Lalu, pria yang satunya, Syaiful Eddie, dia teman lama pamanku sejak tahun pertama mereka di kampus NTU Singapura, bahkan pamanku juga mengenalnya dengan baik. Aku sempat bertemu dengannya satu atau dua kali ketika... Well, pokoknya dia sama sekali tidak sesuai dengan gambaran anggota mafia atau sejenisnya.


"Kami belum bisa memastikan siapa di antara mereka yang di kirim oleh bandar besar," Suara Rudi menarik pikiranku kembali. "Pergerakan kami sedikit terbatas kali ini karena mereka memiliki semacam proteksi, masalah keamanan yang dijamin oleh pemerintah. Itu bisa jadi isu sensitif antara kedua negara, jadi kami perlu berhati-hati."


Aku mendengus pelan. "Karena itu kau hendak menggunakanku sebagai umpan?"


"Sir, aku sudah memberikan gambaran betapa krusialnya saat-saat ini padamu, ini mungkin terdengar beresiko, tapi jika kita bisa menghentikannya lebih dulu, kita mungkin masih punya kesempatan untuk mencegah situasi menjadi lebih buruk."


Aku menggelengkan kepala. "Ini sinting! Tak bisa kupercaya masalah kontrak sialan itu menyeretku hingga sejauh ini." Aku menggerutu frustasi, menyusurkan tangan ke wajah. "Yang kuinginkan hanyalah Dave membereskan kekacauan yang dia tinggalkan untukku disini, itu saja."


"Tentu, tentu. Menemukannya adalah prioritas kami juga. Saat ini rekan-rekan kami sedang mencarinya di lokasi terakhir dia terdeteksi menggunakan sambungan seluler sekali pakai. Kami cukup optimis bisa menangkapnya lebih dulu sebelum para anggota bandar. Dan bisa dipastikan, bahwa pernyataan darinya nanti, akan membebaskanmu dari semua tuduhan pelanggaran kontrak palsu itu."


Aku menghela napas dalam-dalam. "Jika... seandainya saja, kita nantinya benar-benar bekerja sama, aku ingin memastikan satu hal,"


Dia mengamatiku dengan seksama, menungguku melanjutkan perkataanku.

__ADS_1


"Aku ingin kalian menambahkan satu orang lagi ke dalam daftar perlindungan saksi."


__ADS_2