
...Sean Danial Warner POV...
Bisakah kalian membayangkan betapa hebatnya Tuhan dalam mengatur hidup manusia? Tuhan selalu menuntunmu pada sesuatu yang baik untukmu. Dia tidak akan pernah membiarkanmu hidup dalam penderitaan seorang diri. Coba banyangkan... berapa juta umat yang menangis dan memohon padanya setiap hari? Dan Dia memilih mendengarkanmu lebih dulu. Kau tahu kenapa? Karena Tuhan menyayangimu. Jadi, jangan ragukan kehebatan-Nya. Mintalah dengan bersungguh-sungguh, maka kau akan mendapatkannya.
Sungguh... cara Tuhan bekerja memang ajaib. Pertolongannya datang tepat pada saat kau membutuhkan, tidak pernah terlambat sedetikpun. Karena Tuhan tahu batas kemampuanmu. Dan aku begitu beruntung Dia menjawab doaku perihal istriku yang menderita tepat saat aku nyaris putus asa. Terimakasih, Tuhan.
Hatiku sedang bersorak sekarang. Merayakan kemenangan atas kembalinya Franda, wanita rapuh yang begitu kucintai dan mencintaiku. Entah apa yang harus kulakukan untuk membayar kenyataan seindah ini. Mungkin membangun seratus rumah ibadah tidak akan cukup, atau memberi makan sejuta anak yatim pun takkan cukup untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya diriku saat ini.
Aku masih larut dengan kegembiraan dihatiku sementara mataku menangkap pemandangan Franda yang sedang bercengkerama bersama Ibu dan Mia. Akhirnya dia bisa kembali percaya pada dirinya dan orang-orang disekitarnya. Franda baru saja bangkit dan hidup seperti dulu sebelum hatinya mati suri.
Mulutku melengkung sementara dia berbalik dan menatapku. Bibirnya yang lembut dan lembab itu menyapaku. "Hai, babe." Aku semakin senang karena Franda sedang menggodaku dengan mengerdipkan matanya.
Aku mengagumi kecantikannya yang luar biasa. Dia punya tulang pipi yang halus dan menawan. Rambut bergelombangnya yang indah tergerai menyentuh bahu dan setengah punggung. Aku ingin meraih rambut itu dan merasakan betapa lembut dirinya sementara aku menyurukkan wajahku ke lehernya. Aku ingin mencium aromanya yang lembut dari sana, sebelum pada bagian-bagian lain yang juga sangat menggoda.
Sambil terus tersenyum, aku melangkah mendekati mereka dan duduk disamping Franda. Seketika itu dia tanpa malu-malu melilitkan tangannya ke lenganku dan mencium pipiku seperti seorang anak yang sedang mencari perhatian ayahnya. Franda tak peduli pada Ibu atau pun Mia yang sedang mengejeknya.
"Mom, kurasa kita memang lebih cocok tinggal bersama Ed. Setidaknya hantu disana lebih tenang daripada manusia yang mengisi rumah ini." Kami bertiga tertawa mendengar Mia yang menggerutu.
Aku begitu bahagia hidup ditengah-tengah mereka. Keluarga baru yang datang padaku untuk mengisi hari-hariku yang gelap dan sunyi, menggantikannya dengan keindahan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Franda, Ibu, Mia, Edward, dan Ben membuatku lebih menyadari betapa menakjubkannya hidup bersama keluarga yang menyayangimu.
Aku memang sempat membenci mereka ketika aku mengetahui fakta dibalik kematian Mommy, namun itu tak berlangsung lama karena aku segera menyadari bahwa mereka tidak bersalah. Kalaupun ada yang harus bertanggungjawab, maka itu adalah orang yang mengendarai truk itu dan membuat mommy-ku tewas.
Masih di ruang keluarga tempat tinggal kami di lantai empat puluh enam gedung Warner Enterprise, aku mengganti topik pembicaraan dan menanyakan tentang progres perkembangan bisnis yang di jalani oleh Mia, adik iparku. "Mia, bagaimana bisnismu? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanyaku sambil menatap ke arah Mia sementara tanganku mengusap punggung tangan Franda.
__ADS_1
"Everything was fine. Well, ada sedikit kesulitan dalam memilih konsep promosi, tapi aku dan Dave sudah membereskannya." katanya tanpa ragu.
Aku tersenyum sebagai respon atas jawabannya. Aku sudah yakin Mia akan melakukannya dengan baik sejak pertama kali aku mengenalkannya pada Dave. Semangatnya untuk memulai bisnis sungguh tak bisa dibiarkan begitu saja. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Apakah kau hanya menjual kopi dan potongan cake? Tidak ingin meramaikan menu untuk menarik lebih banyak pelanggan?"
Mia tertawa sementara alisku menyatu melihat sepertinya tak ada yang salah dengan pertanyaanku. Namun dia segera menjawab.
"Kakak ipar, aku baru memulainya dua bulan yang lalu dan sekarang kau memintaku melebarkan sayap? Yang benar saja." ujarnya pesimis. Dan aku tak menyukai itu. Aku ingin menyaksikan orang-orang yang berada di dekatku selalu menujukkan sikap percaya diri.
"Mia, kurasa kau perlu belajar lebih banyak lagi. Jangan membuang waktu dengan duduk santai dirumah sementara kau bisa melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat." Mataku menatap serius padanya. "Look, aku tahu kemampuanmu lebih dari ini dan kau sudah menunjukkan sesuatu yang luar biasa padaku. Kau bisa menyibukkan diri di kedai sementara mencari sesuatu yang mungkin bisa kau lakukan untuk mengembangkan bisnismu. Saranku.. jangan cepat puas kalau kau tidak ingin orang lain meremehkanmu. Buktikan pada siapapun bahwa kemampuanmu memang layak diperhitungkan." sambungku lagi.
Mia terlihat berpikir. Aku masih menatapnya sementara merasakan Franda menegakkan badannya lalu ikut menimpali ucapanku.
"Hm. Kau benar." serunya dengan semangat penuh. "Mia, peluangmu sangat besar untuk menunjukkan pada Ed kalau dia salah karena meragukanmu selama ini." Mia menatap tak percaya pada Franda.
"No. Not at all. Aku hanya ingin memastikan kau bekerja dengan seseorang yang sudah berpengalaman makanya aku meminta Sean untuk membantumu. Karena aku tahu, dia tidak akan membiarkanmu melakukannya sendiri. Kau masih membutuhkan pendamping." Franda berpaling padaku menatapku dengan senyum manis di bibirnya.
"Bukan begitu, sayang?" kataya dengan genit.
Aku pun tersenyum dan mengangguk padanya. "Ya." kataku singkat sembari memandangi wajahnya yang tak pernah membuatku bosan.
Tak salah aku mengatakan bahwa dia adalah hadiah paling istimewa yang diberikan Tuhan padaku. Apapun yang dilakukannya selalu membuatku semakin jatuh cinta padanya meski tak jarang aku kesal dengan sikapnya yang rapuh dan tak percaya diri. Dan ini menjadi tantangan terberat untuku.
Mataku masih belum mampu berpaling dari wajah Franda sementara telingaku kembali menangkap suara Mia. "Kalau begitu, coba beri tahu padaku sesuatu yang mungkin bisa kulakukan." Aku melirik Mia dan kemudian kembali menatapnya serius.
__ADS_1
"Mungkin kau bisa memulainya dengan menerima pesanan secara online. Kau tahu, kita hidup di era teknologi, penjualan secara konvensional tak terlalu diminati lagi. Bisnis kecilpun sudah beralih pada dunia digital."
"Aku tidak berpikir begitu. Kurasa aku bisa menarik minat pelanggan dengan menjadikan sistem kuno sebagai karakter tempat minum kopi milikku. Bukankah mereka akan lebih penasaran karena bisnisku yang cukup besar ternyata tak memiliki sistem penjualan online dan ketika mereka mengunjunginya, aku yakin mereka akan datang kembali karena bukan hanya desain kedaiku yang unik tapi juga rasa kopikuq yang luar biasa."
Aku mengangguk beberapa kali. Menurutku idenya lumayan, tapi aku masih belum yakin kedainya akan bertahan. Perlahan dia akan kalah dan tenggelam mengingat betapa hebatnya pengaruh dunia teknologi di zaman sekarang.
"Tapi... kau mungkin kesulitan dalam membuktikan eksistensi kedaimu, Mia. Persaingan bisnis sekarang ini sangat ketat. Belum lagi kondisi masyarakat yang diharuskan untuk tinggal dirumah lebih lama akibat pandemi. Bagaimana kau akan bertahan dalam situasi ini?"
Mia tersenyum penuh percaya diri, menandakan dia memiliki jawaban untuk membuatku bungkam. Dua jarinya berbunyi dan wajahnya begitu bersemangat saat dia mulai berbicara.
"Dengar, kakak ipar... Setiap kedai memiliki cara menarik pelanggan yang berbeda-beda, tapi kebanyakan melakukan hal yang sama seperti menggunakan nama yang unik, atau desain tempat yang itu-itu saja. Dan aku tidak mau mengikuti trend yang seperti itu. Kau sudah melihat kedaiku, bukan?" Aku mengangguk, lalu kembali mendengarkan penjelasannya.
"Kedaiku bertema vintage. Aku memilih furnitur bergaya 90-an, temasuk lukisan-lukisan kuno yang kudapat dari hasil menjelajahi marketplace luar negeri. Aku bahkan rela menunggu selama dua bulan sampai semua barang itu mendarat di tanganku dan akhirnya menggantung indah di kedai kopi milikku. Bahkan gelas yang kugunakan juga terinspirasi dari masa Gen X. Jadi... mana mungkin sistem penjualan online yang moderen cocok dengan bisnis retro-ku." Mia terlihat sangat antusias. Bibirku melengkung indah melihat kepercayaan dirinya yang kini kusukai.
Aku baru saja hendak membuka mulut, namun segera tertahan karena Mia kembali bersuara. "Sebenarnya aku bisa saja menggabungkan style masa lalu kedaiku dengan era moderen, tapi itu hanya akan merusak tujuan utamaku, yaitu menarik minat orang-orang dengan karakter kedai dan rasa kopiku yang luar biasa."
"Aku sudah merancangnya dari jauh-jauh hari. Itu kenapa aku sangat antusias dan percaya diri saat kau menawarkan bantuan padaku. Niatku bukan sekedar membuka bisnis asal-asalan seperti orang kebanyakan. Aku ingin melakukannya dengan sungguh-sungguh, dan kalaupun aku gagal, setidaknya aku sudah berusaha dengan baik."
"Kedai kopiku berada di tengah-tengah kota. Penampakannya yang mencolok sangat kontras dengan gedung-gedung bertingkat di sekelilingnya dan tentu itu akan menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Serahkan ini padaku, kakak ipar. Kau tidak akan menyesal karena membantuku. Namun sebaliknya, kau akan sangat bangga karena memiliki adik ipar yang cantik dan berbakat sepertiku" Mia mengerdip dan mengibaskan rambutnya dengan semangat menggebu-gebu, dan itu cukup membuatku percaya pada semua ucapannya.
"Demi Tuhan... apakah kau benar-benar adikku?" Aku menoleh Franda yang tiba-tiba bersuara. Matanya menatap takjub pada Mia sementara bertepuk tangan dan menggeleng beberapa kali. Aku nyaris tak bisa menahan tawa saat mendapati wajahnya yang terbengong.
Dan Mia, gadis itu dengan sombongnya bertanya padaku. "Bagaimana, kakak ipar?"
__ADS_1
Aku mengangkat bahu. "Aku mengakui konsepmu jelas. Tidak ada salahnya mencoba, meskipun aku tidak terlalu yakin karena teknologi membuat orang malas untuk bergerak. Tapi... ya, kurasa patut dicoba." Aku menyerah pada akhirnya. Memberikan kesempatan pada Mia untuk membuktikan ucapannya dan aku berharap idenya tidak salah.