Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 47


__ADS_3

Hampir dua jam sejak pamit Nino keluar untuk mengangkat telepon namun belum kembali hingga kini. Ibu dan Franda bertanya-tanya namun tak satupun yang bersuara mengenai itu, mereka hanya mengobrol ringan tentang kehamilan Franda dan rencana melahirkannya nanti. Franda berusaha mengalihkan pikirannya dari suaminya, tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa sakit hatinya. Memikirkan Nino terus menerus membuat kepalanya semakin sakit, lebih baik membiarkannya dan fokus pada bayi di kandungannya yang sekarang lebih membutuhkan perhatiannya.


Mia masuk menenteng satu tas berisi pakaian ganti untuk Franda, Ia menatap sekeliling ruangan dan tak melihat kakak iparnya disana, "Suamimu?" tanyanya heran pada Franda.


Franda mengedikkan bahunya, "Tidak tahu." jawabnya cuek, berusaha menahan amarahnya di depan Ibu.


"Bu, pulanglah... Dika menunggu di lobby. Biar aku yang menjaga Panda disini." kata Mia.


"Ya, jaga kakakmu baik-baik. Beri tahu Ibu kalau terjadi sesuatu." jawab Ibu berpesan pada putri bungsunya itu.


Mia mengangguk, dan langsung mengantarkan Ibu keluar setelah berpamitan pada Franda.


"Bagaimana?" tanya Mia begitu kembali.


Franda menatap heran begitu mendengar pertanyaan adiknya. "Apanya?"


"Nino. Apa yang di katakannya?" tanya Mia lagi.


"Aku malas membahasnya, biarkan saja dia mau melakukan apa, aku tidak perduli." jawab Franda sambil memijit pelipisnya.


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Mia mengalihkan pembicaraan, Ia bisa menangkap maksud kakaknya meskipun Ia tahu kalau wanita hamil di depannya itu pasti terus memikirkan suaminya.


Franda menggeleng.


Tidak ada suara di ruang perawatan Franda untuk waktu yang lama, Mia berbaring di sofa sibuk dengan ponselnya sementara kakak perempuannya yang sedang hamil itu sudah tertidur entah sejak kapan. Mia mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan bertatapan mata dengan Nino yang baru saja masuk.

__ADS_1


Nino berjalan mendekati istrinya yang tertidur, duduk lama disana sambil terus memandangi wajah lelap Franda. Perasaan bersalahnya menyeruak begitu saja, pria 34 tahun itu tak sanggup menahan air matanya. Menyesali segala kesalahannya yang menyebabkan istrinya harus mengalami pendarahan hingga akhirnya terbaring dirumah sakit. Di tahannya rasa sesak di dadanya agar dengan meremas kemejanya, sebelah tangan menopang kepalanya ditepian hospital bed.


Rasa sesalnya semakin menjadi tatkala melihat perut besar Franda yang di dalamnya ada buah cinta mereka yang sudah di harapkan sekian lama, tak sanggup rasanya membayangkan apa yang akan terjadi jika calon anak yang selama ini mereka tunggu terkena imbas dari kelakuannya. Mereka beruntung Tuhan masih menyelamatkan kandungan Franda, kalau tidak sudah di pastikan dirinya akan langsung di lenyapkan oleh istrinya, hilang tanpa jejak.


"Maafkan aku... Aku tidak ingin menyakitimu, Sayang. Aku sunggu tidak berhubungan lagi dengannya. Percaya padaku..." ucap Nino lirih disela tangisnya, lebih mirip dengan bisikan.


Mia yang mendengar tangis kakak iparnya itu hanya diam, rasa ibanya tetap muncul meskipun dirinya juga kesal dengan pria itu.


"Jangan menangisi kebodohanmu sendiri, kau sudah selesai. Panda tidak akan menerimamu lagi kali ini." kata Mia pelan dan sinis.


Nino mengangkat kepalanya, Ia melupakan adik iparnya yang sejak tadi duduk di sofa di belakangnya. Dengan cepat di hapusnya air matanya dan beranjak mendekati Mia.


"Bagaimana dia bisa melihatku?" tanya Nino, pandangannya tetap pada istrinya yang terlelap.


Mia mengerutkan dahi mendengar pertanyaan bodoh kakak iparnya itu, "Maksudmu? Apakah kau masih berhubungan dengannya?" Mia balik bertanya.


"Lalu kau menemuinya begitu saja karena dia memintamu? Bagaimana bisa kau lebih memilih untuk bertemu orang tuanya dibandingkan menemani istrimu memeriksa kandungan? Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Kakak Ipar!" sindir Mia dengan menahan suaranya agar tidak mengganggu tidur kakaknya.


"Itu kesalahanku. Papanya punya penyakit jantung, dia masuk rumah sakit karena Jenny menceritakan tentang hubungan kami setahun lalu. Dia ingin aku datang untuk meminta maaf atas kesalahan putrinya, padahal aku juga bersalah disitu. Tadinya Jenny juga mengatakan untuk membawa Franda, tapi tidak mungkin aku melakukannya, Franda bisa berpikir macam-macam, aku tidak menyangka akan begini akhirnya." ucap Nino penuh sesal.


"Lalu kenapa kau memeluknya? Setidaknya kau bisa mencari tempat lain jika memang harus, jangan melakukannya di tempat umum seperti itu. Kau mau pamer pada siapa?" Mia mendengus kesal.


Nino menggeleng lemah, "Aku tidak memeluknya, kejadiannya begitu cepat. Kalau kau memperhatikan kami, kau akan melihat hanya dia yang memelukku. Aku tidak membalasnya sama sekali, tapi aku tidak bisa menghindar saat itu." jawab Nino putus asa. Ia tahu jawabannya tidak akan memperbaiki keadaan, tapi setidaknya Ia berkata jujur.


"Tetap saja menemui mantan gundikmu adalah hal yang salah!" Mia terus menyerang Nino dengan kata-kata pedasnya.

__ADS_1


Nino kembali menundukkan kepalanya, tidak menanggapi ucapan adik iparnya itu. Yang dikatakan Mia memang benar.


"Lalu kau dari mana saja? Kenapa baru datang jam segini?" tanya Mia setelah cukup lama terdiam.


Nino menarik napas dalam sebelum berbicara, "Papa Jenny meninggal..." jawabnya lesu.


"Hah? Jadi kau menemuinya dan menghiburnya lagi? Disaat istrimu sedang terbaring di rumah sakit? Oh, My God! Kau benar-benar kacau sekarang! Habislah kau kalau Panda mendengar ini!" Mia menepuk kepala dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. Cara berpikir Nino sungguh luar biasa baginya.


"Aku harus bagaimana? Aku terlibat disana, biar bagaimanapun aku terbawa dengan masalah ini, Papanya tidak akan meninggal jika Jenny tidak menceritakan tentang kesalahan kami."


"Itu urusannya, putrinya yang tidak tahu diri dan bercinta dengan bosnya sendiri yang sudah memiliki istri. Kenapa jadi menyalahkan orang lain?" Mia kembali menanggapi dengan kalimat tajamnya.


"Mia, kau tidak mengerti..."


"Ya, aku tidak mengerti karena aku tidak akan pernah merebut suami orang. Huh, memalukan sekali! Semoga Tuhan menjauhkanku dari pria sepertimu karena kalu tidak aku pasti langsung menghabisinya begitu melakukannya."


Nino terdiam mendengar kata-kata tajam adik iparnya. Lidahnya tak sanggup melawan mulut pedas Mia.


Di brankar, Franda yang terbaring sejak tadi sudah bangun ketika suaminya terisak di sampingnya, Ia mendengar semua percakapan suami dan adiknya. Tanpa mereka sadari wanita itu menangis dalam diam, semua ucapan yang keluar dari mulut suaminya sangat menusuk jantungnya hingga tembus di hati. Franda memilih tidak bereaksi sejak awal untuk mengetahui yang sebenarnya, namun yang didengarnya justru lebih membuat rasa sesak di dadanya semakin menjadi.


Franda membuka mata, berpura-pura terkejut melihat Nino yang duduk di sofa, lalu bangun dan berusaha turun dari hospital bed namun Ia kesulitan karena tubuhnya masih lemah, juga rasa pusingnya yang belum hilang sepenuhnya.


"Sayang, kau membutuhkan sesuatu?" tanya Nino begitu melihat istrinya bangun, Ia berjalan mendekat dan hendak meraih tangan Franda namun langsung ditepis oleh istrinya.


"Mia, tolong bantu aku!" kata Franda tanpa menanggapi ucapan suaminya.

__ADS_1


Mia langsung mendekat dan membantu kakak perempuannya itu berjalan ke kamar mandi dan menemaninya di dalam.


__ADS_2