Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 27


__ADS_3

Franda dan Nino sedang berada diperjalanan menuju ke rumah orangtuanya untuk makan malam seperti yang kemarin dikatakan Ibu Marissa, seharian ini hubungan keduanya terlihat hampir seperti semula walaupun terkadang ada kecanggungan saat secara tidak sengaja Franda membahas kesalahan suaminya.


Nino memarkirkan mobilnya berjejer dengan mobil lainnya yang ada disitu. Mobil-mobil yang tidak terlalu mewah seperti mobil listrik Tesla Model 3 miliknya, namun tetap terlihat mengagumkan karena terawat. Di ujung terdapat mobil keluaran Jerman, Volkswagen berjenis Tiguan Allspace milik Edward, lalu disampingnya terparkir mobil Mazda CX5 berwarna merah yang didapat oleh Mia sebagai hadiah ulang tahun. Dan terakhir adalah mobil milik Ayah dan Ibu Franda, Toyota Camry Type V.


"Kau baik-baik saja?" tanya Franda sebelum turun dari mobil ini, suaminya terlihat gelisah.


"Ya, ya... I'm fine!... No, I'm not fine!" jawab Nino gugup, Ia menarik napas dan menghembuskan perlahan berusaha melepaskan rasa takutnya menghadapi keluarga Franda. Kali ini terasa lebih menakutkan saat Ia melamar Franda tujuh tahun lalu.


"Ofcourse, you are not! Tenanglah, mereka tidak akan melakukan apapun padamu. Aku sudah meminta Ibu untuk memberitahu yang lainnya. Don't worry, e**verything will be okay!" ucap Franda menenangkan suaminya. Ia memeluk Nino sebentar dan menepuk-nepuk punggung pria itu.


"Ya, aku hanya terlalu malu untuk bertemu mereka mengingat apa yang ku..." ucapan Nino terpotong saat Franda tiba-tiba ******* bibirnya.


"You don't have to, kita hanya akan makan malam, Sayang. Mereka keluargaku, aku mengenal mereka dengan baik. Trust me, okay?" kata Franda setelah menarik bibirnya.


Nino mengangguk. Ia berpikir malam ini tidak akan mudah untuk dilewati, keluarga Franda pasti sangat marah padanya namun Ia tidak ingin bersembunyi dan menghindar dari mereka, Nino harus menerima apapun yang akan dikatakan oleh keluarga istrinya. Sekarang atau nanti sama saja, atau mungkin lebih buruk jika Ia bersikap seperti pengecut dan kabur.


Di dalam terlihat Ayah, Ibu, dan Edward sedang duduk menonton televisi yang menayangkan ajang pencarian bakat dari negeri paman sam. Mia yang turun dari atas melihat kedatangan Franda dan Nino langsung menyapa.


"Kalian sudah datang?" sapa Mia. Suaranya membuat tiga orang lainnya diruang keluarga sonta menoleh.


Nino tersenyum kikuk pada Mia dan yang lainnya. Ia sama sekali tak bisa menutupi rasa gugupnya, terlebih saat melihat Edward yang menatapnya sinis. Ayah dan Ibu terlihat biasa saja, tersenyum menyambut anak dan menantunya seolah tidak terjadi apa-apa, setidaknya sikap kedua orang tua itu membuat Nino sedikit tenang.


Setelah sedikit berbasa-basi diruang keluarga, mereka langsung menuju ruang makan dan melahap makanan yang dimasak oleh Ibu Marissa. Tidak banyak percakapan ditengah meja makan, hanya Ayah Satya yang sesekali bertanya tentang perusahaan Nino. Mereka semua berusaha untuk tidak membahas masalah Franda dan Nino saat makan. Namun ketakutan Nino datang lagi saat mereka telah kembali duduk diruang keluarga setelah makan.

__ADS_1


"Can I talk to you?" kata Edward pada Nino memecah keheningan.


"Ofcourse!" jawab Nino singkat, berusaha terlihat santai.


Edward langsung berjalan keluar, dengan membawa dua botol bir yang diambilnya dari kulkas, diikuti Nino dibelakangnya, meninggalkan Ayah, Ibu, Franda dan Mia diruang keluarga.


"Minumlah, jangan terlalu gugup! I'm not gonna bite you!" kata Edward bercanda sambil tersenyum dan memberi Nino sebotol bir ditangannya. Nino menerimanya, Ia tidak jago dalam hal alkohol namun masih bisa menerima bir atau wine sesekali ketika ada acara penting.


"Thank you!" ucap Nino.


"So, dia memaafkanmu?" tanya Edward tanpa memandang Nino.


"Ya, aku sangat beruntung memiliki istri sepertinya." kata Nino sambil memandangi bir ditangannya dan tersenyum mengingat istri tercintanya.


"I know!" jawab Nino. Ia sudah siap menerima semua kata-kata yang akan diucapkan oleh Edward, bahkan Ia juga tidak akan melawan jika kakak iparnya itu memukul, Nino pantas mendapatkannya.


"You know, selama ini aku tidak mau tahu apa yang terjadi pada adikku, tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu begitu saja. Franda adalah anak kesayangan dirumah, sejak kecil orangtuaku sangat memanjakannya, hampir 50 persen perhatian mereka untuk Franda, dan sisanya untukku, Mia, dan hal lainnya. Aku dan Mia berusaha tidak cemburu dengan itu, paling tidak kami bisa menyembunyikannya. Kehidupan Franda sejak ditinggalkan oleh paman dan bibi tidak mudah, Ia begitu terpukul dan sangat kehilangan arah..." Edward terdiam, pikirannya melayang jauh kembali ke masa kecil saat Franda tinggal bersama mereka.


"Setiap hari Ia hanya menangis, menyalahkan dirinya karena kecelakaan orangtuanya terjadi tepat ketika Ia memaksa mereka untuk pulang dari Surabaya... Aku yakin kau sudah mengetahuinya." lanjut Edward.


"Ya, dia sudah menceritakannya padaku." jawab Nino. Masih tertunduk menyimak ucapan Edward.


"Tidak mudah bagi kami mengembalikan kepercayaan dirinya dan membuatnya berhenti menyalahkan diri, itulah kenapa orangtuaku sangat memperhatikannya. Seiring berjalannya waktu perlahan Franda kembali seperti semula, Ia mampu melewatinya setelah berbulan-bulan, namun traumanya tidak mudah hilang. Kami harus selalu menjauhkannya dari hal-hal yang mengingatkannya dari orangtuanya..." Edward berhenti lagi, bercerita tentang Franda kembali membuatnya sedih dan kasihan pada adiknya itu.

__ADS_1


Nino masih menyimak tanpa mengatakan apapun, Ia tidak tahu kalau kehidupan masa kecil Franda separah itu karena tentu saja istrinya tidak akan menceritakannya sedetail Edward.


"Beberapa kali dia histeris karena mengingat orangtuanya, namun yang terparah adalah saat dirinya berumur sembilan tahun. Kami sedang menonton TV dirumah, ada berita yang menayangkan sebuah kecelakaan mobil yang menewaskan sepasang suami istri, kau bisa membayangkan apa yang terjadi setelahnya...


Tidak mudah bagi anak seumurannya untuk menerima kenyataan yang menyakitkan seperti itu, terlebih dia sendiri yang menyebabkannya, walaupun sebenarnya bukan tapi itu yang dipikirkannya..." jelas Edward, Ia menarik napas dalam dan menggenggam erat botol bir ditangannya.


"I'm sorry!" ucap Nino.


"It's okay! Sekarang dia baik-baik saja, dan aku senang sejak kau datang padanya kehidupannya semakin baik, aku berterimakasih untuk itu... Bisa aku meminta satu hal padamu?" tanya Edward sembari menatap Nino.


"I'm listening!" jawab Nino singkat


"Tolong jangan menyakitinya lagi. Aku mungkin sudah menghajarmu dari kemarin jika dia tidak memohon padaku untuk tidak menyentuhmu. Franda sangat menyayangimu, kehidupannya lebih berwarna ketika mengenalmu. Well, sebenarnya sudah baik sebelum kau datang namun kami tahu dia masih menyimpan kesedihannya sendiri, dan kami tidak benar-benar yakin dengan sikap cerianya sampai dia menemukanmu, saat itulah kami percaya Franda benar-benar baik-baik saja."


Edward memegang bahu Nino, menatapnya dengan serius.


"Aku percaya padamu, jangan pernah menyakitinya lagi karena aku tidak akan membiarkanmu lain kali. Jaga apa yang sudah menjadi milikmu dengan baik sebelum orang lain datang dan merebutnya darimu." kata Edward mengingatkan Nino. Edward sudah tahu tentang Sean yang membantu Franda, dan juga mengetahui kalau pria itu menaruh hati pada adiknya. Sean adalah teman Edward yang tidak diketahui oleh Franda.


Nino yang mendengar ucapan Edward terlihat bingung, Ia bertanya dalam hati apa maksud kakak iparnya itu mengatakan hal seperti itu. Namun Nino tidak berani bertanya.


"Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi, dan terimakasih sudah percaya padaku" ucap Nino.


Keduanya masih mengobrol diluar hingga hampir satu jam lamanya, membahas beberapa hal yang menyangkut pribadi ataupun pekerjaan. Nino terlihat nyaman berbicara dengan Edward, kakak iparnya itu ternyata pria yang hangat dan bisa diajak bercerita. Selama ini tidak banyak kesempatan bagi keduanya untuk mengobrol secara intens, hanya percakapan singkat saat mereka berkunjung.

__ADS_1


__ADS_2