Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Sisterhood.


__ADS_3

Aku terbangun dan terkejut dengan cahaya terang di luar. Wajahku berputar ke arah jam dinding yang menunjukkan angka sebelas siang hari. Seingatku kemarin Sean membaringkanku di ranjang jam sepuluh malam, dan seketika aku terhenyak kala berhasil menghitung berapa lama aku tertidur sejal semalam.


"TIGA BELAS JAM!" seruku, nyaris berteriak.


Ini adalah pertama kalinya aku tertidur selama itu tanpa mengingat apakah aku pernah terbangun atau tidak. Padahal tidak lama sebelum itu aku sudah tidur beberapa jam. Aku tidak tahu apakah aku tertidur memang karena lelah atau karena Sean memelukku sepanjang malam. Tapi, kenapa dia tidak ada disini?


Aku menggeliat pelan lalu beranjak turun dari ranjang, sedikit tersentak saat kakiku bersentuhan dengan lantai yang dingin. Sambil berjinjit, aku berderap menuju balkon untuk mengambil sandal yang kuyakin tertinggal disana.


Setelah menemukan sandalku, aku langsung masuk ke kamar mandi, mengisi bak mandi dengan air hangat sampai penuh, memasukkan satu bath bomb lalu berendam selama lima belas menit.


Sepanjang waktu itu pikiranku melayang pada apa yang sudah terjadi beberapa hari belakangan. Dan aku baru saja menyadari kalau keadaanku sudah mengacaukan kehidupan banyak orang, membuat mereka kerepotan mengurusiku sementara aku bertingkah layaknya seorang ratu yang wajib di layani.


Keadaanku yang payah sudah pasti membuat mereka cemas dan khawatir. Mulutku bisa mengatakan bahwa aku baik-baik saja namun aku sendiri menyadari bahwa kenyataannya tidak seperti itu. Aku memang bermasalah, dan entah kenapa ada sesuatu dalam diriku yang berusaha menolak kenyataan itu. Apakah karena aku tidak mau orang lain menganggapku lemah, atau karena aku malu dengan kondisiku? Aku tidak tahu jawaban pastinya.


Seringkali aku berpikir untuk bangkit dan melawan semua ketakutanku, semua trauma dan kesedihan, namun sesering itu juga tanpa sadar aku membuat diriku menjadi semakin gila. Harusnya aku bisa mengatasi semua itu karena pokok permasalahannya memang ada padaku, dan apa yang di katakan Ed juga benar, bahwa hanya aku yang bisa menyembuhkan diriku dari semuanya. Melupakan masa laluku, kemudian mengatasi traumaku.


Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup sebanyak mungkin udara yang bercampur dengan aroma mangga yang menguar dari busa bath bomb, membuat rongga dadaku penuh, lalu membuang napas perlahan. Aku mengulanginya beberapa kali sampai tanpa kusadari aku memejamkan mata dan kepalaku sudah terbenam di dalam bak mandi.


Lalu tiba-tiba aku tersentak saat seseorang menarik tubuhku, dan ketika mataku terbuka, aku mendapati Mia sedang mengangkatku. "Hei! Apa yang kau lakukan?" bentaknya frustasi sementara masih berusaha menarikku keluar dari bak mandi.


Aku mengerutkan kening. "Ada apa?" tanyaku heran.


"Ada apa? Kau bilang ada apa? Bukan begini caranya menyelesaikan masalah, Panda." gumannya putus asa, membuatku mengerutkan kening lagi.


Mia terus menarikku sampai aku berdiri lalu mendorong tubuhku hingga ke bawah pancuran, kemudian dengan cepat dia membilas tubuhku. Tak peduli denganku yang kebingungan menatapnya. "Aku tidak percaya kau akan melakukannya lagi. Ya Tuhan, kau benar-benar gila, Panda." gerutunya sambil terus mengguyurku.

__ADS_1


Belum sempat aku menjawabnya, dia sudah mengomel lagi. "Aku minta maaf dengan kata-kataku waktu itu. Dan aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Saat itu aku hanya merasa kalut karena mengira kalian semua akan meninggalkanku. Aku takut karena kau sangat marah padaku, belum pernah aku menyaksikanmu semarah itu meskipun aku selalu membuatmu kesal." sambungnya dengan suara bergetar.


Aku masih diam sementara Mia maju ke arah kabinet untuk mengambil handuk dan langsung melilitkannya di tubuhku. Kemudian dia mendorongku lagi keluar dari kamar mandi sambil terus berbicara.


"Aku tidak tahu apa yang kau rasakan sekarang, tapi percayalah kami akan selalu mendukungmu. Jangan melakukan hal bodoh dengan menyakiti dirimu karena kami juga akan merasa kesakitan." Dia mendudukkanku di tepi ranjang. "Tunggu disini." katanya tegas, seraya melayangkan tatapan mengancam padaku, diikuti gerakan tangan yang menunjuk ke arahku.


Aku mengamati setiap pergerakannya menuju ruang ganti, dan hatiku mendadak merasa geli mengingat apa yang baru saja di lakukannya. Dia memandikanku dengan mengomel seakan aku adalah anaknya yang baru saja tercebur ke dalam kubangan lumpur. Dan sikapnya itu membuatku merasa bersalah karena telah menamparnya hari itu. Harusnya aku tahu bahwa Mia juga tengah menderita dengan keadaannya, dia juga sedang tersiksa karena baru saja kehilangan bayi dalam kandungannya. Tidak peduli siapa ayahnya, Mia pasti tetap menyayangi anaknya.


Mia kembali mendekatiku dengan beberapa lembar pakaian di tangannya. Aku menatapnya sambil mengerucutkan bibir seolah sedang merajuk dengan kakiku yang bergoyang pelan di tepi ranjang. Ketika dia berhenti tepat di hadapanku, tangannya terayun melemparkan pakaian ke sampingku lalu berdiri bertolak pinggang.


Dia menunduk dengan mata terpejam, menarik napas beberapa kali. Kemudian kembali menatapku. Ada raut sedih sekaligus merasa bersalah yang bisa kutangkap di wajahnya. "Dengar," desahnya serius. "Kau tidak sendirian, Panda. Ada kami yang akan selalu bersamamu. Jangan takut kami terbebani dengan keadaanmu, atau pergi meninggalkanmu, karena itu tidak akan pernah terjadi. Aku, Ibu, dan Ed, kami menyayangimu sampai kapanpun. Kau tetap kakak terbaik yang ada di bumi. Maafkan aku kalau terkadang aku membuatmu kesal, tapi percayalah... aku menyayangimu."


Detik itu juga aku langsung berdiri menangkup wajahnya lalu mencium bibirnya berkali-kali. Mia terlonjak kaget dengan seranganku di wajahnya dan berusaha mendorongku menjauh, tapi aku menarik bahunya dan memeluknya erat-erat.


Aku menarik tubuhku dari tubuhnya, kemudian tersenyum lebar menatapnya. Mataku mengamati perubahan wajahnya lekat-lekat. Dia masih tampak bingung, namun ada setitik kelegaan yang keluar dari sorot matanya.


"Aku lebih menyayangimu, Mia." lirihku, dengan mata menatap kedalam matanya. "Aku meminta maaf karena telah menamparmu hari itu. Semua yang kau katakan memang benar, dan aku juga meminta maaf karena telah mengambil tempatmu. Aku benar-benar tidak tahu kalau menderita karenaku,"


"Tidak." sergahnya, memotong ucapanku. "Kau tidak mengambil apapun, aku yang terlalu picik karena menilaimu begitu. Kita tahu kenyataannya Ayah dan Ibu adil dalam memperlakukan kita, mereka selalu mengutamakan yang lebih membutuhkan, dan saat itu memang kau yang harus di utamakan."


"Mia..." desahku berkaca-kaca.


"Dengarkan aku dulu," sahutnya buru-buru. "Apa yang terjadi belakangan membuatku kacau, aku tidak menyangka hidupku akan hancur dan tanpa kusadari, persis seperti yang kau katakan... aku menyalahkanmu agar merasa diriku lebih baik."


Mia menatapku dengan air mata yang menggenang sementara bibirnya gemetar menahan tangis.

__ADS_1


"Maafkan aku, Panda." Sekarang air mata itu lolos dan membasahi pipinya, dan semakin deras mengalir sampai jatuh ke bajunya.


Mia menunduk terpejam, tersedu-sedu hingga bahunya ikut bergetar. Menyaksikannya sesedih itu membuatku juga ikut menangis. Aku langsung menarik tubuhnya lagi dan mengusap lembut punggungnya, menyatakan semuanya akan baik-baik saja sekaligus menyampaikan kasih sayang yang mendalam.


Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menunjukkan rasa syukurku atas kehadiran semua orang yang turut serta dalam kehidupanku yang rumit. Mereka menyayangiku dengan tulus sekalipun aku selalu membuat mereka kecewa dengan sikapku, tidak pernah beranjak untuk meninggalkanku meski hanya selangkah. Tidak peduli bagaimanapun kondisiku, mereka selalu menerimaku tanpa pernah mengeluh.


Dukungan yang di berikan oleh mereka padaku selama ini takkan bisa kubalas dengan apapun. Saat ini tekadku hanya satu, berjuang menata kembali semua kekacauan yang terjadi akibat ulahku dan menempatkan semuanya pada tempat yang seharusnya. Aku tidak bisa bersikap keras terus-menerus mempertahankan kebodohanku sementara mereka juga terus-menerus mengupayakan agar aku menjadi lebih baik. Ya, aku harus memperbaiki apa yang salah pada diriku sebelum semuanya terlambat.


Aku melepas pelukanku dari Mia dan seketika tertawa, merasa lucu melihat wajah adikku yang cemberut. Sungguh, aku sangat merindukan suasana seperti ini mengingat belakangan hubungan kami memburuk seiring beberapa masalah yang menerjang dengan cara membabi-buta.


"Mia, kau tahu? Aku bahagia memiliki adik sepertimu. Kau adalah salah satu karunia terhebat dalam hidupku, walau kadang sikapmu memuakkan. Tapi aku tak masalah dengan itu, selama kau berada di sampingku, aku akan dengan senang hati menerimamu." kataku bersungguh-sungguh mengungkapkan isi hatiku tentangnya.


Dia mendengus sinis, tapi aku tidak tersinggung karena aku sendiri sudah terbiasa menghadapi kesinisannya. "Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan menyakiti dirimu lagi." gumamnya seraya meremas lenganku, menyatakan permohonan dalam remasannya.


Saat ini aku ingin langsung menjawab 'iya' tetapi ada hal yang harus kuketahui darinya. Dan sebagai gantinya, aku berkata. "Dengan satu syarat."


Dahi Mia berkerut. "Apa?"


Aku memegang bahunya, sedikit meremas, menyiratkan keseriusan dalam apa yang akan keluar dari mulutku, bahwa aku benar-benar ingin dia menjawabku jujur. Mataku menatap tajam ke dalam matanya, membuat raut wajah mendadak Mia berubah waswas.


"Katakan padaku, siapa yang menghamilimu?"


Mia terlonjak kaget, syok dengan pertanyaanku yang tiba-tiba. Mulutnya terbuka, namun beberapa detik kemudian dia terkesiap. Mengerjap, lalu menelan ludah sembari memejamkan mata. Aku bisa merasakan dia sedang gemetar saat melirik sekilas pada tangannya yang terkulai lemas.


"Mia?" panggilku dengan sedikit tekanan dalam suaraku.

__ADS_1


__ADS_2