
...Sean Danial Warner POV....
"Mia," panggil Franda, entah sudah berapa kali dia mengulanginya namun Mia masih saja bungkam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, seolah dia mendadak bisu dan tuli.
Aku sendiri paham kenapa Mia bertahan dalam diamnya, sudah pasti dia takut kami akan menghancurkan pria itu karena memang itu yang akan kulalukan jika aku menemukannya. Takkan kubiarkan dia bebas berkeliaran setelah mengganggu ketenangan keluargaku.
Aku melirik Edward yang berdiri di sampingku. Wajahnya datar menatap ke arah Mia, kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara kakinya mengetuk-ngetuk lantai. Entah apa yang di pikirkannya sekarang, tapi mungkin tidak jauh berbeda denganku. Memikirkan rencana untuk mencari pria yang membuat Mia hamil.
Aku kembali memutar kepala, menatap Franda. Matanya masih tajam dan sinis. Dan saat aku akan bersuara, dia berbicara lebih dulu. "Baiklah, jika kau tidak ingin kami mengetahuinya. Tidak masalah. Tetapi jangan pernah muncul lagi di hadapanku untuk selamanya, urusanku selesai denganmu." Franda berdiri, sebelah tangannya meraih ponsel dari meja di samping hospital bed.
Sebelum benar-benar keluar dari ruang perawatan Mia, dia berhenti di depan kami. Memandang Edward dengan tatapan yang sulit kumengerti. "Maafkan aku, Ed. Mulai hari ini dia hanya adikmu, jaga dia baik-baik." Franda menepuk pundak Edward beberapa kali, lalu lanjut berbicara padaku. "Aku ingin pulang, Sean." Franda langsung melangkah keluar tanpa menungguku, tapi aku tahu jika dia sedang memintaku menyusulnya.
Aku menoleh Edward sebentar menyiratkan permintaan maaf melalui mataku. Edward tersenyum lalu mengangguk. "Pergilah, aku akan menjaga Mia disini."
Tanpa menunggu lama, aku bergegas menyusul Franda yang sudah beranjak lebih dulu. Aku masih tidak menyangka dia akan mengeluarkan kata-kata sepedas itu pada adiknya. Sejujurnya aku merasa sedikit kecewa dengan sikapnya dan berharap Franda bisa lebih bijak saat berhadapan dengan Mia yang saat ini juga sedang terpukul, namun aku yakin Franda memiliki alasan mengatakan itu.
Dengan setengah berlari aku berjalan menuju area parkir dan tiba-tiba langkahku tertahan ketika melihat Franda yang berdiri tak jauh dariku sedang berbicara dengan seseorang. Mantan suaminya.
Jantungku berdetak cepat dan kedua tanganku mengepal menatap Nino yang berusaha membawa Franda menjauh dari area parkir dengan menarik tangannya. Franda menolak, tapi Nino terus memaksa.
Dengan hati yang gusar aku berjalan mendekati mereka, Dan ketika aku tepat berada di belakang Nino, aku langsung menjulurkan tangan untuk menarik pundaknya. "Singkirkan tanganmu dari istriku." ucapku tegas sembari menatapnya tajam. Nino berdecih lalu menyeringai. Aku merasa lega karena dia melepaskan tangan Franda dari cengkeramannya.
Franda menggeleng menatapku, aku tahu maksudnya dan aku pun mengangguk untuk menyatakan tidak akan terjadi apa-apa pada kami. "Tunggu aku di mobil." titahku padanya.
Franda mengangguk lalu maju ke arahku. Kedua tangannya terangkat meraih wajahku dan dia menciumku bibirku cukup lama di depan mantan suaminya. Setelah ciuman kami terlepas, dia gemetar memelukku. "Aku merindukanmu, Samson." bisiknya tepat di telingaku. Aku tertawa mendengar kalimatnya yang liar mengundangku di saat-saat seperti ini.
__ADS_1
Setelah memastikan Franda masuk ke dalam mobil, aku berpaling pada Nino. "Kurasa kau belum mengerti posisimu sekarang," gumamku.
Nino mendengus. "Aku tidak bisa menjauhinya begitu saja, bung. Kau tahu, kami memiliki anak dari pernikahan kami dulu." Tangannya terangkat naik ke tengkuknya. "Jadi, kurasa aku tidak bisa benar-benar menjauhinya." Kini dia tersenyum mengejek padaku.
Aku balas tersenyum, namun berusaha terlihat tulus karena apa yang di katakannya memang benar. "Aku tahu. Tapi Franda istriku sekarang. Aku minta maaf jika menyinggungmu, kurasa kau harus tahu batasanmu karena Franda sangat merasa terganggu dengan sikapmu."
"Oh, ya?" Dia tertawa pelan. "Kenapa aku tidak merasa begitu? Maksudku, ayolah... aku yakin kau pasti tahu kalau Franda masih mencintaiku." Kini giliranku yang tertawa mengejeknya.
"Kau terlalu percaya diri, sir." dengkurku seraya memukul pelan lengannya, menyatakan bahwa aku tidak serius menanggapi ucapannya. Berniat melanjutkan berbicara, aku pun kembali memasang wajah serius. "Dengar, satu-satunya yang kuinginkan adalah kau menjauhi istriku. Sebenarnya aku tidak masalah kalau kau berkomunikasi dengannya menyangkut permasalahan Ben, tapi aku keberatan jika kau memaksanya seperti tadi."
Tak ada balasan selama beberapa saat. Mungkin dia memikirkan ucapanku, atau mungkin dia sedang menyusun siasat lain untuk menggoyahkanku.
"Mari bersikap jantan. Kau tidak pantas menjadi sainganku karena aku sendiri sudah resmi menjadi suaminya sejak enam bulan lalu." Kucoba menekannya. "Aku sudah muak dengan semua ini, dan aku ingin semua ini segera berakhir."
"Tidak bisa begitu, bro." sergahku. "Aku yang berhak atas Franda sekarang. Bagaimana jika aku tidak mengijinkannya?"
Matanya menyipit dan rahangnya mengeras, kemudian dia menghembuskan napas kasar sekaligus putus asa. "Ya, kau benar." katanya pada akhirnya. "Tapi, tolong pertimbangkan sekali lagi. Mamaku sangat menyayangi Franda dan dia sedang sakit keras sekarang. Kau boleh menemaninya jika kau meragukanku."
Aku menggaruk daguku sementara mempertimbangkan apakah aku harus melunak atau tetap mempertahankan sikap kerasku. Aku tidak menyukai situasi ini, bagaimanapun Ibunya tidak bersalah dan Franda juga memiliki hubungan yang baik dengan kedua orangtua Nino. Mungkin tidak ada salahnya jika aku menemani Franda menemui keluarga Nino.
"Baiklah, tapi hanya sekali. Dan aku akan menemaninya." Aku mengalah, dan dia terlihat lega.
"Terimakasih, bung. Satu kali sudah cukup." Dia menepuk pundakku sambil tersenyum kemudian berlalu meninggalkanku.
Aku melangkah menuju ke arah mobil dan langsung melesak masuk ke dalam begitu aku tiba. Mataku menangkap Franda sedang membuang pandangan keluar melalui jendela di sisinya. Sebelah tangannya terkulai di atas pangkuannya sementara sebelah tangannya yang lain bertumpu pada sisi jendela mobil sambil memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Apakah kalian bertengkar?" tanyanya tanpa menoleh padaku.
Aku tersenyum lalu meraih sebotol air mineral dari jok depan di samping Ameer dan langsung menenggak air hingga setengahnya.
"Tidak. Kami bicara layaknya orang dewasa." gumamku.
Franda mendengus pelan, kali ini pandangannya beralih padaku. "Aku tidak percaya padamu." ucapnya sinis.
"Astaga, Franda," desahku sambil meletakkan botol air mineral ke bagian pintu mobil di sebelahku. "Aku bukan anak kecil yang sedang berebut mainan dengannya."
Franda terkekeh pelan. "Kau benar, tapi bukan berarti aku percaya begitu saja padamu. Kau masih meragukanku sampai sekarang, Sean."
Aku mendelik padanya. "Hei, kau tahu itu tidak benar."
Dia hanya mengangkat bahunya menanggapiku. Kedua matanya menatapku intens. Senyum tipis terlihat di wajahnya yang cantik membuat tulangku mendadak berubah seperti spons. Perlahan kurasakan kepalaku terasa ringan, lalu seolah semua rasa cemasku, dan pikiranku melayang entah kemana.
Aku takkan pernah terbiasa dengan efek kehadirannya di dekatku. Sampai kapanpun apa yang kurasakan padanya, debaran jantungku, setiap inci hatiku, akan selalu menjadi miliknya.
"Hei." Dia menarikku dengan kedua tangan ke dalam pelukannya. Aku menarik napas dalam-dalam, sepertinya aku lupa telah menahan napasku dari tadi, lalu membenamkan wajahku di bahunya menghirup aroma jasmine segar yang menguar dari tubuhnya.
Aku menunduk tersenyum padanya saat dia melepaskan pelukannya. "Maaf kalau aku menyangsikanmu." Franda menggenggam tanganku lalu mencium pipiku sekali.
"Tidak masalah, Franda." Aku tersenyum memandangnya. Sebenarnya aku memang tidak meragukannya, aku sangat percaya Franda bisa menjaga dirinya. Dia tidak akan tergoda dengan pria manapun karena dia mencintaiku, dan aku pantas berbangga dan menyombongkan diri atas itu.
"Jalan, Ameer."
__ADS_1