Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
More Complex


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV...


Aku mengangkat kepala begitu mendengar pintu ruang gawat darurat di buka dan mendapati seorang dokter wanita keluar dari sana. Raut wajahnya terlihat datar namun aku yakin apa yang akan di sampaikannya bukan berita yang enak di dengar karena mataku sempat menangkap dia membuang napas kasar saat melihat kami.


Sambil mengeratkan genggamanku di tangan Franda, aku menariknya berdiri untuk menyambut dokter itu. "Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanyaku cemas. Aku bisa merasakan sebelah tangan Franda gemetar meremas lenganku, dan aku pun mengusap tangannya tanpa mengalihkan tatapan dari dokter itu.


Senyum yang di paksakan terlihat jelas di wajah dokter itu. Dia menunduk sebentar, lalu saat menatap kami kembali, dia berbicara. "Dia baik-baik saja." Aku merasa sedikit lega, namun itu tidak berlangsung lama karena kalimat selanjutnya menghantam dadaku. "Tapi saya tidak bisa menyelamatkan janinnya." Aku langsung mengalihkan pandangan pada Franda.


Tubuhnya gemetar hebat, matanya mulai berair dan tak lama dia melemas. Beruntung aku sempat menahan tubuhnya sebelum dia ambruk ke lantai. Franda begitu terguncang dengan apa yang baru saja kami dengar. Ketakutan yang sejak tadi menghuni pikiran kami baru saja menjadi kenyataan. Mia hamil dan dia keguguran.


Aku mendudukkan Franda di kursi. Dia masih diam dengan air mata mengalir deras membasahi pipinya dan turun sampai ke kaus yang di kenakannya. Raut wajahnya datar, tatapannya kosong, dan itu membuatku semakin sakit. "Franda," panggilku dengan mengusap pipinya lembut. Dia belum menjawab.


Aku membiarkannya sebentar dan beralih menatap pada dokter yang masih berdiri di dekat kami. "Terimakasih, dok." ucapku. Dokter itu mengangguk.


"Saya minta maaf. Janinnya terlalu lemah untuk bisa di selamatkan." katanya tulus. Aku mengangguk pasrah, dan menatap putus asa pada dokter itu saat dia melangkah meninggalkan kami.


Aku kembali berpaling pada Franda yang masih terdiam. Dadaku sesak seketika dia membalas tatapanku. Kami berpandangan untuk waktu yang cukup lama. Aku menunggunya bicara, karena kukira itulah yang kulihat dari sorot matanya. Tatapan seolah dia ingin mengatakan seauatu yang penting padaku.


Tapi tidak ada yang terjadi. Tak ada kata-kata, atau apapun selain air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.

__ADS_1


"Kau bisa bicara padaku, Franda. Kau tahu itu kan?" ujarku memecah keheningan.


Dia memberiku tatapan yang menyiratkan kesedihan sekaligus rasa bersalah yang amat besar. Kedua mata cokelatnya kini tak lagi bercahaya, Franda selalu terlihat seperti itu tiap kali dia merasa cemas. Aku berharap bisa menghapuskan semua perasaan buruk itu dari hatinya. Membuatnya kuat dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja, tapi itu sulit. Franda terlalu rapuh untuk menghadapi hal-hal semacam ini. Dia tidak di rancang menjadi wanita yang kuat dalam satu hantaman, butuh beberapa pukulan untuk mengembalikan semangatnya.


Kuangkat tanganku menangkup wajahnya seraya menatap matanya lekat-lekat. "Ini bukan kesalahanmu, Franda. Berhenti menyalahkan dirimu, sayang. Apa yang terjadi pada Mia sama sekali bukan kesalahanmu. Kau tidak tahu dia sedang mengandung, dan aku yakin Mia sendiri tidak menyadari itu." Aku berhenti dan mengamati wajahnya lekat-lekat. "Aku percaya padamu. Dan aku berharap kau juga melakukan hal yang sama."


Franda masih bungkam, sementara matanya terpejam. Aku bisa merasakan sakit di dadanya karena aku pun merasakan sakit yang sama. Tentu saja Franda merasa bersalah mengingat tadi malam mereka pergi ke bar untuk minum, dan bisa di pastikan itu yang membuat Mia keguguran.


Aku membuang napas berat, menariknya kembali ke dalam delapanku. Membiarkannya menangis di dadaku, karena itu yang dibutuhkannya sekarang. Tempat untuk bersandar dan meluapkan semua perasaan yang berkecamuk dalam hatinya sampai dia tenang, sampai dia bersedia membuka mulut.


Tapi dia tetap diam hingga akhirnya Edward datang. Dia berjalan tergesa-gesa mendekati kami. "Bagaimana dengan Mia?" Raut wajahnya tak jauh berbeda dengan Franda ketika dia datang tadi. Cemas dan khawatir.


Aku menoleh pada Franda sebentar, meminta persetujuan untuk mengatakan tentang Mia pada Edward melalui tatapan mataku dan dia mengangguk putus asa.


Raut wajah Edward berubah seketika. Rahangnya mengeras sampai giginya mengeluarkan bunyi gemeratak, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, dan saat dia menoleh pada Franda, aku berbicara lagi. "John. Tenangkan dirimu, oke? Aku tahu kami bersalah karena tidak menjaganya dengan baik, tapi... bisakah kita menghadapi ini dengan tenang?"


Tubuhku terhuyung ke belakang karena tanpa kuduga Edward memukulku. Aku mengerjap untuk mengembalikan pandanganku yang kini buram akibat pukulannya. Aku menelan ludah dan bisa kurasakan darah keluar dari bagian dalam pipiku yang robek.


Tubuhku belum belum benar-benar tegak ketika Edward mencengkeram kausku kuat-kuat. Aku memejamkan mata saat kulihat tangannya terangkat tinggi hendak memukulku lagi, namun untuk sesaat aku tidak merasakan apapun. Kemudian telingaku menangkap suara Franda memekik, lalu aku pun membuka mata.

__ADS_1


Dadaku bergemuruh hebat, tanganku menangkap tubuh Franda yang hampir terjatuh tepat di depanku. Dia memegang pipinya yang baru saja di pukul oleh Edward. Aku semakin marah kala melihat darah mengalir dari sudut bibirnya. "Ya Tuhan, Franda." Tanganku gemetar menyentuh daerah sekitar bibirnya yang mengeluarkan darah.


Wajahku berpaling pada Edward, mataku menatap tajam pada matanya. Aku berdiri dan ingin balas memukulnya tapi Franda menahan tanganku. Aku bisa merasakan dia ikut berdiri. Sebelah tangannya menarik pipiku agar menatapnya. Franda menggeleng. "Jangan." gumamnya, memohon dengan sorot matanya.


Aku mendengus. "Dia memukulmu, Franda." kataku dengan suara bergetar, menahan amarah yang masih memenuhi otakku. Saat ini aku berharap dia melepaskanku dan membiarkanku membalas kakaknya, tapi Franda tersenyum. Dan senyumnya nyaris membuatku mati kehabisan napas.


Dengan gerakan lembut dia menarik kepalaku ke pundaknya. "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." dengkurnya lirih sambil menepuk-nepuk punggungku. "Mia lebih membutuhkan kita sekarang." lanjutnya berbisik. Mataku terpejam sejenak, menghirup aroma sabun yang masih menguar dari tubuhnya, dan itu membuatku sedikit tenang.


Franda melepaskan pelukannya lalu berbalik pada Edward. "Maafkan aku, Ed. Aku benar-benar tidak mengetahuinya." Franda menelan ludah. "Kau boleh marah padaku, tapi tidak sekarang. Mia sedang membutuhkan kita dan, kumohon... jangan marah padanya."


Edward menyeringai. Matanya menatap kami bergantian. "Aku terlalu bodoh karena percaya pada kalian berdua." Edward mendengus, giginya gemeratak. "Lihat apa yang sudah kau lakukan, Panda. Aku membiarkannya tinggal bersamamu, tapi kau menghancurkannya. Beginikah caramu menjaganya?"


"John." Aku menggeleng, meminta agar dia menghentikan ucapannya. Aku tidak mau dia menyakiti Franda dengan kata-katanya yang mungkin akan membuat Franda lebih merasa bersalah lagi.


Tapi Edward tidak mau berhenti, namun aku cukup merasa lega karena kini dia meluapkan kemarahannya padaku. "Aku percaya padamu, Sean. Dan kini kau membuatku kecewa, kau membuatku muak. Sekarang, katakan padaku bagaimana kau akan menyelesaikan ini?"


Aku tertunduk diam. Tidak tahu harus menjawab apa karena aku sendiri memang tidak tahu siapa yang melakukan itu pada Mia. Dalam hati aku mengutuk laki-laki itu, dan berjanji akan membuatnya membayar dengan pantas apa yang sudah di lakukannya pada keluargaku. Aku akan mengejarnya walau ke neraka sekalipun.


Kami terdiam cukup lama sembari menunggu Mia di pindahkan ke ruang rawat. Aku duduk di sebelah Franda dengan tangan menggenggam tangannya sementara Edward duduk di seberang kami. Kepalanya tertunduk menatap lantai, kedua sikunya bertumpu pada lutut, dan tangannya menahan kepala.

__ADS_1


Dadaku sesak membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Terlebih pada Franda. Aku takut dia akan kembali kacau, ketakutanku semakin bertambah kala teringat pada kejadian ketika kami kehilangan bayi dalam kandungannya beberapa waktu lalu. Waktu itu Franda memusuhi semua orang, dan bukan tidak mungkin dia melakukan itu lagi nanti. Aku hanya bisa berharap dia cukup kuat kali ini, karena jika tidak, habislah semuanya.


Aku akan kehilangan dirinya lagi, kehilangan senyumnya, kehilangan tawanya, kehilangan semua kebiasaannya saat menggodaku. Demi Tuhan, aku tidak siap berada dalam posisi itu lagi.


__ADS_2