Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Heart break.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku melangkah masuk ke dalam ruanganku di kantor bersama Dave yang mengikutiku dari belakang. Kami baru saja menyelesaikan meeting yang membahas mengenai masalah yang terjadi di proyek pembangunan mall. Beberapa orang sedang mencoba bermain petak umpet denganku. Menyelundupkan anggaran pembangunan untuk membayar para gadis peliharaan mereka sementara upah yang kuberikan pada mereka cukup untuk menyewa bahkan sepuluh gundik sekaligus.


Aku menghempaskan tubuhku yang lelah di atas sofa sambil melempar tablet di tanganku ke meja lalu menutup mata. Belakangan suasana hatiku terus memburuk mengingat beberapa masalah yang sedang menerjangku. Bukan hanya urusan perusahaan yang carut marut, kehidupan pernikahanku juga sedang terancam hancur.


Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi sikap keras kepala Franda yang terus memintaku meninggalkannya. Dia tidak merubah keputusannya walaupun aku bersikap dingin padanya beberapa minggu ini sejak pertengkaran kami yang terakhir. Hatiku remuk setiap saat melihatnya bersusah payah melakukan sesuatu dengan kondisi tubuhnya yang masih lemah dan aku tidak membantunya sekalipun sejak hari itu. Aku sedang menghukumnya dengan sikap dinginku karena dia meragukan dirinya sendiri.


Franda, wanita yang begitu kucintai dan mencintaiku sedang menderita karena ketidakberdayaannya menerima kenyataan. Dia begitu tersiksa dan putus asa terhadap takdir yang mencoba memporakporandakan kehidupan pernikahan kami. Aku ingin sekali dia menyadari bahwa aku tak pernah merasa terbebani dengan keadaannya yang sekarang. Cintaku takkan berkurang sedikitpun meski dia harus terbaring di ranjang untuk selamanya.


Otakku tak bisa mengerti apa alasan dia memintaku meninggalkannya. Aku tahu dia mencintaiku, apapun yang dilakukannya selalu menyiratkan betapa tulusnya dia mencintaiku. Sikapnya yang lemah lembut, gairahnya yang luar biasa, dan caranya menyentuhku menunjukkan cintanya yang begitu besar padaku. Termasuk saat dia memintaku agar meninggalkannya. Aku tahu dia melakukan itu semata-mata karena cinta. Tapi aku tidak bisa menerimanya. Dia istriku, dan sampai kapanpun akan tetap menjadi istriku.


Mataku terbuka saat telingaku menangkap suara Dave yang berdeham di seberangku. Dave sudah mengetahui semua masalah yang menimpa rumah tanggaku dan tak jarang aku meminta pendapatnya untuk menghadapi Franda. Dia jauh lebih berpengalaman dalam urusan wanita dibandingkan denganku yang tak tahu apa-apa.


"Bro, apakah istrimu belum melunak?" tanyanya seraya melipat kaki. Aku menggeleng pelan dan putus asa.


Setelah beberapa saat, aku membuka mulut untuk berbicara padanya. "Aku harus bagaimana, Dave? Franda sangat gigih dengan keinginannya." Aku bertanya sambil memijat pangkal hidungku. Diriku benar-benar tak tahu lagi harus melakukan apa. Sikap Franda yang keras membuatku nyaris gila saat berhadapan dengannya.

__ADS_1


"Coba bicarakan sekali lagi dengannya. Bantu dia meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Franda wanita yang luar biasa, Sean. Dia tidak akan menyerah dengan mudah jika kau bisa meyakinkannya." Aku bangkit dan duduk di sofa sementara menatap Dave yang tampak serius.


"Kau pasti lebih tahu apa yang sudah dilaluinya sebelum dia menerimamu. Kehidupan masa lalunya terlalu berat, tapi dia tetap bertahan sampai akhirnya mampu melepaskan diri dari jerat kepahitan yang menimpanya. Franda tetap bangkit dan berhasil menata kembali hatinya saat bersamamu. Dia tangguh, Sean... wanitamu sangat tangguh."


"Demi Tuhan, kau bahkan membuatku iri karena berhasil mendapatkan wanita sehebat Franda. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain menghabiskan waktu bersama wanita yang tepat, dan dia adalah wanita yang tepat untukmu."


Aku masih menyimak setiap kalimat Dave yang tak salah sedikitpun. Semua yang dikatakannya memang benar, Franda adalah wanita luar biasa dan aku sangat beruntung mendapatkannya. Aku menatap Dave sejenak dan dia menyadari aku sedang memintanya melanjutkan ucapannya.


"Kau tahu, Sean? Wanita manapun akan tergila-gila padamu. Fisik dan kehidupanmu membuat mereka rela menghambur ke dalam pelukanmu tanpa perlu kau rayu. Tapi... tidak dengan Franda. Aku yakin kau masih ingat berapa lama kau menunggu sampai akhirnya dia menerimamu. Dan sekarang, dia sedang berjuang melawan ketakutan bahwa kau akan meninggalkannya. Dengan kondisinya yang seperti ini, Franda pasti akan merasa dirinya hanya menjadi beban untukmu."


"Temani dia, bro... hibur dia. Tunjukkan bahwa kau tulus menerimanya seburuk apapun kondisinya. Dia tidak sungguh-sungguh ingin kau meninggalkannya, Franda hanya tidak sanggup menghadapi kenyataan yang mengguncang hidupnya. Well, it's hard to anybody to think right when their life's suck."


Aku menunduk tak berdaya mendengar setiap untaian kalimat yang keluar dari mulut sepupuku itu dan dia membuatku menyadari bahwa keadaan Franda memang sangat sulit. Seketika rasa bersalah menusuk jantungku kala teringat sikapku yang dingin padanya. Franda sedang membutuhkanku dan aku begitu bajingan telah menyakiti hatinya dengan mengabaikannya.


Secepat kilat aku berdiri, melangkah mendekati Dave dan menepuk pundaknya beberapa kali. "Terimakasih, Dave!" seruku, lantas menjauh meninggalkannya yang sedang tersenyum. Aku masih sempat mendengar teriakannya tepat sebelum keluar dari ruanganku.


"Semangat, bro!"

__ADS_1


Setengah berlari aku melangkah menuju lift. Aku sudah tidak sabar ingin segera menemui Franda dan meminta maaf padanya atas sikapku selama ini. Dia tidak pantas diperlakukan seperti itu. Rasa bersalah di hatiku semakin besar ketika ingatanku kembali pada saat aku mendorong wajahnya dan berlalu meninggalkannya, membiarkan dia merasakan sakit seorang diri.


Belum lagi ketika aku memilih mengabaikannya saat dia memintaku mengambilkan sesuatu sampai akhirnya aku menyaksikan dia bergerak dengan susah payah dan meringis kesakitan. Oh, Tuhan... apa yang sudah kulakukan padanya. Terkutuklah diriku yang begitu jahat memperlakukannya. Aku hanya bisa berharap semoga dia mau memaafkanku setelah apa yang kulakukan padanya.


Aku terus berlari setelah keluar dari lift dan langsung masuk ke kamar. Begitu pintu terbuka, aku mendapati pemandangan yang membuat hatiku pilu. Sungguh aku ingin menangis saat ini juga.


Franda, istriku yang rapuh dan terlihat lebih kurus sedang berdiri setengah merunduk di tepi ranjang. Kakinya gemetar dan wajahnya pucat dengan bulir-bulir keringat sementara tangan kirinya bertumpu pada tepian ranjang. Dia belum menyadari kedatanganku karena sedang menggunakan earphone di telinganya sampai aku mendekat.


Dia begitu terkejut melihatku yang tiba-tiba berada disampingnya dan membuatnya mundur selangkah. Beruntung aku bisa menahan tubuhnya tepat saat dia akan terjatuh. Bisa kurasakan tubuhnya yang gemetar saat aku membawanya duduk di ranjang.


Untuk beberapa saat kami masih terdiam. Dia terlihat gugup sekaligus takut denganku. Kepalanya tertunduk sementara tangannya meremas bagian gaun yang menutup setengah pahanya dengan gemetar. Tentu saja dia takut mengingat aku pernah berbuat kasar padanya dan mengabaikannya selama berminggu-minggu. Ya Tuhan, aku memang bajingan.


Aku tersiksa melihatnya menderita seperti ini. Tapi yang paling menyerangku adalah saat hatinya yang rapuh terus menolakku padahal aku tahu dia sangat membutuhkanku.


Aku bangkit dan berlutut dihadapannya. Kedua tanganku terangkat untuk memegang tangannya yang dingin. Aku bergeming sejenak karena melihat lututnya yang gemetar. Kepalaku mendongak untuk menatap wajahnnya.


Franda tak mengucapkan apapun. Aku sendiri tak butuh respon darinya, tetapi butuh memastikan bahwa tidak terjadi sesuatu padanya. Tanganku turun meraih kaki kanannya yang masih berbalut perban. Ketika aku menyentuh kakinya, aku mendengar dia merintih. Lantas dengan tiba-tiba saja, aku meremas lembut pahanya agar dia tenang. "Apakah masih sakit?" tanyaku, lalu mengangkat kepala dan mendapati dia mengangguk. Aku menghembuskan napas berat seraya memejamkan mata.

__ADS_1


Aku berdiri dan menarik kepalanya sampai menempel di perutku. Hatiku sangat sakit dan hancur berkeping-keping saat mendengar tangisannya yang memilukan begitu aku memeluknya. Tanganku mengusap kepalanya dan membiarkan dia meluapkan semua perasaan yang ditahannya selama ini. Aku tahu dia tidak membutuhkan apapun selain pengertian dariku.


Setelah beberapa saat, dia mulai tenang dan aku pun membuka suara. "Kau tidak sendirian, sayang. Aku akan selalu menemanimu. Jangan pernah berpikir untuk mengusirku lagi dari hidupmu. Aku membutuhkan dirimu agar kuat menghadapi kehidupanku yang keras dan menyakitkan sementara kau membutuhkanku untuk mengembalikan kepercayaan dirimu. Biarkan aku merasakan hidup yang luar biasa denganmu seperti selama ini. Kumohon... berbagilah denganku."


__ADS_2