
Kan udah kubilang, gak komen gak ku update.
Gak semangat aku nulis๐
Gak ada yg respect, jd malas.
Mulai sekarang, update kalau rajin aja.
Gak mau maksain diri lagi.
***
Kalian tidak akan percaya jika aku mengatakan hidupku benar-benar luar biasa bersama Sean. Well, aku juga tidak peduli kalian percaya atau tidak. Selama aku bersama dengannya, aku akan selalu bahagia. Sama seperti hari ini.
Hari ini tepat tiga bulan sejak aku menikah dengannya. Sebulan pertama kami isi dengan kekosongan, namun kami membayarnya pada bulan kedua dan ketiga. Aku dan Sean benar-benar menjalani kehidupan pernikahan yang luar biasa. Segala yang terjadi diantara kami begitu istimewa, sampai-sampai aku takkan pernah bosan untuk mengulangi setiap momen yang terlewati saat bersamanya.
Aku terpesona pada semua yang ada dalam diri suamiku. Sikap jantan naluriah yang ada padanya selalu membuat hatiku berdecak kagum berulang kali. Ada saja bagian dari hidupnya yang membuatku terpana. Belakangan aku lebih banyak mengetahui kehidupan pribadi suamiku yang selama ini tertutup. Perlahan dia membuka diri dan menceritakan lebih banyak tentang dirinya. Tentang keluarga dan pekerjaannya.
Ah, aku merindukannya. Sudah seminggu aku tak melihat langsung wajahnya yang tampan dan seksi, karena suamiku itu sedang berada di jepang untuk urusan pekerjaan. Dia menawarkan padaku agar ikut dengannya saat dia akan berangkat, namun aku menolak. Tentu saja aku menolak. Kalau aku ikut, sudah pasti aku akan mengurungnya dikamar sepanjang hari. Aku takkan mungkin sanggup menunggunya bekerja sementara aku tak melakukan apapun.
Well, sebenarnya aku bisa saja pergi berbelanja atau berjalan-jalan menyusuri kota untuk menghabiskan waktu sementara dia bekerja, tapi tidak asik kalau harus pergi tanpanya, bukan? Meskipun akan ada orang yang diperintahkannya untuk menemaniku, rasanya tidak akan sama. Yang kuinginkan adalah menghabiskan waktu bersamanya sebanyak mungkin. Oh Tuhan, aku sangat merindukannya.
__ADS_1
Kuraba ranjang kosong disampingku, mataku berkabut akibat air mata yang mulai menggenang. Rindu memang sangat menyiksa sampai aku ingin mati saja. Dua hari ini aku tak bersemangat melakukan apapun, kerinduan yang kurasakan membuatku malas dan tak ingin melakukan apapun. Aku hanya menghabiskan waktu dikamar, bermain bersama anakku, dan bahkan aku tak turun untuk makan. Selalu asisten rumah tangga yang mengantarkan makanan ke kamar. Aku tak peduli pada apapun, termasuk Denise yang kerap mengomel karena aku tidak ke butik sejak kemarin. Gadis itu akan bungkam jika dihadapkan dengan bonus.
Puas menangisi kerinduan yang mendera, aku berderap ke kamar mandi. Menghabiskan waktu selama setengah jam, aku berendam di bak mandi. Merasakan sensasi air hangat menyelimuti seluruh kulit tubuhku, mendamaikan sejenak hatiku yang berkabut. Ketiadaan Sean sungguh menyiksaku. Wajah tampan yang sering kulihat ketika kami melakukan panggilan video tak cukup mengobati rinduku padanya. Aku ingin melihatnya, ingin memeluknya, ingin menciumnya langsung alih-alih mencium layar ponsel.
Kakiku yang kurus melangkah pelan ke arah kamar anakku yang menggemaskan. Namun saat aku berada disana, tidak ada siapa-siapa. Aku berbalik dan turun menuju ruang keluarga. Dari tangga suara tawanya yang menggemaskan sudah terdengar di telingaku. "Hei, kau bersenang-senang rupanya." kataku selagi berjalan mendekat. Anakku sedang bermain dengan Emma dan Daisy, nanny yang bertanggungjawab menjaga Ben selama aku tidak bersamanya.
Anakku tersenyum lebar padaku. Senyum yang membuat hatiku meleleh setiap saat. Dengan kedua tangan aku meraihnya kedalam gendongan dan membawanya duduk di salah satu sofa. "Mommy, where is daddy?" tanyanya dengan gaya bicara yang belum terlalu jelas, namun masih bisa dimengerti.
Jemariku merapikan rambutnya sembari menjawab pertanyaannya. "Still working, baby. Kau merindukannya?" godaku dengan mencubit pelan pucuk hidungnya, lalu mencium seluruh wajahnya berkali-kali sampai dia protes dan menahan wajahku. Aku tertawa pelan.
Ben mengangguk. Wajahnya berubah sendu. "Yes, I miss daddy." Dia menunduk menatap susunan lego yang belum selesai di tangannya.
Selagi aku membantu Ben menyelesaikan susunan legonya, Miss Diana datang dan menanyakan apa yang kuinginkan untuk sarapan. "Franda. Panggil aku Franda, Janda Genit!" cetusku sembari tertawa halus saat dia memanggilku nyonya. Panggilan itu terdengar asing mengingat kedekatan kami sejak dulu. Well, aku tahu dia melakukannya karena suamiku yang meminta. Tapi sekarang dia tidak disini, bukan?
"Tidak. Aku tidak akan memanggilmu begitu. Bagaimana kalau Tuan Tampan marah dan tak suka padaku karena aku membantahnya? Kau tahu aku sedang mengantri dibelakangmu, bukan? Jadi, aku harus patuh padanya, Nyonya." Astaga, kalau aku tidak tahu sifat aslinya, mungkin sudah kubuang dia dari dulu.
Aku tertawa dan menantangnya. "Silahkan menggodanya, Mrs. Porn." ledekku. Aku menatap dadanya dan turun ke bokongnya. Kepalaku menggeleng sementara lidahku berdecak. "Aku tidak yakin kau akan berhasil dengan dada dan bokong palsumu itu. Kau tahu? Suamiku lebih menyukai sesuatu yang alami. Kusarankan kau menghempaskan busa-busa sialan itu dari tubuhmu kalau kau begitu menginginkannya." ejekku dengan tawa halus. Membuat dua pengasuh Ben juga menahan tawa dengan tangan mereka.
Wajah Miss Diana memberengut. Dia kesal dan melemparku dengan satu kepingan lego. "Sialan kau!" gerutunya. "Jadi, kau ingin sarapan apa, Nyonya?" sambungnya beberapa saat kemudian.
Aku berpikir sebentar, "Oatmeal dengan pisang dan stroberi. Tambahkan sedikit madu." kataku pada akhirnya. Aku kembali bermain dengan anakku ditemani dua pengasuh yang tetap berada disekitar kami.
__ADS_1
Kakiku berderap kembali ke kamar setelah hampir dua jam bermain bersama anakku dan menghabiskan sarapan di ruang keluarga. Meninggalkan Ben dalam pengawasan dua nanny itu. Mereka gadis yang baik dan menyenangkan. Emma, masih berumur 21 tahun. Keadaan ekonomi yang sulit membuatnya harus bekerja untuk membantu keluarganya. Sementara Daisy, aku tidak terlalu mengetahui latar belakangnya karena gadis itu cukup tertutup. But, who cares? Itu bukan masalah selama dia bekerja dengan baik. Lagi pula suamiku tidak akan mempekerjakan seseorang secara asal. Dia pasti sudah mencari tahu detail setiap orang yang bekerja padanya.
Baru saja aku membuka pintu kamar, suara dering ponsel sudah menyambutku. Tak mau membuang waktu, aku menyambar benda itu dari nakas dan tersenyum cerah mendapati nama suamiku yang memanggil.
Dadaku berdebar keras melihat senyumnya yang manis pada layar ponsel. Senyum yang selalu kurindukan setiap hari. Senyum yang akan menemaniku selamanya. "Hai." sapaku genit sambil mendaratkan bokongku di bean bag.
"Kemana saja? Aku menghubungimu sejak tadi, Sweety." katanya dengan suara berat.
"Dari kamar Ben. Maaf, ponselku tertinggal dikamar." dengkurku. Aku melipat sebelah tanganku di bawah kepala. Suamiku yang selalu tampan dengan setelan jasnya terlihat sedang cemberut. Membuatku ingin menggodanya. Aku menggigit bibir bawahku lalu menjilatnya dengan genit. Aksiku sukses membuatnya gelisah dan protes.
"Hentikan, Sayang. Atau aku akan mematikan ponsel dan lari ke toilet." Aku tertawa halus mendengar protesnya.
Belum cukup dengan itu, aku menggodanya lagi. Kuturunkan layar ponsel ke arah dadaku, lalu kusingkap kausku sampai menampilkan pakaian dalam berenda yang membungkus dadaku dan menggerakkan telunjukku liar disana sampai suamiku menggeram. Detik berikutnya sambungan telepon video terputus. Ya Tuhan, dia benar-benar mematikan ponselnya. Aku menghubunginya lagi, namun hanya suara nyaring operator yang menjawab.
Sebelum beranjak dari bean bag, aku mengirim pesan padanya.
"Ranjangku terlalu dingin, Warner. Aku membutuhkan tubuhmu untuk menghangatkannya. Bisakah kau menyelesaikan pekerjaanmu lebih cepat?๐"
***
Ya, Tuhan. Tidak ada komentar? Hm.
__ADS_1