Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Almost.


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Dhea, Franda menarik napas dalam dan menghembuskan dengan perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Mencoba berpikir positif untuk sekarang, Ia tidak akan membuat dirinya terlihat bodoh dengan mengamuk dan memarahi suaminya ditempat itu. Ia akan mencari tahu semuanya, setidaknya Ia harus benar-benar yakin jika harus mengamuk dan memarahi suaminya.


Franda berjalan keluar dari toilet setelah menenangkan diri, berjalan menuju ke ruangan Nino dan mendapati Jenny sedang duduk dimejanya. Sambil berjalan Ia memperhatikan Jenny, lalu segera tersenyum ketika Jenny menatapnya.


"Hai, Jen!" sapa Franda dengan senyum manisnya, tidak ingin menunjukkan apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Jenny.


"Ah, tidak ada. Aku hanya sedikit bosan didalam. Suamiku sepertinya tidak bisa diganggu sekarang, hehehe." kata Franda.


"Pak Nino memang begitu jika sedang bekerja, Bu." Jenny menjawab dengan tersenyum.


"Aku istrinya, tidakkah menurutmu ada pengecualian untukku?" tanya Franda lagi, kali ini dengan menaikkan kedua alisnya.


"Ah, saya minta maaf, Bu. Kalau itu saya tidak tahu." Jenny merasa sedikit aneh, karena tidak biasanya wanita dihadapannya berbicara seperti itu, bahkan terlihat tidak pernah ingin mengobrol dengannya.


"Kau tahu, Jen... Belakangan aku merasa ada yang berbeda dengan suamiku, apa kau mengetahui sesuatu? Seperti hal yang dia tutupi dariku mungkin?" tanya Franda mulai menyelidik. Ia memperhatikan raut wajah Jenny yang terlihat sangat terkejut dan beberapa detik kemudian kembali tersenyum.


"Maksudnya bagaimana, Bu? Saya kurang mengerti." Jenny menjawab dengan nada tenang yang sedikit dipaksakan.


"Entahlah. Kau tahu, Jen... Aku sangat mengenal suamiku, kami menikah selama tujuh tahun dan aku selalu merasakan sesuatu saat dia memiliki rahasia yang ditutupinya. Feeling istri tidak pernah salah, bukan?" Franda berkata dengan mata menatap tajam ke arah Jenny.


"Mmm... Saya tidak tahu, Bu. Saya belum menikah, jadi tidak tahu, hehehhe." balas Jenny.


"Ah, benar. Menikahlah, Jen! Kau cantik, pasti banyak laki-laki yang menyukaimu. Kau sudah punya kekasih?" tanya Franda yang kali ini memainkan tali di kerah bajunya.

__ADS_1


"Belum, Bu. Saya masih menikmati pekerjaan disini, saya tidak terlalu memikirkan ke arah sana untuk sekarang." Jenny menjawab dengan santai.


"Kau terlalu mencintai pekerjaanmu rupanya. Apakah suamiku baik padamu? Aku tidak ingin kau melupakan hidupmu karena peraturan disini, Jen." Franda memancing lagi.


"Semuanya baik-baik saja, Bu. Saya hanya mengerjakan pekerjaan saya, dan pak Nino juga baik." jawab Jenny yang mulai tidak nyaman dengan pertanyaan Franda.


"Aku senang mendengarnya. Suamiku memang selalu baik kepada siapapun sampai terkadang orang mengharapkan sesuatu yang lebih darinya.". Franda membalas dengan kata-kata menohok. Membuat Jenny semakin gelisah dan tidak mampu membalas perkataan Franda.


Melihat Jenny yang hanya diam sambil tersenyum kikuk, membuat Franda yakin memang ada sesuatu antara suaminya dan sekretaris itu.


"Kurasa sekarang aku butuh bantuanmu, Jen" kata Franda lagi.


"I'm listening!" kata Jenny dengan percaya diri.


Jenny tidak mampu lagi menutupi wajah terkejutnya. Ia membulatkan matanya, dan tangannya meremas kedua tangannya dibawah meda. Sedikit bergetar.


"Maaf, Bu. Saya hanya sedikit terkejut mendengarnya." kata Jenny ketika menyadari Franda melihat reaksinya.


"It's ok! Aku hanya ingin menjaga milikku, hehehe." kata Franda.


"Cukup untuk sekarang, aku ingin menemani suamiku lagi. Segera hubungi aku jika kau mendapatkan sesuatu. Kau tahu harus menghubungi kemana, kan?" lanjut Franda sambil berdiri.


"Iya, Bu. Saya tahu." Jenny berkata dengan pelan. Franda lalu berjalan meninggalkan Jenny sambil menyeringai. Ia sangat menikmati ketika melihat wajah ketakutan Jenny tadi. Ia sudah yakin suaminya memang memiliki hubungan diluar pekerjaan dengan Jenny, tapi Ia tidak akan meluapkannya sekarang. Ia harus menagkap basah mereka berdua.


.

__ADS_1


Satu bulan berlalu setelah Franda mengunjungi suaminya terakhir kali. Setelah itu, tidak sekalipun Franda datang ke tempat itu lagi. Ia selali beralasan banyak pekerjaan dibutik jika Nino memintanya datang. Diluar itu hubungan mereka baik-baik saja, setidaknya bagi Nino begitu. Karena Franda sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia mengetahui perselingkuhan suaminya.


Sebulan ini Franda baru mengetahui banyak hal tentang suaminya yang sebelumnya tidak pernah Ia sadari. Nino dan Jenny sudah berhubungan selama 2 tahun belakangan. Mereka selalu menyempatkan waktu berdua di apartement Jenny yang juga dibeli oleh Nino. Beberapa barang lain yang dibelikan oleh Nino juga diketahui oleh Franda, diantaranya mobil, sebuah rumah minimalis yang terletak di perumahan tak jauh dari kantor. Rumah yang ditempati oleh kedua orangtua Jenny, yang belakangan Ia tahu juga kalau Jenny sering mengunjungi mereka bersama Nino.


Franda mengetahui semua itu dari seorang


detektif sewaan bernama Sean yang disarankan oleh Dhea.


Satu bulan ini Franda menahan apa yang dirasakannya, Ia bersikap seperti biasanya ketika bersama suaminya seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal Ia selalu menangis saat sendiri, tidak terima dengan semua hal yang dilakukan suaminya. Sangat ingin rasanya membunuh Nino ketika mereka sedang bersama, namun Ia selalu menahannya dan berencana akan menangkap basah mereka berdua.


Dan disinilah mereka sekarang, diparkiran apartment yang ditempati Dhea. Franda duduk disamping Sean yang sudah mematikan mobil. Masih bertahan didalam sambil memejamkan mata dan memijit pangkal hidungnya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika melihat suaminya nanti. Franda lebih memikirkan apa yang akan terjadi pada pernikahannya yang sudah menginjak tahun ketujuh itu.


Sean yang melihat Franda masih terdiam berinisiatif bertanya.


"Kau baik-baik saja? Apa kau ingin membatalkannya?" tanya Sean. Ia berbicara dengan Franda seperti teman karena usianya setahun lebih tua dari Franda, dan juga Franda tidak ingin Sean memanggilnya 'Ibu' seperti orang lain. Entah kenapa Franda merasa Sean sedikit berbeda dengan orang lain.


Sean tampak dingin pada awalnya, namun sifat aslinya yang lembut mulai terlihat oleh Franda seiring waktu yang mereka habiskan bersama untuk membahas perkembangan penyelidikan tentang Nino. Franda mulai nyaman berbicara dengan Sean, mereka berteman dengan baik. Dan hal itulah yang membuat Franda meminta Sean untuk memanggilnya nama tanpa gelar 'Ibu' seperti yang lainnya.


"Aku baik-baik saja dan tidak ingin istirahat sekarang, aku harus menyelesaikannya saat ini juga. Tidak mungkin menunda dan berpura-pura baik setiap hari. Aku tidak akan sanggup menahan diri untuk tidak mencincangnya setelah ini. Ayo turun!" kata Franda sambil membuka pintu mobil dengan raut kemarahan yang tidak bisa disembunyikannya lagi.


"Baiklah kalau itu yang kau mau." kata Sean.


"Tapi aku tidak akan masuk, aku akan menunggu disini. Selesaikan urusanmu dengannya, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu." lanjut Sean. Ia tidak menemani Franda karena tidak ingin Nino berpikir buruk ketika melihatnya, jangan sampai ada kesalahpahaman dengan kehadirannya.


"Ok." Franda menjawab singkat, tidak ingin berlama-lama lagi. Ia menutup pintu mobil, meninggalkan Sean disana dan berjalan menuju ke unit yang ditempati oleh Jenny.

__ADS_1


__ADS_2