
Kehidupan memang tidak bisa ditebak, nilai seseorang tidak pernah ditentukan diawal hidupnya, tidak pula dipertengahan, melainkan diakhir. Kita tidak pernah bisa memilih masalah, kaki dapat berdiri atau berlari, tangan dapat menerima atau menolak, tetapi dapat meloloskan diri dari masalah dan tetap hidup bukan perkara gampang. Tak ada yang tahu jalan hidup manusia, tidak pula manusia itu sendiri. Bukan jalan yang akan mengantarkan kita pada tujuan, melainkan sepasang kaki dan kemauan yang kuat.
Begitu juga yang terjadi dengan kehidupan pernikahan Franda dan Nino. Tidak mudah bagi mereka melalui semuanya namun sebisa mungkin keduanya saling mengerti dan mendukung, juga memaafkan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam hubungan mereka, tidak ada yang benar ataupun salah, karena semua yang terjadi dalam pernikahan mereka memang sudah takdir yang dituliskan Tuhan. Mereka tidak berhak menolak apa yang sudah digariskan dalam hidup mereka, menjalaninya dengan hati yang bahagia adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan.
Seringkali kehidupan tidak berpihak pada kita dan bahkan terkesan menyulitkan ketika kita menempuh jalan untuk meraih sesuatu, namun bukan berarti kita bisa berputus ada dan menyerah. Memiliki prasangka baik akan ketentuan Tuhan sangat penting, walau terkadang menyakitkan tapi percayalah selalu ada pelangi setelah hujan.
Kehidupan pernikahan tidak pernah mudah, selalu ada permasalahan dalam sebuah pernikahan, setiap orang boleh saja menyerah tapi Franda tidak ingin itu terjadi dalam pernikahannya, baginya tidak ada yang namanya perceraian, menikah hanya sekali dan cukup sampai maut yang memisahkan, karena apa yang disatukan oleh Tuhan tidak akan bisa dipisahkan oleh manusia.
Franda terbangun ketika mendengar ketukan dipintu. Ia melirik suaminya yang masih tidur disampingnya sambil memeluknya erat. Franda bergeser mengangkat tangan Nino, berjalan keruang ganti dan memakai bathrobe yang masih bersih.
"Kenapa, Mbak?" tanyanya dengan muka bantal setelah membuka pintu dan melihat Mbak Ika.
"Maaf, Bu. Ada yang seseorang mencari bapak didepan." jawab Mbak Ika.
"Siapa?" tanya Franda penasaran, tidak biasanya Nino memiliki tamu dipagi hari.
"Katanya sekretaris bapak, Bu!" kata Mbak Ika santai, Ia memang tidak mengetahui permasalahan diantara majikannya itu.
Franda meradang saat mengetahui Jenny yang datang. "Suruh dia masuk, bilang aku akan menemuinya!" katanya, Ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Lalu keluar dan membiarkan suaminya yang masih pulas dibawah selimut.
"Ada apa pagi-pagi mencari suamiku?" tanya Franda sinis. Ia masih berjalan ditangga dan langsung menatap Jenny yang menciut ketika mendengar suaranya.
"Saya... Mau berbicara dengan Ibu." kata Jenny terbata-bata. Perasaannya sangat gugup ketika melihat Franda, namun Ia kembali merasa lega saat melihat tanda kemerahan dileher Franda yang menandakan hubungan keduanya masih berjalan baik, setidaknya itu yang ada dipikiran Jenny.
"Oh, ya? Aku pikir tidak ada yang harus ku bicarakan denganmu!" kata Franda ketus, dan langsung membulatkan mata saat Jenny berlutut dan memegang kedua kakinya. Franda tersentak, lantas mundur menolak Jenny.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Berdiri!" bentak Franda, Ia tidak menyangka akan sikap Jenny yang akan berlutut seperti itu.
"Saya minta maaf, Bu! Saya benar-benar minta maaf atas kesalahan saya... Saya tahu saya salah, tidak ada ucapan apapun yang pantas untuk membenarkan kesalahan saya. Saya mohon maafkan saya, Bu..." Jenny terisak, permintaan maafnya benar-benar terlihat tulus. Wanita itu masih berlutut dengan bahu yang bergetar hebat.
"Hey, berdiri! Kau tidak harus berlutut untuk meminta maaf!" lagi-lagi Franda membentak, Ia sangat tidak senang dengan sikap Jenny. Tidak ada alasan apapun yang membenarkan seseorang untuk berlutut pada orang lain.
Jenny menggeleng. "Tidak, Bu! Saya benar-benar ingin meminta maaf. Saya salah karena melakukan itu pada Ibu, padahal Ibu selalu baik kepada saya, saya sungguh-sungguh menyesal melakukannya, Bu! Maafkan saya..." Jenny masih berlutut dan menangis dihadapan Franda, membuat wanita itu mulai geram karena Jenny tidak mendengarkannya.
Franda kembali membentak Jenny. "Bangun atau aku akan mendatangi keluargamu dan menceritakan semua perbuatanmu pada mereka!" ancam Franda, membuat Jenny terkejut dan langsung bangun.
Franda duduk dan meminta Jenny juga duduk disofa didepannya. Ia terus menatap wanita itu dengan tajam, Ia tidak ingin terlihat lunak dihadapan wanita yang merebut suaminya.
"Apa yang kau inginkan? Uang? Katakan berapa banyak, aku akan memberikannya padamu!" kata Franda datar.
Jenny menggeleng cepat. "Tidak, Bu! Saya tidak menginginkan apapun, saya hanya ingin meminta maaf!" jawab Jenny dengan wajah memelas. Ia memang tidak pernah menginginkan apapun dari Nino, semua yang dimilikinya karema Nino yang memberinya dan tetap memaksa meskipun Ia menolak.
"Saya minta maaf, Bu." hanya itu yang bisa dikatakan Jenny.
"Kau mencintai suamiku?" tanya Franda, jawaban Jenny sangat penting baginya saat ini.
Jenny terdiam, Ia hanya menunduk tak mampu menjawab pertanyaan istri bosnya itu.
"Wahh, kau benar-benar..." Franda tidak sanggup lagi harus mengatakan apa, sikap diam Jenny sudah menjawab pertanyaannya.
"Pergi sejauh mungkin dari kehidupanku dan suamiku, aku tidak ingin melihatmu dimanapun. Aku akan membiarkanmu pergi kali ini, tapi sekali saja aku melihatmu meskipun kau tidak bersama suamiku, aku akan menghancurkanmu detik itu juga!" lanjut Franda mengancam. Jenny masih terdiam.
__ADS_1
Jenny tidak menjawab, Ia hanya terdiam dan tertunduk, suaranya seakan tidak bisa keluar untuk menjawab Franda. Beberapa saat kemudian Ia menghapus air matanya dan mengeluarkan dua buah kunci dari tasnya.
"Ini... Kunci apartemen dan mobil, saya ingin mengembalikannya, Bu! Saya tidak berhak menerimanya..." kata Jenny sembari meletakkan dua buah kunci itu diatas meja.
"Kau pikir aku mau menggunakan sesuatu bekas j'alang suamiku? Kau bisa menyimpannya atau membuangnya, aku tidak perduli!" kata Franda.
"Tapi, Bu...."
"Aku rasa tidak ada yang penting lagi untuk dibicarakan, silahkan pergi dari rumahku!" kata Franda memotong ucapan Jenny. Ia langsung berjalan kekamar dan meninggalkan Jenny yang masih terdiam disofa.
.
Franda menarik napas, menetralkan detak jantungnya sebelum masuk kekamar. Ia tidak ingin suaminya mengetahui kedatangan Jenny pagi ini. Saat masuk Franda mendapati suaminya masih tidur dengan pulas diranjang, posisnya masih sama seperti terakhir kali saat Franda meninggalkannya turun tadi.
"Wake up, sleepy head!" katanya sambil menarik kasar selimut, membuat tidur Nino terganggu.
"Hmmm, jam berapa ini?" tanya Nino sambil menguap.
"Jam setengah 9, aku ingin sarapan pancake!" kata Franda dengan manja.
Selama ini Franda memang tidak pernah memasak, wanita itu sama sekali tidak pernah menyentuh dapur sejak kecil. Kehidupan mewahnya membuatnya tidak perlu pusing dengan hal remeh seperti memasak. Franda akan memakan apapun yang disiapkan Mbak Ika, atau meminta pada suaminya ketika Ia menginginkan Nino yang memasaknya, dan untungnya Nino yang bisa memasak tidak mempermasalahkan kemampuan istrinya didapur. Nino menikahi Franda karena ingin memiliki istri, bukan koki.
"Kau sudah menyiksaku semalaman dan sekarang kau ingin melanjutkan lagi dengan pancake-mu?" kata Nino protes, semalam memang Franda terus memangsanya dengan ganas.
"Jadi, kau keberatan?" ucap Franda sinis.
__ADS_1
Nino menggeleng cepat. "No, ofcourse not! You're the boss!" jawab Nino setelah melihat wajah istrinya yang mulai tidak bersahabat, Nino tidak ingin memulai pertengkaran dipagi hari saat mereka baru saja berbaikan.
"Aku akan membuatkannya!" lanjut Nino tersenyum. Ia bangkit dan mencium bibir istrinya sekilas lalu langsung berlari dengan tubuh polosnya menuju kamar mandi.