Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Hard Time.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku dan Franda kembali ke dalam kamar setelah berbicara dengan ibu. Kami memutuskan akan menemui wanita yang bernama Lucy itu setelah Franda benar-benar siap secara mental, karena bukan tidak mungkin pertemuan mereka nanti akan membuka luka lama yang sampai saat ini belum mampu di lupakan Franda sepenuhnya.


Kejadian dua puluh tahun lalu itu terlalu membekas di kepala istriku, dia terluka dan hancur dalam sekejap dan lukanya itu terus menyiksa batinnya sampai saat ini. Mungkin sikapnya terlalu berlebihan bagi sebagian orang yang tidak mengalami hal seperti ini, tapi memang ada orang-orang seperti Franda yang kesulitan dalam menghadapi sesuatu. Terutama jika mengalaminya sewaktu kecil, tentu dampaknya akan lebih buruk lagi karena tidak ada persiapan apa pun untuk menyambut peristiwa memilukan yang menerjang secara tiba-tiba.


Dan setelah aku melihat sendiri bagaimana kejadian itu mempengaruhi kejiwaan Franda selama ini, tekadku semakin kuat dalam membantunya agar dia bangkit dan melupakan masa lalunya. Atau paling tidak itulah yang kuharapkan terjadi nanti.


"Apa yang kau pikirkan?" Suara Franda menarik pikiranku kembali.


Aku mengangkat pandanganku dan menyadari kedua mata cokelatnya tengah menatapku curiga. Menelitiku dengan seksama, seakan sedang menebak isi kepalaku.


Aku menggosokkan telapak tanganku yang berkeringat ke atas pahaku lalu mengepalkan tangan dengan gugup sebelum berpikir tentang apa yang akan kukatakan padanya. "Apa kau baik-baik saja?" kataku memulai.


"Hm... ya," nadanya kaku, dan aku tahu dia sedang menahan sesuatu. "Aku baik-baik saja." jawabnya singkat. Lalu keheningan kembali menyelimuti seluruh ruangan.


Aku menelan ludah dengan susah payah seraya memutar otakku untuk mencari kata-kata selanjutnya. Haruskah aku mengalihkan pikirannya dengan mengganti topik pembicaraan ke arah bisnisnya yang sedang melesat di bawah naungan perusahaanku? Mungkin saja dia akan sedikit tenang. Atau bagaimana dengan rencana kami merenovasi rumah hutan? Kurasa hal itu bisa membuatnya lebih santai. Tapi kuputuskan untuk mengungkapkan saja apa yang ada di kepalaku pada akhirnya.


Aku menghela napas dalam-dalam sebelum berbicara, "Baiklah, Franda, aku tahu ini mungkin sedikit mengganggumu, maksudku tentang apa yang terjadi pada kedua orangtuamu. Aku tidak yakin dengan gagasan untuk menemui dengan tantemu." ujarku hati-hati.

__ADS_1


Aku mengamati wajahnya dengan seksama untuk melihat reaksinya, dia bergeming pada perkataanku tetapi aku sempat menangkap sorot matanya skeptis saat dia memandangku walau hanya beberapa detik.


"Kau menghawatirkan keadaanku?" Dia berkata sambil mengangkat sebelah alisnya. "Gangguan kecemasanku? Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?" tanyanya tajam. Jelas sekali dia sedang meredam kemarahannya. Kedua mata cokelatnya swolah sedang menyemburkan api dan aku sebagai targetnya.


Tatapannya mengerikan, dan aku menyadari percapan ini tidak akan mudah. "Ya, aku khawatir kau tidak akan sanggup menerima sesuatu yang mungkin menyakitkan dari mulutnya. Aku tidak ingin kau kembali teringat dengan kejadian naas yang menimpa kedua orangtuamu." Ini benar, aku memang tidak ingin dia kembali kacau, terlebih aku sudah susah payah mengembalikan kepercayaan dirinya. Aku akan memastikan siapapun takkan punya kesempatan membangkitkan kembali trauma yang di alaminya.


"Dengar, Sean. Aku tahu mentalku memang kacau belakangan ini. Aku membuatmu dan semua orang kerepotan, tapi aku sangat ingin bertemu dengannya. Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa." Franda tertunduk, menarik napas dalam.


"Maafkan aku karena telah memberimu beban yang berat dalam pernikahan kita. Kondisiku memang memburuk seiring beberapa masalah yang terjadi, tapi percayalah, aku bisa mengatasi ini." Franda berkaca-kaca. Matanya menusuk ke dalam mataku dan tatapannya sarat akan permohonan. Lalu dia turun dari tepi ranjang dan segera berlutut di hadapanku.


Aku terhenyak dengan gerakannya yang tiba-tiba dan tak kuduga. Franda memang keras kepala dan aku tidak menginginkan sifatnya itu muncul saat ini. Aku ingin menjulurkan tangan untuk menariknya berdiri, tapi dia buru-buru menggeleng. Kedua tangannya gelisah menggenggam tanganku. "Kumohon... beri aku kesempatan untuk menunjukkan padamu kalau aku bisa tenang saat bertemu dengan tanteku. Aku berjanji tidak akan terpengaruh dengan apapun, Sean. Aku berjanji akan baik-baik saja meskipun nanti dia mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Please... percaya padaku..."


Aku mengembuskan napas berat. Menyaksikan dia memohon seperti itu membuatku tidak tega aku ikut merasa hancur. Sialan! Aku memang selalu lemah jika berhadapan dengannya. Franda... apa yang harus kulakukan agar kau mengerti perasaanku saat ini?


Setelah menimbang beberapa saat, aku pun mengangguk pada akhirnya. Memilih mencoba percaya padanya, setidaknya aku akan melihat apakah dia benar-benar bisa menghadapi kenyataan yang mungkin saja tidak menyenangkan mengingat bagaimana tantenya menghilang selama ini. "Baiklah, aku akan percaya padamu, tapi... jika kau tidak mampu menahan dirimu nanti, maka kau harus berurusan dengan psikiater." ancamku, dan benar-benar bermaksud akan melakukan itu.


Wajahnya berubah pucat saat dia perlahan mulai menyerap perkataanku. Ini bukanlah jenis reaksi yang kuharapkan akan kulihat darinya. Bibirnya bergetar dan matanya yang berkilat saat menatapku, sempat membuatku goyah. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Sudah kukatakan, Franda harus dipukul dengan keras agar dia paham dengan kondisinya.


Dia tidak menjawabku, tapi aku bisa melihat ketakutan terlintas di wajahnya. Tidak sulit untuk menebak isi kepalanya saat ini. Franda dan PTSD-nya, adalah satu-satunya masalah yang merundung pernikahanku saat ini. Aku bertaruh itulah yang ada di pikirannya saat ini. Dan dia pikir dengan memohon aku akan melunak dengan mudah. Betapa naif-nya. Dia tak akan bisa lari atau menghindar lagi. Suka atau tidak, dia harus mengikuti syaratku jika ingin bertemu tantenya.

__ADS_1


"Keadaanmu belum sepenuhnya membaik, Franda, kau seperti sengaja menyiramkan bensin ke api yang menyala. Kau tahu itu?"


Dia mengernyit lalu mengalihkan pandangan menatap kedua tangannya yang menggenggam tanganku. "Aku tahu, tapi aku sangat ingin menemuinya." ujarnya pelan. "Terlalu banyak yang ingin kutanyakan padanya... Aku sudah menantikannya selama bertahun-tahun, berharap jika suatu hari aku bisa melihatnya dan dia akan menceritakan tentang mamaku, atau setidaknya aku bisa melihat wajah mamaku di wajahnya. Hanya itu yang kuinginkan, Sean. Aku ingin mengetahui sesuatu tentang orangtuaku... aku ingin tahu apa yang terjadi malam itu karena..." Suaranya terpotong karena dia tidak mampu lagi menahan tangisnya.


Dengan cepat aku turun dari tepi ranjang, ikut berlutut di sampingnya dan langsung mendekap tubuhnya yang gemetar. Aku membiarkannya menangis untuk meluapkan semua perasaan sakit yang menghantam di dadanya dan juga dadaku, tentunya. Dari semua orang yang ada di dunia, kenapa harus dia yang mengalami ini? Kenapa harus wanita sebaik dan setulus Franda? Sungguh, dia tidak pantas hidup dengan membawa beban seberat ini. Franda sangat rapuh, bahkan terlalu rapuh untuk masalah kecil sekalipun.


"Aku tidak pernah meminta apapun seumur hidupku, Sean. Aku selalu menerima segala yang ada di hadapanku, berusaha berdamai dengan kehidupan meski tak jarang aku sendiri mengalami kesulitan. Sepanjang hidup aku selalu memikirkan orang lain sampai-sampai aku lupa bagaimana caranya membuat diriku sendiri merasa tenang. Aku menyimpan semua perasaanku, tidak pernah terang-terangan mengeluh, meyakinkan semua orang kalau aku baik-baik saja."


"Tapi kau tahu, aku tidak pernah baik-baik saja. Mentalku hancur berantakan, otakku kacau, perangaiku memuakkan, dan aku menentang semua itu. Aku berperang melawan diriku, menolak percaya jika keadaanku memang separah itu. Namun, sekarang aku menyadari kalau aku memang membutuhkan bantuan. Jadi... apakah aku akan bertemu dengan tante Lucy atau tidak, aku akan menerima psikiater itu. Siapkan saja semuanya, aku akan menuruti kemauanmu."


Aku menunduk menatapnya. Alisku bertaut. Dengan satu gerakan cepat, aku mendorong mundur tubuhnya. "Franda," geramku lirih. "Kau mengatakannya seolah aku memaksamu melakukan itu." Aku membuang napas kasar. "Hei, lihat aku." kataku menuntut tak sabaran.


Franda masih belum mau mengangkat wajahnya. "Aku tidak pernah memaksamu melakukan itu, Franda. Tidak masalah jika kau tidak menginginkan pertemuan dengan psikiater atau apapun itu, tapi kau harus memastikan kalau kau baik-baik saja setelah bertemu tantemu. Hanya itu tawaranku."


Dia tertawa pelan, namun bukan dengan nada ceria seperti yang biasa kudengar. Kali ini tawanya seperti... mengejek. "Tidak peduli apa yang akan terjadi setelah aku bertemu tanteku, kau akan terus merecokiku dengan gagasan psikiater itu, Sean. Kau dan semua orang sama saja, kalian tidak akan mengerti bagaimana perasaanku. Berkali-kali aku menolak, tapi kalian tetap saja membahas masalah itu."


Franda melepaskan tanganku, lalu berdiri dan melangkah ke arah sofa. Dia bersandar di sana sambil menutup mata dengan telapak tangan. "Atur saja pertemuanku dengan psikiater itu, aku akan menemuinya." Dia tersenyum getir. "Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?" sambungnya, putus asa.


Aku berdiri. "Hei, kau berlebihan dalam merespon ucapanku." gumamku sambil menyusul ke sofa. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar bisa mengatasi masalahmu, Franda. Psikiater atau apapun itu, tidak akan berguna jika kau tidak menginginkannya." balasku, tak mau kalah.

__ADS_1


Dia tertawa lagi, nadanya lebih pahit dari sebelumnya. "Ini benar-benar lucu. Kau tahu itu tapi masih memaksaku melakukannya? Sean..." Dia menggeleng beberapa kali. "Sebaiknya kita sudahi percakapan ini. Lakukan apapun yang kau inginkan, aku akan mengikutimu." Itu adalah kata terakhir yang di ucapkannya karena setelah itu, dia langsung melangkah keluar kamar, meninggalkanku yang masih bingung.


__ADS_2