Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
All About Happiness


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV...


Aku merasa lega karena Franda bisa tenang. Tapi bukan tidak mungkin dia akan menangis lagi di masa depan. Franda wanita rapuh dan dia memiliki kesulitan yang parah dalam mengatasi kehilangan. Aku tidak ingin dia merasa sakit dengan mengingat masa lalunya lagi. Aku tidak ingin dia menanggung banyak perasaan kecuali perasaan yang diberikannya untukku.


Setelah aku berhasil menenangkannya, aku beranjak kedapur untuk mengambil minum dan akan memberikannya padanya, namun ternyata dia mengikutiku. Akhirnya aku berbalik dan melihat Franda di hadapanku. "Hei." sapanya.


"Hei," balasku cepat. Aku menghampirinya di seberang mini bar dapur lalu mencium kilat rambutnya dan beranjak sebentar untuk mengambil gelas dan menuang air putih dari wadah air yang terbuat dari kaca. Ketika aku menenggak, aku merasa lega. "Menghiburmu memang membutuhkan banyak tenaga. Aku siap menghiburmu lagi nanti malam."


Franda mengangkat bahunya dengan ringan, dan dia berjalan ke sampingku. "Well, kalau begitu aku butuh minum juga. Menghadapi hiburanmu membuatku berakhir lemas."


Aku tertawa, menuangkan air untuknya. "Kita memang pasangan serasi. Aku menggigitmu, dan kau mencakarku."


Pipi Franda memerah kala dia meneguk air. Hampir tersedak. Dia melotot dan mencubit pinggangku. Aku meraih tubuh mungilnya ke dalam pelukanku. Daguku kusandarkan di bahunya, lenganku melingkar di perutnya yang halus dan rata. "Kau sering sekali mencakarku dengan kukumu itu saat aku bercinta denganmu. Bukannya aku mengeluh, itu malah mendorongku semakin jauh larut ke dalam duniamu yang lembut dan nikmat itu."


Aku yakin Franda tersenyum saat dia menunduk menatap kuku-kukunya yang pendek dan terawat. Aku meraih satu tangannya, mengusap jemarinya yang lentik dan halus, meraba cincin yang kusematkan padanya saat aku menikahinya. "Apakah kau ingin mengganti cincinmu, Franda? Aku akan memberikan yang lebih indah jika kau menginginkannya." kataku menawarkan.


Franda ikut membelai cincin itu di antara jemari kami yang bertemu. "Aku suka cincin ini, Sean. Aku tidak ingin cincin yang lain."

__ADS_1


"Kau yakin?" tanyaku lembut. "Aku terburu-buru saat membelinya, tidak memikirkan apakah kau akan menyukainya atau tidak. Saat itu yang kupikirkan hanya menikahimu. Tapi sekarang kurasa kita bisa memesan sesuatu yang lebih mewah untuk jarimu yang lentik itu."


Franda memutar tubuhnya perlahan di dalam dekapanku. Tatapannya langsung naik ke arah mataku. "Bukankah kau sudah memberiku kemewahan dengan tubuhmu? Aku lebih menyukainya dibandingkan batu permata kalau itu maksudmu."


Napasku berubah cepat. Franda sedang menggodaku. Dia tahu kalau aku ingin mengganti cincinya dengan batu permata. "Franda," erangku rendah. "Matahari baru akan terbenam beberapa jam lagi dan kau sudah memancingku. Sial, aku akan mengikatmu di ranjang sampai pagi, sampai kau merasa tulang-tulangmu terlepas."


Franda mengikik senang. Tangannya mengusap wajahku dalam sekali kibasan. Kemudian dia beranjak beberapa langkah ke depan. "Aku tadi ingin mengajakmu naik ke kamar dan menutup tirai sampai kamar menjadi gelap seolah malam sudah tiba. Tapi mendengar ancamanmu, aku jadi ragu. Sebaiknya kau bersabar menunggu sampai malam tiba, Sean."


Aku mengekor langkah Franda naik ke kamar. "Aku akan bersabar, sayang."


Franda menjawabku sementara dia berderap. "Jangan menyerangku tiba-tiba kalau kau kesulitan menahan diri. Kau tidak mungkin sanggup menyimpan gairahmu sementara aku berkeliaran di sekitarmu. Kau sendiri tahu aku juga tersiksa untuk tidak menyentuhmu. Tapi kurasa sesekali kita perlu menunggu agar lebih bersemangat saat melakukannya." Franda membuka pintu lemari lebar-lebar ketika kami tiba di kamar, dan lanjut berbicara dengan lemah lembut dan menggoda.


Aku tertawa lalu melangkah cepat ke lemari dan merenggutnya kembali ke sisiku. Bagaimana mungkin aku bisa menjauh dari wanita penuh pengertian seperti ini dalam berhubungan. Satu-satunya yang membuatnya sebal adalah perasaan cemburunya kepada wanita lain yang dekat denganku, dan dia agak sedikit kacau saat merasa cemburu seperti itu, selebihnya, Franda adalah wanita sempurna.


"Franda," Aku menunduk menatap bibirnya. Lalu naik ke bola matanya. "Aku memang akan menerkammu dan akan mencabik-cabikmu. Tapi bukan berarti aku tidak mengerti dirimu. Aku tahu kapan harus membiarkanmu beristirahat dan kapan harus menidurimu lagi. Tubuhmu memang membuatku tergila-gila, tapi hatimu jauh lebih berharga untuk kujaga."


"Aku senang dengan sikapmu yang menyerah dan pasrah, dan aku berharap hanya aku yang mendapatkan kerapuhanmu. Aku tidak bisa membayangkan jika suatu hari kau meninggalkanku dan berlari menjauh bersama laki-laki lain. Aku pasti akan hancur detik itu juga atau bahkan sanggup membunuh laki-laki yang lain itu."

__ADS_1


"Ya Tuhan, Sean." Franda mengelus ujung mataku. Aku tidak tahu apakah ada air mata dalam mataku, yang jelas suaraku bergetar. Aku memejamkan mata sementara Franda menangkup wajahku. Dia menarik wajahku ke bahunya. Tempat yang paling kubutuhkan sampai kapanpun. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak sedetikpun."


"Aku tidak pernah menginginkan seseorang seperti aku menginginkanmu, Franda. Aku ingin hidup tenang dan bahagia bersamamu."


Franda meremas rambutku, semakin erat mendekapku. "Aku sudah bersamamu. Sudah menjadi istrimu. Aku tahu bagaimana cara menjaga diriku dari godaan pria lain. Kau tak perlu meragukan kesetiaanku karena semua yang kupunya sudah kuberikan padamu. Semuanya milikmu, Sean. Tidak ada yang kusisakan bahkan untuk diriku sendiri."


Aku menarik napas dan membuka mata. Memandangi mata Franda yang indah. "Aku tahu banyak pria yang menginginkanmu. Bahkan adik sepupuku sendiri tergila-gila saat pertama kali dia melihatmu. Kenyataan bahwa aku tidak bisa selalu berada di dekatmu membuatku sedikit khawatir seseorang akan nekad menyerangmu. Dan jika itu terjadi, aku tak sanggup membayangkan bagaimana orang itu akan berakhir."


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Sean." kata Franda, menitikkan air mata. "Aku akan selalu baik-baik saja."


"Aku memang percaya padamu Franda, tapi aku tidak bisa berbohong dan mengatakan aku tidak takut kehilanganmu. Kau memiliki segala hal yang diinginkan pria manapun. Kau begitu sempurna untuk dibiarkan begitu saja."


Franda terisak, menarik wajahku dan menangis di pipiku sampai perasaan kami lega. Kalau ada pasangan paling rumit, mungkin pasangan itu adalah kami. Tapi kami juga adalah pasangan paling sempurna di muka bumi. "Aku membutuhkanmu dalam hidupku, Sugar baby."


Franda membalas gurauanku di sela tangisnya. "Aku juga membutuhkanmu dalam hidupku, Sugar daddy."


Kami tertawa.

__ADS_1


Kehidupan memang sungguh ajaib mengguncang kami berdua. Pada satu titik kami bisa tertawa seperti orang gila dan saling menggoda satu sama lain, tapi di titik lain kami juga bisa menangis tersedu-sedu meluapkan segala perasaan yang berkecamuk. Aku masih saja tidak menyangka bahwa aku bisa menikahinya sampai detik ini. Semuanya terasa begitu cepat dan tiba-tiba.


Aku menunggunya selama bertahun-tahun sampai akhirnya dia berpisah dengan suaminya. Lalu masih harus berjuang lagi sampai dia mau menerima lamaranku yang mendadak dan terkesan terburu-buru karena aku memang tidak mau kehilangannya lagi saat itu. Setelah menikah pun dia belum sepenuhnya menerimaku sebagai suaminya, aku masih harus menunggu selama sebulan sampai dia mengatakan bahwa dia mencintaiku. Ajaib, bukan? Tapi... semuanya menyenangkan sekarang. Kami berhasil menyingkirkan segala kerumitan dalam hubungan kami. Dan aku yakin kami mampu menghadapi apapun yang akan terjadi di masa depan karena cinta kami memang terlalu kuat untuk di hancurkan.


__ADS_2