
...Sean Danial Warner POV....
Pagi ini cuaca cukup cerah saat kukayuh sepedaku melintasi jalan raya desa Winton. Setelah memastikan Franda aman bersama Mia, Sam, Taylor, dan Jason... Maggie dan Matthew sedang kembali ke kota untuk membeli stok bahan makanan... aku perlu bernostalgia sebentar di desa ini. Mengunjungi pasangan ekstrim Mr. dan Mrs. Clevert adalah jawabannya.
Dibawah sinar matahari yang cerah, ladang-ladang yang membentang dan desa-desa seperti lukisan yang mengerubung di sepanjang jalan luar biasa indah. Aku pernah mengambil rute ke Longreach beberapa kali sejak Matthew pertama kali membujukku untuk bergabung dengan kegiatan bersepeda bersama mereka. Saat itu kami masih berusia empat belas. Dia, Taylor, dan Jason sudah tergila-gila dengan sepeda sejak kecil, menyambar tiap kesempatan menaklukkan medan liar yang semakin menantang.
Tantangan ini, akhirnya aku menyerah dan berakhir menghabiskan satu hari yang sangat menyenangkan berbelanja sepeda bersama Ashley dan kakaknya, kami keluar-masuk toko untuk berbelanja sepeda yang tidak ada habisnya. Walaupun aku masih harus belajar menyukai asyiknya lintasan bersepeda di hutan, aku sudah jatuh cinta bersepeda di jalan, khususnya pada hari-hari seperti ini ketika aku membutuhkan waktu untuk diriku sendiri. Tambah lagi, rute ini memiliki satu keuntungan besar: pasti melibatkan hidangan kue melimpah dengan dua orang yang cukup kukagumi didunia.
Saat melintasi desa Riverside yang cantik, suatu pemikiran berputar di benakku: Franda memutuskan menerima gagasan psikiater. Alasan lain yang membuatku melakukan perjalanan ini adalah karena aku ingin dia benar-benar fokus dengan sesi 'konseling' bersama Sam. Aku harus memberinya kesempatan untuk membuka masalahnya pada Sam. Lagi pula, kurasa dia akan sedikit malu jika aku tetap berada didekatnya.
Sejak dulu, aku jenis orang yang percaya semua itu mungkin sebelum aku mengejarnya, jadi membantu Franda sampai sembuh, tidak terlihat seperti lompatan besar dalam keyakinan seperti yang mungkin akan terjadi pada orang lain. Dalam hal ini, aku sangat mirip dengan Bradley, alias Mr. Clevert. Dia orang paling positif yang kukenal, selalu bersemangat menghadapi peluang-peluang yang disodorkan kehidupan kepadanya dan tidak pernah takut pada tantangan. Aku kadang-ladang berpikir apakah mestinya aku jadi anak laki-lakinya, bukan anak laki-laki ayahku, yang gagasannya akan resiko yaitu sesuatu yang didukung banyak sekali perhitungan cermat.
Filosofi Mr. Clevert akan kehidupan adalah semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Karena kondisi kesehatannya tidak bagus, dia dan istrinya harus menghadapi serentetan masalah hidup yang keras, dan sepertinya mereka tidak pernah cukup uang untuk bisa benar-benar bersantai pada masa pensiun mereka, tapi tak disangsikan lagi, mereka adalah pasangan terbahagia yang kukenal.
Mendekati tujuanku, kuseberangi jembatan melengkung kecil yang membentang di atas kanal. Begitu sampai di sisi lain, kutinggalkan jalan utama lalu membelok ke lintasan penarik perahu menuju pelabuhan permanen. Bau asap perapian kayu yang tajam menggelitik lubang hidungku saat turun dari sepeda dan mendorongnya melewati perahu-perahu panjang dengan nama-nama yang masih kuingat. The Royal Cabs, The Queen, Mamacita, Speedom, Lacosta.
Diujung barisan perahu yang berwarna-warni cerah, berdiri My love, perahu maroon sepanjang 20 meter dihiasi kendi dan baskom enamel yang di lukis secara tradisional serta pot-pot berisi bunga marigold musim gugur.
Siulan riang dari dalam membuatku tersenyum. Kuketuk pintu kabin tiga kali. "Ada penumpang?"
Siulan itu langsung berhenti dan pintu mengayun terbuka saat Mr. Clevert muncul, topi kuning bertengger dengan sudut keren dan wajahnya tersenyum lebar. "Halo!" Dia merundukkan kembali kepala kedalam sebentar. "Debs, cintaku! Ada pesepeda bermuka merah disini yang butuh secangkir teh!"
"Biar kunyalakan ketel!" sahut suara tanpa wujud Mrs. Clevert.
"Hai, Brad," senyumku. "Kuharap kau tidak keberatan aku mampir tanpa memberitahu terlebih dahulu setelah beberapa waktu menghilang?"
"Tentu saja tidak, Kid! Kami sudah menunggu ingin bertemu denganmu. Campakkan sepedamu itu ke atas lalu masuklah."
Bradley sudah sangat lama jatuh cinta pada perahu panjang. Ayah Matt bilang mainan kegemaran adik laki-lakinya ini saat kecil yaitu perahu kanal kayu kecil yang selalu berkeras dibawanya untuk menemani tiap bepergian atau liburan keluarga. Sejak dulu ambisi Mr. Clevert adalah memiliki perahu panjang, dan ketika dia memutuskan untuk pensiun dini, akhirnya dia mewujudkan impiannya dan membeli My Love dari saudara Ayah Matt, yang dia persembahkan untuk istrinya, Debora Clevert.
Cinta terbesar lain dalam hidupnya, Mrs. Clevert, bisa dibilang tidak terlalu terpikat dengan seluruh ide itu, tapi karena itu impian suaminya... walaupun dia menunjukkan sikap protesnya... dia menurut saja. Dan terus menurutinya tiap akhir pekan dan hari libur atau kapanpun Bradley tergelitik untuk memeriksa 'si gadis tua'. Mrs. Clevert beranggapan menghabiskan waktu di My Love lebih membuat frustasi dibanding yang akan dia akui kepada suaminya, tapi muncul dengan cara halus, paling terlihat dari hasil panggangannya. Sebagai pedoman sederhana, tingkat stres yang dialaminya proporsional terhadap jumlah panggangan yang dihasilkannya dari oven kecil berbahan bakar kayu di dapur perahu panjang itu.
Ditilik dari kaleng-kaleng kue yang diseimbangkan hati-hati di atas tiap permukaan datar interior My Love, Mrs. Clevert sedang mengalami hari yang buruk.
"Sedang memanggang, Deb?" tanyaku saat memasuki kehangatan kabin.
Mrs. Clevert meringis. "Hanya sedikit. Kemari dan beri ibu angkat mabuk lautmu yang malang ini pelukan!"
__ADS_1
Sejak dulu aku menyukai pelukan dari wanita ini. Dia memiliki jenis pelukan yang kuat tapi juga lembut yang membuat semuanya tampak lebih baik. Tidak seperti mendiang Mommy. Bagi ibuku pelukan itu cipika-cipiki dengan sedikit kontak tubuh. Mengurangi kerutan pada pakaian orang dan tidak perlu menunjukkan kasih sayang di depan orang banyak yang memalukan. Bukan berarti aku orang yang sangat 'doyan pelukan', tapi pelukan dari Mrs. Clevert bisa dikategorikan sebagai pengecualian menyenangkan, perlakuan murah hati yang perlu dicicipi dan dinikmati seperti hasil panggangannya.
Terdengar rintihan dan sosok mungil gemetaran Presley, anjing pudel yang diselamatkan pasangan ini, muncul di dekat kaki kami. Presley bahkan lebih tidak suka berada diatas air dibandingkan Mrs. Clevert dan tiap kali dia berada di atas My Love kondisinya tidak pernah lebih dari buntalan bulu kelabu keriting yang gemetar ketakutan.
Melepaskan pelukan, kuulurkan tangan untuk menepuk tubuh ketakutannya yang malang. "Hei, Presley, apa kabar?" Anjing itu menjilat tanganku ragu-ragu, kemudian dia kabur ke tempat tidur bercorak kotak-kotak pudarnya yang aman dan nyaman di dekat kompor.
Mrs. Clevert meraih bahuku lalu memegangiku selengan jauhnya. "Nah, sekarang lihat dirimu," Matanya memicing. "Hmmm. Ya ampun. Ada sesuatu yang serius di dalam pikiranmu itu. Hanya ada satu hal yang bisa kurekomendasikan."
Dia mengeluyur ke gundukan kaleng Roses yang ditumpuk begitu saja di atas bangku dan meja lipat dalam apa yang disebut Mr. Clevert sebagai 'Ruang Makan Besar', lalu mulai mencari-cari di antaranya, mengangkat penutupnya dan menyingkirkan kaleng-kaleng sampai menemukan yang dicarinya.
"Ah, ini dia!" Mengacungkan kaleng itu, dia menyodorkannya ke bawah hidungku. "Kopi dan walnut. Itu yang kau butuhkan."
Dan, seperti biasanya entah untuk keberapa kali, dia benar.
Mungkin karena dia begitu sering memanggang, atau mungkin dia sebenarnya memiliki semacam indera keenam mistis berbasis kuliner, tapi kemampuan Mrs. Clevert untuk meresepkan kudapan manis yang tepat untuk kebutuhanmu bisa dibilang legendaris. Patah hati? "Lemon drizzle, mudah saja." Senewen atau sesuatu? "Bakewell tart. Hanya itu satu-satunya yang akan menolong." Lelah? "Kue cappucino tiga lapis, itu akan membuatmu kembali bersemangat, boy!"
"Kau jenius, Deb," aku tersenyum, sementara Mr. Clevert menuangkan teh dan Mr. Clevert memotong seiris besar kue dengan pisau mentega kuno bergagang gading kuning yang sepertinya hasil dari salah satu kunjungan Mr. Clevert ke pasar kaget.
"Omong kosong. Semua orang tahu kue kopi dan walnut itu wajib ada saat membuat keputusan-keputusan penting. Bukan begitu, Brad?"
Mr. Clevert mengangguk bijaksana. "Tentu saja."
"Kue tidak memberitahumu segalanya," sahut Mrs. Clevert sambil mengayun-ayunkan pisau mentega itu kepadaku. "Beri kami pencerahan, anak angkat tersayang."
Aku pura-pura protes, tapi dalam hati aku senang dia bertanya. Kenyataannya, aku membutuhkan nasihat mereka, dan pasangan ini mungkin satu-satunya orang yang kukenal dengan kemampuan untuk mengerti sepenuhnya.
Mereka mendengarkanku dengan serius sementara kuceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam pernikahanku, menghentikanku sesekali untuk bertanya.
"Kenapa kau menikahinya?"
"Tentu saja karena aku mencintainya."
Mereka bertukar lirikan disertai alis yang dinaikkan. "Oh."
"Tapi itu bukan masalahnya. Intinya adalah istriku sedang mengalami sesuatu yang cukup memusingkan."
"Masalah masa lalu?"
__ADS_1
"Ya. Sejak kecil dia mengalami gangguan kecemasan, tapi..." aku berhenti, agak tidak yakin apakah ini wilayah yang pantas bagi seorang anak angkat untuk berbagi keluhan dengan pasangan ini. Tapi ekspresi kembar mereka yang menunggu mendesakku melanjutkan. "Keadaannya bertambah parah sejak bersamaku."
Mr. Clevert menepuk-nepuk tangan istrinya penuh semangat. "Debs! Persis seperti aku dan kau, sayang!"
Memutar bola mata, Mrs. Clevert mengomel keras-keras. "Jangan pedulikan dia, boy, dia berkhayal. Lanjutkan."
"Itu saja, sih. Aku tahu seharusnya aku tidak mengeluh, tapi menyaksikan dia seperti itu membuatku sedikit khawatir. Aku tidak masalah jika harus menemaninya sampai sembuh. Tapi aku terus berpikir..."
"Kehadiranmu membuatnya semakin kesulitan?" Mr. Clevert menimpali. "Tak peduli betapa pun kecilnya, kau tidak dapat mengenyahkan pemikiran itu mungkin muncul."
Detak jantungku melompat. "Persis seperti itulah!"
"Dan kau ingin membantunya menghadapi masalahnya," Mrs. Clevert mengangguk. "Tapi kau bingung bagaimana caranya."
"Tepat sekali. Aku mencintai kalian berdua. Jadi apa yang harus kulakukan?"
Mr. Clevert bangkit untuk mengisi ulang ketel. "Menurutku kau harus menjadi pendengar yang baik untuknya. Hal terburuk apa yang mungkin terjadi, heh?"
"Bertengkar, kecewa, dan reputasi tak dibutuhkan sebagai seorang suami?" Kulahap segarpu penuh kue lalu menatap Mrs. Clevert.
"Bah, itu bukan apa-apa," kata Mr. Clevert. "Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari itu dalam hidupku dan aku masih bisa tersenyum, bukan?"
"Kau pernah disebut pria yang tak dibutuhkan?"
"He? Oh, benar juga. Otak anak angkat kita setajam jarum ya, Debsie?"
"Diam, Bradley, aku sedang berpikir." Mrs. Clevert meletakkan siku ke meja, melipat tangan kemudian menyandarkan dagu ke atasnya.
Mr. Clevert bertepuk tangan kegirangan. "Uuh, aku kenal raut itu, kid. Kau benar-benar di prioritaskan sekarang kalau 'ibumu' memasang tampang seperti itu."
Kami menunggu dalam keheningan, bunyi satu-satunya yaitu kecipak air kanal pada sisi perahu dan letup-letup di kejauhan dari perahu panjang dengan perlahan mendekat, hingga peluit melengking yang semakin keras dari ketel memecahnya.
"Kalau kau akan melakukan ini, kau perlu untuk memberi tahu orang-orang bahwa kau sedang membantunya mengatasi sesuatu," kata Mrs. Clevert pada akhirnya. "Semakin banyak orang yang mengetahui masalah kalian, semakin besar peluangmu untuk membantunya."
Mr. Clevert bertepuk tangan. "Brillian, Debs kita!"
"Kalau begitu, itulah yang akan kulakukan. Tapi bagaimana aku memulainya?"
__ADS_1
"Nah, jangan khawatir soal itu, Nak. Serahkan saja kepada 'Ayahmu' ini."