
...Sean Danial Warner POV....
Aku terbangun dan mendapati pemandangan indah yang paling kusukai selama aku menikah. Istriku terlelap disampingku dengan wajah lelah dan berantakan, namun bahagia. Semalam, setelah pertengkaran kecil yang terjadi di antara kami, aku menghempaskannya di ranjang dan menghukumnya karena telah berani membuatku cemas setengah mati saat dia merajuk dan meninggalkanku. Jadi, bukan salahku jika dia harus kelelahan sekarang, siapa suruh dia menggodaku.
Tadi malam, setelah puas memberinya hukuman yang paling dia tunggu-tunggu, aku membiarkannya beristirahat sementara aku menghubungi Taylor untuk menanyakan studio tato, dan aku beruntung karena ternyata Taylor memiliki seorang teman yang bisa menghapus tato. Segera setelah berbicara dengan Taylor, aku bersiap dan langsung menuju ke alamat yang dia kirim kepadaku.
Aku tersenyum membayangkan bagaimana reaksinya ketika melihat perubahan rambutku saat dia terbangun nanti. Istriku, Franda Atmaja Warner, sangat menggilai rambutku. Dia senang menyusurkan tangan ke rambutku dan menarik-narik saat aku menidurinya, katanya itu memberi sensasi nikmat tersendiri baginya. Aku sebenarnya tidak tahu bagian mana yang membuatnya merasa nikmat, tapi karena dia yang menginginkannya, kubiarkan saja dia melalukan apapun yang disukainya selagi aku sendiri menikmati cita rasa dirinya yang membuatku kepayang.
Tapi hari ini tampilanku berbeda, untuk menghapus tato sialan itu, malam tadi mau tidak mau aku harus mencukur rambutku. Entah kenapa aku sekarang berubah gugup dengan bergeming di tepi ranjang sambil memandanginya terlelap. Kalau sampai Franda tak tertarik lagi karena aku berpenampilan plontos seperti pria aneh, aku bersumpah aku akan menumbuhkan rambutku lagi secepat mungkin untuknya. Dan memberinya sedikit hukuman selama berjam-jam.
Aku mendorong kakiku dan beringsut turun dari ranjang sambil menghela napas lalu berderap ke kamar mandi. Aku ingin terlihat segar saat menyambutnya dengan tampang terbaruku. Aku sedang membayangkan Franda sementara mengguyur tubuhku di bawah pancuran air hangat. Aku ingin langit segera berubah gelap. Aku ingin menguasai tubuhnya, mendengar suara serak dan lembut yang di keluarkannya ketika aku berada sangat jauh di dalam tubuhnya. Sementara aku menyatakan cinta dengan sekuat tenaga padanya sampai tubuhnya berguncang-guncang liar. Tanpa sadar aku tersenyum, menikmati pikiran liar yang menghuni kepalaku.
Senyumku saat ini pasti benar-benar aneh. Astaga, aku benar-benar mabuk cinta yang parah sampai semua orang rasanya meledekku hanya dengan menatap wajahku saja. Aku sontak mematikan air, meraih handuk lalu bergerak ke arah wastafel. Setelah semua usaha yang kulakukan untuk meredamkan perasaanku yang membara, aku masih berdiri dengan perasaan canggung sambil menatap cermin.
Akhirnya aku menyerah, terpaksa menyeret langkahku yang berat karena mungkin saja Franda sudah bangun ketika aku keluar dari kamar mandi ini dan dia pasti terkejut dengan potongan rambutku. Aku mengusap wajahku dengan kasar sebelum akhirnya benar-benar memberanikan diri memutar kenop dengan jari gemetaran, ini jarang sekali terjadi padaku.
Berada di depan pintu kamar mandi, tubuhku mendadak beku. Franda sedang duduk di tepi ranjang sambil melenturkan otot-ototnya yang lelah akibat pertempuran kami semalam. Rambutnya yang panjang bergoyang saat dia memalingkan wajah menghadapku. Dia terlihat sangat cantik, matanya sangat indah dan menawan. Bibirnya penuh dan mengundangku. Tubuhnya molek dan memancarkan kepercayaan diri yang besar. Tapi detik-detik ini aku gugup sekali, tanganku dingin menanti responnya. Tak tahan ditatap syok seperti itu, aku menunduk dan suasana berubah hening.
Aku sungguh merasa konyol. Aku seharusnya hanya mencukur bagian sampingnya saja dan membiarkan sisanya. Aku tidak perlu melakukan semua ini, aku benar-benar cemas mendapat penolakan dari Franda. Dan sekarang istriku itu terdengar melangkah ke arahku.
Langkahnya pelan, dan kuyakin matanya masih mengamati wajahku. Aku sudah memejamkan mata saat Franda berdiri di hadapanku. Tapi tangan lembutnya yang membelai rahangku membuatku pelan-pelan menatapnya. Menatap matanya yang berkaca-kaca. "Kenapa kau menunduk, Sean? Kau tampan, kau sangat tampan."
Kedua tangan Franda menangkup wajahku. Gugup yang kurasakan beberapa saat lalu perlahan berubah menjadi gairah yang panas. "Franda," desahku.
Franda menyerbu langsung ke tubuhku, dan berjinjit. Aku mengangkat tubuhnya dan menikmati rasa bibirnya yang lembut dan manis di bibirku. Franda menciumku seakan dia memuja. Aku merasa bahwa tak ada yang lebih indah daripada ini. Istriku sungguh-sungguh menerima diriku tanpa pengecualian. Dan aku bersumpah, aku akan membahagiakan seluruh ruang di hatinya, dan setiap inci bagian tubuhnya. "Kau membuatku sangat bergairah, Sean." bisiknya di bibirku.
__ADS_1
Aku tersenyum, membalas sapuan bibirnya dengan ciuman yang penuh dan panjang. "Malam tinggal beberapa jam lagi. Sabarlah, malaikatku."
"Sean," bisiknya lagi, gemetar menciumku.
Kami berciuman sangat lama, tak berniat berpindah dari depan pintu kamar mandi. Saling menyatakan cinta melalui bibir kami yang beradu, sampai kami berhenti untuk menghirup udara, dan mengulanginya lagi hingga beberapa kali.
"Jadi, kau benar-benar melakukannya semalam?" Franda bertanya sambil meraih sebotol air mineral dari nakas lalu meneguk isinya banyak-banyak. Sepertinya mulutnya benar-benar kering setelah ciuman kami tadi.
Aku menatap wajahnya yang merona, lalu tersenyum dan mengangguk. "Aku tidak mau membuatmu marah terlalu lama, itu menyiksaku." Aku merebut botol air dari tangannya dan menghabiskan sisanya.
Dia memandangku dengan tatapan takjub, seakan aku adalah sebuah berlian yang berkilau indah dan menyilaukan pandangannya. "Kemarilah," katanya sambil membuka tangannya lebar-lebar.
Aku tersenyum, lalu beranjak maju dan dia memelukku sangat erat. Wajahnya menempel di perutku yang belum berpakaian. Aksinya yang jahil menggesekkan hidung ke kulitku, membuatku menggeram. Namun perkataan berikutnya yang keluar dari mulutnya segera membuat gairahku luntur, secepatnya berganti dengan perasaan haru. "Aku mencintaimu, Sean. Sampai kapanpun akan selalu begitu. Aku tidak peduli bagaimana tampangmu, atau keadaanmu. Aku akan selamanya mencintaimu. Kau adalah kebahagiaan dalam hidupku." Kemudian dia mendongak menatapku, dengan mata penuh binar.
Aku mendekapnya lebih erat. "Terima kasih, Franda. Aku merasakan sesuatu yang lebih daripada itu untukmu. Percaya padaku, apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Aku merunduk untuk menciumnya lagi.
Aku tersenyum dan menggeleng. "Sama sekali tidak. Dan kalau pun sakit, aku akan tetap melakukannya untukmu." sahutku, lalu menariknya agar berdiri. "Mandilah, setelah ini aku harus bertemu manajer keuangan dan kepala departemen pengadaan barang untuk membahas masalah kantor. Mereka sudah tiba disini sejak sejam yang lalu." sambungku.
Dia mengangguk, lalu menciumku dua kali lagi sebelum akhirnya benar-benar menghilang dibalik pintu kamar mandi. Setelah sekitar empat puluh menunggu Franda bersiap, kami langsung menuju ke sebuah restoran untuk bertemu orang-orang dari perusahaanku, menyempatkan diri untuk menjemput Mia lebih dulu di rumah Taylor dan Sam karena semalam kami meninggalkannya begitu saja.
Tiba di restoran, aku membiarkan Franda sarapan dengan tenang bersama Mia sementara aku menyelesaikan urusanku lebih dulu.
"Ini benar-benar kacau," kata Andy, manajer keuanganku, memperingatkan saat aku mendekati mereka. "Dan Dave tidak bisa dihubungi." tambahnya sambil menarik kursi untukku.
"Ya, satu-satunya pesan darinya empat hari yang lalu, dia bilang akan mampir ke tempat adiknya setelah menyelesaikan urusan dengan klien di Singapura." gerutuku.
__ADS_1
Andy tidak melebih-lebihkan, saat aku bergabung bersama mereka di dalam ruangan, wajah Pras, kepala departemen pengadaan barang, seperti ingin menyemburkan bara api.
"Apa kau bisa menjelaskan pada kami apa yang terjadi?" desisnya.
Aku terlalu gusar untuk duduk, tapi Andy sudah menarik kursi untukku dan memberi isyarat agar aku menempati kursi itu. "Andai aku bisa, tapi aku tidak pernah membuat kontrak itu, jadi... " Aku mengedikkan bahu.
Kini mukanya makin merah padam, urat-urat bertonjolan dari wajahnya. Ia mengertakkan rahang seraya berbicara. "Pasti ada seseorang yang tahu, kontrak itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya."
"Mungkin kita harus menunggu hingga Dave kembali, dan bertanya padanya."
Pras mendengus sinis mendengarnya. "Jika dia memang berniat kembali, dia tidak akan memesan paspor untuk menyeberang ke Malaysia dua hari yang lalu kemudian menghilang." Dia berhenti sejenak untuk memijat pelipisnya sebelum melanjutkan. "Bagaimana jika kau kembali untuk sementara, Sean? Kita harus fokus menyelesaikan masalah ini. Bagaimanapun, ini tak boleh sampai tersebar keluar, paling tidak sampai kita menemukan titik terang."
Aku baru akan membantahnya, tapi Andy menyentuh lenganku untuk menahanku. "Percayalah, ini solusi yang terbaik. Kau tak mungkin berada disini lebih lama dan menghadapi tuntutan hukum di waktu yang sama." katanya dengan suara direndahkan. "Perusahaanmu sedang kacau, dan kami tidak mungkin mondar-mandir Indonesia-Australia sementara bisa saja sesuatu terjadi disana." Akhirnya aku pasrah dan menuruti permintaan dua orang itu.
Aku, Franda dan Mia kembali ke hotel setelah menyelesaikan urusan dengan Andy dan Pras. Aku tak bisa berhenti memikirkan perkataan Pras, tentang Dave yang pergi ke Malaysia. Sulit sekali mempercayainya, tapi pada akhirnya memang hanya ada satu kesimpulan yang paling masuk akal. Dave sudah menghianatiku, dan dia sudah membawa labur seluruh uang kontrak-nya. Dia bersembunyi ke Malaysia setelah menjual tanda-tanganku seharga dua triliun rupiah!
Aku mengutuk di bawah napasku sambil mencengkeram kemudi kuat-kuat hingga buku jariku memutih. Sentuhan pada punggung tanganku menarik pikiranku kembali. Aku menatap tangan lembut itu lalu menoleh pada Franda. Dia tampak khawatir. "Kau baik-baik saja?"
Aku tersenyum padanya sambil meraih tangannya. "Tentu, aku memiliki endorfin alami yang selalu menempel padaku." Itu benar, Franda memang memiliki efek paling kencang dalam membuatku merasa tenang.
Dia memutar bola matanya, "Kau memang perayu ulung."
Aku tertawa pelan, mengacak rambutnya sampai dia protes, kemudian kembali fokus pada jalanan di depan kami.
Penampilan baru Sean.
__ADS_1