Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Bored chapter


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


"Sean, apa kau melihat kabel pengisi daya ponselku?"


Aku menoleh Franda yang bertanya padaku dari tepi ranjang. Dia sedang mencari kabel pengisi daya miliknya yang entah sudah ke berapa ratus kali menghilang.


"Tidak," sahutku singkat, lalu bersandar di sofa dan mengalihkan kembali pandanganku pada ponsel di tanganku.


Aku sedang meminta Dean menyiapkan keberangkatan Edward ke Jepang besok pagi, dia akan menemui ibu kandung Franda bersama Joe untuk memintanya datang ke indonesia.


Setelah aku, Edward, dan ibu mertuaku membahas tentang ibu kandung Franda tiga hari yang lalu, kami sepakat memaksa ibu kandung Franda untuk datang dan menemuinya. Aku bersyukur ibu mertuaku memiliki pendapat yang sama denganku, kami sama-sama mengesampingkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Franda.


Setidaknya kami tidak harus membohonginya lebih lama. Seperti yang kukatakan, Franda memiliki hak untuk mengetahui kebenaran tentang kecelakaan orang tuanya, meskipun tetap saja, kami harus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan buruk.


Untuk mengatasi itu, aku sudah meminta Sam datang ke Indonesia, dan dia bersedia mendampingi Franda. Semuanya harus baik-baik saja, baik Franda atau pun anakku. Jika semuanya berjalan sesuai rencana dan ibu kandung Franda bersedia untuk menemuinya, maka pertemuan itu akan terjadi setelah Franda melahirkan anak kami. Tiga bulan dari sekarang.


Aku menghela nafas lalu menggeliat dan meletakkan ponselku ke atas meja kaca yang ada di hadapanku. Kemudian aku memutar kepala ke belakang, dan mendapati sebuah pemandangan indah yang berpusat pada makhluk Tuhan paling seksi di muka bumi.


Franda, wanita lembut sekaligus liar itu sedang menggoyang-goyangkan pinggulnya, mengikuti irama musik rock klasik tahun 70-an. Dia mengenakan kaus putih milikku untuk menutupi tubuh bagian atasnya sementara pada bagian bawah dia hanya mengenangkan pakaian dalam berenda berwarna hitam. Penampilannya memberikan kesan berbahaya sekaligus romantis.


Perabotan yang ada di dalam kamar kami mungkin saja sudah menganggapku gila karena bibirku tidak bisa berhenti tersenyum, aku bahkan tidak sanggup kalau harus menatap wajahku sendiri di depan cermin. Aku takut melihat mataku yang bersinar karena hasratku kepada Franda. Hasrat yang setiap detiknya terasa semakin menggetarkan.

__ADS_1


Aku memperhatikan setiap detil gerakannya hingga membuat napasku tersekat. Biar kuberitahu kalian, Franda benar-benar jelmaan malaikat.


"Woohoo, that's it!" Aku berseru sambil berjalan mendekatinya saat mendengar Dancing In The Dark oleh Bruce Springsteen.


Tanpa menghentikan gerakan pinggulnya, dia berbalik dan tertawa lalu menaikkan kedua tangannya dan menyandarkan di pundakku. Perutnya yang besar bersentuhan dengan bagian bawah perutku. Dan wajahnya sangat cantik, matanya berkilat-kilat senang menatapku.


Kami menari bersama sepanjang lagu itu di putar, Franda dengan suaranya yang indah ikut menyanyi menemani Bruce dan dia sangat bersemangat. Membuat kecantikannya meningkat hingga beberapa level.


Dengan kedua tangannya masih di pundakku, aku menciumnya dengan lembut, secara tidak langsung menyatakan betapa aku mencintainya dan mengaguminya. Kurasakan jemari Franda yang lentik menyusuri rambutku sementara bibirnya yang manis membalas ciumanku.


"Aku ingin kau hamil selamanya, Franda." godaku di depan wajahnya, malaikatku itu tertawa pelan. Tawa yang akan selamanya mengisi hatiku.


Dia memandangiku selama beberapa saat sebelum berbicara. "Kalau begitu kau harus terikat di ranjang selamanya, Sean." gumamnya bercanda, lalu dia tertawa lagi.


Malaikatku itu mundur sementara aku untuk turun ke bawah untuk mengambil sarapan yang sudah disiapkan oleh Miss Diana.


Aku memandangi beberapa makanan yang tersaji di meja makan dan kuputuskan mengambil beberapa potong sandwich, ubi milik Franda, dan dua gelas susu. Aku meletakkannya di atas nampan lalu melangkah kembali ke kamar.


***


Derap kaki Franda dan aku beradu dengan lantai saat kami memasuki sebuah bistro di tengah kota, tempat dimana Julie sudah menunggu di dalam. Ini kedua kalinya kami bertemu setelah dia dan pamanku datang ke Indonesia untuk menjenguk Dave di penjara. Julie ingin berada disini lebih lama untuk berlibur sementara pamanku sudah kembali ke Jerman.

__ADS_1


Mataku memandang ke sekeliling dan melihat Julie duduk di salah satu meja yang terletak di sudut ruangan. "Jules!" panggilku pelan. Dia menoleh.


Bibirnya tersenyum hangat, sehangat kopi yang terletak di hadapannya. Aku memeluknya dan mencium pipinya, lalu membiarkan dia dan Franda saling menyapa selama beberapa saat.


"Jadi, kau ingin kemana setelah ini?" Franda bertanya pada Julie sambil mendaratkan bokongnya di kursi di sebelahku dan meletakkan tasnya di atas pangkuanku.


Aku meliriknya sekilas dengan alis terangkat, tapi dia tidak peduli padaku. Aku adalah asisten pribadi Franda setiap saat aku berada di depan umum bersamanya, tapi bukan berarti aku keberatan, ya. Aku malah senang dia karena sikap Franda menyatakan bahwa dia membutuhkanku.


"Belum tahu. Manajerku mengatakan dia sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan salah satu perusahaan produk kosmetik Indonesia, tapi aku belum menerima detailnya." balas Julie, menyesap kopinya.


Julie bekerja sebagai model di Jerman, dan kemarin aku memberi kartu nama salah satu klienku yang sedang mencari model kepada manajer Julie, tapi semua itu kulakukan tanpa sepengetahuannya.


"Apa kau berencana mengambil banyak pekerjaan disini?" Aku bertanya saat seorang pelayan datang membawakan cokelat panas dan kopi pesanan Franda dan aku.


Julie mengedikkan bahu. "Sepertinya begitu, aku tidak bisa meninggalkan Dave sendirian disini." katanya, mencoba terdengar santai, namun aku tahu dia masih sedih dengan apa yang menimpa kakaknya.


"Jules," aku menatapnya serius. "Kau tidak perlu mencemaskan Dave, aku dan Dean akan menjaganya, dan aku bisa menjamin Dave tidak akan kekurangan apapun selama dia berada di penjara. Kau tahu, kau membuatku tersinggung dengan kata-katamu." Aku meraih gelas kopiku dan menyesapnya tanpa mengalihkan tatapan dari Julie.


Dia tersenyum padaku, lalu melirik Franda sekilas. Aku tahu dia kecewa karena aku membiarkan Dave terkurung di penjara, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Dave berhadapan dengan interpol, dan aku tidak memiliki kuasa apapun terhadap mereka. Interpol bukan lembaga kecil yang bisa kukendalikan.


"Ya, aku tahu kalian masih peduli padanya, hanya saja aku ingin memastikan kakakku baik-baik saja, setidaknya sampai aku yakin dia bisa menerima kenyataan." gumamnya dengan nada berat, dan aku mengangguk.

__ADS_1


K-ami masih duduk dan mengobrol di sana selama hampir satu jam. Julie menceritakan tentang masa kecil kami kepada Franda, aku hanya menanggapi dengan sesekali tersenyum dan tertawa.


__ADS_2