
"Aku tidak menghukummu, sama sekali tidak! Aku hanya membebaskan diriku dari kehidupan yang menyedihkan!" kata Franda cepat,
"Benarkah? Kau merasa pernikahan kita menyedihkan?"
"Lalu, apa namanya? Entah bagaimana pandanganmu, tapi aku merasa seperti itu dari sudutku. Kau mungkin tidak merasakannya, karena bukan kau yang menjadi korban disini. Kau pikir aku tidak tersiksa memikirkan perceraian kita? Apa kau pikir dengan mudahnya aku memutuskan untuk mengakhiri ini? Tidak memikirkan bagaimana nasib Ben nanti? Aku memikirkan itu, sungguh memikirkannya!" Franda berdiri, membelakangi Nino, melipat kedua tangannya didada.
"Kau terlalu menganggap remeh semuanya, ini bukan masalah sepele ketika menyangkut pengkhianatan. Tadinya aku berpikir kau akan berubah setelah Ben hadir ditengah-tengah kita, memperbaiki diri dan tidak mengulanginya, tapi ternyata aku salah, jika Ben yang dengan susah payah kita dapatkan saja tidak mampu membuatmu menahan diri, aku tidak yakin ada hal lain yang mampu merubahmu."
Franda mendekati Nino, Ia merasa harus mengakhiri ini dengan lembut. Pertengkaran tidak akan berakhir jika mereka terus-terusan bersikap keras. Ia duduk tepat disamping Nino yang terisak, ditariknya wajah Nino agar menghadapnya.
__ADS_1
"Dengarkan aku, kita harus menghentikan semuanya, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki dalam pernikahan kita, semuanya sudah berakhir. Aku berusaha untuk tidak menyalahkan siapapun, aku juga salah karena terlalu percaya padamu. Berhentilah memohon padaku, karena percuma, Sayang." ucap Franda, dihapusnya air mata Nino yang mengalir dengan jempolnya. Memaksa bibirnya untuk tersenyum, dan menarik Nino ke dalam pelukannya.
"I'm sorry for all that I've done. It's not easy for me either, but I believe we can through this, you'll always be in my heart. Aku sungguh bersyukur pernah mengenalmu, kau mengajarkanku banyak hal. Also, you give Ben, he is such a best thing that ever happen to my life, to our life." kata Franda dengan jujur. Ia tidak mungkin menampik bahwa Ia juga pernah merasakan bahagia bersama Nino, meskipun harus berakhir mengenaskan.
Nino membalas pelukan Franda dengan erat. Ia tidak akan mampu menggoyahkan Franda lagi, sekeras apapun usahanya, perceraian mereka tetap akan terjadi. Kini mereka hanya tinggal menghitung mundur, menikmati hari-hari terakhir sebagai suami-istri, sebelum akhirnya benar-benar berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing.
Franda mengangguk, "Aku berjanji, tapi tidak bisa menepati semuanya..." Franda melepas pelukannya, tersenyum pada Nino. "Kita bisa berteman baik sampai kapanpun, ada Ben diantara kita, aku tidak mungkin memutuskan hubungan denganmu. Tapi aku tidak yakin bisa menepati yang lainnya, bagaimana jika suatu hari nanti aku menikah lagi? Kau tidak berpikir aku akan menjanda selamanya, bukan?" hah, menjanda. Ia mengucapkannya begitu santai, seakan sudah siap dengan status baru yang akan disandangnya nanti.
"Kau berencana menikah lagi?" Nino tak terima, Ia tidak rela kalau harus menyaksikan Franda hidup bersama orang lain selain dirinya.
__ADS_1
Franda tergelak, "Tentu saja! Apa kau pikir aku akan meratapi perceraian kita selamanya? Aku memang wanita dewasa, tapi bukan berarti aku tidak membutuhkan seseorang yang akan menemaniku. Aku tidak mau hidup sebagai janda sampai tua dan mati sendirian. Huh, menyedihkan sekali!" ucap Franda sambil tertawa.
Nino ikut tersenyum, "Mungkin aku yang akan mati sendirian, aku tidak berniat menikah lagi jika tidak denganmu,"
"Jangan terlalu berharap, aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu."
Nino mengangguk, Ia tidak ingin lagi memperpanjang perdebatan mereka dan merusak momen. Ia pasrah pada semua yang terjadi, jika memang perpisahan adalah jalan terbaik bagi mereka, maka Ia harus menerimanya. Nino sadar tidak mungkin memaksa Franda terus bersamanya jika Franda tidak bahagia, lebih baik merelakannya sekarang dan berjuang kembali nanti.
"Bisakah kita menikmati malam ini untuk terakhir kali?"
__ADS_1