
...Sean Danial Warner POV....
"Dia tinggal di Alpha Tower lantai delapan unit 811, sir. Dua pengasuh dan dua asisten rumah tangga juga tinggal disana bersamanya. Zulhadi, salah satu teman kuliahnya yang membantunya mendapatkan apartemen itu, dan orangku bilang kemarin mantan suaminya sempat datang mengantar anaknya, tapi tidak masuk ke dalam."
Aku mengangguk. "Apa kegiatannya?" tanyaku penasaran.
Joe menggeleng. "Dia tidak pernah terlihat keluar sejak berada disana."
Aku menyandarkan punggungku pada sandaran sofa di ruang kerjaku sambil menghembuskan napas berat. Ini sudah hari ketiga Franda keluar dari rumah sakit, dan aku belum menemuinya sejak hari itu. Aku benar-benar kehilangan akal menghadapinya. Dia terlalu keras kepala.
Tadinya aku ingin membujuknya agar dia mau kembali ke rumah, tapi ibu mertuaku mengatakan lebih baik membiarkannya untuk sementara. Dia tentu lebih mengenal bagaimana sifat anaknya, dan aku tidak punya alasan untuk membantah. Sebesar apapun keinginanku untuk bersamanya tidak akan tenang jika Franda sendiri tidak menginginkan itu.
Aku mencintainya dan aku percaya padanya, tapi cara berpikirnya lagi-lagi merusak hubungan kami. Aku tidak masalah jika dia marah padaku karena dia memang pantas untuk marah, tapi bukan dengan cara seperti ini. Seharusnya dia bisa bersikap lebih dewasa.
Ini bukan pertama kalinya dia bertingkah seperti ini sejak kami menikah, menghindari semua orang, bahkan dia tidak ingin bertemu dengan pengasuh anaknya. Dia seakan ingin melarikan diri dari kami. Sam, berkali-kali mencoba menghubunginya, tapi Franda tidak pernah menjawab teleponnya. Hingga akhirnya kemarin sore dia kembali ke Queensland.
"Sir, orangku bilang dia sedang menuju ke rumah sakit bersama temannya." suara Joe membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk, lalu berdiri dan langsung bergegas menuju ke rumah sakit. Aku harus bertemu dan berbicara dengannya.
***
Kulangkahkan kakiku memasuki area rumah sakit, mengitari setiap lorong sampai aku tiba di ujung koridor yang mengarah ke kamar bayi dan disanalah aku melihatnya. Dia sedang berdiri, punggungnya menempel pada dinding, matanya terpejam dengan kepala mendongak sementara sebelah tangannya mengusap dada. Dia sedang menenangkan diri.
Aku tersiksa melihatnya seperti itu, aku ingin memeluknya dan membawanya kembali ke rumah agar aku bisa menjaganya lebih baik. Tapi Franda tidak akan mau, setidaknya belum mau.
__ADS_1
Aku masih berdiri memandanginya selama beberapa saat, terbayang-bayang pada kalimat yang kulontarkan padanya saat terakhir kali kami bertemu. Aku tidak menyesal karena telah mengatakan itu, Demi Tuhan, aku hanya ingin dia membuka pikirannya. Tapi mungkin aku pasti akan menyesal jika dia tidak mau kembali bersamaku lagi.
Aku mengusap wajah dan menyusur kuat rambutku. Aku seperti orang bodoh karena terbengong begitu lama, sampai pada akhirnya aku melangkah mendekatinya. Jantungku seketika berdebar keras dan napasku memburu. "Franda..." cetusku serak.
"Sean..." Suaranya lirih dan terdengar seperti bukan suaranya sendiri, terlalu serak. Aku sungguh sudah membuatnya menangis begitu keras.
Dia terdiam. Air mata bergulir di pelipisnya dan dalam sekejap membuat hatiku remuk. Dia tidak berbicara lagi... tangannya terlalu gemetar... Ini sudah cukup menyakiti hatiku. Aku tidak bisa melihat Franda hancur. Dia hanya wanita rapuh, dan seharusnya aku ada menemani dan menguatkannya. Aku mendekatinya dan langsung merengkuh tubuhnya yang gemetar. "Maafkan aku, Franda..." gumamku di telinganya.
Detik itu juga dia menangis di dadaku. Suaranya begitu memilukan, membuatku semakin mengutuk diriku sendiri karena telah begitu brengsek menyakitinya. Aku membiarkan dia menangis selama beberapa saat, hingga dia tenang, hingga dia menarik diri dariku.
"Sudah lebih baik?" Dia mengangguk namun tidak mau menatapku. Kepalanya tertunduk lemah. Aku mengalihkan pandangan kepada anakku yang terlihat begitu menggemaskan di balik dinding kaca. Dia sedang menggeliat dengan ibu jari yang tenggelam di mulutnya. "Dia sangat cantik, Franda. Aku mencetaknya dengan baik." kataku bercanda.
Dia terkekeh pelan, lalu berbalik dan ikut memandangi tubuh mungil Lily. "Ya," balasnya singkat.
Aku menarik napas dalam-dalam dan berupaya keras melihat wajah Franda yang basah. Dia terluka, begitu juga dengan hatiku seandainya dia tahu. Aku tersiksa setiap saat memikirkannya. Hatiku remuk ketika terbangun dan tidak menemukan dia di sampingku. Pikiranku selalu dipenuhi oleh dirinya yang indah dan mengagumkan.
Mendadak dia mendongak menatapku, sorotnya begitu tajam dan mengerikan. "Kupikir kau sudah mengerti maksud ucapanku waktu itu, Sean. Tapi ternyata aku salah, kau sama sekali tidak bisa menghargaiku." dengkurnya lirih, putus asa. Mendung memenuhi matanya yang menggelap.
Aku memandanginya dengan perasaan bingung, sementara dia berbicara lagi. "Dia juga anakku, aku tidak melahirkannya hanya untuk menjadi anakmu."
Aku mengumpat dalam hati dan mengusap kasar wajahku, sama sekali tidak menyadari ucapanku mungkin menyinggungnya. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. "Franda, kau salah menangkap..."
"Jangan mengelak, Sean," suaranya bergetar dan begitu pedih. "Itu dirimu yang sebenarnya. Kau selalu menganggapku bodoh. Aku tidak pernah ada artinya bagimu." semburnya berapi-api. Bahu dan bibirnya gemetar menahan amarah.
"Franda," desahku lembut menyebut namanya. Kepalaku tertunduk beberapa saat karena merasa malu karena sudah menyakiti hatinya. Lagi dan lagi sebuah kenyataan menyentakku. Franda merupakan wanita yang rapuh, dan aku selalu menghancurkannya.
__ADS_1
"Aku sudah selesai." ucap Franda tiba-tiba sampai aku langsung mengangkat kepala menatapnya bingung. Sekujur tubuhku tegang dan air mata begitu mendesak ingin keluar dari mataku. Aku tidak sanggup untuk sebuah perpisahan lagi.
"Franda, kumohon," pintaku padanya.
Dia berbicara dengan gemetar. "Apa kau pernah menyadari kesalahanmu, Sean? Sekali saja, pikirkan apa yang kukatakan."
Aku menunduk lagi, kedua tanganku mencengkeram tepian bingkai kaca seakan ingin menghancurkannya. Tetapi suaraku lembut dan membujuk pada Franda. Aku paham pada amarahnya, dan sekarang aku harus membuatnya mengerti bahwa aku benar-benar meminta maaf. "Aku mohon maafkan aku, Franda. Pikiranku kacau karena kau meninggalkanku begitu saja, aku tidak sanggup berpisah denganmu."
Franda menarik napas kasar dan bahunya berguncang. "Tetapi itu sama sekali tidak mengaburkan apa yang sudah kau lakukan selama ini. Aku selalu percaya padamu meskipun kau berkali-kali menutupi sesuatu dariku, aku tidak semarah ini padamu, Sean." Air mata Franda akhirnya menitik lagi. "Aku selalu memaafkanmu, dan kau selalu mengulanginya lagi. Tidak cukup dengan menyembunyikan masalahmu, sekarang kau bahkan menutupi sesuatu yang amat penting bagiku. Ini soal kehidupanku, Sean. Apa kau tahu itu?"
Keheningan kembali terasa amat menyiksa di antara kami. Aku menutup mulut rapat-rapat sementara Franda bernapas dengan gemetar. Aku baru menyadari kesalahanku memang sebesar itu, dan dia pantas untuk marah padaku. "Maafkan aku, Franda." Hanya itu yang bisa kukatakan.
Dia mendengus sinis. "Maaf. Seandainya kata itu memiliki sisi yang tajam dan membunuh, maka orang-orang akan berpikir dua kali untuk melakukan kesalahan." sindirnya pedas dan tajam menghujamku.
Alisku mengkerut rapat dan kepalaku benar-benar terasa sakit. Aku memandang Franda, sekali lagi memohon padanya agar memaafkanku. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatapku. Keputusasaan jelas tampak di matanya. Dia sedang hancur, dan aku yang menyebabkannya.
Franda sudah ingin melangkah, tetapi aku menahannya. Sebelum dia semakin hancur dan meninggalkanku, aku ingin sekali lagi mencoba meyakinkannya. "Franda, kumohon... jangan tinggalkan aku. Kumohon, sayang..." Franda menatapku tak percaya. Aku meraihnya dan mencium keningnya, menggesekkan tubuhku ke tubuhnya. "Kau segalanya bagiku, Franda. Kau segalanya."
Franda tidak meresponku. Hatinya pasti sangat hancur sekarang. Aku juga pasti akan gila jika dia meragukan kemampuanku. Yang dia butuhkan hanyalah kepercayaan, dan aku tidak bisa memberikannya. Seharusnya aku memberinya kesempatan dan hanya mendukungnya dari belakang. Tapi tanpa kusadari ketakutanku malah membuatku semakin egois. Franda hanya butuh dukungan.
Aku masih mendekap tubuh Franda dengan erat. Bibirku menempel di puncak kepalanya, aku mencium aroma rambutnya, tubuhnya, sedalam mungkin ke dalam dadaku. "Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku, Franda?"
Aku mendengar dia menarik napas di depan dadaku. Aku merasakan dia menghirup aroma tubuhku, yang membuatnya sedikit lega, namun masih bercampur marah. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa, Sean." ucapnya kemudian. "Untuk sekarang lebih baik kita seperti ini. Aku akan menenangkan diri sambil memperbaiki semuanya, dan kau juga perlu menenangkan dirimu." Nadanya tegas dan tidak bisa kubantah lagi.
Akhirnya aku memilih membungkam mulutnya dengan ciumanku. Aku tahu dia senang ketika aku menciumnya. Aku juga begitu kecanduan tiap kali napas kami bertemu. Sampai aku lupa bahwa kami sedang berada di rumah sakit dan seseorang mengacaukan aksiku.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Apa yang kalian lakukan di depan bayi-bayi itu?"
Franda menarik wajahnya dengan cepat dariku, dan kami menoleh ke sumber suara. Mia dengan mode penyamarannya sedang melotot tak percaya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tolong kendalikan hasrat kalian, atau setidaknya cari tempat yang lebih pantas untuk bermesraan."