Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Crystal Wedding Day


__ADS_3

Pernikahan adik perempuan Jason akan di gelar besok dan merupakan hari yang sudah kami tunggu-tunggu. Sejak kami melintas di jalan masuk megah menuju Lilydale, aku tahu ini merupakan tempat istimewa. Aku sangat percaya pada kesan pertama, dan tempat ini kelihatannya dipenuhi cinta sejak pandangan pertama.


Melaju di dalam mobil bersama Sean dan Mia, kusadari kami semua terdiam saat melintasi jalan masuk berliku menuju rumah bergaya Victorian dengan bangunan-bangunan bermenara bak cerita dongeng.


Sang perencana pernikahan, Eleanor, sudah menunggu kami ketika Jason menyetir van milik Taylor memasuki pelataran berbatu. Aku merasa lega karena bisa meluruskan kaki yang terjebak di dalam mobil selama tiga jam perjalanan kami. Ini perjalanan terpanjang yang pernah kulalui menggunakan mobil. Dan rasanya begitu syahdu di tulang-tulangku.


Keheningan tempat ini begitu mengesankan, dikelilingi hamparan padang rumput berbukit yang romantis serta bentangan danau keperakan yang berkelok-kelok di kejauhan. Kicau burung hanya satu-satunya bunyi yang terdengar di sekitar kami, suatu anugerah yang patut disyukuri setelah tiga jam mendengar kebisingan jalan yang membosankan.


Sean dan yang lainnya membahas pengaturan untuk memasang peralatan band bersama Eleanor sementara Sam dan aku melakukan penjelajahan singkat lingkungan sekitar kami, tanpa malu-malu bereaksi bak gadis remaja terhadap apapun yang kami lihat.


"Damai sekali di sini," desah Sam. "dan menara-menara di pintu masuk tadi seperti dalam film Disney!"


"Kalau menurutmu ini sudah mengesankan, tunggu sampai kau lihat Glasshouse," Eleanor menghampiri kami untuk memperkenalkan diri. "Mungkin lebih baik kita kesana dulu, supaya kalian bisa lihat tempat kalian akan bermain."


Kami mengikutinya menyusuri jalan setapak berbatu menuju serangkaian gerbang rumit yang membawa kami ke dalam kebun bertembok gaya Victorian. Rasanya seolah-olah kami melangkah ke dunia lain. Bunga mawar dengan berbagai ukuran dan warna di mana-mana, menghiasi tembok tinggi yang terbuat dari bata merah, menjulang di antara semak-semak yang dipangkas indah.


Di luar tembok, pohon-pohon Cemara tua dan tinggi merentangkan cabang-cabang hijau gelapnya lebar-lebar di langit biru pucat dan, melalui sepasang gerbang putih yang lain, pohon-pohon apel, pir, dan plum berjajar menjadi labirin di depan titik pusat kebun itu. Glasshouse berkerangka besi dengan bentuk bulan setengah.


"Saat malam kami punya ribuan lampu kecil putih di antara labirin pohon buah, sepanjang jalan setapak dan mengitari tembok." Eleanor menjelaskan saat kami menjelajahi kebun. "Tempat ini lumayan magis, menurutku."


Jika mengingat seluruh tempat berbeda yang pernah kukunjungi selama tiga tahun terakhir, aku belum pernah mengalami sesuatu seperti ini sebelumnya. Tembok-tembok tinggi yang mengitari tempat ini memberikan perasaan terpencil dan aman, membuatku merasa seolah aku baru saja menemukan kebun rahasia sendiri.


Eleanor kemudian membawa kami ke dalam tenda paviliun putih besar tempat kami akan bermain untuk resepsi sore maupun malam hari besok. Sam dan aku menahan napas takjub ketika melihat langit-langitnya yang menggantung dihiasi ratusan lampu LED kecil berwarna putih, berkilauan seperti bintang yang menakjubkan. Semua yang ada di dalam paviliun itu berwarna putih. Taplak meja, kain penutup kursi, lampu gantung kristal besar berkilauan, dan bahkan tirai yang menutupi lantai dansa juga berwarna putih. Efek keseluruhannya sungguh memukau, sederhana namun anggun.


"Tidak ada acara malam ini, jadi silakan nikmati waktu sesuka kalian." kata Eleanor kepada kami. "Kalau kalian butuh bantuan memasukkan barang, panggil saja aku."


Ini pertama kalinya bagiku. Maksudku, menjadi bagian band yang mengiringi pernikahan dan anehnya aku menyukai kegiatan ini. Semuanya terasa sangat manusiawi. Tidak ada perlakuan khusus atau istimewa seperti yang biasa Sean dan aku dapatkan, dan itu menyenangkan. Aku jadi tahu rasanya hidup sebagai orang lain seperti teman-temanku. Disamping mereka harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang, ada juga kesenangan seperti ini yang pantas didapatkan sebagai bayaran. Dan aku begitu beruntung bisa merasakan ini.


Kami semua menginap di salah satu pondok lapangan rumput. Saat kami semua sudah merasa nyaman dan air sudah dipanaskan, pasangan Thomas dan Jones tiba, bersorak kegirangan ketika melihat tempat tinggal kami yang mewah untuk dua malam ke depan.


"Aku tak percaya kita bisa menginap di sini dan dibayar," Taylor tersenyum sambil menjatuhkan diri ke salah satu sofa berlengan besar di pondok itu selalu menendang lepas sepatunya. "Kurasa kita perlu meresmikan band kita dan menerima pesanan sebagai band pengiring pernikahan."


Jason duduk bersila di karpet tebal dekat perapian. "Ya, aku akan meminta adikku menjual band ini."


Jawabannya menghasilkan lemparan bantal, jaket, sweater, dan sebelah sepatu Taylor menghujaninya sementara dia berteriak. "Itu semua pantas kau dapatkan karena tidak mengatakan apapun tentang pernikahan ini." balas Sam.


Jason menggerutu lalu mengangguk ke arah Taylor. "Baik. Aku hormat pada kemampuanmu untuk mendapatkan pesanan yang luar biasa, Tay." gumamnya, merujuk pada penampilan Malam Tahun Baru kami.


Taylor balas membungkuk. "Aku tersanjung, oh Pengayun Kapak yang Hebat."


Sementara Maggie dan Sam menyiapkan teh dan yang lain mengobrol, aku mendekati Sean yang duduk di kursi kayu panjang di sudut ruangan sambil memainkan ponselnya. Dia mendongakkan kepalanya, seketika membuatku lupa pada dunia di sekitar kami. Aku merunduk untuk mencicipi mulutnya yang manis selama beberapa saat lalu duduk di pangkuannya.


Bertepatan dengan itu Taylor mengumumkan dengan mata berbinar-binar. "Ibu Sam mengirimi kami salah satu sacher cake-nya yang legendaris. Serius, itu kue cokelat yang sangat lezat. Kalian mau?"


Itu kabar terbaik yang kudengar seharian. "Bagaimana mungkin aku menolak?"


Malam itu kami habiskan untuk membicarakan penampilan besok sambil menikmati sacher cake ibu Sam, lalu berpisah dan kembali ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Pada pukul sembilan pagi keesokan harinya, setelah Jason dengan rambut berantakan sambil mengunyah sandwich sosis bergabung, kami semua berjalan ke kebun indah menuju paviliun untuk cek suara.


Di tengah-tengah kegiatan itu berdirilah Crystal, adik perempuan Jason, berbalut kemeja kotak-kotak besar, celana yoga, dan sepatu bot Uug. tatanan rambut pengantinnya yang elok sudah terpasang, tiara mutiara dan miniatur mawar mawar putih mengintip di antara ikal gelap yang ditumpuk untuk mendapatkan efek melawan.


"Pagi, semuanya," katanya hangat. "Keren, ya?"


Sam, Maggie, Mia, dan aku bergantian memeluknya. "Keren sekali," gumamku. "Dan kau tampak menakjubkan, lady."


Dia tertawa. "Sejujurnya aku ingin mengenakan seragam ini seharian, tapi ibuku bisa kena serangan jantung. Butuh waktu hampir setahun baginya meyakinkanku untuk memakai gaun."


"Kau sudah menggosok tubuh bersih-bersih, kan?" kata Jason sambil menggendong adiknya.


"Sepertinya sih sudah." Dia mengamati kakaknya. "Tidak sepertimu. Siapa yang menyeretmu melewati pagar tanaman dengan posisi terbalik?"


Jason meringis. "Jangan khawatir, aku akan layak tampil untuk upacara nanti."


"Hmm, sebaiknya begitu. Kalau tidak amarah mom akan dilimpahkan kepadamu."


Aku menonton sementara Jason dan Crystal saling meledek, berpikir betapa miripnya mereka. Aku belum mengenal Crystal seperti kakaknya, namun melihat kedekatan mereka saat ini kuyakin mereka memiliki keluarga yang hangat.


"Jason William Parker, apa-apaan kau berpenampilan seperti itu?" terdengar suara dari ujung paviliun, kami menoleh dan mendapati Ibu Jason dan Crystal sedang berjalan melintasi lantai untuk bergabung bersama kami.


Ekspresi Jason membuatku geli, wajahnya seakan dia kembali menjadi anak nakal berusia lima tahun ketika ada ibunya. Muka Jason berubah merah padam dan malu. "Aku masih harus bersiap-siap, jangan khawatir." Bahunya melorot dan dia membenamkan kedua tangan ke dalam saku sementara ibunya memeluknya.


"Sebaiknya begitu, Jason boy. Sungguh deh, Mia, kau pernah tidak berpikir akan bertemu seseorang yang begitu tidak suka berpakaian? Ingat saat pertama kali dia membawamu kesini?" Ibu Jason mengedip kepada Mia.


Kami mengamati teman se-band kami yang bertingkah serba salah dan sangat geli.


"Pada akhirnya dia kelihatan lumayan juga, kok," ujar Mia, namun Ibu Jason tidak mau mendengarnya.


"Hanya karena aku berhasil menemukan sikat rambut yang layak. Seperti makhluk hutan yang berantakan, kan, dia ini? Nah, aku tahu kau bisa semaunya tidak ikut aturan dan bergaya cuek di galeri ayahmu, Jason, tapi aku butuh kau tampil rapi hari ini. Mia, janji padaku kau tidak akan membiarkannya keluar sampai setengah pantas?" Mia mengangguk lagi Sementara Jason mendesah frustasi.


Aku senang sekali berada di tempat ini, di tambah lagi lagi bisa menyaksikan adikku berubah manis saat berbicara dengan ibu Jason. Sejak tragedi kemesraan mereka di bekas pabrik sepatu Taylor, hubungan Mia dan Jason tampak semakin menunjukkan progres ke arah yang lebih serius. Aku memang belum menanyakan apa-apa, tapi perubahannya begitu kentara sampai-sampai aku yakin mereka akan segera menyusul Crystal sebentar lagi.


Pukul dua siang upacara dimulai di rumah kaca yang indah. Anggrek dan mawar putih di mana-mana, tumpah ruah di atas pot, membingkai pintu-pintu, dan disematkan ke ujung tiap baris dengan pita-pita putih dan emas pucat. Karena jasa kami tidak dibutuhkan untuk upacara, Sam, Taylor, Maggie, Matthew, Mia, Sean, dan aku duduk di barisan pihak mempelai wanita.


Menjulurkan leher kami untuk menonton kuartet alat musik gesek yang sedang memainkan serangkaian komposisi klasik favorit pernikahan. Air On G String gubahan Bach, Largo dari Winter Concerto oleh Vivaldi, Claire de Lune milik Debussy, dan Minuet dari Alat Musik Gesek Boccherini, serta satu komposisi lain yang menyebabkan perdebatan sengit di antara kami.


"Itu Grieg," bisik Matthew.


Taylor menggeleng. "Bukan, aku yakin itu orang lain seperti Handel."


Matthew meringis. "Sempat tiga tahun kuliah musik dan menurutmu aku tidak bisa mengenali Grieg saat mendengarnya? Sam, kau yang guru musik, bagaimana pendapatmu?"


"Jangan tanya aku. Menurutku itu Mendelssohn. Aku tahu, aku memang asal bicara. Tapi aku tidak sedang bertugas hari ini, jadi kepala sekolahku tidak akan dengar."


Taylor bersikukuh. "Keberitahu ya, ini Handel."

__ADS_1


Matthew mengerutkan dahi. "Taruhan sepuluh dolar, itu bukan Handel."


"Ayo." Taylor dan meteor menyepakati taruhan itu dengan jabat tangan persaingan.


Sean berdeham lalu mengangkat ponselnya. "Aku benci mengatakan ini, Tay, tapi si bassis yang benar. Aku baru saja menyimpulkan lagu itu ke app pengenal musikku dan aplikasi itu mempertegasnya, nih lihat: 'Grieg: Wedding Day At Troldhaugen'." Sean memandangi raut kami saat mendengar pengungkapan ini. "Kenapa sih? Ini menyelesaikan perdebatannya, kan?"


Aku tertawa. "Kau ini benar-benar penyembah teknologi, Sayang."


"Aku memang budak ide-ide kreatif Mr. Steve Jobs." Tatapan Sean beralih ke depan, tempat Jason dan adik iparnya sedang berdiri sambil mengobrol dengan para tamu dan pura-pura memeriksa jam tangan mereka. "Ya ampun, Jason kelihatan keren hari ini. Dan Aku mengatakan ini sebagai lelaki normal yang sudah teruji."


Aku mengakui bahwa Sean benar. Entah dengan bantuan Mia atau tidak, Jason berhasil menjinakkan rambut coklatnya yang liar pada pagi hari dan berpakaian hampir seluruhnya dalam warna hitam, mulai dari kemeja tanpa kerah dan jas beludru hingga sepatu kulit Gucci. Satu-satunya pengecualian yaitu bunga besar berupa mawar putih dan anggrek yang disematkan ke dadanya.


Aku baru saja hendak mengalihkan tatapanku ketika petugas catatan sipil berdiri, menyedot perhatian kami semua dan mendadak suasana di rumah kaca berubah, obrolan santai surut menjadi kasak-kusuk tidak sabar.


"Bapak dan Ibu sekalian, mohon berdiri menyambut kedatangan mempelai wanita."


Sesuai aba-aba, kuartet alat musik gesek memulai alunan Canon In D Pachelbel yang khidmat, menyebabkan genangan air mata tak disangka-sangka yang langsung kukerjapkan hingga pergi. Ini gara-gara romansa upacara ini, atau mungkin karena aku teringat pada pernikahanku dengan Sean dulu. Momen yang saat ini kusesali karena tidak terlalu mengingat semua proses itu.


Pintu-pintu kebun terbuka dan dua pengiring pengantin mungil dalam gaun tule putih dengan ikat pinggang hijau muncul dari labirin pohon buah di hadapan kami. Mereka diikuti Crystal yang tampak muncul tenggelam di antara pepohonan hijau. Dia tampak tenang dalam gaun sutra putih yang pas di badannya, pita warna hijau apel terikat di pinggangnya, helaiannya yang panjang terurai hingga ekor gaun di bawah kerudung tiga perempatnya. Lengannya terkait pada lengan ayahnya, yang menghadap ke arah putranya, tiba-tiba dampak sangat serius di sisi Robbie, adik iparnya.


Ibadahnya sederhana namun indah. Crystal dan suaminya bermandikan cahaya matahari keemasan yang memantul melalui atap kaca, membuat para tamu terpukau oleh pemandangan itu. Perasaan damai yang kuat membanjiri seluruh ruangan, keyakinan akan cinta yang sejati bisa mengubah hidup. Genggaman tanganku dan Sean semakin erat dan ada harapan di mata Mia ketika pikirannya tak diragukan lagi melayang ke situasi itu bersama Jason, sementara itu pasangan Jones dan Thomas juga melakukan hal yang sama seperti Sean dan aku.


Setelah pertukaran cincin, pasangan itu dinyatakan sebagai suami-istri. Robbie tidak menunggu undangan panitera untuk mencium pengantinnya, dia langsung menyambar Crystal yang terkekeh kedalam ciuman Errol Flynn gaya Hollywood sementara sorak-sorai, siulan, dan tepuk tangan meriah menggema di sekitar mereka. Dengan demikian formalitas telah selesai.


Setelah resepsi sore yang diisi banyak tawa, sedikit air mata, dan seratus orang penuh sukacita, ditemani oleh anggota band kami dan rangkaian lagu American Songbook milik Sam, kami mulai berjalan kembali melalui kebun-kebun rahasia yang indah ke pondok kami.


"Keren sekali, ya, pesta pernikahannya?" tanya Sam sambil membawa senapan penuh gelas porselen dan poci teh yang agak mewah ke dalam ruang duduk. "Aku mau seperti ini terus."


Aku mengangguk dan tersenyum sambil menyandarkan bahuku ke lengan Sean. "Ya, ini menyenangkan."


"Kau mau mengulangi momen pernikahan kita?" Sean berbisik di telingaku. "Kita bisa melakukannya kalau kau mau."


Aku cukup terkejut dengan ucapannya yang tiba-tiba, seakan dia mengerti apa yang ada dipikiranku saat upacara pernikahan tadi. "Tidak perlu. Pernikahan kita tetap istimewa, tentu saja selain tragedi aku meninggalkanmu untuk tidur berjam-jam."


Sean tertawa keras, memancing perhatian yang lain. "Pengantin Tidur-ku." Dia mencubit hidungku dan tertawa lagi.


"Tidak usah bingung, kakakku meninggalkan suaminya di pesta pernikahan mereka. Dia bahkan tidur dengan tenang dalam balutan gaun pengantinnya yang berat. Sungguh, itu sangat memalukan." Mia, adikku yang manis itu sudah kembali ke mulutnya yang pedas.


"Uuh," desah Taylor. "Itu pasti hal yang berat untukmu, Kawan."


"Mm... tidak juga."


"Akui saja, kau bahkan harus menunggu sebulan untuk mencicipi pengantinmu. Ya ampun, Franda, say, aku salut pada kemampuanmu menghancurkannya. Sungguh, kau keren, Franda." Ada nada sindiran halus yang kutangkap dari nada Sam, tapi aku membiarkannya.


Kemudian aib tentang pernikahan mulai terdengar dimana-mana. "Kalian tahu?" dengkur Maggie. "Matt menarikku ke kamar setelah kami bertukar cincin." Matthew tidak sempat protes karena kami langsung melemparinya dengan benda-benda yang ada di sekitar kami, lalu serangkaian ejekan tanpa ampun mulai berdesakan.


Ini hari yang benar-benar menghibur bagiku. Menyaksikan orang-orang terdekatku larut dalam suasana bahagia dan penuh cinta, membuatku merasakan sisi lain dari kehidupan yang jarang kunikmati belakangan. Sean dan aku biasanya terkurung di suatu tempat yang hanya ada kami berdua. Bukan berarti aku tidak menyukainya, hanya saja terkadang menghabiskan waktu bersama orang lain bisa sedikit menjernihkan pikiran.

__ADS_1


Tak perlu bertanya bagaimana suasana hatiku saat ini. Aku bahagia. Dengan semua yang sudah terjadi dalam hidupku, inilah awal dari hari-hariku berikutnya selama kami berada di Queensland dan kupikir aku harus meminta Sean segera mengurus semua dokumen kepindahan kami. Rumah danau, hutan, dan orang-orang disini membuat Queensland terasa seperti surga. Dan aku hidup di dalamnya.


__ADS_2