
Pagi ini Franda terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih tenang setelah berbagi beban dengan keluarganya. Ia berjalan kekamar mandi setelah melihat jam yang menunjukkan pukul 10, tidak menyangka Ia bisa terbangun sesiang itu. Franda kemudian turun setelah mandi. Ia hanya menggunakan celana pendek dan atasan tanktop, membiarkan wajahnya tetap polos dan rambutnya yang setengah basah juga tidak disisir sama sekali.
"Kau sudah bangun? Aku baru saja ingin masuk dan melihat apakah kau masih hidup atau tidak?" kata Mia yang berdiri tepat didepan pintu kamarnya saat Franda keluar.
"Selamat pagi juga!" Franda tidak memperdulikan kata-kata Mia.
"Sudah lebih baik?" tanya Mia.
"Better than ever!" jawab Franda sambil tersenyum.
"Baguslah, kau ada kegiatan hari ini?" tanya Mia lagi.
"Tidak. Aku tidak ingin melakukan apapun, bermalas-malasan dikamar adalah hal yang ku inginkan sekarang. Kau tahu, aku harus belajar hidup seperti seorang gadis lagi, hahaha!" Franda tertawa tapi Mia tahu itu bukan tawa bahagia.
"Kau perlu guru, Sist! Aku akan mengajarimu cara bersenang-senang seperti yang kau lakukan dulu. Aku lebih ahli sekarang!" balas Mia sambil mengedipkan mata, Ia ingin Franda sedikit melupakan masalahnya.
"Well, kuharap kau tidak menjerumuskanku!" Franda langsung turun setelah mengatakan itu, diikuti oleh Mia dibelakangnya.
"Aku tidak janji tentang itu, aku tidak semanis dulu, Panda! Hahaha..." Mia dan Franda tertawa bersama.
"Kau sudah punya kekasih?" tanya Franda setelah duduk dimeja makan sambil mengoles roti dengan selai cokelat.
"Belum. Aku tidak mau terikat dengan laki-laki. Huh, pasti akan sangat membosankan hidup dengan satu pria, aku penasaran bagaimana bis kau melakukan itu selama bertahun-tahun" jawabannya membuat Franda tersenyum.
"Mia, tidak ada yang membosankan ketika kau melakukannya dengan orang yang tepat." kata Franda sambil menggigit rotinya.
"Ya, tapi aku tidak mau mengalami hal yang sama denganmu" kata Mia, lalu menyadari kata-katanya yang menyinggung Franda saat melihat wanita itu terdiam.
"Sorry, aku tidak bermaksud menyinggungmu" kata Mia lagi. Franda tersenyum
"It's ok. Aku menyedihkan, bukan? Kupikir dia adalah orang yang tepat dulu, siapa yang tahu kapan manusia akan berubah? But, anyway... Aku tidak menyangkal hidupku pernah bahagia bersamanya, setidaknya sampai sebulan lalu." Franda menjawab, berusaha santai meski hatinya menahan sakit saat kembali mengingat Nino.
"I can see that! Kau tidak menghubunginya? Apakah dia menghubungimu? Pasti sulit untuk kalian berdua, aku tidak bisa membayangkan jika aku berada diposisimu, aku pasti sudah gila!" Mia bergidik ngeri membayangkan jika hal yang dialami Franda terjadi padanya.
"Aku tidak mau berurusan dengan Nino untuk sementara ini, berhubungan dengannya sekarang hanya akan membuatku semakin sulit, aku rasa dia tahu aku butuh waktu jadi dia juga tidak menghubungiku" jawab Franda dengan santai melanjutkan makan seolah tidak terganggu dengan pertanyaan Mia.
__ADS_1
"Hm, jadi kau benar-benar akan bercerai? Kau yakin tidak ingin mempertimbangkannya lagi? Aku bukan ingin membenarkan apa yang dia lakukan, tapi aku yakin dia juga sama sedihnya denganmu saat ini" Mia mengelus bahu Franda.
"Menurutmu bagaimana? Apakah aku bisa kembali padanya setelah ini?" tanya Franda dengan sungguh-sungguh.
"I don't know, kau yang menjalaninya. Tapi menurutku kau harus memikirkannya lagi, berpisah atau kembali bersama tetap sulit untuk kalian berdua... Putuskan dengan baik, Panda!" Mia berkata dengan serius kali ini, Ia ingin Franda yakin dengan apapun keputusannya nanti.
"Kau benar... Tapi aku belum bisa memaafkannya. Dia sudah melangkah terlalu jauh, bukan hanya menyakiti hatiku tapi juga menginjak-injak harga diriku. Aku tidak bisa diperlakukan seperti ini! Disaat aku tidak memiliki kesalahan saja dia sanggup melakukannya, bagaimana jika aku melakukan sesuatu? Wahhh..." kata Franda, napasnya memburu.
"Kau tidak harus memaafkannya! Aku bisa membantumu menghajarnya kalau kau mau" Edward tiba-tiba menanggapi dari tangga membuat dua orang dimeja makan itu menatapnya.
"Sejak kapan kau disitu?" tanya Franda
"Baru saja... Bagaimana? Kau butuh bantuanku? Aku tidak akan melepaskannya dengan mudah, melihat kehancurannya akan lebih menyenangkan kurasa" Edward tersenyum, membuat Franda mendengus dan menatapnya tajam.
"Jangan mencampuri urusanku, Ed! I'm gonna kill you!" kata Franda mengancam.
"Apa yang kau harapkan darinya? Listen... Panda, I'm not a good person, tapi aku tidak pernah bermain-main dengan wanita, dan aku paling benci laki-laki yang tidak tahu diri seperti suamimu itu!" Edward memang laki-laki yang sangat menghargai wanita, Ia memiliki prinsip bahwa laki-laki sejati tidak akan menyakiti wanitanya. Itu sebabnya Ia belum menikah saat ini, bahkan ketika usianya memasuki angka 34 tahun. Edward ingin menikah dengan wanita yang tepat sehingga Ia tidak memiliki alasan untuk menyakitinya.
"Apapun yang terjadi padaku jangan ikut campur selama aku baik-baik saja, aku akan membunuhmu jika kau melakukan sesuatu padanya, ingat itu!" Franda mengancam Edward.
"Oh, f*ck that love, Ed! I just don't want you to do stupid things!" jawab Franda.
"Calm down, aku tidak akan melakukan apapun, tapi aku akan selalu siap jika kau membutuhkanku" Edward mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah.
"Bisakah aku mempercayaimu sekarang?" Franda bertanya, masih belum percaya pada kakaknya.
"Sure! Aku berjanji tidak akan mencampuri urusanmu dengannya, lagi pula aku memiliki pekerjaan yang harus kulakukan" Edward menjawab santai, berusaha menunjukkan bahwa Ia tidak tertarik dengan masalah Franda.
"Kupegang janjimu, Ed!" kata Franda.
"Sebaiknya kau tidak percaya padanya, aku tidak yakin dia akan diam saja setelah mengetahui semuanya" Mia yang dari tadi diam mulai membuka suara. Ia menatap curiga ke arah Edward.
"Hey, Mia! Jangan ikut campur!" kata Edward tegas.
"Hah, aku tidak bisa diam setelah mengetahui sepak terjangmu selama ini, Ed! I know who you are, all of you!" Mia mendengus. Ia memang sangat mengenal kakaknya yang banyak berhubungan dengan preman itu.
__ADS_1
"Jangan pikir aku tidak mengenalmu, Ed! You can keep it from everybody, but not me!" lanjut Mia.
"What do you mean?" tanya Franda yang penasaran, Ia sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Mia.
"Panda, jangan dengarkan dia. Aku tidak akan campur dengan urusanmu, aku berjanji!" Edward langsung menjawab Franda yang sebenarnya ditujukan untuk Mia.
"Mia, can you tell me? What do you mean?" Franda bertanya lagi tanpa perduli dengan Edward.
"Panda..."
"Dia banyak berhubungan dengan preman, beberapa kali aku melihatnya bergaul dengan orang-orang bertampang seram. I don't know, mungkin dia anggota gangster selama ini" kata Mia, wajahnya menatap tak suka pada Edward.
"Mia, you don't know them! Jangan bicara sembarangan, mereka bukan preman!" Edward membela diri, tidak terima dengan kata-kata Mia.
"Terus apa namanya? Kenapa kau bergaul dengan mereka? Aku sering melihatmu dengan mereka Ed!" Mia membentak Edward, Ia sangat marah dengan Edward yang memang belakangan terlihat berteman dengan beberapa preman. Mia sering mengikuti Edward diam-diam, tanpa disadari kakaknya itu.
"You guys, stop! What is going on here?" bentak Franda yang bingung dengan perdebatan Mia dan Edward.
"Nothing, aku hanya membantu mereka..."
"Membantu menyuplai drugs mungkin? Atau senjata api seperti Yuri Orlov di Lord of War!" Mia langsung memotong kata-kata Edward, membuat kedua orang dihadapannya membelalakkan mata tak percaya padanya.
"Hahahha... Mia, please! Pikiranmu terlalu jauh, mereka tidak seperti itu! Aku hanya membantu mereka menjadi lebih baik. Aku mempunyai yayasan yang membantu orang-orang seperti mereka agar mendapat kehidupan yang lebih baik" Edward menjelaskan, namun Mia tidak mempercayainya.
"Jangan berbohong, Ed! Aku melihatmu bersama mereka beberapa kali, kenapa kau tidak mengajak mereka ke yayasanmu jika kau memang memilikinya?" ucap Mia menantang Edward.
"Tentu saja mereka tidak mau, Mia! Mereka terbiasa hidup dijalan dan melakukan apapun yang mereka mau, aku butuh waktu untuk membawa mereka ke yayasan, itulah kenapa aku bertemu mereka dijalanan. Kau pikir mengubah kehidupan orang lain? Hahaha, kau terlali naif, sist!" Edward tertawa melihat tingkah Mia yang benar-benar menggelikan baginya. Mia tampak malu mendengar penjelasan Edward.
"Benarkah?" tanya Mia mulai lunak.
"Absolutely! Hahahaha, I hope you can see your face now!" kata Edward tertawa lagi.
"Ed?..." panggil Franda yang sejak tadi menyimak percakapan mereka.
"Apa kau juga tidak percaya? Oh, God! Kenapa kau kirimkan wanita-wanita bodoh ini sebagai saudaraku?" Edward mulai frustasi berbicara dengan kedua adiknya.
__ADS_1
"Aku akan mengajak kalian ke yayasan besok!" lanjut Edward.