
Hubungan Franda dan Nino berjalan dengan baik, mereka mampu melewatinya hingga kini sudah berjalan selama 4 bulan setelah keduanya memutuskan untuk kembali. Keadaan rumah tangga mereka sangat tenang, tidak ada huru-hara yang berarti untuk diperdebatkan. Franda kembali mengurus butiknya sementara Nino juga fokus dengan perusahaannya. Jenny? Entahlah, wanita itu seperti hilang ditelan bumi sejak terakhir kali bertemu dengan Franda. Awalnya Nino sedikit bingung dengan menghilangnya Jenny, namun Ia juga merasa lega karena tidak harus kembali berhubungan dengan wanita yang pernah menjadi affair-nya itu.
Franda dan Nino sedang duduk ditepi kolam renang dibelakang rumah, menghabiskan hari minggu mereka dengan mengobrol tentang banyak hal selama seharian. Nino sangat bersyukur karena memiliki istri seperti Franda, rasa cintanya semakin dalam sejak istrinya memilih untuk kembali memulai hubungan mereka setelah kejadian terakhir. Nino sadar Franda bukan wanita lemah yang bisa dengan mudah ditaklukkan, istrinya memiliki hati yang kuat ketika menginginkan sesuatu. Tidak perduli apapun yang terjadi, Franda akan berusaha meraih apa yang impikannya. Termasuk kembali bersama laki-laki yang sangat dicintainya itu.
"Sayang..." panggil Nino.
"Hmm?"
"Kau menginginkan sesuatu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita?" tanya Nino, minggu depan adalah hari ulang tahun pernikahan keduanya yang ke tujuh.
"Tidak tahu, aku belum memikirkannya." jawab Franda cuek. Hadiah bukanlah hal yang selalu dinantikannya, karena Nino selalu memberinya kejutan meskipun bukan hari spesial.
"Aku ingin kau meminta sesuatu padaku, selama ini kau tidak pernah meminta apapun. Gunakan aku sebagai suamimu, aku akan sangat senang jika kau menghabiskan apa yang kucari selama ini alih-alih memakai uangmu dari butik." ucap Nino sambil mengelus rambut istrinya.
"Aku tidak tahu harus meminta apa, tapi aku akan memikirkannya. Hmm... Aku tidak menyangka waktu sangat cepat berlalu, tidak terasa ya!" Franda bersender manja didada suaminya yang polos, Nino hanya menggunakan celana pendek setelah berenang sementara Franda belum mengganti bikininya. Rambutnya yang masih lembab menambah aura keseksian dalam dirinya.
"Ya, terima kasih sudah menemaniku dan menerima semua kekuranganku. Menikah denganmu adalah hal terbaik yang pernah aku lakukan." ucap Nino sambil mencium kening istrinya. Franda menutup mata menikmati ciuman hangat Nino.
"Aku juga bersyukur menjadi istrimu, aku tidak mau berbohong dengan mengatakan kalau aku selalu bahagia, tapi aku senang kita mampu melewati semuanya dan tetap bersama." Franda balas mencium pipi suaminya lalu mereka tersenyum bersama.
"Bagaimana perkembangan butikmu?" tanya Nino.
"Baik, semuanya berjalan baik. Dhea benar-benar luar biasa, aku sangat mengagumi kerja kerasnya. Dia benar-benar bisa diandalkan saat aku membutuhkan bantuannya." jawab Franda sambil mengingat asisten sekaligus teman dekatnya itu.
"Hey, aku lupa! Bagaimana pria di restoran waktu itu? Apakah dia masih menghubungimu?" kata Nino, Ia teringat akan Sean saat Franda membicarakan Dhea, sepupu pria itu.
__ADS_1
"Sean? Dia baik-baik saja. Beberapa kali dia mampir ke butik untuk menyapa. Kami tidak dekat kalau itu maksud pertanyaanmu!" jawab Franda santai, Ia tahu suaminya sedang cemburu.
"Aku tidak meragukanmu, Sayang! Hanya saja tidak bisa percaya padanya, dia menatapmu seperti menginginkan sesuatu darimu." Nino memeluk istrinya erat seolah takut kehilangan.
"Sean bukan pria seperti itu, aku cukup mengenalnya, Sayang. Dia bukan laki-laki yang akan merebut istri orang lain. Pebinor? Itukah yang sering disebut orang-orang belakangan ini?" Franda bercanda, Ia tertawa saat mengatakannya.
"Siapa yang tahu?" ucap Nino.
"Oh, honey! I can't control everyone! Wajah cantik dan tubuh seksiku akan membuat siapapun tergoda tapi tenang saja, aku sudah puas denganmu, milikmu masih bekerja dengan baik selama ini." Franda tersenyum nakal, Ia mengedipkan sebelah mata dan merem*s adik kecil suaminya.
"Kau ini... Kenapa senang sekali menggodaku?" kata Nino sambil mencium bibir istrinya.
"Hentikan, Sayang!" protes Nino pada istrinya saat merasakan tangan Franda sudah masuk kedalam celananya.
"Sayang, aku benar-benar tidak menyukainya. Jangan pernah sebut namanya lagi didepanku."
kata Nino tegas dengan wajah datar.
Franda terkejut melihat sikap suaminya yang tampak tidak bercanda sama sekali, Ia menarik tangannya keluar dan menatap bingung pada Nino. Franda menjauh dan langsung melompat ke kolam renang, Ia tidak ingin berdebat dengan Nino soal hal yang tidak penting menurutnya.
Nino mengikuti istrinya namun tidak ikut masuk dan berenang, Ia duduk ditepi kolam sambil membawa dua gelas jus apel yang tadi diantar oleh Mbak Ika.
"Sayang, kau mau liburan?" ucap Nino membuka suara. Franda mendekatinya lalu naik dan menyambar segelas jus apel.
"Kemana? Kalau tujuannya menarik mungkin aku mau." jawab Franda setelah menyedot jus apel hingga setengah gelas.
__ADS_1
"Ada saran?"
"Hmm... Tapi aku tidak mau terus-terusan dikamar, kali ini aku ingin jalan-jalan dan menikmatinya." kata Franda memohon, Ia teringat jika selama ini liburan mereka kebanyakan dihabiskan dikamar, Nino selalu memiliki cara untuk menahannya agar tidak keluar.
"Hahahaha... Kau yang membuatku melakukannya" ucap Nino sambil tertawa.
"Hah? Apa yang ku lakukan memangnya? Kau yang selalu menahanku dikamar, huh!" Franda mendengus tak suka dengan kata-kata suaminya.
"Kau selalu menantangku dengan senyum nakalmu, Sayang!" Nino menarik wajah Franda agar menghadapnya namun istrinya menepis tangannya.
"Kau saja yang tidak bisa menahan diri, aku heran kenapa kau begitu tergila-gila padaku padahal kita sudah menikah lama. Kau tahu, sikapmu terlalu berlebihan. Dirumah kita bisa melakukannya selama yang kau mau, jangan mengambil jatah liburanku lagi. Aku sungguh ingin menikmati liburan yang kau tawarkan kali ini!" Franda mengomel membuat Nino terdiam dan tersenyum lucu melihat wajah menggemaskan istrinya.
"Ok, jadi kau mau kemana?" tanya Nino sambil memegang tangan Franda.
"Jogja!" jawab Franda sambil memainkan matanya.
"Kenapa Jogja? Aku pikir kau ingin jalan-jalan diluar negeri, lagi pula kita sudah dua kali kesana, kau tidak bosan?" tanya Nino sedikit protes dengan istrinya.
"Aku belum pernah menikmatinya, jalan-jalan di malioboro atau menikmati pantai disana, banyak tempat yang ingin ku datangi, Sayang!" jelas Franda.
"Baiklah, aku akan menurutimu disiang hari dan sebagai gantinya aku yang mengatur saat malam, bagaimana?" Nino bernegosiasi.
"Deal! Aku siang, kau malam!" Franda memajukan tangannya agar bersalaman dengan Nino.
"Deal!" ujar Nino dan menerima uluran tangan istrinya
__ADS_1