Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Hm.


__ADS_3

Aku masih dalam keadaan bingung karena kalimat yang keluar dari mulut Sean saat di ruang meeting tadi sementara Sean menarikku keluar dan langsung menuju mobil. Aku bahkan tak sempat mengambil clucth bag-ku karena dia begitu terburu-buru. Aku terpaksa mempercepat langkahku untuk mengimbanginya sampai aku merasa ngilu di bagian kakiku yang sempat patah akibat kecelakaan beberapa bulan lalu.


"Sean, kakiku sakit." kataku mencoba protes dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah sesaat setelah kami keluar dari ruangan. Dia melirikku kemudian tiba-tiba tubuhku melayang dan berpindah ke pundaknya.


Sean membawaku seperti sekarung beras. Tak terganggu sedikitpun dengan mulutku yang terus bersuara atau orang-orang yang menatap lucu pada kami. Dia tetap berjalan. Dan sekarang dia menepuk bokongku. "Ah..."


"Dasar genit. Apakah kau ingin merayu sepupuku?" Aku sontak tertawa mendengar ucapannya yang menandakan dia sedang cemburu. Dengan tubuhku yang masih berada di pundaknya, aku mengangkat kepala.


"Apakah kau sedang cemburu?"


Sean menurunkanku tepat di depan mobil yang sudah siap menyambut kami dan langsung mendorongku masuk. "Sean!" sergahku dengan mata menatap tajam padanya.


"Tenanglah, Franda." Aku mengerutkan kening, belum mengerti dengan perubahan sikapnya yang terus berubah aneh. Namun Sean tersenyum padaku. "Wajahmu menggemaskan, sayang." Dia mengangkat tangannya dan mencubit pelan kedua pipiku.


Aku masih melototinya sementara Sean mendekatkan wajahnya untuk menciumku. Aku mengumpat dalam hati karena dia sangat tahu kelemahanku. Aku sempat membuang wajahku dan menghindarinya, tapi dia menahan tengkukku sampai aku pasrah dan akhirnya tak kuat untuk tidak membalasnya.


"Aku tidak menyukai pria yang kasar, Sean. Dan kau baru saja membuatku tidak menyukaimu." Tanganku terjulur ke arah kaki lalu menyingkap rok gaunku dan memijat pelan kakiku yang masih terasa ngilu.


"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya terlalu bersemangat sampai-sampai lupa dengan kondisimu." Aku meliriknya melalui sudut mataku. Sean terlihat begitu khawatir dan merasa bersalah. Sekarang dia menurunkan tangannya dan mengangkat kakiku ke pangkuannya. Kedua tangannya yang besar memijat kakiku dengan lembut dan hati-hati sementara aku terpejam menikmati pijatan tangannya.


Perlahan aku merasa merasa lebih baik dan meminta pada Sean untuk berhenti dengan mengacungkan ibu jariku. Aku merapikan kembali gaunku dan menggeser tubuhku agar menempel padanya. Sean menyambutku dan mencium kepalaku, membuatku melupakan kesalahannya tadi.

__ADS_1


Kami diam beberapa saat di dalam mobil yang melaju. Mataku menatap Ameer yang duduk di depan memegang stir dan tiba-tiba aku teringat Ben yang hari ini akan di jemput oleh Nino karena dua hari ke depan dia akan membawa Ben untuk menginap di rumahnya.


"Sean." panggilku lirih tanpa menoleh padanya. Aku bisa merasakan dia menurunkan pandangan untuk menatapku.


"Hm."


"Sore ini Nino akan membawa Ben menginap." gumamku. Seketika Sean terkejut dan menarik mundur tubuhnya. "Kenapa?" tanyaku bingung. Lagi-lagi sikapnya mengejutkanku.


Sean tampak berpikir, kemudian dia bersuara. "Apakah tidak bisa di ganti dengan hari lain?"


Aku menggeleng. "Tidak, Nino pasti akan mengamuk. Minggu lalu kita sudah menahan Ben." kataku mengingatkan. Aku masih memperhatikan wajahnya yang kini murung sampai akhirnya dia kembali bersuara.


"Sebenarnya, hari ini aku ingin membawa kalian ke rumah danau yang kukatakan beberapa waktu lalu. Itu kenapa aku bersemangat saat membawamu keluar dari pertemuan tadi." Aku mendesah tertahan seraya menyandarkan pungunggku pada jok. Memikirkan apa yang harus kulakukan dengan rencana Sean yang selalu mendadak. Aku selalu menyukai kejutan yang dibuatnya tapi kali ini niatnya membuatku berada dalam kesulitan.


Aku membuang pandangan keluar sembari menimbang apakah aku harus menghubungi Nino untuk bertanya apakah aku bisa membawa Ben bersamaku dan sebagai gantinya dia akan menghabiskan waktu selama empat hari setelah kami kembali. Tapi aku ragu Nino akan menerimanya mengingat minggu lalu dia juga sudah membiarkanku menahan Ben.


Setelah beberapa saat larut dalam pikiranku, aku berpaling pada Sean. "Bagaimana kalau kita tunda rencanamu sampai Ben kembali dari rumah Nino? Hanya dua hari." gumamku lembut, berharap Sean bisa mengerti maksudku.


Sejujurnya aku sudah tak sabar melihat rumah itu, tapi kutahan keinginanku karena aku tidak mau egois dengan memaksakan diri berada dalam situasi yang akan semakin menyulitkan kami semua. Menghindari segala sesuatu yang bisa menyebabkan keributan antara aku, Sean, dan Nino lebih baik dari pada memancingnya.


Aku sedikit merasa lega saat Sean menatapku dengan tersenyum. Kedua tangannya menggenggam tanganku lembut sementara bibirnya yang manis bergerak dan bersuara. "Baiklah, kita akan menundanya." dengkurnya halus.

__ADS_1


Setelahnya kami hanya menikmati perjalanan menuju rumah sampai tanpa sadar aku tertidur di pelukannya. Dan ketika terbangun, aku sudah berada di dalam kamarku.


Aku melayangkan pandangan pada jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore hari. Sambil menguap aku turun dari ranjang menuju closet lalu mengeluarkan salah satu kaus Sean dan mengganti gaunku. Aku melangkah lagi menuju meja rias untuk membersihkan wajahku dari riasan yang kini terasa berat.


Jemariku yang lentik bergerak teratur melepaskan satu persatu perhiasan yang melekat di tubuhku, lalu aku meraih selembar kapas, kemudian menuang cairan pembersih wajah di atasnya dan menyapunya ke bagian sekitar mataku. Kegiatanku terganggu saat pintu kamar terbuka lebar.


Bibirku melengkung indah menyambut Sean yang berjalan mendekat dengan cara yang paling menggoda. "Kau sangat cocok menjadi stipper, Warner." kataku bercanda, membuatnya semakin bersemangat menggodaku.


"Oh, ya?" tanyanya sambil bergoyang ala penari di klub khusus pria penyuka sesama jenis.


Tangannya mengusap dadanya yang masih terbungkus jas sementara pinggulnya bergerak nakal, lalu dia menggigit bibir bawahnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Membuatku tak sanggup lagi menahan tawa melihat tingkahnya. "Melihat gerakanmu yang ahli... aku sedikit ragu dengan masa lalumu, Sean." Aku menggodanya lagi.


Sean membulatkan mata lalu menggeleng, dan aku kembali berbicara sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu. "Jangan tersinggung, Samson. Masa lalumu yang mengerikan tidak akan mengubah cara pandangku terhadapmu." gumamku, menuduhnya tanpa alasan.


Mata Sean melotot lagi dan aku senang melihat keterkejutannya. "Kau... sialan! Kau sungguh menganggapku begitu? Franda, aku tidak mungkin serendah itu."


Aku mendengar suaraku tertawa kecil. "Sayang, tidak apa-apa. Aku tak peduli dengan masa lalumu selama kau bisa membuatku menjerit semalaman di ranjang kita." Bibirku terasa basah karena aku baru saja menjilatnya. Aku sudah tidak sabar untuk segera menikmati malam-malam panjang kami yang akan terjadi setelah kondisi kakiku benar-benar sembuh. Sialan, kenapa harus selama ini!


Sean menyambar kasar wajahku dan mencium bibirku. Aku tersenyum di mulutnya sementara tanganku bergerak naik untuk memegang pinggulnya. Sean menciumku dalam dan lembut. Lidahnya yang lihai membelai bibir dan setiap senti rongga mulutku. Aku membiarkannya menikmati diriku sementara aku juga menerima cintanya.


"Franda," Sean mendesis, berat dan tersengal-sengal. Ibu jarinya menyapu bibirku yang basah sementara mata biru lautnya menatap kedalam mataku. "Aku tidak yakin akan sanggup menahan sampai kakimu sembuh jika kau terus menggodaku seperti ini." Sean menghembuskan napas dan dia tampak tegang. Matanya kini lebih bergelora dan membuatku terbakar karena tatapannya itu.

__ADS_1


"Kurasa kita sudah bisa melakukannya."


__ADS_2