
"Bukan begitu..." aku menyelipkan ponsel di antara telinga dan bahuku selagi menuangkan smoothies dari blender yang baru kubuat ke dalam mangkuk. "Aku tahu kau sudah bosan berada disana, Mia, tapi keadaan disini belum memungkinkan, semua orang masih membicarakan tentangmu dan walikota itu."
"Ya Tuhan, ini bahkan berbulan-bulan, Panda! Aku tidak bisa berada di sini selamanya." gerutunya dari seberang telepon.
Aku membuang napas berat, lalu menggenggam ponsel dengan tanganku. "Aku akan membicarakannya dengan Sean." gumamku pada akhirnya.
"Baiklah, bicarakan dengannya dan segera kabari aku." sahutnya tak sabaran. "Meskipun aku yakin dia tidak akan menolak kalau kau membujuknya dengan baik."
Aku mendengus dan memutar bola mata.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Franda?"
Kumatikan sambungan telepon lalu menoleh ke belakang dan mendapati Sean yang sedang berdiri di ambang pintu dapur dengan sebelah alis terangkat. Dia berjalan melintasi ruangan untuk menghampiriku, matanya menatapku lekat-lekat.
Ini benar-benar konyol, setiap bertatapan dengannya aku selalu berpikir bahwa aku bisa memandangi wajahnya selama seharian tanpa pernah merasa bosan.
Sean mengitari meja dapur mendekat ke arahku, lalu memelukku dari belakang. Kedua tangannya mengusap perutku yang mulai membesar. "Aku mencoba membuat smoothies untukmu." gumamku sembari meletakkan tangan di atas punggung tangannya yang mengusap perutku.
Dia membungkuk mengamati mangkuk porselen berwarna putih yang berisi smoothies strawberry. Aku melihatnya tersenyum dari sudut mataku.
"Kelihatannya lezat." Aku menahan napas saat dia berbicara, nyaris berbisik ditelingaku, membuatku berdesir. Tubuhku memang selalu lemah jika berdekatan dengan pria yang satu ini.
Sean melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuhku menghadapnya hingga aku bersandar di tepian konter. "Jadi, hal apa yang belum kau bicarakan denganku?" katanya mengulangi pertanyaannya.
Aku tersenyum padanya sambil mengarahkan tanganku ke pinggangnya. "Mia bilang dia ingin kembali ke sini."
Sean menaikkan kedua alisnya. Matanya menatapku, satu tangannya mengusap pipiku dengan lembut sementara satu tangan yang lain bersandar di pinggulku. "Lalu?"
Aku menghela napas sekali, seraya menundukkan kepala sejenak sebelum memandangnya lagi. "Aku takut orang-orang akan menekannya."
"Franda, Mia bukan anak kecil. Dia tahu cara menghadapi sesuatu, jauh lebih baik dibanding denganmu." Sean menahan tawa, sebelah tangannya mengusap perutku.
Aku memukul pelan lengannya, lalu tersenyum. "Aku hanya khawatir padanya, Sean."
Dia menangkup kedua pipiku dengan kedua matanya yang indah mengamati wajahku, sorotnya yang tenang menular padaku. "Dengar, sesulit apapun keadaannya Mia tetap harus melewati itu. Menunda-nunda tidak akan merubah apapun, lebih cepat lebih baik. Jangan terlalu mencemaskannya, Mia tahu harus melakukan apa dengan hidupnya. Lagi pula, aku yakin Jason pasti bisa membantunya."
__ADS_1
Aku menurunkan pandangan ke dadanya, mencoba mencerna apa yang dia katakan. Dalam mengontrol emosi, Mia memang jauh lebih baik dariku, tapi tetap saja rasanya sulit membayangkan ketika dia harus menerima tatapan sinis dan semacamnya dari orang banyak.
Aku menarik napas dalam, lalu mengangkat wajah, menatap Sean dan mengangguk. "Ya, kurasa kau benar."
"Memang." sahutnya dengan cepat.
Aku tertawa pelan seraya memperhatikan wajahnya yang tampan, rambut-rambut halus tampak di sekitar rahang dan dagunya. Menyaksikan pemandangan seindah ini adalah sesuatu yang paling kuinginkan seumur hidup. Dia terlihat tenang seakan tidak ada masalah yang mengganggunya, namun aku tahu banyak hal yang bersarang di kepalanya.
Aku tidak bisa berhenti mengagumi semua yang ada padanya, caranya berpikir, bersikap dan melakukan sesuatu, selalu penuh pertimbangan. Dia begitu lembut dan penuh kasih sayang, well, walaupun tidak kepada semua orang. Dia hanya melakukan itu pada orang-orang terdekatnya.
Aku terkesiap saat dia tiba-tiba menciumku. Namun seperti es krim di bawah terik matahari, aku meleleh dan dengan cepat membalasnya. Kedua tanganku merangkak naik ke lehernya sementara Sean menarik pinggulku agar lebih dekat dengannya. Aku terpejam menikmati sapuan lidahnya yang lembut dan lihai, membangkitkan gairah yang menjalari sekujur tubuhku.
Rasa panas dan denyut halus menyebar dari ujung kaki sampai ke sudut wajahku. Ciuman Sean yang luar biasa adalah rangsangan terbesar bagiku, tidak butuh waktu yang lama untuk membuatku basah. Aku mendesah pelan saat dia menyapukan mulutnya ke leherku, tepat di tempat yang kusukai, sementara sebelah tangannya menyusup ke dalam kaus miliknya yang kukenakan. Tanpa sadar aku mengerang dan menggigit bibir ketika dia meremas dadaku dengan lembut.
"Franda," gumamnya serak.
Aku membuka mata dan menatapnya. Rahangnya mengeras, matanya yang indah mengamatiku, disertai seringai tipis di salah satu sudut bibirnya. "Ya," desahku.
"Kau sangat seksi," katanya pelan di depan mulutku, suaranya yang serak membuat kakiku semakin gemetar. "Aku tidak bisa berpikir dengan baik saat kau tertawa, atau ketika matamu melakukan itu..."
Dia menyeringai lebar. "Kau smoothies-ku."
Aku terkekeh, mencium bibirnya sekilas lalu bergeser ke samping untuk meraih sendok. Kemudian berbalik dan melangkah menuju meja mini bar dengan membawa semangkuk smoothies yang kubuat. "Aku punya dua jadwal dengan dokter hari ini, dan ada beberapa hal yang harus kukerjakan di kantor."
"Berhentilah bekerja, Franda. Aku tidak mau sesuatu terjadi lagi padamu, setidaknya sampai anak kita lahir. Setelah itu kau bisa kembali melakukan semuanya, aku tidak akan membatasi ruang gerakmu." Sean memandangku sambil menarik kursi, lalu duduk di sebelahku.
Aku memutar kursi menghadapnya, menghembuskan napas panjang sebelum berbicara. "Kita sudah pernah membahas ini, Sean. Lagi pula, ada Black dan Kamila yang akan menjagaku." ucapku, berusaha meyakinkannya. "Aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa."
Dia mengerutkan alis menatapku, tampak tidak senang dengan perkatanku. Aku tahu dia cemas, mengingat peristiwa-peristiwa mengerikan yang pernah terjadi pada kami, tapi aku tidak suka dengan sikapnya yang berlebihan. Dia tampak marah, namun belum mau mengeluarkan suaranya.
"Katakan sesuatu, Sean." pintaku sambil meraih sebelah tangannya dan menggenggamnya dengan kedua tanganku. "Kau bisa menaruh semua orangmu di belakangku, aku tidak masalah dengan itu. Tapi jangan mengurungku di dalam rumah."
Dia menghela napas panjang, melirikku sembari mengeleng tak percaya. "Kau benar-benar keras kepala, Franda."
Aku mengangkat bahu, mencoba tersenyum untuk menenangkannya. "Dengar, aku akan menjaga diri dan memastikan semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku, oke?"
__ADS_1
Dia tersenyum getir, menarikku lebih dekat kepadanya. "Aku ketakutan setiap saat kau tidak berada di dekatku, dan itu membuatku kesulitan. Membayangkan sesuatu yang buruk bisa saja terjadi padamu, aku hanya ingin melindungimu, kau tahu itu?"
Aku menganggukkan kepala sambil membalas senyumannya. "Aku tahu, terima kasih untuk itu. Tapi kau juga harus percaya padaku, atau kau bisa menemaniku? Kupikir gagasan itu akan lebih menyenangkan. Menyaksikan seorang pengawal pribadi paling tampan di dunia berjalan di belakangku, lalu diam-diam menyusup ke dalam kamarku dan... meniduriku?" Aku mengedipkan mata sambil menjilat bibir untuk menggodanya.
Seketika tawanya menggema di seluruh sudut ruangan, dan kehangatan langsung memenuhi hatiku. "Bukan ide yang buruk, kurasa kita bisa melakukannya."
Sekarang giliran tawaku yang terdengar kencang dan berniat menggodanya lagi. "Tentu saja, apa aku boleh mengikatmu?" kataku sambil memandangnya dengan seringai halus.
Matanya membuka lebar seraya memundurkan kepala sedikit, "Mengikatku?" Dia menatapku dengan sorot bingung, nyaris tidak suka dengan apa yang kukatakan. "Kau tidak akan pernah melakukan itu padaku, Franda. Akulah satu-satunya yang akan mengikatmu."
"Ah, gender roles? Membosankan," gumamku beralasan dengan nada sensual sementara memajukan wajahku lebih dekat kepadanya. "Aku pastikan kau akan menyukainya."
"No," Dia menggelengkan kepala. "Itu tidak akan terjadi."
"Okay," balasku santai, lalu berbisik tepat di telinganya. "Kita akan lihat nanti, momen dimana kau kehilangan kontrol..." Aku menyapukan bibirku di lehernya, dengan sengaja meniup bagian sensitifnya dan membuatnya menggeram. "Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan."
Walaupun aku sudah liar menggodanya untuk membiarkanku mengikatnya di ranjang, dia tampak belum terpengaruh. "Kau akan menyukainya, Sean." kataku menambahkan, dengan lembut mencium dan menggigit lehernya, sadar bahwa dia menyukai itu.
"Jawabanku masih tidak, Franda." gerutunya, tidak senang dengan usahaku membujuknya. "Itu tidak akan mengubah apapun."
Aku menyeringai, menangkup rahangnya dan menariknya menghadapku. Dia sangat tampan, matanya bersinar terang, pantas untuk diidamkan oleh wanita manapun. "Aku akan melakukan apapun untukmu." Aku menciumnya dan menyapukan lidahku ke bibirnya, kemudian tersenyum tipis saat menyadari dia mulai tergoda. "Please?"
"No, hentikan." Sean menarik diri dariku. "Kau sedang hamil."
Alisku terangkat tinggi. "Lalu?"
Dia mencubit pangkal hidungnya sementara aku menahan tawa. "Lupakan itu, ayo sarapan." katanya, meraih mangkuk smoothies. "Aku bisa melakukan apapun, tapi tidak dengan seleramu yang aneh itu." lanjutnya lalu menyuapkan sesendok penuh smoothies ke dalam mulutnya.
"Kau tidak mau?" Aku tidak bisa menahan tawa melihat tampangnya yang cemas. "Sayang, kenapa kau harus takut di ikat? Kau membuatnya terdengar seakan aku mencoba menyakitimu."
Dia memandangku selagi aku aku berdiri dan memeluk pinggangnya. "Aku tidak suka dengan gagasan kau mengontrolku, itu tidak akan menyenangkan." gumamnya, lalu menyuapkan sesendok smoothies lagi.
Aku tersenyum padanya, merasa geli karena dia menanggapi perkataanku dengan serius. "Kau tidak akan tahu sampai kita mencobanya. Astaga, kemana pria hutan liar yang kukenal? Apakah kita harus kembali kesana agar kau mau mencobanya?" kataku menantang sambil menggerakkan tanganku ke kejantanannya, dan terkejut saat merasakan dia sudah mengeras. "Lihat, kau sudah penuh, sayang." Aku mendesah di depan mulutnya, lalu menyusuri rambutnya dengan sebelah tanganku.
Dia menggeram. "Sial, Franda, hen..." ucapannya terhenti saat aku buru-buru menciumnya dengan rakus, menikmati rasa smoothies yang manis dari mulutnya.
__ADS_1
Selama beberapa detik, dia belum bereaksi sampai aku meremas kejantanannya dengan lembut, membuatnya menggeram dan membalas ciumanku pada akhirnya. "Bawa aku ke kamar, Sean."