
No comment \= No update!
Kalau mau honeymoon komen yang banyak!
***
"Ah," aku mendesah. Terganggu dengan semburat cahaya matahari pagi yang mencuri masuk melalui tirai yang tidak tertutup sempurna, menerpa wajahku yang berantakan.
Sudut bibirku terangkat tinggi mendapati raut tampan dan lelap priaku yang lelah sehabis pertempuran maha dahsyat semalam. Entah kenapa dia bisa membuatku menggilainya seperti ini. Yang pasti, aku bahagia bersamanya.
Pria yang kucintai terlelap nyenyak di ranjangku. Rasanya senang sekali bisa melihatnya tidur setenang dan sepulas itu mengingat dirinya pernah memiliki kehidupan yang sulit. Aku hampir saja kehilangannya, hampir saja tak bisa menyaksikan pemandangan indah yang berlangsung di kamarku saat ini. Sean Warner, si pengusaha tampan dan perayu ulung sedang memeluk salah satu bantal sementara kakinya yang kekar menindih bantal-bantal lain.
Ya ampun, betapa manusiawi dan hangatnya kegiatan itu. Kegiatan layaknya pria muda biasa yang berbaring di ranjang mereka, bukan pria yang kutahu punya masa lalu kelam dan pekerjaan yang menumpuk. Dan sekarang ditambah lagi mempunyai istri yang mengguncang kehidupannya.
Sejak tahu masa lalunya yang suram, aku berharap mimpi buruk tidak menghampiri tidurnya. Aku bahkan sudah cukup bersyukur bisa mendengar napasnya terhembus teratur saat dia tidur. Karena suamiku masih sangat rentan. Jadi tidak berlebihan rasanya kalau saat ini aku ingin menangis.
Walaupun sudah antusias sekali ingin mengajaknya mandi bersamaku, aku mengurungkan niat untuk membangunkannya. Aku juga tidak memindahkan satu benda pun yang ada di tempat tidur. Termasuk celana pendek dan kausnya yang berserakan di pinggir ranjang.
Baru saja ingin pergi membiarkannya beristirahat, tiba-tiba suaranya yang serak dan menggoda terdengar menyebut namaku. Aku tidak pernah tidak merinding ketika dia memanggilku. Tapi kali ini dia memanggilku dalam keadaan pulas dan sedang bermimpi.
Ya ampun, aku ingin sekali ke tempat tidur untuk mendekap dan mencium mulutnya yang sedang menggodaku didalam mimpi. Tapi semua desakan panas itu kutahan semata-mata ingin dia menikmati mimpi indah yang mungkin jarang sekali dirasakan olehnya. Ini juga pertama kali dia melantur sambil menyebut namaku yang membuatku semakin mencintainya.
Aku duduk perlahan ditepi ranjang, mengusap dadaku sendiri dengan penuh rasa syukur.
Sampai beberapa saat kemudian kedua matanya membuka dan mengarah padaku. "Franda? Ada apa?" Dia bangkit dengan buru-buru dan tangkas. Salah satu tangannya menangkup pipiku dan menghapus air mataku yang mengalir. "Astaga. Apakah aku menyakitimu?"
Aku menatap sepasang mata birunya yang menawan. Mata yang menunjukkan cinta yang besar. Aku pun menggeleng. Tidak berkata-kata tetapi langsung menempelkan bibirku ke bibirnya. Membelai segenap mulutnya dan menggigit bibir bawahnya. Lalu mulai menyapukan lagi lidahku ke mulutnya yang manis dan begitu nikmat.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, Warner. Aku sangat mencintaimu."
Aku memejamkan mata dan kembali mencium bibirnya. Tanganku naik meremas otot lengannya sementara mataku terpejam dengan perasaan yang semakin bergelora. "Terimakasih, Sayang. Terimakasih karena sudah mencintaiku didalam hidupmu dan juga mimpimu. Aku adalah wanita paling bahagia sekarang."
Sean berhenti membalas belaian lidahku di mulutnya namun dia mengerang rendah dan serak yang terdengar sangat erotis. "Hmm..." Matanya terbuka di depan mataku. "Benarkah begitu?"
Aku mengangguk dan kami kembali saling menyesap bibir. Perlahan-lahan Sean berguling dan membuatku berbaring dibawah tubuhnya. Setiap belaian lidahnya membuatku basah. Panas tubuh dan pesona maskulinnya membuatku meleleh. Aku terbuai pada setiap sikapnya yang jantan.
Dadaku membusung dan kedua kakiku bergerak-gerak gelisah. "Franda," lirihnya didalam mulutku. "Sebenarnya aku tidak mengingat apa yang sudah ku mimpikan. Tapi aku sangat yakin bahwa aku sedang mimpi basah bersamamu. Aku mencapai puncak karenamu sampai aku menyerukan namamu. Aku yakin itulah yang tadi berlangsung dalam mimpiku."
Aku mendesah tenggelam dalam cumbuan kami. Aku tidak peduli apa yang kalian pikirkan tentang hubungan kami. Kami memang sepasang suami istri yang panas dan penuh hasrat. Sebelah tanganku meremas rambutnya sementara tanganku yang lain berkeliaran mencari otot bokongnya yang keras.
"Sean," lirihku dengan genit. "Aku senang kau merasa nyaman denganku. Aku Aku senang sekali bisa melihatmu tidur seranjang denganku. Kipikir hubungan kita akan selamanya dingin seperti di awal. Tapi akhirnya kau meleburkanku. Membuatku membalas cintamu dan menghangatkan ranjangmu. Terimakasih, Sayang."
Mulutnya tersenyum geli. Ibu jarinya membelai pipiku yang membuatku mendesah ingin menggigit jarinya. "Itu semua karena senyummu yang indah ini. Kau menarikku dengan cara yang paling indah. Tarikan yang tidak akan pernah dirasakan pria lain lagi. Karena senyum dan mulutmu tercipta hanya untukku."
Aku menciumnya sekali lagi dari bibir hingga ke tulang rahangnya. Lalu berguling dengannya sampai kami bersandar di kepala ranjang dan berpelukan. "Kau tipeku. Tidak peduli menyedihkan atau menyeramkan, aku memilih pria yang mabuk cinta padaku. Kau tahu? Wanita tidak butuh apapun selain pasangan yang tergila-gila pada mereka."
"Benarkah?" balasnya dengan nada geli.
"Tentu saja."
Aku pun terhuyung saat diangkat tiba-tiba oleh suamiku. "Hmm..." protesnya nakal. "Kupikir mereka tidak hanya butuh pria yang mabuk cinta kepada mereka. Tapi mereka juga butuh mandi bersama dengan pria yang mencintainya, dan sepertinya aku akan melakukannya."
Dalam pelukannya, Sean menjumput rambutku dan mendekatkannya ke hidungnya. Aroma buah dari sampo bekas mandi beberapa saat lalu pasti membuatnya sadar kalau aku sudah keramas. Aku mendongak dan meletakkan kedua tanganku di dadanya yang kencang. "Aku sebenarnya sudah ingin mengajakmu mandi bersama. Tapi saat aku kembali dari kamar Ben kau masih tidur nyenyak. Dan sekarang aku baru paham bahwa mimpimu tadi benar-benar basah dan sensual. Tidak ada yang ingin diganggu saat seperti itu, kan?"
"Pintar." Sean menyerukkan hidungnya ke hidungku. Bibirnya merayapi garis bibirku hingga ke lekukan leherku dengan sensasi yang nikmat. Kemudian dia kembali menatapku dengan bola mata yang cerah. "Tapi lain kali kau bangunkan saja aku. Aku lebih ingin benar-benar basah di dunia nyata daripada sekedar mimpi."
__ADS_1
Aku tertawa dan langsung menepuk bokongnya setelah dia melepaskanku. "Mandilah. Setelah itu turun dan ikut bergabung sarapan bersamaku."
Sebelah matanya mengedip. "Apakah kau yakin tidak ingin ikut mandi lagi bersamaku?"
"Tidak." kataku dengan nada canda.
"Sungguh, Franda?" Dia menurunkan sedikit karet pakaian dalamnya untuk memamerkan betapa jantan dan seksi garis otot pinggulnya.
"Tidak." balasku lagi dengan pipi memerah.
"Franda," katanya dengan nada menggoda. "Aku punya sesuatu yang kau sukai, apakah kau yakin dengan keputusanmu?" Astaga, senyumnya nakal dan matanya berkilat. Bahkan dia sekarang agak merunduk untuk melorotkan pakaian dalamnya keluar melewati kaki. Aku sontak menutup mata dengan tangan.
"Ayo, Sayang. Pertimbangkanlah keputusanmu itu."
"Tidak." kataku gemetaran.
Saat aku mengintip dari sela jari-jariku, pakaian dalam itu sudah melayang ke atas kepalaku. "Sean!" gerutuku setengah tertawa. Sementara itu dia berlari menuju kamar mandi dengan tawa seksi yang membuatku gemetar. Baru saja berniat ingin membersihkan pakaiannya yang berserakan di ranjang dan rambutku, pria itu muncul lagi dengan setengah badan yang mengintip dari bingkai pintu.
"Malaikatku, omong-omong dimana handukku?"
Aku tertawa dan yakin sekali bahwa aku tidak pernah tertawa selepas dan sepuas ini. Aku merasa segala beban yang pernah kurasakan menguap karena merasa bahagia karena sudah memiliki Sean di dalam hidupku. Saat akubsudah tenang sedikit, barulah aku menjawabnya. "Kabinet paling kanan di atas wastafel. Paling kanan, oke?"
"Oke, babe." serunya dengan kedipan mata seperti remaja yang baru mengenal cinta.
***
Komen yang banyak kalau mau Honeymoon!
__ADS_1