Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 51


__ADS_3

"Sayang, siapa namanya?" tanya Franda pada Nino. Saat ini Ia duduk di birth ball sembari memeluk pinggang suaminya. Bergoyang ke kiri dan kanan, sekelai berhenti saat merasakan kontraksi kembali.


"Ben!" jawab Nino singkat, tangannya sibuk mengelus punggung istrinya.


"I know, the complete name?"


"Bennet Allan Wirawan." ucap Nino.


Franda mendongak, menatap wajah sang suami yang tersenyum padanya, "Boleh aku mengganti nama tengahnya?" Franda bertanya sembari memejamkan mata, menarik napas dalam, menikmati gelombang cinta yang menusuk pinggulnya.


Nino menunduk untuk memijat pinggul istrinya, "Tidak! Namanya sudah segel, tidak bisa diganggu gugat." jawabnya.


Franda mengerucutkan bibir seksinya, "Aku Mommynya, aku juga memiliki hak untuk memberinya nama!" protes Franda.


"Kau bisa memberi nama anak kedua kita nanti, untuk Ben, biar aku yang menentukannya."


Franda tidak menanggapi lagi, rasa sakitnya kembali menyerang, diremasnya pinggul suaminya dengan kencang, mulutnya menggeram menahan serangan dari bawah sana. Kepalanya terkulai lemas tepat di perut suaminya yang kini sibuk memijat pinggulnya.


Ibu mendekati Franda, berdiri tepat disampingnya. Tangan tua itu meraih pundak putrinya, melabuhkan pijatan lembut disana.


"Breath, honey! Bersabar sebentar lagi, rasa sakitmu akan terbayar begitu mendengar tangisannya. Semua yang kau rasakan sekarang akan hilang saat kau melihatnya, bersabarlah sebentar lagi, hm?" Ibu Marissa tersenyum, begitu teduh dan menenangkan.


Franda memegang tangan Ibu dan menggenggamnya erat, "Thanks, Momma! Thank you for your love." Franda memeluk Ibu dengan erat, air matanya menetes mengingat semua hari yang di laluinya bersama sang Ibu.


Ibu bukan hanya membantunya bangkit saat kehilangan kedua orang tuanya berpuluh-puluh tahun lalu, namun Ibu juga mengajarinya tentang banyak hal yang berkaitan dengan wanita. Ibu selalu menangis saat dirinya sakit, selalu tersenyum saat dirinya bahagia, selalu menemaninya melewati fase kehidupan yang terkadang membuatnya jenuh. Ibu bukan hanya orang yang merawatnya, Ibu segalanya untuk Franda. Kasih sayang yang diberikan wanita tua itu yang membuatnya menjadi kuat seperti sekarang.

__ADS_1


"Bertahanlah sebentar lagi, kau akan melaluinya, Sayang." kata Ibu sembari menghapus air mata putrinya lalu mencium hangat kedua pipinya.


Franda mengangguk.


.


Jika Franda sedang berjuang untuk melahirkan di rumah sakit, lain cerita yang terjadi dirumah sekarang. Mbak Ika dan Miss Diana sedang mengambil kesempatan untuk memarahi Sora saat semua penghuni rumah sedang pergi.


Tunggu, memarahi Sora? Apa yang dilakukan gadis muda itu?


Ya, jadi sebenarnya Sora yang mengambil jam di kamar Franda bulan lalu. Namun, sayangnya ketahuan oleh Miss Diana.


"Sora, kenapa kau melakukannya?" ucap Mbak Ika memulai, suaranya dibuat selembut mungkin agar Sora tidak merasa di hakimi.


"Sora?" panggil Miss Diana tak kalah lembut.


"Aku..."


Miss Diana memegang kedua tangan Sora, "Tidak perlu takut, kami tidak akan mengatakan ini pada siapapun. Bicaralah, kami akan mamahami alasanmu."


Sora mengangkat wajahnya, menatap Miss Diana dan Mbak Ika dengan sedih, air matanya mulai menggenang, "Ibuku sedang sakit, kami butuh biaya untuk pengobatannya. Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal..." ucap Sora sambil berderai air mata.


Mbak Ika dan Miss Diana saling pandang, keduanya merasa iba pada gadis muda yang terpaksa mencari nafkah untuk membantu membiayai keluarganya, bahkan Sora tidak sempat meneruskan sekolahnya ke jenjang SMA.


Mbak Ika menepuk bahu sora, "Sora, kau bisa memberitahu kami kalau kau butuh biaya, kami pasti berusaha membantumu. Kita juga bisa meminta tolong pada Bapak dan Ibu, aku yakin mereka pasti mau." ucap Mbak Ika.

__ADS_1


"Saya minta maaf, Mbak. Saya salah, saya benar-benar tidak bisa berpikir sejauh itu. Keadaan yang memaksa saya untuk melakukan hal memalukan itu, saya mohon jangan katakan pada Bapak dan Ibu, saya akan mengundurkan diri dan berhenti bekerja disini."


Miss Diana menggeleng, "Kau bodoh sekali! Kalau kau berhenti bekerja, bagaimana dengan Ibumu? Kau mau dia mati? Jangan berpikiran pendek untuk menyelesaikan masalahmu, Sora! Berhenti bekerja tidak akan menghasilkan apapun! Stupid!" Miss Diana memukul lengan Sora dengan kencang, dirinya kesal dengan sikap gadis itu yang seakan ingin kabur dari masalah.


"Sora, kau tahu? Aku sudah bekerja dengan keluarga ini selama 6 tahun, aku sangat mengenal mereka. Bapak dan Ibu bukan orang jahat, mereka sangat baik. Kita sangat beruntung bekerja di keluarga ini, kau tidak akan mendapatkan pekerjaan dan gaji yang lebih baik jika kau keluar dari sini." ucap Mbak Ika sambil terus mengusap lengan gadis itu.


"Ya, dan kau belum tentu menemukan majikan setampan Bapak diluar sana. Disini kau bisa bekerja dengan gaji yang besar, dan juga bonus pemandangan indah setiap hari." Miss Diana tersenyum penuh arti saat membayangkan wajah majikannya yang luar biasa tampan.


Mbak Ika yang mendengar itu sontak memukul paha janda 42 tahun itu. "Hussh, isi otakmu itu tidak pernah bisa jauh-jauh dari pria!" omel Mbak Ika. Miss Diana hanya tersenyum simpul.


Miss Diana memang selalu begitu, tak jarang dirinya mengajak kedua temannya itu bergosip tentang kaum pria, baik itu majikannya sendiri ataupun beberapa aktor tampan yang berperan di sinetron channel TV ikan terbang. Kalau mau mencari informasi tentang pria tampan dan terkenal, kalian bisa meminta bantuannya. Otaknya sudah seperti hard disk yang berisi semua hal tentang pria tampan, bahkan sampai jadwal mereka memotong rambut pun diketahuinya. Hmm.


"Sora, besok kalau Bapak dan Ibu sudah pulang, datanglah pada mereka. Minta maaf dan ceritakan yang sejujurnya, katakan kau menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Aku yakin mereka akan memaafkanmu." lanjut Mbak Ika.


"Tapi, aku takut Mbak... Bagaimana jika mereka melaporkanku ke polisi? Aku masih harus membantu biaya pengobatan Ibuku di kampung."


Miss Diana menggeleng, "Isi kepalamu ini apa? Jangan terlalu berlebihan! Mereka tidak ada waktu untuk berurusan dengan polisi hanya karena masalah sepele, kau tidak melihat bagaimana sibuknya mereka? Apalagi mereka akan memiliki anak, kau tidak sepenting itu untuk diurus!" sembur Miss Diana. Gadis di depannya itu benar-benar polos dan bodoh.


"Tapi, aku..."


"Cukup menyesal dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh, berjanjilah tidak akan mengulanginya lagi. Bapak dan Ibu pasti mengerti." ucap Mbak Ika memotong pembicaraan Sora.


Sora mengangguk. Ia sedikit lega dan bersyukur bertemu dengan orang sebaik Mbak Ika dan Miss Diana, tadinya Ia mengira mereka akan mencerca dan menghinanya habis, namun ternyata tidak. Keduanya justru mengerti akan situasinya, membuatnya semakin merasa bersalah karena melakukan hal serendah itu.


"Hey, aku sudah tahu nama Mas Ganteng dirumah sebelah!

__ADS_1


__ADS_2