Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
In a Mood


__ADS_3

Sinar matahari yang sangat terik, dan hembusan angin kering langsung menyambutku begitu aku menginjakkan kaki di teras kamarku di resort.


Ini pertama kalinya aku duduk di tempat ini sejak Sean meninggalkanku dan Mia di Queensland. Hidup terasa sangat membosankan sejak hari itu. Sudah lima hari dia berada di Indonesia tanpa memberiku kabar sama sekali. Hanya Ameer yang sesekali mengirim pesan untuk mengatakan bahwa Sean baik-baik saja.


Aku tidak tahu sebesar apa masalah yang disebabkan oleh Dave di perusahaan, dan tidak ada juga yang bisa kulakukan untuk membantu selain duduk tenang dan menahan diri agar tidak merengek seperti anak kecil. Aku percaya Sean tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatku kecewa, dia hanya sedang fokus untuk membereskan semuanya dengan cepat supaya bisa segera kembali kesini.


Aku menghela napas, memandang jauh ke arah lautan yang membentang luas di hadapanku. Sejauh yang bisa kulihat hanya ada beberapa orang sedang bermain di tepi pantai serta beberapa pria yang sedang berselancar.


Aku sempat mencoba mengalihkan pikiranku dari Sean dengan menyibukkan diri menggambar pola di buku sketsa dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan wanita pada umumnya, tapi itu tidak bertahan lama. Segera setalah kegiatan itu terhenti, aku akan kembali teringat pada makhluk jantan dan seksi itu.


Sejak Sean pergi, aku belum sekalipun mengunjungi rumah hutan. Dan sekarang aku merindukan tempat itu, seperti apa keadaannya sekarang? Apakah dia sudah berubah menjadi kandang binatang buas? Apakah para penghuni hutan itu sedang bersenang-senang disana?


"Apa yang kau pikirkan?" Aku menoleh dan mendapati Mia sedang berdiri di ambang pintu di belakangku sambil memegang dua botol bir, memandangiku dengan tatapan ingin tahu. Kedua matanya menelusuri wajahku lekat-lekat, seakan tengah mencoba memecahkan teka-teki yang ada disana selagi dia berjalan ke arahku.


Aku memutar kembali kepalaku, memandangi lautan. "Hanya beberapa hal yang tidak penting." sahutku malas.


"Kau tidak akan memikirkannya jika itu tidak penting." balasnya sambil menahan tawa.


Mia mengambil tempat duduk di sebelahku dan meletakkan salah satu botol di atas meja sementara yang satunya tetap berada di tangannya.


Untuk beberapa saat kami hanya diam dengan arah pandangan yang sama.


"Apakah dia belum menghubungimu?" suara Mia akhirnya terdengar memecah keheningan di antara kami.


Aku menghela napas berat, lalu mengangguk pelan. "Hm... sepertinya keadaan perusahaan memang benar-benar kacau."


Lagi-lagi keheningan terjadi ditempat kami duduk. Bertolak belakang dengan diriku yang tak bersemangat, Mia tampak setenang mentimun. Belum ada kalimat sinis yang parah atau sindiran untuk menggangguku seperti yang biasa dia lakukan. Biasanya hal itu akan membuatku kesal, tapi sekarang kupikir itu bisa sedikit mengalihkan pikiranku dan meredakan kegelisahanku.

__ADS_1


Bukan hanya karena Sean tidak ada disini, tapi juga karena aku masih harus fokus menghadapi masalah PTSD-ku sendiri. Aku benar-benar ingin melepaskan semua jerat masa lalu yang membelengguku selama ini agar bisa menjalani hidup dengan normal tanpa rasa takut atau cemas yang berlebihan.


Aku melirik Mia, dia sedang bersandar sambil memejamkan mata di kursinya. Sepertinya anak ini terlalu tenang mengingat dia sendiri juga memiliki masalah yang tidak ringan. Inilah kelebihan Mia yang membuatku bangga sekaligus iri. Dia selalu bisa mengatur waktu kapan harus bersedih, dan kapan harus mengakhirinya.


"Mia," Dia membuka mata lalu menolehku. "Apa kau masih berhubungan dengan pria itu?"


"Tidak," Aku mengamati wajahnya lekat-lekat, mencari apakah ada kebohongan disana. Tapi aku tidak menemukan apapun. "Well, dia masih berusaha menghubungiku, sebenarnya." lanjut Mia lagi.


Aku mengangguk pelan. "Jadi, itu berarti kau yang mengabaikannya?" tanyaku memastikan.


"Ya. Tidak ada lagi alasan aku harus berhubungan dengannya, bukan? Aku sudah memutuskan semuanya sejak terakhir kali kami bertemu, dimana akhirnya salah satu dari wartawan sialan itu mengambil foto kami secara diam-diam lalu menyebarkannya." kata Mia dengan nada geram yang amat kentara.


Aku memajukan tubuhku untuk meraih sebotol bir dari meja, lalu meneguknya sedikit dan meletakkannya kembali sebelum aku memutar kepala ke arah Mia lagi. "Bagaimana dengan Jason?" tanyaku sopan dan hati-hati. Bagaimanapun, kurasa aku perlu mengetahui sudah sejauh apa hubungan mereka.


Mia adikku, dan aku memiliki tanggung jawab yang besar untuk memastikan dia benar-benar belajar dari pengalamannya. Jason sendiri sebenarnya pria yang baik, namun itu tidak menjamin apa-apa. Yang kuinginkan adalah, jika memang mereka benar-benar melangkah ke arah yang lebih serius, maka keduanya harus melakukan semuanya dengan benar. Jangan sampai kejadian seperti ketika Mia bersama walikota itu terulang lagi.


Mia menunduk, dan dia terlihat menelan ludah. "Aku tidak tahu." ujarnya lirih, lebih mirip seperti bisikan. "Jason pria yang baik, dan kelihatannya dia memang tertarik padaku. Tapi aku belum yakin. Masih banyak hal yang perlu kupertimbangkan dalam hubungan kami."


"Ya, dia cukup asik untuk ukuran seorang pria yang masih patah hati." Mia tersenyum padaku, mencoba terlihat santai namun aku melihat kegetiran di matanya.


Jarang sekali aku menyaksikan dia terbebani seperti ini. Sejak dulu Mia tidak pernah memendam masalahnya, tapi belakangan dia tampak berbeda meskipun dia selalu berusaha menutupinya. Orang-orang mungkin tidak bisa melihat perbedaan dari sorot matanya yang menyimpan kesedihan, tapi aku bisa.


"Kau benar, Jason memang pria yang menyenangkan." gumamku menyetujui ucapannya.


"Kau tertarik padanya?"


Aku sontak memutar bola mata dengan keras. "Oh, come on... pria-ku jauh lebih hebat darinya." cetusku, menyombongkan diri. Dan aku tidak salah, Sean memang lebih hebat dari siapapun.

__ADS_1


Mia menyeringai lebar. "Ya, tidak diragukan lagi." balasnya ketus, mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu menggeleng dan mulutnya berdecak.


Tawaku seketika terdengar. Belum sempat aku mengatakan sesuatu untuk menjawabnya, dia sudah berbicara lagi. "Kalian memang pasangan paling mengerikan yang pernah ada." lanjutnya, yang membuat tawaku semakin lepas.


Aku menyapu setitik air mata yang lolos di ujung mataku dengan ibu jari. "Aku tidak percaya bisa merasakan hidup lagi setelah bercerai dengan Nino. Maksudku, kau tahu bagaimana putus asanya aku dulu. Mengingat hari-hari itu, aku merasa bersyukur karena pada akhirnya berani mengambil keputusan yang cukup bijak. Entah apa yang akan terjadi jika aku tetap bertahan dengannya."


"Tentu saja kau tidak akan berada disini sekarang." sahut Mia, lalu meneguk bir-nya.


Aku mengangguk. "Ya, kau benar."


Aku beralih pada ponselku yang berdering di atas meja, mengulurkan tangan meraihnya sekaligus bir milikku dan mendapati nama Maggie tertera di layarnya. "Ya, Mags?"


"Apa kalian di resort?" tanyanya dari ujung telepon.


"Ya, ada apa?"


"Oh, bagus! Aku dan Sam akan kesana sebentar lagi dan akan menginap." cetusnya riang, seakan dia baru saja mendengar berita paling menyenangkan.


Aku tersenyum geli mendengar nadanya yang entah kenapa terdengar lucu. "Ya, datanglah." sahutku cepat. "Apakah kalian membutuhkan..."


"Tidak, kami tidak membutuhkan jemputan kalau itu maksudmu," ujar Maggie, memotong ucapanku. "Siapkan saja fisikmu, karena malam ini kita, para cewek akan berpesta."


Aku menarik ponsel dari telingaku sebentar untuk memastikan bahwa yang meneleponku benar-benar Maggie, soalnya dia terdengar agak lain. "Mags, apakah ini benar-benar kau? Maksudku, kau terdengar... berbeda."


Suara tawa Maggie membahana di seberang. "Ya ampun, kau lupa peraturannya, girl."


Aku mengernyit, lalu detik berikutnya tawaku meledak ketika aku paham maksud ucapannya. Maggie akan menggila jika dia sedang bermasalah dengan Matthew. Dan jika ditilik dari celotehnya, sepertinya masalah kali ini cukup besar.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu dan Matthew, Mags?"


"Itu tidak penting sekarang, yang terpenting adalah kau harus bersiap karena kita akan bersenang-senang malam ini, okay?"


__ADS_2