Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Dua Pria Kacau


__ADS_3

Teman-teman, jangan bingung ya!! Ceritaku tetap sama, tokoh dan karakternya tidak ku ganti sama sekali. Aku hanya mengganti gaya penulisannya agar lebih menarik. Enjoy!!


***


Aku dan Denise masuk ke sebuah rooftop bar dengan konsep outdoor di daerah kemang, kami memilih meja kosong yang terletak di pojok sebagai tempat duduk, menghadap ke sebuah kolam renang, membelakangi pelanggan lain.


Seorang pelayan datang membawa buku menu dan menyodorkannya padaku. Aku memesan satu paket bir yang berisi 5 botol kecil produksi heineken untuk kami dan satu porsi steak untukku, aku baru ingat kalau aku melewatkan makan siangku, juga aku tidak ingin minum dalam keadaan perut kosong, sementara Denise tidak makan. Dia memesan camilan sebagai gantinya.


Apakah aku Ibu yang buruk karena meninggalkan putraku dirumah sementara aku mabuk-mabukan? Oh, tidak! Aku hanya melakukannya sesekali. Lagipula Ben sudah berhenti menyusu karena produksi asiku berhenti akibat aku tekanan yang ku alami saat awal-awal perceraianku, Ben meminum susu formula sebagai gantinya. Masa-masa itu sungguh menyulitkan. Tapi aku senang bisa bangkit sekarang, aku berhasil melewatinya meskipun harus jungkir balik mengembalikan kepercayaan diriku yang sempat hilang.


Aku mengeluarkan ponselku dari structured bag Louis Vuitton favoritku, setahun belakangan selain bekerja gila-gilaan, aku juga sering berbelanja barang-barang mahal yang jarang ku lakukan dulu, aku ingin menikmati hidup dengan melakukan apapun yang ku inginkan, tak jarang aku mengajak keluargaku untuk liburan meskipun hanya sekedar staycation di hotel mahal untuk mengganti suasana apartemen yang kadang mulai terasa membosankan.


"Bos, apa kau tidak ingin dekat dengan pria lagi?" Aku menatap Denise, dia tiba-tiba bertanya padaku sambil bertopang dagu dengan sebelah tangannya dan tangan lain memutar-mutar ponselnya.


Aku tersenyum, "Tentu saja aku mau, kenapa memangnya? Kau mengenal seseorang?" jawabku jujur, aku tidak ingin munafik dan mengatakan aku akan hidup menjanda sampai mati, aku juga butuh teman hidup yang bisa menemaniku saat tua nanti.


Denise menggeleng, "Tidak, hanya saja aku tidak mengerti jalan pikiranmu, bos! Ada dua pria tampan yang selalu mengejarmu mati-matian, tapi tidak satupun diantara mereka yang mampu menarik perhatianmu." kata Denise sambil menggelengkan kepalanya lagi.


"Sejak kapan kau tertarik dengan kehidupan pribadiku, Denise? Kau tahu sendiri bagaimana menyebalkannya mereka, aku tidak ingin membuang waktuku secara sia-sia." aku memutar bola mataku, membayangkan dua pria yang dimaksudnya membuatku malas.


"Okelah, kalau mantan suamimu mungkin kau sudah bosan, tapi yang satunya bagaimana, bos? Ya, Tuhan, kau sungguh tidak tertarik padanya? Kenapa kau menolaknya terus-menerus, kau tidak bisa melihat kesungguhannya?" Denise mulai antusias, selama ini memang aku jarang meladeninya jika bertanya masalah pribadi, aku tidak nyaman saat harus menceritakan kisahku pada orang lain, terlebih kisah menyedihkan.


Aku meletakkan ponselku di meja dan melipat kedua tanganku didada, "Apa yang membuatmu begitu yakin kalau dia menyukaiku?" pancingku, aku ingin melihat sebaik apa pengamatannya terhadap pria.


Denise berpikir sebelum akhirnya menjawab, "Hmm, dia tampan, baik, kaya, dan yang paling penting dia gigih. Sangat gigih! Kau tahu, bos, tidak banyak pria sepertinya yang tersisa. Jika aku jadi kau, aku akan langsung menerimanya begitu dia mengungkapkan perasaannya, bos!" katanya sambil tersenyum, matanya terpejam, mungkin membayangkan dia akan bersama pria yang dimaksudnya tadi.

__ADS_1


Aku terkekeh melihat tingkahnya, bahkan sekarang dia memegang kedua pipinya, "Apa yang kau pikirkan?" kataku sedikit keras, Denise langsung tersenyum kikuk saat aku menghentikan khayalannya.


"Kau pasti tahu apa yang ku pikirkan, bos!" Denise menaikkan kedua alisnya menggodaku, aku memutar mata sebagai respon.


Belum sempat aku menjawab, seorang pelayan datang membawakan pesanan kami, perutku langsung meronta begitu melihat steak medium rare pesananku, dengan cepat aku menyambar garpu dan pisau setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan tadi.


"Bos, sejak kapan steak berkencan dengan bir?" Denise protes dengan pesananku, tidak ada wine yang harusnya menjadi pasangan untuk steak-ku.


"Sejak hari ini! Aku sedang menemanimu yang galau, bukan sedang makan malam romantis bersama kekasihku, tidak perlu wine!" Aku baru saja akan menyuapkan potongan pertama saat mendengar suara yang sangat ku kenal.


"Kau bisa menerimaku sebagai kekasihmu dan kita akan makan malam romantis."


Ya, Tuhan! Aku sedang kelaparan, butuh makan, bukan pria pengganggu sepertinya, bisakah tolong jauhkan dia dariku, Tuhan?


Aku tidak peduli padanya, ku lanjutkan makanku tanpa menoleh.


Pria tadi duduk tepat disebelahku, diangkatnya structured bag kesayanganku dan meletakkannya di kursi sebelah Denise, lalu dengan santainya meminum bir yang kupesan.


"Apa kau melewatkan makan siangmu lagi?" tanyanya padaku, aku tidak menjawab. Selain malas berbicara dengannya, aku juga lebih menginginkan steak-ku segera pindah ke perut.


Aku terus makan dan mengabaikannya, terlalu melelahkan jika menanggapi obrolannya yang itu-itu saja. Membosankan!


Pria itu memanggil seorang pelayan, lalu memesan satu paket bir tambahan. Aku melirik, ternyata dia sudah menghabiskan 2 botol bir yang ku pesan tadi, padahal makananku belum habis. Apakah dia kehausan? Kenapa tidak memesan air mineral? Tanyaku dalam hati.


Aku menarik mundur kepalaku saat tangannya lewat, nyaris menyentuh hidungku, dan mengambil botol mineral milikku, lalu menghabiskannya dalam satu tegukan. Apa ini? Apa dia tahu isi kepalaku?

__ADS_1


"Aku haus!" katanya sambil tersenyum, tidak merasa bersalah sedikitpun. Sungguh, aku ingin memakinya. Bolehkah aku memakinya sekarang?


"Kau jelek saat cemberut, aku tidak menyukainya."


Aku meletakkan garpu dan pisauku, tidak sanggup lagi menghabiskan steak yang tadinya begitu menggoda karena rasa kesalku benar-benar tidak bisa ku tahan lagi.


Aku menatap tajam pria itu, menunjukkan betapa aku tidak suka dengan kehadirannya, "Bisakah kau berhenti menggangguku?" kataku dengan lemas, aku sungguh kesal, namun pria ini tidak bisa dihadapi dengan kemarahan.


Dia tersenyum, menyebalkan sekali!


"Aku tidak mengganggumu, aku hanya ingin kau menerimaku sebagai kekasihmu. Sesulit itukah kau mengatakan 'Iya, aku mau'?" katanya sambil menirukan suara perempuan.


Ku tempelkan punggungku pada sandaran kursi, tubuhku melemas. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mengatasi pria ini, dia pasti akan muncul dimanapun aku berada, seperti pengangguran yang tidak memiliki hal lain untuk dilakukan. Tak pernah mundur meskipun aku memakinya dengan segala sumpah serapah dan koleksi kebun binatangku.


Aku meraih sebotol bir, dan meneguk hingga tersisa sedikit, memaksa cairan itu masuk sebanyak mungkin meskipun aku ingin muntah. Lalu menatapnya, "Apa kau tidak bosan? Aku tidak akan menerimamu, jadi berhentilah!"


"Kau dengar itu? Berhentilah, kau tidak akan bisa mendapatkannya!"


Ya, Tuhan! Kau sungguh mengujiku. Yang satu belum selesai, kini datang lagi yang lainnya. Aku benar-benar bisa gila sekarang! Kenapa aku harus terjebak dalam situasi ini? Tidak adakah ketenangan yang bisa aku nikmati, Tuhan? Tolong musnahkan dua manusia ini dari hadapanku sekarang!


Aku menangkupkan kedua tangan ke wajahku, dengan cepat aku berdiri mengambil tasku dan menyambar ponsel, mengeluarkan dompet dan menyerahkan salah satu kartu debitku pada Denise, "Tolong urus mereka, aku harus pulang sekarang. Maaf, sepertinya mereka akan lebih menghiburmu," kataku, lalu berjalan meninggalkan mereka bertiga. Aku tidak ingin berlama-lama disana dan menunggu dua manusia itu membuat kekacauan.


Aku berjalan cepat keluar dan langsung masuk ke dalam lift yang kebetulan kosong. Tepat saat pintu lift akan tertutup, dua pria tadi juga ikut berebut masuk. Aku sempat menangkap mereka mereka saling mengejek dengan senyum sinis di bibir masing-masing.


Sial!

__ADS_1


***


__ADS_2