Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Bro's


__ADS_3

Aku sedang berbaring di kamar lamaku di rumah yang di tempati kakakku, memandangi Ben yang sedang tertidur pulas di sampingku. Kemudian kudengar suara ibuku memanggilku dari bawah.


"Mom, ada apa?" Aku berjalan menuruni anak tangga dan mendapati ibuku sedang melangkah dari arah kamarnya menuju ke ruang tamu sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


Ibuku menoleh, "Hei, apa Ed sudah memberitahu kalau Sawyer akan datang besok?" tanyanya, lalu mengalihkan pandangan kembali ke ponselnya.


Uncle Sawyer adalah adik laki-laki ibuku, dia dan keluarganya tinggal di Selandia Baru. Terakhir kali aku bertemu dengannya ketika kakekku meninggal, sekitar enam tahun yang lalu, sewaktu aku masih menikah dengan Nino.


"Uncle Sawyer? Ed belum mengatakan apapun padaku." Aku berhenti di depan ibuku dan mencium pipinya sekilas.


"Ah, besok dia datang," Ibuku menatapku sambil tersenyum tipis. "Hanya berdua dengan Rob. Ajak suamimu untuk menyapa mereka besok, Sawyer pasti senang berbicara dengannya."


"Sure," kataku sambil tersenyum dan memeluknya dengan erat. "He'd love to."


Ibuku balas memelukku, ketika pelukan kami terlepas, aku melihat senyumnya juga ikut menghilang. "Minggu depan adalah hari ulang tahun ayahmu, kita sekeluarga akan memperingatinya dan mommy perlu mengurus semuanya..." katanya padaku, dan senyumku memudar seiring dengan kesedihan yang kurasakan.


Aku mengangguk pelan, "Oh, okay." sahutku, nyaris lupa bahwa sudah lebih dari tiga tahun berlalu sejak kepergiannya.


Harusnya ini menjadi ulang tahunnya yang ke 68. Sayangnya, dia harus meninggal karena seseorang yang tidak bertanggung jawab sudah menabraknya. Sampai sekarang kami tidak tahu siapa orang itu.


Senyum tipis muncul di sudut ibuku. Dia memelukku sekali lagi sambil menepuk punggungku pelan, "Yes... well, mommy harus pergi sekarang, supir sudah menunggu di depan."


Aku mengangguk. "I love you, mom."


Dia meraih tas nya dari atas meja sofa, lalu mencium pipiku. "I love you too, sweetie!" Dia berbalik dan melangkah meninggalkanku.


Aku duduk di sofa selama beberapa waktu, memikirkan ayahku. Sampai sekarang aku belum bisa percaya bahwa dia mengalami hal tragis di akhir hidupnya, persis seperti apa yang dialami oleh kedua orang tuaku. Sering terlintas di pikiranku bahwa kehidupan tidak selalu adil kepada semua orang.


Sejak kecil ditinggalkan oleh kedua orang tuaku dengan cara yang menyakitkan, lalu ayahku satu-satunya pria yang yang kukenal sebagai ayah dalam hidupku juga harus meninggalkanku, kemudian mantan suamiku menghianatiku.


Jika aku harus kembali kepada saat-saat itu, mungkin aku tidak yakin aku akan duduk di sofa ini sekarang. Momen saat kau kehilangan seseorang adalah sesuatu paling menyakitkan yang akan terjadi dalam hidupmu, kau tidak akan pernah siap menghadapinya sekalipun kau tahu bahwa setiap orang akan mengalami itu.


Mengingat kembali masa kecilku bukanlah hal yang mudah, dimana aku harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bisa menerima kenyataan atas kepergian kedua orang tuaku. Rasa traumaku bahkan tidak bisa hilang hingga saat ini, terkadang aku masih sering merasa ketakutan terutama saat sedang sendirian seperti ini, tapi sebisa mungkin aku selalu berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak bertindak bodoh seperti yang pernah kulakukan di waktu lalu.

__ADS_1


"Panda, kau datang?" suara kakakku menarik pikiranku kembali.


Aku menoleh dan mendapati dia tengah melangkah mengitari ruangan ke arahku. "Ya,"


Dia memandangiku dengan tatapan aneh selagi mendekatiku. "Ada apa?" tanyanya dengan raut bingung.


Aku mengeryit, tidak mengerti maksud pertanyaannya. Namun belum sempat aku mengatakan sesuatu, dia berbicara lagi. "Apa sesuatu terjadi? Kenapa kau menangis?"


Aku mengerjap, lalu menyentuh pipiku dan baru menyadari bahwa aku benar-benar menangis. Aku menggelengkan kepala, merasa geli pada diriku sendiri. "Kemarilah," kataku sambil menepuk sofa di sebelahku.


Kakakku menyipitkan mata, namun tetap menempatkan bokongnya di sofa. Begitu dia berada di sampingku, aku langsung memeluknya dan mencium pipinya. "Aku merindukan ayah." ucapku pelan seraya menyandarkan tubuhku ke lengannya.


Untuk beberapa saat dia hanya terdiam, namun aku tahu dia merasakan hal yang sama saat aku mendengar deru nafasnya yang berat. "Ya, aku juga." dengkurnya menyetujuiku.


"Ed, apa kau ingat saat aku dan ayah mandi hujan malam-malam dirumah nenek?" tanyaku, melayangkan pandangan ke arah foto keluarga kami yang menempel di salah satu dinding di ruang tamu.


Tawa pelan terdengar dari mulut kakakku. "Setelah aku menghancurkan rumah-rumahanmu? Mana mungkin aku melupakannya."


Kami terdiam selama beberapa saat hingga suara kakakku terdengar memecah keheningan. "Bagaimana kehamilanmu?" katanya, berusaha mengganti topik pembicaraan.


Aku tahu kami berdua sama-sama merindukan ayah, namun membicarakannya sambil menangisi kepergiannya bukan sesuatu yang menyenangkan. Akan lebih baik jika kami mengingatnya dengan suasana hati yang lebih riang, mungkin kami akan tertawa saat kejadian-kejadian lucu bersama ayah terlintas di kepala kami masing-masing.


Aku membuka mata, menatap perutku dan mengusapnya dengan sebelah tangan. "Baik, dia sangat sehat, empat bulan lagi kita akan bertemu dengannya." sahutku tenang, sudah tidak sabar ingin melihatnya. "Hei, kapan kau menikah?" tanyaku penasaran, sejauh ini dia belum pernah membawa gadis untuk dikenalkan kepada kami.


Dia tersenyum padaku, mulutnya terbuka untuk menjawabku, namun suara teriakan Ben yang berlari menuruni tangga seketika menghentikan kakakku.


"Nutella!" Ah, itu kesukaanku, tapi dia tidak akan memakan itu sekarang.


Aku dan kakakku tertawa memandanginya mendekati kami. "Not now." kataku saat dia sudah duduk di sebelahku.


Wajahnya yang menggemaskan itu memberengut menatapku, dengan rambut yang agak berantakan. "Where's granny?"


Aku mengangkat bahu, "She's leaving." sahutku santai, tahu bahwa dia akan meminta pada ibuku. Namun kali ini malaikatnya itu sedang tidak berada disini.

__ADS_1


Ben mengalihkan pandangan ke arah kakakku, memasang raut meminta pertolongan, tapi dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. "Sorry, kid," kata kakakku sambil melirikku dari ujung matanya.


"Mom, please?"


"No,"


Ben menundukkan kepala. "I want to call granny."


Alisku bertaut. "So you can get your Nutella?" Aku menggelengkan kepala "Ben, that's not nice. Kau tidak bisa mendapatkan semua yang kau mau setiap saat, sometimes you have to work for it."


Aku mengangkat wajahnya agar bisa melihat ekspresinya, "Mommy tidak suka kau bersikap seperti itu, Ben. Nutella-mu tidak akan kemana-mana, kau hanya perlu menunggu beberapa waktu sampai kau mendapatkannya lagi. You got it?"


Dia mengangguk, lalu mememelukku. "I'm sorry, mom."


"Oh, don't be. Are we good now?"


"Yes, can I get an ice cream instead?"


Aku menyipitkan mata, berpura-pura memikirkan permintaannya sambil menikmati ekpresinya yang penasaran, menunggu jawabanku. Kemudian dia menunduk, seakan menyerah dan menebak bahwa aku tidak akan mengijinkannya. "Take the biggest one and we'll share."


Dia menatapku dengan senyum lebar, "Yeah?" tanyanya sekali lagi.


"Yes, go get it."


Dengan secepat kilat dia langsung berlari ke arah dapur untuk mengambil es krim. Aku dan kakakku memandanginya sambil tertawa.


"Persis seperti kau." kata kakakku padaku.


Aku mengangguk, menyetujuinya. Sewaktu kecil aku juga sering bertingkah seperti itu jika ingin mendapatkan sesuatu, merayu semua orang agar memberikan apa yang kuinginkan. Namun yang paling sering melakukannya adalah orang yang berada di sampingku saat ini. Dalam beberapa kesempatan kakakku adalah orang yang paling mengerti apa yang kuinginkan.


Aku menoleh menetapnya, lalu memeluk lengannya. "I love you, Ed. Terima kasih sudah menjagaku selama ini." gumamku bersungguh-sungguh.


Dia tertawa pelan, mengulurkan tangannya mengusap kepalaku. "I love you too, sissy. Aku senang melihatmu seperti ini, dan aku berharap semoga kehidupanmu lebih baik kedepannya."

__ADS_1


__ADS_2