
"Apa maksudmu tadi?" Nino langsung menyerangku begitu aku mendaratkan bokong pada sofa single. Aku menghela napas sebentar, ini tidak akan mudah.
"Aku dan Sean akan menikah."
"Aku mendengarnya, tapi kenapa? Apa kau tidak mencintaiku lagi? Bagaimana dengan Ben? Aku tidak mau ada orang lain menggantikanku, aku tidak mengijinkanmu!"
"Aku datang kemari bukan untuk meminta ijin, kau tidak memiliki hak untuk melarangku. Aku datang karena menghargaimu sebagai Daddynya Ben. Kau tidak perlu khawatir soal Ben, Sean tidak akan menggantikan posisimu, aku bisa memastikan kau tidak akan kehilangan tempatmu."
"Tapi, bagaimana denganku? Apa kau tidak bisa melihat kesungguhanku? Kenapa kau meninggalkanku dan memilih pria itu? Kau bahkan tidak mengenalnya dengan baik!"
Nino berdiri, kulihat dari sudut mataku dia sedang meremas rambutnya sambil membelakangiku. Jelas dia merasa frustasi sekarang, aku tahu ini tidak mudah baginya, tidak juga untukku. Aku juga merasakan kesulitan yang sama, namun aku harus melakukan ini. Aku tidak bisa terus menahan diri demi menjaga perasaannya, hubungan kami sudah berakhir sejak setahun lalu.
"Nino, bisakah kita membicarakan ini sebagai orang dewasa? Jangan bersikap kekanakan..."
"Kekanakan katamu? Lalu, kau apa? Bagaimana bisa kau memutuskan menikah dengan pria yang tidak kau kenal sama sekali? Bahkan kau masih mengacuhkannya beberapa hari lalu, dan sekarang kau datang memberitahuku tentang pernikahan kalian, kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu? Jangan membohongiku untuk menghindar, Franda!"
"Aku tidak memintamu untuk percaya! Aku sudah berusaha menahan diri selama ini agar tidak menyakitimu. Sadarlah, kita sudah berakhir! Tidak ada sedikitpun yang tersisa selain Ben, hanya Ben alasanku untuk tetap berhubungan denganmu."
"Kau akan melupakanku begitu saja? Tolong lihat aku sebentar, apakah perjuanganku untuk mendapatkanmu kembali tidak berarti apa-apa bagimu? Aku mengusahakan semuanya untukmu, Franda! Setidaknya pertimbangkan untuk kembali bersamaku, beri aku satu kesempatan lagi. Kumohon, hanya satu kesempatan..."
Ah, dia memulai lagi. Aku sungguh muak dengan ini!
"Kenapa kau egois sekali... Apa kau pikir mudah bagiku melalui semuanya? Jangan menyalahkanku dan mengatakan omong kosong soal perjuangan, aku tidak pernah mengharapkan apapun. Berapa kali aku memintamu berhenti, kau tidak perlu melakukan apapun untukku karena kita tidak bisa bersama lagi. Jadi, jangan menyalahkanku hanya agar membuat dirimu merasa lebih baik. We're done!"
Nino kembali duduk, matanya menatapku dengan sendu, begitu menyedihkan. Raut kekecewaan dan kemarahan jelas tergambar disana, berpadu dengan indah, membuat siapa saja pasti iba melihatnya. Aku membuang pandangan agar tidak beradu dengannya, jangan sampai rasa kasihanku muncul dan membuatku menghambur begitu saja ke pelukannya.
"Franda, tolong batalkan rencana pernika..."
__ADS_1
"Kau gila? Apa hakmu memintaku membatalkannya? Sudah kukatakan, aku tidak membutuhkan ijinmu untuk menikah, ini hidupku, aku yang berhak memutuskan apapun untuk hidupku. Kau tidak perlu repot-repot membuang waktumu untuk mengurusiku!"
Kulihat Nino menunduk, aku bisa menangkap seringai tipis disudut bibirnya, entah kenapa aku merasa takut melihat itu. Perasaanku mulai tidak enak, saat Nino mengangkat kepala dan tersenyum padaku, senyum yang terkesan mengejek. Aku yakin dia merencanakan sesuatu.
"Ok, baiklah... Kau boleh menikah dengannya, dengan syarat temani aku malam ini, atau aku akan merebut Ben darimu." Aku tersentak mendengarnya, kenapa dia begitu percaya diri aku akan menurutinya? Apa, syarat? No way! Aku berdiri, merapikan gulungan lengan t-shirt-ku, dan mengambil shoulder bag Gucci-ku, lebih baik aku pergi sebelum Nino semakin menggila.
"Sepertinya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, kuharap kau mengerti maksud kedatanganku. Aku permisi." kataku, lalu berbalik dengan cepat dan bermaksud meninggalkan Nino, namun langkahku terhenti saat Nino memelukku dari belakang.
"Tolong, jangan pergi!"
Aku menghela napas, kenapa harus begini lagi? Ku lepaskan pelukannya, aku berbalik dan menatapnya. Berusaha meminta pengertian padanya melalui mataku, berharap dia akan bersikap dewasa dan menerima keputusanku untuk menikah. Tidak ada alasan untukku kembali padanya, kisah kami sudah berakhir sejak dulu.
"Nino, aku menyayangimu, sungguh menyayangimu. Tapi aku tidak bisa menerimamu sebagai suamiku lagi, perasaanku padamu sudah berubah, aku tidak lagi menatapmu sebagai laki-laki, aku hanya melihatmu sebagai teman untuk berbagi hal tentang Ben, tidak lebih dari itu. Jangan menungguku, temukanlah kebahagiaanmu sendiri." jawabku berbohong, aku masih menatapnya sebagai laki-laki.
"Apa kau mencintainya?"
"Baiklah, tapi jangan menghindariku setelah ini." Nino memohon dengan lembut, dia begitu putus asa.
"Ya, akan kuusahakan. Aku tidak bisa berjanji jika sudah menikah nanti, suamiku bisa murka dan mencincangku jika terlalu dekat denganmu." kataku sambil bergidik ngeri membayangkannya. Apa? Suamiku? Ya, Tuhan! Sudah berapa lama aku tidak memikirkan hal itu.
"Hahaha, itu lebih baik daripada melihatmu bahagia bersama orang lain."
"Gila!" aku memukul lengan Nino pelan, lalu tersenyum. "Aku sungguh-sunguh saat mengatakan aku menyayangimu, aku ingin kau juga merasakan bahagia. Lupakan aku, mulailah membuka hati untuk orang lain. Kau bisa les masalah percintaan pada Mia dan Denise, asisteku. Dua orang itu levelnya jauh diatas kita, mereka akan membantumu mengatasi masalahmu nanti, hahahha."
Aku keluar dari apartemen Nino setelah kami berbincang sedikit lebih lama, kebanyakan bukan hal penting, melainkan usahanya untuk membuatku membatalkan pernikahanku dengan Sean. Sambil berjalan aku mengeluarkan ponsel dan melihat pesan dari Sean yang mengatakan dia menunggu di lobby, kumasukkan kembali ponselku, lalu mengikat asal keatas rambut yang sejak tadi kugerai untuk menghilangkan rasa gerah yang mulai mengusikku.
Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut lobby dan melihat Sean sedang duduk, matanya fokus menatap tablet ditangannya. Sejenak aku mengaguminya, bagaimana bisa dia tetap terlihat tampan saat duduk dengan wajah yang hancur begitu? Ahh, dia tampan? Ya, dia tampan! Aku tidak yakin apakah dia orang indonesia asli atau ada campuran. Wajahnya memang terlihat asia, murni khas asia, yang membuatnya terlihat bule hanya mata biru dan hidung pinokionya. Ya, hidungnya terlalu panjang untuk ukuran orang asia.
__ADS_1
Aku mendekati Sean yang belum menyadari kedatanganku, "Kau bekerja?" tanyaku mengagetkannya, aku turut mundur saat melihat dia tersentak. "Maaf, aku mengagetkanmu." kataku buru-buru.
Sean tersenyum, lalu berdiri dan merangkul pundakku, "Sudah selesai dengannya?"
"Ya,"
"Mau makan siang bersama?" tawar Sean, ini akan menjadi makan siang bersama untuk pertama kali sejak lamaran dadakan itu.
"Ya."
"Nanti malam aku akan menemui keluargamu,"
"Ya." Sean berhenti, menatap heran padaku.
"Ada apa?" tanyanya. Aku menunduk, lalu membuang napas kasar.
"Kita akan membatalkannya kalau kau tidak siap." ucapan Sean sontak membuatku mengangkat wajah dan membalad tatapannya. Sean tersenyum, tenang sekali. Aku menggeleng, tidak! Jangan sampai batal, aku tidak mau Nino kembali berharap padaku. Usahaku membujuknya tadi akan sia-sia.
"Tidak perlu, kita akan tetap menikah."
"Kau yakin? Aku tidak masalah kalau harus menunggu lagi, sebulan atau bahkan 3 bulan bukan masalah bagiku. Aku sudah melewati 16 tahun untuk menunggumu, jadi aku akan baik-baik saja. Bagaimana?"
"Kita akan melakukannya. Now or never!"
***
Komen, komen, komen!
__ADS_1
Like, like, like!