
Perjalanan menuju hotel terasa sangat lama dan panjang. Sean memutuskan membawaku ke hotel karena terlalu lama kalau kami harus pulang ke rumah meskipun jaraknya tak terlalu jauh. Dia begitu bersemangat untuk menuntaskan hasratnya yang tertahan selama berbulan-bulan. Sebenarnya aku bisa saja menghiburnya dengan bagian tubuhku yang lain, tetapi Sean melarangku. Dia mengatakan akan menunggu hingga tubuhku benar-benar mampu menerimanya.
Aku melirik Sean yang menggerutu di sebelahku. Sejak tadi dia berkali-kali mengatakan pada Ameer untuk melajukan mobil lebih cepat sementara aku berusaha menenangkannya. "Tenanglah, Sean. Malam masih panjang, dan matahari baru akan terbit sepuluh jam lagi." ujarku sambil terkekeh.
Sean mendengus namun tak menjawabku. Dia membuang pandangan ke arah jalanan yang terlihat masih ramai dan sesak. Sementara aku bergidik ngeri membayangkan bagaimana dia akan menghabisiku setelah menahan diri selama berbulan-bulan. Bisa di pastikan takkan ada ampun bagiku malam ini. Aku akan bersyukur jika besok saat terbangun kakiku masih mampu berjalan dengan baik seperti malam ini. Demi Tuhan, aku meragukan kenyataan itu.
Akhirnya kami sampai di pelataran hotel Four Season yang gemerlap. Setelah mobil terparkir di depan lobi, kulihat Sean bergerak keluar lalu tak lama dia sudah berada pada bagian pintu di sampingku. Aku mengangkat tangan untuk menyambut uluran tangannya dan dia menarikku keluar dari mobil. "Tidak ada jalan untuk kembali, Nona." Tubuhku gemetar mendengar suaranya yang serak dan berat sementara aku memaksa kakiku turun untuk mengikuti langkahnya.
Sepanjang jalan aku hanya terdiam. Tak sanggup membuka mulut untuk menggodanya seperti yang tadi kulakukan saat kami masih berada di restoran. Keliaranku tiba-tiba menguap entah kemana. Hatiku berdebar tak karuan, bibirku kering, dan aku yakin wajahku akan terlihat seputih kapas jika aku tak menggunakan riasan sekarang.
Sambil melangkah dan bersandar di lengan Sean, kami melintasi tiap-tiap koridor bersama seorang porter yang mengantar kami menuju kamar. Aku dan Sean masih terdiam sampai kami tiba di depan kamar presidential suite di lantai sembilan belas.
Kami pun masuk begitu pintu terbuka. Sean mendudukkan diriku di tepi ranjang seraya dia mencetus padaku. "Kau harus bertanggungjawab karena berani menggodaku, Franda."
Merasakan sesuatu membakar dari suaranya, aku pun tersadar untuk menantangnya. Mataku bermain sementara tubuhku merunduk untuk melepaskan hak tinggiku. "Bagaimana aku harus membayarmu, Sean? Aku sudah lupa cara bersenang-senang di atas ranjang." genitku.
Mata Sean sontak membulat, membuatku nyaris terbahak. "Kau... sialan!" Sean melepaskan jasnya dengan tergesa-gesa lalu mendorongku dengan kasar sampai aku terbaring dan memekik.
__ADS_1
Napasku tercekat ketika dia bergerak naik ke ranjang dan berada tepat di atasku. Wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahku, membuatku semakin panas karena merasakan sapuan napasnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang bisa bertahan berbicara dengannya sehingga tidak ingin membawanya pulang dan segera menguncinya di dalam kamar.
Sean menggerakkan tangannya untuk mengusap pipiku. "Franda," desahnya lirih. "Aku tidak tahu apakah aku harus menyembahmu atau menghukummu karena berani menggodaku." Aku semakin gemetar dan berdenyut. Suaranya yang magis sungguh membuatku gila dan nyaris mati.
Mulutku berusaha membalasnya sementara merasakan sekujur tubuhku menegang. "Kupikir... aku memilih yang kedua." gumamku serak, setengah berbisik. Sean menggeram, matanya menggelap karena tertutup gairah.
Aku masih berusaha mempertahankan diri untuk tidak mencium mulutnya yang kini tepat di hadapanku. "Franda, kau akan hancur jika aku menghukummu."
Aku menyentuh bibir Sean dengan telunjukku. "Lakukan saja, sayang. Kau sudah melewatkan beberapa menit terbuang sia-sia."
Sean menggodaku dengan menggoyangkan pinggulnya, membuat bagian tubuhnya yang paling indah dan nikmat ikut menari. Sontak aku tertawa keras melihat tingkahnya yang benar-benar menirukan seorang penari pria di klub gay. "Apakah kau menyukai pertunjukanku, Franda?" Suara tawaku semakin kencang sampai perutku terasa melilit kala dia mengangkat kedua tangan dan menaruhnya di belakang kepala sementara pinggulnya terus berputar dengan cara paling erotis.
"Kau baru saja membuktikan ucapanku kemarin, Sean." gumamku di sela-sela tawaku yang keras.
Ketika dia bergerak lebih liar lagi sambil menyentuh bagian tubuhnya yang mengeras dan penuh, aku tak tahan lagi. Dengan cepat aku berguling dan meraih bantal lalu melemparnya. Dia pun tertawa lalu melompat ke ranjang, membuat tubuhku yang kecil terpental namun tak sampai terjatuh. Aku masih tertawa saat sean tiba-tiba menarik pinggulku dan membuka kasar gaunku.
Sean kembali ganas, liar, dan tanpa ampun. Dia melepaskan gaunku cepat-cepat lalu kedua tangannya yang besar menangkup dadaku. Aku mendesah dan punggungku melengkung merasakan serbuannya yang tiba-tiba. Mulutku merintih ketika dia menggigit puncak dadaku, namun segera terasa nikmat saat lidahnya yang lembut menyapu dengan lihai.
__ADS_1
Sean membujukku dengan cara yang memang akan membuat wanita manapun menjerit, dia begitu ahli dan handal dalam memberikan kepuasan. Aku memejamkan mata dan kepalaku mendongak sementara dia menghisapku lebih keras dan lebih liar seolah sedang meneguk air sebanyak mungkin setelah tersesat berhari-hari di gurun pasir yang gersang.
Sekarang mulutnya menggoda mulutku, keningnya menempel di keningku, tubuhnya yang kuat menahanku untuk tidak bergerak. Aku tertawan, dengan bibir terbuka untuk menerima belaian lidahnya yang kasar. Ketika dia mengerang di mulutku, aku merasa lebih nikmat lagi karena dia semakin menikmati bibirku. Aku terlalu terbuai oleh rasa nikmat tak tertahankan dalam ciuman kami. Aroma tubuh Sean yang kuat dan jantan sendiri membuatku terbius. Segalanya yang terpancar dari tubuh Sean membuatku gila dan lemah. Dia begitu liar... begitu mendominasi...
Leherku melengkung saat mulutnya meluncur ke leherku. Lidahnya yang panas membelai lembut lalu menggigit pelan. "Ah... Sean." Aku merintih nikmat saat dia menghisap kuat leherku sementara pinggulku bergerak liar menahan denyutan keras di antara kedua pahaku. Aku ingin bergerak untuk memuaskannya tetapi Sean menahanku dan membiarkan aku menikmati ungkapan kerinduannya akan percintaan kami yang selalu panas dan mendebarkan.
Aku tersentak saat tiba-tiba Sean menghujamku tanpa peringatan. Tangannya meremas pinggulku kuat-kuat sementara mulutnya menggeram seperti binatang buas yang kelaparan di tengah hutan. Betapa menakjubkan kenikmatan yang kurasakan saat dia memberiku desakan yang dalam dan lama sampai tubuhku berguncang-guncang hebat di bawahnya. Sean memberiku desakan bertubi-tubi yang amat kuat sampai aku menjerit dan menangis karena rasa nikmat tanpa ampun, sampai sekujur tubuhku bergetar melepaskan hasrat yang terkurung selama beberapa waktu.
Aku terbuai dalam tubuh yang menari dengan cara paling indah. Jiwaku melayang pada tempat yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Kakiku melilit erat pinggul Sean, kukuku bahkan harus meremas lengannya dan dia sendiri harus meringis menahan remasanku. Aku meremasnya dengan erat dan hangat sementara dia menghujamku dengan keras dan nikmat.
Sean selalu keras dan tak kenal ampun. Dia takkan peduli sekalipun aku menjerit dan menangis, karena Sean tahu aku melakukannya semata-mata menikmati hentakannya. "Franda," serbuan suaranya yang serak serta tatapan matanya yang menggelap membuatku tersenyum.
"Ya." kataku gemetar. Aku menantang matanya yang menggelap.
Sean menggeram lagi, rahangnya mengeras seiring pinggulnya menghujamku lebih kuat sampai tubuhku terdorong semakin ke atas. "Aku akan menghabisimu sampai pagi... sampai kering."
"Lakukan, Sean. Aku milikmu. Selamanya milikmu."
__ADS_1