Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
New Place


__ADS_3

"Ya, Zul?" Aku berbicara sambil menjepit ponsel di antara telinga dan bahuku. Kemudian meraih jam tanganku dari dalam tas dan mengenakannya.


Suara Zul terdengar riang dari ujung telepon. "Car's outside. Semuanya sudah siap. Aku akan menunggumu di apartemen, oke?" katanya tanpa berlama-lama.


Aku memegang ponsel dan berbicara padanya. "Oke, sampai jumpa." kuputuskan sambungan telepon, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas.


Aku baru saja akan melangkah keluar saat pintu ruangan terbuka, dan orang yang paling tidak ingin kutemui sekarang sedang berdiri disana. Rahangnya mengeras, wajahnya merah padam, kedua tangannya mengepal erat di masing-masing sisi tubuhnya sementara dadanya naik turun dengan cepat. Dia menatapku tajam, sorotnya seakan mengatakan dia ingin mengulitiku detik ini juga.


Dan aku tahu alasan kenapa dia terlihat semarah itu.


"Apa yang kau lakukan?" Tidak ada kelembutan dalam suaranya. Nadanya murni dipenuhi kemarahan. "Kau tidak bisa memisahkanku dengan anakku, Franda." katanya sambil berjalan ke arahku.


Aku menunduk, membuang napas, tidak ingin terpancing dengan apapun yang akan dia katakan. "Aku tidak memisahkanmu dengan siapapun kecuali diriku." balasku dingin.


"Oh, jadi kau akan meninggalkan Lily bersamaku? Ya Tuhan, Franda... apa salahnya padamu sampai kau tidak menginginkannya?"


Aku membulatkan mata, tak percaya dengan kata-katanya yang menyudutkanku. "Apa kau sudah gila? Siapa yang ingin meninggalkannya?" balasku sambil menggelengkan kepala.


"Kau!" semburnya tepat di depan wajahku, membuatku tersentak dan memejamkan mata. Calm down, Franda. Aku menunduk dan memandangi ke perutku yang sakit akibat gerakanku yang tiba-tiba memundurkan kaki. "Hanya karena masalah kecil kau mengabaikan anakmu. Bisakah kau berpikir rasional? Jangan bertingkah seperti anak remaja, kau tidak bisa terus lari setiap kali ada masalah. Aku sudah cukup sabar menghadapimu selama ini, Franda. Jangan memaksaku berbuat kasar padamu."


Aku menelan ludah sembari merasakan sakit yang menusuk di hatiku saat mendengar ucapannya. Aku baru tahu itu yang dia pikirkan tentangku selama ini. Hanya sebatas itu. Aku yang selalu lari dari masalah. Well, setidaknya dia mengatakannya dengan jujur.


Aku menggigit bibir menahan tangisku agar tidak keluar saat mendengar ucapannya yang berikutnya. "Kau tahu?" ujarnya dingin. "Aku sudah muak denganmu, Franda. Aku tidak akan pernah peduli lagi apa yang akan kau lakukan, silahkan jalani hidup seperti yang kau inginkan. Aku membebaskanmu. Tapi... jangan pernah bermimpi untuk menyentuh anakku." Dengan satu gerakan cepat, dia berbalik dan berderap meninggalkanku.


Aku terlonjak saat pintu ruangan menutup dengan keras, membuatku terhuyung dan nyaris jatuh, beruntung tanganku masih sempat menyentuh dinding di belakangku.

__ADS_1


Aku berusaha mengatur napasku sambil menahan diri untuk tidak menangis. "Tenanglah, Franda. Semuanya akan baik-baik saja." gumamku, menguatkan diri sendiri. Tidak ada siapapun yang akan melakukannya jika bukan aku. Lagi pula, tidak ada juga yang bisa kupercaya selain diriku sendiri. Semua orang sedang berbalik menyerangku. Termasuk keluargaku.


Setelah berhasil menenangkan diri selama beberapa saat, perlahan aku melangkah keluar dari ruang perawatan, dan mendapati ibuku dan Mia sedang berdiri di depan pintu. Mereka memandangku dengan raut cemas dan iba. Aku tersenyum kecil. Mengusir keinginan untuk memeluk mereka.


"Sweetie..." kata ibuku dengan suara bergetar, air matanya menggenang, belum cukup banyak untuk membasahi pipinya.


Kugerakkan kakiku lebih dekat padanya. "I'm leaving, mom." Aku beralih menatap Mia. "Jaga ibu baik-baik." Tanpa mengatakan apapun lagi, aku berjalan meninggalkan mereka.


Di depan lobi rumah sakit, mataku menangkap sebuah mobil seperti yang dikatakan oleh Zul dan langsung melesak masuk ke dalamnya. "Hai," sapaku pada seorang gadis yang duduk di kursi pengemudi. Mencoba terdengar ramah.


Dia menoleh dan tersenyum padaku. "Hai, sudah siap?" tanyanya.


Aku menganggukkan kepala. "Kapanpun kau siap."


Aku menoleh ke depan. Memperhatikan gadis yang mengemudikan mobil. Kutebak umurnya masih berada di awal-awal dua puluhan, wajahnya manis dan riang, dan aku menghargai sikapnya yang santun. Tampak seakan dia tahu bahwa aku sedang tidak ingin berbicara saat ini. Kuputuskan untuk mengobrol dengannya.


"Boleh aku tahu namamu?"


"Veronica." Diluar dugaan. Aku berharap dia menjawab sedikit ramah, tapi balasannya singkat.


Aku mengangguk, merasa agak canggung. Kusingkirkan niatku untuk bertanya lebih jauh, karena sepertinya dia tidak tertarik untuk mengobrol, dan aku kembali melemparkan pandangan keluar.


Setelah berselang dua puluh menit, kami tiba di area parkir bawah tanah gedung apartemen yang akan menjadi rumahku, entah untuk sementara atau selamanya. Aku tidak tahu. Veronica menuntunku menuju unitku yang berada di lantai sembilan, dan wajah riang Zul langsung menyambut kami begitu pintu terbuka.


"Frans! Ya ampun, apa kau baru saja kembali dari pemakaman? You look horrible!" gumamnya seraya mengamatiku dengan tatapan matanya, lalu dia memelukku.

__ADS_1


Aku membalas pelukannya dan tersenyum saat dia melepaskan diri dariku. "Terima kasih untuk bantuanmu, Zul." ucapku bersungguh-sungguh.


Dia mengibaskan tangannya yang gemulai ke udara. "Ah, itu bukan apa-apa." balasnya seraya menarikku ke arah ruang tamu.


Aku memandang ke sekeliling ruangan rumah baruku. Harus kuakui, Zul benar-benar cekatan dan mengerti apa yang kuinginkan. Desainnya sederhana namun tetap nyaman. Satu set sleeper sofa berwarna wheat berpasangan dengan meja kaca bundar tampak di ruang tamu. Tiga lukisan abstrak penuh warna menempel di masing-masing sisi dinding bercat putih, tampak kontras.


Zul menemaniku melihat seluruh ruangan yang ada di apartemen, dan secara keseluruhan aku menyukainya. Sampai kami tiba di kamar tidur utama yang akan menjadi kamarku. Aku mengerang dalam hati saat ingatanku melayang pada kamarku bersama Sean.


Gambaran itu terlintas begitu saja memenuhi setiap ruangan di kepalaku. Belum apa-apa aku sudah merindukannya. Entah apakah aku akan sanggup atau tidak, tapi inilah yang harus kulakukan. Aku harus percaya pada diriku sendiri, persetan dengan orang-orang yang menganggap remeh tentangku. Ketika mereka tidak bisa menghargai keberadaanku, maka tidak ada alasan bagiku untuk bertahan.


Hidupku akan selamanya menjadi milikku. Tidak peduli sebesar apa mereka menyayangiku atau aku menyayangi mereka, aku tetap berhak menentukan jalanku sendiri. Aku memiliki kemampuan untuk mengurus diriku dan anak-anakku. Tidak seorangpun yang bisa mengatur atau mengendalikanku.


Aku bisa membayangkan sesulit apa kehidupan kami kedepannya... maksudku, aku dan anak-anakku, namun aku tidak akan menyerah. Jika dulu aku bisa meninggalkan Nino setelah hampir sembilan tahun aku menikah dengannya dan aku masih bertahan sampai sekarang, seharusnya tidak akan terlalu sulit untuk berpisah dengan Sean.


Sebagian orang mungkin akan mengira keputusan yang kuambil terlalu berlebihan, tapi itu hanya karena mereka tidak merasakan sakitnya hidup sebagai Franda, dan aku tidak berharap siapapun merasakan itu. Sungguh.


"Bagaimana, Frans? Apa kau suka?" Aku terkesiap mendengar suara Zul berbicara padaku.


Kuputar kepala menghadapnya dan tersenyum padanya, senyum yang menyatakan bahwa aku benar-benar menyukai rumah baruku. "Ini luar biasa, Zul. Aku tidak menyangka kau berhasil mendapatkannya dalam dua hari." Aku memeluknya. "Sekali lagi, terima kasih, Zul." bisikku dengan suara bergetar.


Dia mengusap punggungku pelan, hembusan napas berat terdengar dari mulutnya. Aku tahu dia ikut merasakan kesedihanku. "Sabar, say." dia melepaskan pelukanku, menatapku dengan simpati. "Aku akan selalu ada jika kau membutuhkan bantuan. Jangan sungkan mengabariku, oke?"


Aku menganggukan kepala. "Ya, terima kasih." Kupeluk dia sekali lagi.


"Hei, bagaimana jika kita berkenalan dengan penghuni rumah yang lain? Ayo, aku akan mengenalkanmu pada mereka."

__ADS_1


__ADS_2