Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
A Day Full of Laugh


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


"Jadi, apa rencanamu setelah ini? Sepertinya istrimu sudah baik-baik saja." Taylor membuka suara setelah Franda menyelinap ke dalam rumah.


Aku mengangkat bahu sekilas merespon perkataannya. "Aku belum terlalu yakin, kurasa perlu waktu yang lebih banyak untuk memastikan bahwa kondisinya memang sudah membaik." jawabku.


"Ya, aku juga berpikir begitu," gumam Sam, menyetujui ucapanku. "Banyak sekali pasienku yang mengalami trauma seperti Franda, tetapi belum ada yang bisa mengatasi itu secepat dia, bahkan yang kulakukan sebenarnya belum apa-apa. Itu belum masuk dalam kategori konseling sama sekali." jelasnya.


Aku baru akan membuka mulut untuk membalasnya, namun Matt bersuara lebih dulu. "Oh, ayolah, Sam... kau tidak melihat siapa yang bersamanya?" Matt melirikku sambil tersenyum, senyum yang menyiratkan sebuah perasaan bangga. "Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya, kau benar-benar tergila-gila padanya, ya?"


Aku mengerutkan kening pada pertanyaannya, untuk apa dia menanyakan sesuatu seperti itu karena jawabannya sudah jelas. "Tentu saja! Kalau tidak, untuk apa aku menikahinya." ujarku sarkastis.


Tawa Matt seketika meledak. "Whoa, easy, man. Aku hanya terkejut dengan perubahanmu. Kau tak pernah begitu terbuka dan juga bersemangat," Dia tersedak tawa saat mengucapkan kata-kata yang terakhir. "...dengan hubunganmu bersama para gadis sebelumnya, bahkan dengan Ashley. Maksudku, kita semua tahu bahwa Ashley seperti belahan jiwamu atau semacamnya, bukan?"


Aku mendengus mendengar kalimat yang disemburkannya. Matt benar-benar tahu bagaimana memilih kata-katanya. Bagaimanapun juga, dia tidak salah. Perasaanku pada Ashley memang murni, aku menyayanginya karena dia gadis yang baik. Terkadang ada kalanya aku merasa bahwa kami berdua sudah saling mengenal jauh lebih lama dari yang seharusnya. Seperti halnya mengenal telapak tanganku sendiri. Tapi itu dulu.


Aku tidak pernah merasakan semacam... hasrat yang menggebu-gebu untuknya. Aku tidak menanti-nantikan dengan antusias hanya untuk melihatnya, atau adanya pergolakan emosi sewaktu kami bersama. Kuyakin Ashley juga pasti menyadari itu.


Dan segala hal dengan Franda adalah sebaliknya.


"Kau mau mengorek tentang kehidupan percintaanku atau apa?" tanyaku dengan nada bosan. Sebenarnya tanpa perlu kutanya aku yakin semua orang yang berada di hadapanku saat ini sangat penasaran dengan kisahku bersama Franda. Mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya segala hal tentang hubunganku dengan Franda.


Mereka semua serentak tertawa, meledekku. "Ya, kami berharap akan mendengar sesuatu yang keren darimu." Maggie, si cewek 'bisu' itu tiba-tiba bersuara, dan nadanya terdengar riang. Sepertinya jawaban ketusku menjadi hiburan tersendiri baginya.


Lalu Jason, yang baru beberapa saat lalu tersedu-sedu karena teringat akan Julie, ikut menyambar percakapan kami. "Jadi, biar kusimpulkan... istrimu memiliki magnet yang kuat untuk menarikmu? Bahkan dari Ashley, benar?"


Aku mengangguk, lalu tersenyum padanya. "Ashley memang cantik dan dia juga baik, tapi Franda lebih dari itu. Istriku memiliki sesuatu yang tidak dipunyai oleh wanita manapun." kataku sambil menerawang pada perjalanan hidupku bersama Franda. Dan mendadak aku merasa gelisah ketika teringat kejadian di bistro beberapa hari lalu saat Ashley, entah sengaja atau tidak, mengusik Franda.


Aku tidak tahu apa motivasinya mengungkapkan bahwa kami berteman dekat, namun aku yakin saat itu dia ingin menekan Franda. Tapi sayangnya, dia tidak terlalu hebat. Karena aku bisa mengatasi masalah itu dengan kilat.


"Apakah istrimu juga yang memintamu kesini?" suara Sam kembali menyadarkanku.

__ADS_1


Aku meliriknya sekilas, "Tidak." cetusku ringan. "Aku sendiri yang ingin membawanya kesini." Tanganku terulur meraih sebotol bir, meneguknya sedikit lalu meletakkan botol itu di pegangan kursi.


"Siapa gadis itu?" Kami semua mengikuti arah pandangan Jason yang menatap Mia.


Adik iparku itu sedang berjalan sambil melipat tangannya di dada. Matanya melihat-lihat sekeliling seakan mencari harta karun. Sesekali dia menoleh ke bawah dengan wajah memberengut, lalu menghentakkan kakinya kuat, mungkin menyingkirkan lumpur yang menebal di sandalnya. Hujan kemarin pasti membuat tanah basah dan berlumpur. Aku sendiri belum sempat menaruh kerikil disana karena seminggu kemarin aku lebih fokus pada Franda.


"Adik iparku." jawabku santai. Aku meneguk lagi birku.


"Apakah gadis Indonesia memang semuanya cantik? Kenapa tiba-tiba aku merasa iri denganmu, ya?" kata Matthew, dan langsung disambut oleh pukulan ringan dari Maggie di lengannya.


Matt pura-pura meringis sambil mengusap lengannya yang kuyakin tidak sakit sama sekali, sementara kami semua menyaksikan Maggie mengancamnya. "Sebaiknya kau jaga matamu, Matt. Atau aku akan mencongkelnya." ancam Maggie, suaranya menandakan dia tidak main-main dengan perkataannya.


Kami menertawai Matt yang menciut. Lalu Taylor, yang selalu usil, menggodanya. "Matt, maafkan aku... kupikir aku salah saat mengatakan Franda wanita yang mengerikan, karena Maggie terlihat seperti harimau yang siap menerkammu saat ini juga. Jaga dirimu baik-baik, bung."


Gelak tawa kami seketika menggema di antara pohon-pohon, membuat burung-burung terkejut dan beterbangan, kocar-kacir meninggalkan dahan tempat mereka singgah. Mungkin saat ini mereka sedang mengutuk suara tawa kami yang telah mengganggu ketenangan mereka. Kami terpingkal-pingkal sementara Matt hanya menggerutu tanpa suara.


Sebenarnya ancaman Maggie bukanlah sesuatu yang lucu dan layak untuk ditertawakan, namun karena dia mengatakannya maka itu pantas dihargai dengan tawa. Maggie bukan tipikal wanita yang ekspresif, dan jika dia mengancam Matt sekeras itu, tentu saja itu adalah sesuatu yang lucu. Belum lagi wajah Matt yang menciut. Ya ampun... ini benar-benar hiburan yang menyenangkan.


Mia tampak terkejut karena baru menyadari ada orang lain yang bergabung bersama kami. Dia terlihat santai dengan setelah sweater berwarna abu-abu dan rambut agak kusut khas wanita yang baru bangun tidur. Aku merasa lega karena adik iparku itu lebih tenang dalam mengatasi masalahnya, dan entah apa yang akan terjadi jika dia mengalami kesulitan seperti Franda. Mungkin aku akan meninggalkannya di dalam hutan sendirian dan membiarkan binatang buas menerkamnya. Satu wanita seperti Franda saja sudah membuatku kalang-kabut, dan jika harus ditambah dengan Mia, maka aku memilih raib detik itu juga.


Sambil berjalan, Mia merapikan rambut dengan jemarinya sementara Franda lagi-lagi menggunakan pahaku sebagai tempat duduk. Well, itu tidak seperti aku merasa keberatan, malah aku senang karena sikapnya itu justru membuatku merasa dibutuhkan dan dipercaya sekaligus.


Aku mendorong tubuh Franda sampai punggungnya menempel di dadaku. Aroma buah yang menguar dari rambutnya yang tergerai basah seketika membuatku bergairah. Tanpa sadar aku menggeram halus. Franda pasti mendengar geramanku karena setelah itu dia tersenyum genit, menggodaku dengan bisikan halus. "Aku juga sedang tersiksa menginginkanmu." gumamnya dengan nada yang sengaja dibuat seksi. Oh, sialan, dia nekad menjilat telingaku! Ya Tuhan, cobaan macam apa ini?


Dan sekarang, dia bahkan mengedipkan matanya nakal, kemudian terkikik halus dengan wajah yang merona. Makhluk ini ingin menyiksaku atau apa? Tanpa dia bertingkah nakal saja gairahku sudah terpanggil. Aku selalu penuh dan keras tiap kali dia berkeliaran di dekatku. Jantungku seakan siap meledak setiap saat aku bertatapan dengannya. Tubuhku akan bereaksi secepat kilat begitu dia memasang tampang sialannya untuk merayuku. Ya, dia memang sebajingan itu dalam memancing hasratku, dan aku selalu menyukainya.


Tapi tidak untuk kali ini. Aku tidak mengharapkan bujukan apapun darinya karena teman-temanku akan mengejekku habis-habisan. Aku akan menjadi topik utama pembahasan mereka selama berbulan-bulan. Astaga, Franda...


Aku menarik napas geram. Melayangkan tatapan tajam pada wanitaku, tapi makhluk itu malah tersenyum senang. Dia seakan merayakan kemenangan karena berhasil menyiksaku. "Kau akan mendapatkan hukuman malam ini, Franda." bisikku dengan napas tersengal. Dia terkikik lagi, lalu mengalihkan pandangan tanpa menjawab ungkapan frustasi dariku.


Aku menyembunyikan wajah di punggung Franda sementara yang lain sedang menyapa Mia. Jangan sampai mereka melihat wajahku yang seperti kepiting rebus karena menahan gairah.

__ADS_1


"Jadi, kalian kakak-beradik?" tanya Sam setelah mereka berkenalan. Aku tidak tahu apa dan bagaimana ekspresi mereka sebab wajahku masih menempel di punggung istriku.


"Ya," sahut Mia.


"Kenapa baru ikut kesini? Seharusnya kau datang lebih awal karena salah satu teman kami sedang kesepian." Suara Taylor terkekeh.


Aku mengumpat dalam hati dan ingin menyelanya, namun dia buru-buru menyadari ucapannya yang kurang ajar dan segera bicara lagi. "Maaf, bukan bermaksud menyinggungmu, Mia. Aku hanya bercanda." lanjutnya, terdengar bersungguh-sungguh.


"It's okay. Lagi pula, sebenarnya aku tidak ingin berlama-lama disini karena banyak hal yang perlu kukerjakan. Tapi ada sedikit masalah terjadi, dan... disinilah aku sekarang. Terjebak bersama pasangan paling mengerikan yang ada di bumi." cetus Mia enteng, membuat gelak tawa kembali terdengar di tengah-tengah kami.


Rasanya ingin sekali aku menyumpal mulutnya yang ringan itu dengan lumpur.


"Memangnya semengerikan apa pasangan ini, Mia?"


"Astaga... pergilah ke danau jika kau ingin memancing, Taylor!" Aku berkata sedikit keras. Tak mampu lagi menahan malu karena Mia, adik iparku yang polos itu akan membuka mulutnya dengan sukacita, menceritakan segala hal yang dia ketahui tentang hubunganku dengan Franda pada teman-temanku. Dan aku tidak siap menerima ejekan mereka.


Aku menghela napas saat merasakan tangan Franda mengusap lenganku yang memeluk pinggangnya. "Hei, kau berlebihan, sayang." ujarnya lembut.


Lalu Taylor, dengan mulutnya yang kurang ajar itu, bersuara lagi. "Ya, kami hanya ingin mendengar kisah kalian, man. Ayolah, jangan berlebihan begitu." Dia berkata sambil tersenyum padaku. Lihat, belum apa-apa dia sudah mengejekku. "Jadi, apa maksud dari mengerikan itu, Mia?"


Bahuku seketika lemas saat Mia, dengan semangat berapi-api menceritakan apa yang didengarnya semalam. Aku ingin marah, tetapi melihat Franda yang nampak santai membuatku urung meluapkan emosiku. Pada akhirnya aku hanya diam dan menyaksikan Mia mengungkap semuanya.


"Hm... satu hal yang harus kalian tahu, hutan akan terbakar habis kalau mereka tidak segera meninggalkan tempat ini. Jadi, sebaiknya kalian menyelamatkan diri lebih dulu jika tidak ingin terpanggang bersama seluruh penduduk hutan."


Tamatlah. Sudah dipastikan aku dan Franda akan menjadi topik hangat untuk dibicarakan beberapa bulan ke depan, atau mungkin untuk selamanya.


Aku diam tak berkutik dengan semua kalimat yang mengalir deras dari mulut Mia. Pasrah pada adik iparku yang bersuka cita mengisahkan pernikahanku dengan kakaknya. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi selain menyembunyikan wajahku di punggung Franda.


Sementara itu, Franda sangat santai, bahkan aku belum pernah melihatnya sesantai ini. Bukankah seharusnya dia yang lebih malu? Entahlah, kadang aku belum bisa mengerti pola pikirnya yang rumit. Apakah memang semua wanita serumit dia?


Ya Tuhan... tolong bungkam mulut adik iparku itu.

__ADS_1


__ADS_2