
Sepasang suami istri yang baru saja berbaikan itu saat ini tengah berbaring diranjang dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Sayang, boleh aku bertanya sesuatu?" Nino mulai membuka suara.
"Hm, apa?" tanya Franda.
"Siapa laki-laki di restoran itu?" Nino menatap istrinya saat bertanya. Franda tersenyum.
"Namanya Sean, dia yang membantuku selama ini mencari tahu tentang hubunganmu dan wanitamu. Dhea yang mengenalkannya padaku, katanya mereka sepupu." Franda menjawab santai.
"Aku tidak menyukainya!" ucap Nino. Ia memang sempat menangkap ekspresi lain diwajah Sean saat memandang istrinya.
"Kenapa? Dia baik kok, dia juga yang membantuku saat aku mabuk malam itu." kata Franda jujur, Ia tidak pernah menutupi apapun dari suaminya. Kejujuran adalah hal yang paling dijaganya dalam pernikahan mereka.
"Apakah kau tidur bersamanya?" tanya Nino dengan wajah tak suka.
"Tidak! Kau pikir aku bodoh, Sayang? Aku sangat tahu diri dengan posisiku sebagai istrimu, kau terlalu menyepelekan kesetiaanku!" Franda mendengus. Ia heran kenapa suaminya bisa berpikiran sedangkal itu.
"Lalu kau tidur dimana malam itu?" Nino masih penasaran.
"Aku memang tidur di apartemennya, tapi tidak terjadi apa-apa. Sean itu pria baik, dia tidak akan melakukan sesuatu padaku! Oh, come on! Jangan mengajakku bertengkar lagi, tenagaku sudah habis, Sayang!" Franda langsung menarik selimut lebih tinggi sampai menutupi lehernya.
"Aku hanya bertanya, bukan mengajak bertengkar!" jawab Nino.
"Tapi pertanyaanmu sangat mengganggu, jangan samakan aku denganmu!... Maaf, tapi kau yang memulainya." kata Franda, Ia merasa bersalah karena mengingatkan Nino lagi.
"Ya, sudahlah... Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak percaya padanya. Jangan terlalu dekat dengannya, Sayang!" Nino memeluk istrinya.
"Hmm" Franda menjawab malas.
__ADS_1
Keduanya terdiam, Franda terlihat tidak ingin membahas apapun sekarang, berdebat dengan Nino tidak akan ada akhirnya jika Ia terus menanggapi kata-kata suaminya. Nino tampak berinisiatif untuk mengatasi kebungkaman Franda. Ia menggeser tubuhnya kebawah, bersembunyi dibalik selimut dan mulai menyentuh bagian pribadi istrinya, membuat wanita itu melenguh.
"Eughhh... Sayang, aku lelah." kata Franda, namun tubuhnya mengatakan lain. Ia membuka pahanya agar Nino lebih leluasa menjamahnya.
"Nikmati saja, Sayang..." kata Nino sambil melepas penutup tubuh istrinya yang berbentuk segitiga berenda.
Nino bermain tengan tangan dan lidahnya disana, sesekali memasukkan dua jarinya kedalam, membuat Franda menggerakkan tubuhnya mengikuti permainan suaminya.
Nino tersenyum melihat istrinya menikmati sentuhannya, hal yang paling disukainya selama ini adalah membuat istrinya melayang saat Ia menyentuhnya, membahagiakan Franda dengan tubuhnya. Nino selalu berusaha agar istrinya merasa puas. Sebelumnya Nino banyak mendengar cerita dari teman-temannya bahwa wanita jarang bisa sampai ke punc*k saat berhubungan badan, makanya Ia ingin membuat Franda selalu mendapat pelepasan saat bersamanya. Ia tahu bahwa hubungan yang baik adalah saling memberi dan menerima, tidak adil bagi istrinya jika hanya dirinya yang menikmati kesenangan mereka.
Franda terus mendes*h, tangannya meremas seprei yang sudah berantakan dengan kencang, selimut yang tadi menutupi tubuh keduanya juga sudah jatuh kelantai. Sekitar 10 menit Franda merasa akan mencapai pelepasan, Ia terus meracau dan meminta Nino menggerakkan jarinya lebih cepat, namun Nino justru berhenti. Membuat istrinya frustasi.
"Don't stop! Why did you stop! Oh, please..." kata Franda memohon dengan wajah sendu bercampur kesal.
"Easy, baby! Aku mau kau yang menjadi pilotnya" kata Nino langsung mengangkat Franda agar duduk diatasnya dan langsung memasuki tubuh istrinya membuat wanita itu kembali mendes*h dan menaikturunkan tubuhnya.
"Oh, God! It's so good... Oh..." Franda mulai meracau. Mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Oh, yeah, baby! F*ck me! Ouhhh." Franda balas merem*s dada berorot suaminya, sensasi yang begitu hebat dirasakannya saat Nino berada didalam tubuhnya. Milik Nino yang besar panjang selalu membuatnya melayang.
Kini Nino yang mengambil alih setelah melihat istrinya lelah, Ia bergerak dibawah dan menghentak istrinya dari bawah dengan cepat dan keras.
"Keep going, keep going... Aaahhh, I'm cuming... Aaaahhhhh..." tubuh Franda bergetar, Ia menikmati pelepasan panjangnya diatas suaminya, dan langsung melemas ketika gelombangnya usai.
"Thank you, Sayang!" lanjutnya dengan mencium bibir suaminya lalu tersenyum, napasnya masih memburu. Franda berguling ke samping, membiarkan cairan cintanya yang keluar saat Ia melepas tubuhnya dari suaminya.
"Kau membanjiriku, Sayang!" kata Nino protes saat melihat air cinta istrinya tumpah di tubuh bagian bawahnya.
Franda tertawa. "Hahaha, kau yang membuatnya!" jawabnya santai, lalu kembali mencium bibir suaminya. Nino tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat kelelahan.
__ADS_1
Franda berjalan tanpa malu dengan tubuh polosnya kemeja rias untuk mengambil tisu, lalu kembali dan membersihkan Nino. Franda memainkan milik Nino yang masih berdiri tegak dengan tangannya setelah bersih.
"Kau menyukainya?" tanya Nino menggoda. Wajah Franda terlihat merona mendengar kata-kata suaminya.
"Hm'm, this one is the best! Tidak mengherankan kalau banyak yang menginginkannya." jawab Franda santai tanpa melihat wajah suaminya.
Jika tadi Nino yang bekerja keras, sekarang giliran Franda yang membantu suaminya. Ia masih memainkan suaminya dengan tangannya, Ia tersenyum melihat Nino yang terpejam merasakan kenikmatan di genggamannya. Franda meraih botol yang berisi minyak almond dimeja dan menuangnya ketangannya. Ia mengusapnya ke sekitar milik suaminya dan memijat dengan lembut, Nino semakin mengerang mendapat perlakuan itu.
Setelah hampir 15 menit Nino belum terlihat akan mendapatkan orga*me, Franda kembali tidak bisa menahan diri dan menginginkannya lagi, Ia berbaring membelakangi suaminya dan meminta Nino melakukannya dari belakang.
"Kau?..." Nino menggeleng melihat Franda, tak percaya wanita itu terlihat sangat 'kelaparan'.
"Jangan banyak protes! Cepat lakukan!" kata Franda memerintah, suaminya hanya bisa menurutinya. Tak berani membantah sedikitpun.
"You are the boss!" ucap Nino. Ia menghentak istrinya dengan keras saat memasukinya.
Suara-suara kenikmatan terus menggema didalam kamar, namun tidak sampai terdengar keluar karena kamar itu kedap suara. Tidak ada yang mampu menghentikan keduanya, dering telepon Franda yang terdengar juga tidak dihiraukan oleh mereka.
Nino merem*s dada ranum istrinya dengan kuat membuat Franda sedikit meringis namun tak protes karena Ia tengah fokus dengan kenikmatan dibawah sana.
"Aku hampir sampai, Sayang..." kata Nino dengan suara berat. Franda tidak menjawab karena Ia juga merasa akan mendapatkannya kembali.
Nino mengerang ketika mencapai pelepasannya. "Aaahhh, aahhh..... Oh, shit, you are so good!" ucap Nino setelahnya. Franda yang juga tengah mencapai pelepasan tidak menanggapi, Ia sedang menikmati kehangatan yang menjalar disekujur tubuhnya.
Begitulah mereka menghabiskan malam itu, mengulanginya beberapa kali hingga beberapa jam dan tertidur setelahnya. Keduanya terlihat seperti baru saja menikah, tak terlihat puas dengan pasangan mereka. Kesalahan yang dilakukan oleh Nino faktanya tak membuat Franda berlari dan menjauh, Ia justru memaafkan dan merangkul kembali suaminya.
Well, permasalahan datang dan pergi. Kesalahan hanya akan membuat manusia menjadi lebih manusiawi.
Bagi sebagian orang akan sulit memaafkan pengkhianatan yang dilakukan oleh pasangan mereka, tidak ada yang salah dengan itu. Setiap orang berhak mengambil keputusan apapun terhadap hidup mereka, namun Franda memilih untuk memaafkan. Dikamusnya, mencintai bukan hanya saat kau merasa bahagia, tapi disetiap saat kau harus mampu menerima keberadaan seseorang dihidupmu. Terlepas dari apapun yang dilakukannya, kau berhak memaafkan. Hidup tidak semata-mata menunjukkan kesempurnaan, terkadang kita juga perlu belajar untuk menjadi sempurna.
__ADS_1
Satu hal yang selalu diingat Franda dari Ayahnya adalah; 'You can make an omelet without breaking the eggs!'. Tidak mungkin kau bisa merasakan betapa nikmat telur dadar tanpa memecahkan cangkang telurnya.