Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
New Friends


__ADS_3

Aku baru saja mandi dan mengenakan pakaianku, dan sekarang aku sedang duduk di tepi ranjang sambil mengoleskan krim di wajahku. Sebelah tanganku memegang cermin kecil sementara sebelah yang lain menepuk-nepuk lembut pipiku. Aku merasa tetap perlu menjaga kelembapan kulit meski saat ini kami berada di hutan, jangan sampai aku benar-benar menjelma menjadi Jane dan Sean berubah menjadi Tarzan.


Aku tersenyum geli membayangkan bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi. Semua orang pasti akan menertawakan kami.


Dulu, sewaktu aku dalam masa-masa terguncang akibat kehilangan kedua orangtuaku, ayah pernah mengajakku beberapa kali ke hutan. Tapi saat itu rasanya tidak senyaman sekarang. Mungkin karena aku sendiri masih berduka, atau memang karena hutannya tidak seindah disini. Entahlah.


Sejauh ini aku terpesona dengan segala yang ada disini, ada ketenangan dan suasana baru yang asing namun terasa spesial. Terlebih aku di temani oleh seorang pria paling keren yang pernah ada di bumi. Sikapnya yang jantan dan tak kenal menyerah berhasil membuatku terpana berkali-kali.


Seringkali aku merasa sungkan padanya. Maksudku, Sean seharusnya bahagia menikah denganku, merasakan hidup seperti yang ada dalam bayangannya ketika dia memintaku menjadi istrinya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, aku hanya membuatnya repot dengan diriku yang gila. Dan mulai hari ini aku harus benar-benar bisa menghempaskan PTSD sialan itu dari kepalaku, atau seperti yang dikatakan Sean, menerimanya dan mengendali semuanya.


Aku bergeser ke arah nakas untuk menjangkau lotion dan tiba-tiba aku terkejut mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Bermaksud hendak melihat siapa yang datang, aku pun berderap keluar dari kamar, mengurungkan rencanaku memakai lotion.


Tiba di depan pintu, aku melihat Sean sedang menyapa beberapa orang yang baru turun dari mobil dan sepertinya mereka teman-teman Sean. Tiga pria tampan yang tampak seumuran dengannya, dan dua wanita yang terlihat cantik dengan pakaian santai yang membalut tubuh mereka.


Mereka belum menyadari kedatanganku sampai aku berada lebih dekat di belakang Sean.


Sean berbalik, aku melempar senyum ramah sambil menyambut uluran tangannya. "Ini istriku. Franda." katanya mengenalkanku pada mereka.


Aku tersenyum lagi dan menyalami mereka semua. Dimulai dari seorang pria yang bernama Jason yang tampaknya adalah satu-satunya jomblo disini karena tidak ada wanita disampingnya, berbeda dengan dua temannya yang masing-masing memiliki gandengan.


Kemudian tanganku berpindah pada Taylor dan Samantha. Aku sedikit terpana pada Taylor. Wajahnya sangat tampan dengan rambut gondrong dan... janggut yang berserakan di sekitar wajahnya, entah kenapa membuatnya terlihat lebih menarik lagi. Namun itu bukan berarti dia bisa menggantikan posisi Sean di hatiku. Pria itu tidak bisa digantikan oleh siapapun. Tidak sampai aku di hadapkan dengan Chris Evans, si Captain Amerika. Mungkin saat itulah aku akan goyah.


Lalu Samantha, wanita ini sepertinya habis berjemur beberapa hari. Kulitnya sedikit gosong, tetapi itu tidak mampu menutupi kecantikannya yang luar biasa. Kemudian Maggie, sama cantiknya dengan Samantha, hanya saja dia sedikit lebih pendiam dari yang lainnya. Aku tidak tahu apakah itu karena aku baru saja berkenalan dengannya, atau dia memang tipikal wanita yang tertutup. Kupikir aku bisa mengetahuinya nanti.

__ADS_1


Kemudian aku beralih pada Matt, pria yang berada paling ujung dari barisan orang di depanku. Senyumnya paling ramah dari yang lainnya, membuatku melirik Sean sekilas, kemudian buru-buru membalas senyum Matt. "Akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung, girl." ucapnya santai.


Kedua alisku terangkat. "Aku tidak tahu bagaimana Sean menceritakan tentangku padamu, Matt. Tapi setelah melihat reaksimu, kupikir dia sedikit berlebihan." balasku bercanda sambil menatap sinis pada Sean, membuat mereka serentak tertawa lebar.


Kami masih berdiri di tepi jalan untuk beberapa waktu kemudian aku mengajak mereka masuk ke dalam rumah.


Aku, Sam, dan Maggie jalan lebih dulu, meninggalkan para pria menurunkan beberapa barang dari mobil.


"Jadi, kalian sedang liburan?" Maggie bertanya padaku sementara kami melangkah ke arah halaman belakang.


Aku tersenyum dan mengangguk. "Mm.. Melarikan diri lebih tepatnya." selorohku seraya tertawa halus.


"Kau berada di tempat yang pas kalau begitu. Hutan adalah surga untuk orang-orang yang ingin menenangkan diri." sahut Sam yang kini sudah duduk lebih dulu di kursi kayu panjang di halaman belakang, lalu Maggie menyusul di seberangnya.


Sejenak aku memandangi isi kulkas dan tidak tahu harus mengambil apa, namun kemudian kuputuskan menjumput beberapa kotak teh kemasan yang kami bawa dari Indonesia.


"Aku tidak tahu apakah ini cocok di lidah kalian, tapi kurasa teh dingin lumayan pas untuk suasana cuaca saat ini. Ini produk Indonesia, by the way." kataku sambil meletakkan teh itu di atas meja yang terbuat dari drum bekas.


Aku mengamati Sam mengambil satu teh itu dan langsung meminumnya banyak-banyak. Mendadak wajahnya berubah cerah. "Wah, ini luar biasa!" serunya dengan mata berbinar menatap kemasan teh itu. "Rasanya tidak terlalu manis. Aku tidak percaya kalian punya produk seenak ini." lanjutnya, lalu minum lagi sampai menghabiskan isinya dan meremas kotak teh itu sampai tak berbentuk.


Aku tertawa melihatnya serakus itu, responnya sedikit berlebihan walaupun aku sendiri mengakui teh merek itu adalah teh kemasan terenak yang pernah kucoba. Bahkan aku harus membujuk Sean agar membawanya kesini, dan aku cukup senang melihat ada orang asing yang juga menyukainya.


"Masih banyak produk Indonesia yang mesti kalian coba. Kapan-kapan aku akan menyiapkannya untuk kalian." ujarku bersemangat.

__ADS_1


Sam tampak sumringah sementara Maggie hanya tersenyum simpul, tapi ekspresinya tak jauh berbeda dengan Sam kala menyedot teh walau dia tidak seantusias Sam. "Ya. Ini memang enak." cetusnya datar.


Kami bertiga serentak menoleh ke arah pintu begitu para pria muncul disana. Mereka ikut duduk di sekitar kami, mengisi bagian kursi kayu yang kosong. Matt duduk di samping Maggie, Taylor bersebelahan dengan Samantha, sementara Sean menempel di sisiku. Namun Jason kelihatan bingung karena tidak menemukan tempat untuk mendaratkan bokongnya.


Aku yang merasa tidak enak langsung berdiri. "Duduklah, Jason." kataku sambil menghempaskan bokongku di paha Sean.


Jason tersenyum. "Terimakasih, ma'am." Aku mengangguk dan balas tersenyum padanya.


"Kau sangat pengertian, sayang." Mataku beralih pada Sean yang berbicara di belakangku. Tangannya terjulur sampai melingkar di pinggangku sementara kepalanya menyuruk di bawah lenganku, membuatku terpaksa memutar kembali kepalaku.


Aku bersandar di dadanya sementara sambil mendengarkan Taylor berbicara. "Aku cukup terkejut saat kau memintaku mencari rumah disini, man. Maksudku, kau menghilang begitu saja sejak terakhir kali mengunjungi kami, lalu tiba-tiba kau menelepon dan memintaku mencarikan rumah." Taylor menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, mengangkat sebelah tangannya untuk merangkul bahu Samantha. "Kau pasti tertawa jika melihat reaksiku saat melihat namamu muncul di layar ponselku hari itu."


"Ya." Sam menyambar cepat. "Bola matanya nyaris melompat keluar."


Taylor mengerutkan kening. "Itu berlebihan, sayang." protesnya dengan raut wajah pura-pura merajuk.


"Kenyataannya memang seperti itu, Tay. Aku sendiri yang menyaksikan bagaimana wajahmu saat itu, dan itu membuatku sedikit curiga." Sam mengarahkan matanya pada Sean dan Taylor secara bergantian. Memandangi keduanya dengan tatapan menyelidik. "Apa kalian pernah memiliki hubungan di masa lalu yang kami tidak tahu?"


"Maafkan aku, Sam. Kupikir itu bukan sesuatu yang pantas untuk di banggakan." sahut Sean tiba-tiba, dia sedang bercanda sambil mengedipkan matanya pada Taylor.


Aku masih diam, memberikan waktu pada yang lainnya untuk berkomentar. "Ah, aku ingat sekarang." seru Matt. "Kurasa kau benar, Sam. Sean dan Taylor pernah bermalam di rumah pasangan ekstrim Mr dan Mrs. Clevert tanpa mengajak kita. Apakah kalian memulainya disana?" tanya Matt pada Sean dan Taylor.


Sean menyembunyikan wajahnya di bawah lenganku, seakan-akan malu karena baru saja tertangkap basah. Melihatnya seperti itu, aku pun berniat menggodanya sambil mengusap pelan rambutnya. "Pantas saja kau terlihat lincah saat menari ala stripper dengan briefs-mu, ternyata kau memang berpengalaman ya, Samson." Suasana mendadak hening sejenak, namun kemudian berubah riuh ketika mereka semua tertawa kencang. Kecuali Sean, dia melayangkan tatapan tajam padaku, protes dengan sikapku yang terang-terangan membuka aibnya.

__ADS_1


Tapi itu tidak berlangsung lama, karena dia juga ikut tertawa setelahnya. "Kau terlalu kejam, Franda." dengkurnya. Aku hanya tersenyum sambil mengangkat bahu.


__ADS_2