Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Housewife thing.


__ADS_3

"Sial, sial, sial..." Aku mengumpat, dengan cepat aku menurunkan panci saus dari atas kompor saat sadar bahwa aku baru saja membuatnya hangus. Saus bolognese yang kubuat benar-benar kacau sementara Sean akan datang sebentar lagi. Kemampuanku memasak memang payah, tidak peduli sesering apa Sam mengajariku selama di Queensland, tetap saja aku tidak bisa melakukannya dengan baik.


Entah kenapa hari ini aku ingin memasak untuk makan malam dan membiarkan semua asisten rumah tangga beristirahat di kamar mereka. Dan yang terjadi adalah aku nyaris membakar seisi dapur dan mengacaukan semuanya.


Aku melangkah meninggalkan dapur sebentar untuk mengganti pakaian dengan gaun bodycon merah yang ketat, menunjukkan perutku yang buncit, sempurna untuk makan malam sederhana namun tetap romantis bersama suamiku yang mempesona.


Saat kembali ke dapur, aku membuang saus yang hangus sebelumnya dan membuat yang baru, menggunakan sisa bahan yang sudah dipotong-potong oleh Miss Diana, dan berharap kali ini sausku tidak akan hancur lagi. Tepat saat aku memasukkan potongan bawang dan wortel ke dalam panci, aku mendengar suara pintu depan terbuka.


Dengan cepat aku menurunkan pandangan, memperhatikan gaunku, lalu memastikan rambutku terlihat rapi, dan mengecek suhu kompor sekali lagi sebelum Sean tiba di ambang pintu.


"Hei," Aku menyapanya dengan tersengal, agak panik karena hampir mengacaukan malam ini, namun rasa panikku menjadi lebih besar saat melihatnya berjalan mendekat dengan cara yang paling seksi. Rambutnya tampak agar berantakan, sementara setelan jas abu-abunya sangat indah dalam menonjolkan lekuk tubuhnya yang jantan.


"Hei, apakah semuanya baik-baik saja?" Dia tersenyum sekilas, sebelum melemparkan pandangan ke sekeliling dapur. "Kau belum membakar dapur dan itu mengejutkan. Tapi, kenapa aromanya agak aneh disini?"


Aku tertawa pelan, merasa sedikit lega karena paling tidak aku bisa melakukan sesuatu sejauh ini. "Semuanya baik-baik saja, selain saus yang hangus pada percobaan pertama."


"Ah, okay." Dia mengangguk, kembali memandangku. Aku merapatkan kedua pahaku ketika dia mulai melangkah lebih dekat sambil membuka kancing teratas dari kemejanya. "Kau terlihat luar biasa, Franda." Suaranya yang serak membuatku lupa bernapas selama beberapa detik, sementara dia berdiri di depanku dengan seringai lebar di bibirnya dan kedua tangannya meraih pinggangku.


"Terima kasih," balasku, tidak mengerti kenapa aku bisa segugup ini melihatnya. Bahkan aku bisa merasakan pipiku merona, sama sekali tidak tahu kenapa tubuhku mendadak bereaksi dengan cara yang aneh.


"Apakah harimu menyenangkan?" tanyanya, lalu menoleh ke belakangku untuk melihat ke arah salah satu kompor yang menyala.


"Ya, aku ke dokter kandungan, lalu ke kantor sebentar dan mampir di rumah Ed sebelum pulang." Aku berdeham sekali untuk mengendalikan suaraku.


Mata Sean yang sebiru samudra kembali menatapku. "Senang mendengarnya, sayang."

__ADS_1


"Kupikir... aku punya keinginan yang gelap lagi." gumamku gugup, dengan cepat menurunkan pandangan ke arah gaun untuk memastikan tidak ada jejak saus yang mengenaskan itu menempel disana.


Sean tertawa riang. "Yang lain lagi?" Aku mendongak menatapnya. "Katakan padaku apa itu. Tidak seburuk keinginan untuk mengikatku di ranjang, bukan?"


Aku menghembuskan napas yang tanpa kusadari telah kutahan entah sejak kapan, dan berusaha tersenyum padanya sambil menggelengkan kepala. "Tidak seburuk itu, hanya... sedikit aneh."


"Whoa, kau membuatku penasaran," Seringai tipis muncul di sudut bibirnya sementara sebelah tangannya menempel di sisi pinggangku yang lain.


Kemudian aku teringat pada saus yang baru saja kubuat, dan aku harus mengaduknya. Aku meringis ketika menyadari bahwa aku terlalu terburu-buru kembali ke arah kompor, meninggalkan Sean dengan raut bingung. "Maaf, sausnya..." kataku tergagap, benar-benar tidak tahu kenapa aku harus gugup dengan situasi ini. Aku bisa saja memintanya menyelesaikan urusan saus sialan itu, tapi itu akan membuatku terdengar bodoh dan aku takut dia akan menertawakanku.


Ketika aku mengaduk saus dan mencoba mengendalikan pikiranku, Sean dengan pelan di belakangku, kedua tangannya mengitari pinggangku dan berhenti di perutku yang membesar, lalu menarikku lebih dekat ke tubuhnya.


Aku benar-benar sudah gila, tidak seorangpun yang pernah membuatku merasa kelaparan seperti ini. Sean mampu membuatku melayang bahkan hanya dengan sentuhannya.


"Jadi, apa keinginan anehmu itu, sayang? Mungkin kita bisa melakukannya." Dia menahan tawa, lalu menyapukan bibirnya di sepanjang bahuku sebelum mencium leherku.


Sean menghentikan ciumannya dan aku yakin dia merasa bingung, sama sepertiku, namun kedua tangannya masih memelukku. "Di dapur? Aku tidak akan melakukan itu, sayang." Dia menciumku lagi, kali ini tepat di bawah telingaku.


Aku bisa mendengar suaraku yang gemetar mendesah, merasa nikmat sekaligus malu karena mengatakan sesuatu yang gila padanya. Sementara itu, rasa putus asa dengan cepat memenuhi benakku akibat saus sialan itu, aku mengumpat dalam hati selagi berusaha mempertahankan kekuatan kakiku yang gemetar.


Sean mengeratkan pelukannya. "Kau tidak ingin memaksaku melakukan itu, bukan?" Tawanya yang riang terdengar nyaman di telingaku, lalu dia menciumku lagi.


Aku menghela napas dan memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di kepalaku, dan aku yakin dia akan senang dengan keputusan ini. "Aku akan tinggal dirumah, seperti yang kau mau." Sean menghentikan ciumannya di leherku dan hanya terdiam untuk beberapa saat.


Aku tahu bahwa aku sama sekali tidak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, namun masih banyak yang bisa kulakukan selain memasak. Kami bisa memesan makanan, atau makan diluar. Mungkin pemikiran ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh masa-masa ketika kami tinggal di rumah hutan, entah ini terdengar masuk akal atau tidak, tapi yang jelas aku menginginkan kehidupan yang lebih pribadi dengannya.

__ADS_1


"Apa kau serius?" gumamnya setelah beberapa saat terdiam, terdengar tidak yakin dengan ucapanku.


"Ya," aku benar-benar merasa malu mengatakan ini. "Ini tidak seserius yang kau bayangkan, aku tidak mungkin bisa menjadi ibu rumah tangga sungguhan. Hanya saja... membayangkan aku memasak sambil menunggumu pulang, rasanya cukup mendebarkan." kataku sambil membayangkan kegiatan itu di kepalaku.


Dia terdiam lagi selama beberapa detik, sebelum akhirnya menyapukan kembali bibirnya di leherku. Lebih panas dari sebelumnya.


"Kau benar-benar seksi, Franda." katanya, lalu terkikik pelan. "Kuakui itu cukup mendebarkan, terutama jika kau memasak dengan gaun dan heels seperti ini."


"Benarkah?" Aku menarik napas pelan, menghentikan gerakan mengaduk saus lalu berbalik menghadap Sean.


Salah satu sudut bibirnya melengkung, dan dia tampak memawan dengan ekspresi itu.


"Ya, aku senang jika kau bersemangat melakukan sesuatu seperti itu," sahutnya santai, kemudiam meletakkan kedua tangannya lagi di pinggangku. "Apa kita perlu memecat asisten rumah tangga?"


"Sean!" Aku menepuk dadanya pelan menyatakan tidak setuju dengan rencananya, dan dia tertawa lagi. "Jangan lakukan itu, aku tidak mau memecat siapapun."


"Baiklah, aku minta maaf." dengkurnya, lalu menciumku dan aku membalasnya, namun hanya sekilas. Aku masih ingin mendengar tanggapannya tentang diriku menjadi ibu rumah tangga. "Ada apa?"


"Kau tidak merasa ini aneh?"


Sean mengangkat bahu, tampak tidak terlalu terganggu. "Jangan tersinggung, aku hanya senang setidaknya aku tidak harus terikat di ranjang, aku benar-benar tidak menyukai idemu itu."


"Aku tahu. Aku juga berpikir begitu, maksudku, aku tidak memintamu untuk bercinta di dapur atau melakukan sesuatu semacam itu, tapi sekedar ingin menikmati momen seperti ibu rumah tangga lainnya."


Sean tertawa. "Aku tidak yakin denganmu," Dia menatapku lekat-lekat. "Apa kau benar-benar menginginkannya? Bercinta di dapur?" tanyanya sambil memainkan alisnya.

__ADS_1


Sekarang giliranku yang tertawa dan menggelengkan kepala, sejenak mengingat betapa liarnya pikiranku tadi, sebelum menarik lehernya dan mencium bibirnya.


"Siapkan mentalmu untuk di ikat setelah makan malam."


__ADS_2