Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Extreemly Hurt


__ADS_3

"Hubungi aku jika kau sudah selesai, sayang. Aku akan menjemputmu." kata Sean padaku ketika aku hendak turun dari mobil.


Aku mengangkat kepala, tersenyum padanya. Kedua mata birunya menatapku intens. Senyum terkembang sempurna di wajahnya yang tampan, membuat tulangku seakan berubah menjadi spons. Perlahan kurasakan kepalaku terasa ringan, lalu seolah semua rasa cemasku melayang entah kemana saat aku bertatapan dengannya. Sampai kapanpun, yang kurasakan padanya, debaran jantungku, dan setiap desiran darahku hanya akan menjadi milik pria mengagumkan itu.


"Ya," balasku singkat sambil mengangguk, lalu maju sedikit untuk mencium bibirnya sekilas. "Terima kasih."


Dengan satu tangan menyentuh pundaknya, aku meraih tasku dari kursi belakang lalu memasukkan ponsel ke dalamnya. Aku menciumnya sekali lagi. "Hati-hati." ujarku sebelum akhirnya benar-benar keluar dari dalam mobil.


Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku saat ini, yaitu tentang pesan yang dikirim Nino kemarin. Tadinya aku berpikir untuk membiarkannya begitu saja, tapi kurasa aku perlu menemuinya untuk mencari tahu ada apa sebenarnya dengan Sean. Belakangan dia memang agak berbeda, sikap dan gerak-geriknya menyiratkan dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


Aku ingin bertanya langsung padanya tapi aku tahu itu akan sia-sia, Sean tidak mungkin mau mengatakan sesuatu jika itu bukan hal yang bagus untuk disampaikan. Dan aku tidak bisa tinggal diam seperti pengecut sementara dia sedang menghadapi sesuatu yang pelik. Jadi, kuputuskan untuk bertemu Nino hari ini.


Setengah hari berada di kantor untuk menyiapkan semua hal yang dibutuhkan oleh Denise selama dia berada di Paris, akhirnya kami menyelesaikan semuanya. Tanpa membuang waktu lebih lama, setelah Denise keluar dari ruanganku, aku segera menghubungi Nino dan memintanya datang ke kantorku.


Setengah jam kemudian, pria itu muncul di pintu ruang kerjaku dengan penampilan yang cukup santai. Celana jins hitam, kemeja putih, dan sepatu sneakers. Senyum lebar tampak menghiasi wajahnya. Tidak banyak yang berubah darinya sejak terakhir kali aku bertemu dengannya, hanya terlihat sedikit tidak terawat.


"Hei, apa kabar?" sapanya selagi melangkah ke arahku. Dia tampak tenang, tapi wajahnya mengatakan sesuatu yang lain.


Aku mengangguk, lalu tersenyum. "Baik. Kau sendiri?" balasku, mencoba terdengar santai, namun aku tahu nadaku jelas mengatakan kalau aku sedang gugup.


Bukan apa-apa, aku pernah menyerahkan hidupku padanya untuk waktu yang lama, dan juga pertemuan kami yang terakhir bukanlah momen yang baik untuk diingat, jadi rasanya tidak aneh jika aku sedikit was-was saat ini.


Dia mendaratkan bokongnya di kursi di seberangku lalu bersandar dengan senyum yang tidak hilang sedikitpun di bibirnya. "Aku juga baik. Ben masih berada di rumah mama. Mungkin nanti sore aku baru bisa menjemputnya."


Aku mengangguk. "Hm, tidak masalah. Apa kabar mamamu? Apa dia baik-baik saja? Aku minta maaf karena belum sempat berkunjung, sampaikan salamku padanya."


"Ya, kondisinya semakin membaik." ujarnya. "Dan aku akan menyampaikan salammu."


Keheningan terasa mencekam untuk beberapa saat. Aku tahu dia merasa bersalah dengan pertemuan kami yang terakhir, itu terlihat jelas dari rautnya. Sembilan tahun hidup bersamanya tentu membuatku paham seperti apa kebiasaannya, aku masih bisa mengingat dengan jelas setiap perubahan ekspresi yang muncul di wajahnya saat dia merasakan sesuatu.


"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan tentang suamiku?" Aku memutuskan untuk bertanya dan mengakhiri momen canggung itu.

__ADS_1


Dia menunduk, tampak seperti berpikir, lalu melirikku sekilas tanpa mengangkat wajahnya. Aku menaikkan alis, menyatakan aku menunggu jawabannya.


Nino menegakkan tubuhnya dan memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan, lalu menarik napas berat. "Dengar... jangan salah paham dengan apapun yang akan kusampaikan. Pertama, aku tidak bermaksud ingin merusak hubunganmu dengannya. Kedua, aku melakukan ini murni karena aku khawatir padamu. Maksudku, jika sesuatu terjadi padamu, maka Ben juga akan terkena efeknya."


Aku mengeryit, belum bisa menebak kemana arah pembicaraannya. "Apa yang kau bicarakan sebenarnya? Kenapa terdengar seolah aku akan mati?" Aku menggeleng tak percaya padanya. Namun tampaknya dia serius dengan ucapannya. Dan sekarang dia meremas rambutnya dan mengumpat pelan.


"Nino, ada apa? Jangan membuatku berpikir ini hanya trik yang kau lakukan untuk mengacaukan hubunganku dengan Sean."


"Sama sekali tidak, Franda. Sudah kukatakan bukan itu tujuanku."


"Lalu, apa?" sahutku tak sabaran. Aku tidak nyaman berada di situasi ini.


Berbicara dengan Nino sebenarnya adalah salah satu hal yang paling ingin kuhindari, karena aku yakin bagaimanapun Sean pasti akan mengetahui ini. Dia tidak mungkin membiarkanku sendirian, salah satu orangnya pasti berada di sekitar butik untuk mengawasiku.


"Suamimu... dia berurusan dengan gangster."


Aku mengerutkan kening, lalu menggeleng dan tertawa tak pecaya dengan ucapannya. "Kau pasti bercanda. Aku kenal siapa suamiku. Lagi pula, untuk apa dia berurusan dengan mereka?" Aku tertawa lagi sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursiku.


"Franda, aku serius!" gumamnya, tampak tidak main-main dengan perkatannya. Nino menghela napas lalu mulai bicara lagi. "Kasus kontrak palsu yang dibuat oleh Dave bukan masalah sederhana. Dave memiliki hutang yang cukup besar kepada beberapa bandar narkoba, dan mereka sedang mengejarnya. Aku tidak tahu bagaimana awalnya suamimu terlibat dalam kasus itu, tapi dari yang kudengar dia sekarang berada di bawah pengawasan interpol. Dan kau..."


"Franda, kau harus tahu ini. Ada seseorang yang ingin menjadikanmu sebagai sasaran untuk mengancam suamimu."


Aku menggeleng keras, sedikitpun tidak percaya dengan ucapannya. Sean tidak mungkin melakukan itu, dan meskipun Nino mengatakan yang sebenarnya, Sean tidak akan membiarkan seseorang menyakitiku. Aku yakin itu.


Aku menghela napas dan menatapnya. "Nino, aku menghargai niatmu, dan aku mengucapkan terima kasih karena kau mau repot-repot mengkhawatirkan keadaanku. Tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan, dan kalaupun ada yang harus melindungiku, maka aku percaya Sean akan melakukannya."


"Franda, kau tidak tahu bagaimana rumitnya keadaan ini. Besok pagi suamimu akan ke Malaysia untuk menemui Dave, dan dia akan pergi kesana bersama Paula Eddie, mantan kekasihnya beberapa tahun lalu. Apa dia sudah mengatakan itu padamu?"


Aku membulatkan mata, dan mendadak aku seperti tersengat listrik ribuan volt. Sekujur tubuhku menegang dengan cara yang amat menyakitkan. Sejak tadi aku mencoba tidak percaya pada apapun yang dikatakannya, tapi yang satu ini sangat menghantamku.


Tiba-tiba teringat pada malam aku melihat Sean bersama wanita di klub waktu itu, dan dia belum mengatakan apa-apa soal wanita itu.

__ADS_1


Aku menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Mencoba menenangkan diri sambil berusaha mencerna semuanya. Sean memang berubah akhir-akhir ini, tapi tidak mungkin karena wanita itu. Aku mengenalnya dengan baik, dan dia tidak pernah melirik wanita manapun selama kami menikah, atau berhubungan dengan wanita lain.


Apakah wanita yang di klub itu adalah wanita yang sama dengan yang di maksud Nino? Jika iya, maka Sean benar-benar telah berbohong padaku. Astaga... apa yang sebenarnya terjadi?


Aku sama sekali tidak bisa mengerti kemana arah pembicaraan ini. Kontrak palsu Dave, gangster, interpol, lalu mantan kekasih Sean. Sekeras apapun aku berusaha, aku tetap tidak bisa melihat garis yang menyambungkan semua itu. Tidak ada kemungkinan yang masuk akal yang bisa kusimpulkan.


"Nino, masih banyak yang harus kukerjakan, bisakah kau meninggalkanku?" kataku pada akhirnya, setelah beberapa saat. Aku harus bertanya pada Sean tentang masalah ini.


Dia mengangguk, kemudian berdiri dan tanpa mengatakan apapun lagi, dia melangkah keluar dari ruanganku.


Pikiranku kembali melayang pada Sean. Aku mengira bahwa semuanya sudah baik-baik saja sejak pertengkaran kami yang terakhir. Bahwa tak akan ada lagi rahasia di antara kami. Tapi setelah aku mendengar kabar kepergiannya justru dari orang lain, Sean menyadarkanku bahwa dia tidak bisa percaya padaku seperti aku percaya padanya. Ada batas di antara kami yang takkan pernah bisa kulewati.


Aku tidak meragukan perasaannya atau ketulusan hatinya padaku, tapi aku juga tahu dia menahan dirinya dariku. Dia masih merasa khawatir bahwa aku tidak akan mampu bertahan disampingnya jika situasinya berubah. Tanpa dia sadari, caranya menjauhkanku dari semua masalahnya, pada akhirnya akan melukai kami berdua.


Aku tidak bisa menerima ini begitu saja. Apapun yang kulakukan tampaknya tidak berarti apa-apa untuknya. Sean dan hidupnya tidak akan pernah benar-benar bisa menyatu denganku.


Aku merasa tenggorokanku tercekat sementara air mata yang disebabkan oleh kemarahan dan sakit hati yang kurasakan mulai membasahi pipiku. Bagaimana bisa dia menyembunyikan semua itu dariku? Setidaknya jika dia benar-benar menghargaiku, kenapa dia membuatku seperti orang bodoh dan terus-terusan berbohong?


Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi, memejamkan mata dan mencoba mengatur napas yang mulai sesak. Aku tidak ingin panik, aku harus menenangkan diri. Rasanya sangat menyakitkan ketika aku percaya sepenuhnya padanya, tapi dia tidak sekalipun memberiku kesempatan untuk masuk lebih jauh ke dalam hidupnya.


"Franda,"


Aku membuka mata dan mendapati Sean berdiri di pintu pintu ruanganku. Dia menutup pintu lalu menguncinya. Sebagian dari diriku ingin mendengar penjelasan yang masuk akal darinya, namun sebagian yang lain ingin menamparnya. Aku mengamatinya beberapa saat dan berharap dia mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.


Ak meraih tisu dan mengusap air mataku dengan kasar sambil menundukkan kepala. "Tinggalkan aku, Sean." gumamku pelan, tidak cukup kuat untuk membentaknya meskipun aku sangat ingin. "Aku hanya penghalang jalanmu."


"Tidak." Dia mulai melangkah mendekatiku, namun segera berhenti begitu aku menatap tajam ke arahnya. Dia menghela napas lalu mengangguk pasrah. "Aku bisa menjelaskan semuanya, Franda." Dia memulai, mencoba membujukku dengan suaranya yang lembut.


Aku berdiri, melempar tisu sembarangan, lalu menghadapnya seraya menarik napas dalam-dalam. Kedua tanganku mengepal di sisi tubuhku. Aku bukan wanita yang menyukai kekerasan, tapi kurasa sekarang keadaannya akan berbeda.


"Apa masalahmu sebenarnya, Sean? Kenapa kau terus berbohong padaku? Kau sangat tahu bagaimana perasaanku dan berkali-kali aku mengatakan padamu untuk terbuka." ujarku gemetar, namun dia tidak terpengaruh sama sekali.

__ADS_1


Aku melangkah menuju pintu, hendak keluar dan meninggalkannya, tapi dia menahan tanganku dan menarikku dengan cepat. Erangan tertahan terdengar dari mulutku ketika dia menciumku dengan kasar. Sangat amat kasar.


Secepat kilat aku mendorong tubuhnya dariku lalu menamparnya sekuat tenaga. Dan tanpa mengatakan apapun lagi, aku melangkah meninggalkannya.


__ADS_2