
"Dan ini adalah ruang keluarga yang ada di lantai dua," Seorang agen real estate berbicara selagi menuntunku ke ruangan yang lebih terang, sinar matahari masuk menerobos melalui dinding yang seluruhnya terbuat dari kaca.
"Kami menyebutnya 'the grand room'. Pemandangan paling indah dan mengagumkan akan terlihat dari ruangan ini." Dia berbalik menghadapku dengan ekspresi bangga dan aku spontan menutup mulutku yang mengaga. "Seluruh bangunan merupakan karya arsitektur moderen, terutama penthouse ini. Tapi tetap nyaman untuk keluarga, dan bisa kubilang sempurna untuk anak-anak."
"Oh, itu akan sangat menyenangkan." Aku mencoba tersenyum ramah padanya, merasa agak kurang nyaman dengan sikap antusias yang ditunjukkannya dan kenyataan dia sedang mencoba menjual penthouse ini padaku sejak lima belas menit yang lalu membuatku sedikit tidak enak, sementara Sean berada di ruangan lain untuk menjawab panggilan di ponselnya.
"Lihatlah matahari itu!" Wanita itu kemudian melempar pandangan kagum keluar dinding kaca dengan raut yang terlihat seakan dia sedang membayangkan hidup di tempat seperti ini. "Apakah aku sudah mengatakan bahwa kalian juga bisa melihat matahari terbit dan terbenam dari kamar utama?"
"Belum," balasku selagi dia mengalihkan pandangan ke arahku. "Kurasa itu poin yang cukup bagus."
"Oke, sebelum kita turun dan melihat ruangan spa yang ada di lantai bawah, apakah kau sudah melihat meja bulat terbuat marmer hitam yang dipoles dengan indah?" tanyanya lagi, sembari menunjukkan pesonanya dengan menyibak rambut hitam panjangnya yang terurai lurus.
Aku menggelengkan kepala. "Oh, itu juga belum." kataku, nyaris terhipnotis oleh caranya bekerja. Dia benar-benar tahu bagaimana menarik minat calon pembeli.
Aku belum pernah membayangkan akan memiliki tempat tinggal semewah ini dalam hidupku, maksudku... tempat ini sangat menakjubkan. Rumah yang kutempati bersama Sean sekarang saja rasanya sudah terlalu besar, dan sekarang dia ingin kami tinggal di rumah yang kutebak bisa dua kali lebih besar.
Sierra, agen real estate yang sedang bersamaku saat ini, merupakan seorang yang bekerja profesional dan sales yang luar biasa. Aku yakin semangat dan sikap positif yang keluar dari dalam dirinya bisa membuatku membeli apa saja yang dijualnya, tapi hari ini aku tidak terlalu ingin merasakan itu.
Setelah mengajakku berkeliling melihat-lihat ruangan lain yang membuatku selalu terperangah, dia mulai menyadari aku semakin tidak bersemangat.
"Ma'am, apakah ada sesuatu yang mengganggumu? Jika kau tidak menyukai tempat ini, aku sudah menunjukkan beberapa model penthouse lain kepada suamimu, mungkin kau ingin melihatnya sebagai bahan pertimbangan?" tanyanya hati-hati. Wajahnya mendadak merasa sungkan menyaksikanku menatap keluar ke arah gedung tempat tinggal yang kutempati sekarang bersama Sean. Gedung itu terlihat kecil, tapi masih terlihat karena aku sangat mengenalinya.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa menemukan penthouse setinggi ini yang di dukung oleh teknologi paling canggih dimanapun. Ruang keluarga di penthouse ini berukuran seribu dua ratus meter persegi! Aku yakin kau akan menyukainya, ma'am." gumamnya lagi, masih berusaha membuatku tertarik.
Aku terkesiap. "Oh, tidak, maaf... ini terlalu besar untuk kami." Aku menggelengkan kepala sebelum teringat bahwa bukan aku saja yang berhak memutuskan untuk membeli rumah ini. "Tentu saja suamiku mungkin menyukainya, tapi aku sama sekali tidak berpikir bahwa kami membutuhkan ruang keluarga sebesar itu."
Aku meringis membayangkan berapa banyak orang yang harus bekerja untuk membersihkan seluruh ruangan di penthouse ini, dan aku sendiri tidak siap untuk tinggal di rumah seharga empat ratus miliar! Come on... aku bisa membeli puluhan apartemen dengan uang itu. Apakah suamiku benar-benar kehilangan akal?
Wanita itu menepuk tangan bersemangat. "Ma'am! Tentu saja banyak kegiatan yang bisa kalian lakukan dengan ruang keluarga sebesar ini." Bibirnya melengkung dengan cara yang amat indah. "Dan pada akhirnya aku percaya Mr. Warner akan mengikuti apa yang kau katakan, ma'am. Oh, ayolah... bukankah ini mengagumkan?" Teruslah berusaha, girl... aku masih belum terpikat dengan penawaranmu.
"Bagaimana, sayang?" Sean tiba-tiba masuk ke ruangan tempat kami berdiri. Wajahnya terlihat cerah, aku yakin dia baru saja mendapat kabar bahagia dari siapapun yang meneleponnya.
Sean berjalan melintasi ruangan hingga berdiri disampingku, matanya menatapku dan Sierra bergantian. "Sierra sedang menunjukkan padaku meja bulat itu." kataku sambil menunjuk meja yang kumaksud. Aku tersenyum padanya, susah payah menyingkirkan perasaan tak nyaman dengan idenya untuk membeli penthouse ini. "Meja itu tampak indah."
"Meja yang terbuat dari marble hitam yang di poles dengan indah." kata Sierra menambahkan, tentu saja dengan cara yang mempesona. Itu tuntutan pekerjaannya.
Aku menggelengkan kepala, melirik Sierra sekilas yang tersenyum ramah padaku. "Belum, tapi dia sudah mengatakan kita bisa melihat matahari terbit dan terbenam dari sana."
Sean menyeringai senang. "Itu keren, bukan?" gumamnya sambil mengedipkan mata genit.
Aku tertawa pelan lalu mengangguk. "Ya, sangat keren. Aku ingin melihatnya sekarang."
"Tentu saja, aku akan mengantar kalian kesana." Sierra mulai berjalan, dentuman tumit heels yang dikenakannya menggema di sekitar ruangan sementara aku dan Sean mengikuti langkahnya dari belakang.
__ADS_1
"Kau tidak menyukai tempat ini." kata Sean tiba-tiba, berbisik padaku agar Sierra tidak mendengar apa yang dia katakan.
Aku menjawab tanpa menatapnya. "Tempat ini indah, banyak ruangan dengan teknologi canggih. Kupikir itu akan membantu." kataku mencoba terdengar antusias, tapi nadaku jelas mengatakan lain.
Mendadak Sean mengejutkanku dengan menghentikan langkahnya dan menarik tanganku. "Sierra, kami akan menyusul," Sierra berbalik memandang kami sekilas, namun dengan cepat dia mengangguk dan kembali berjalan hingga menghilang di sudut ruangan.
Aku menarik napas, menghadap Suamiku. "Sean, tidak masalah apakah aku menyukainya atau tidak, aku akan mengikuti kemauanmu." ucapku pelan, berusaha menghargai niatnya melakukan sesuatu untukku. Untuk kami. Tapi sepertinya dia tahu aku sedang berbohong.
Sean memijat pangkal hidungnya, dan entah kenapa aku merasa buruk sekarang. "Kita membutuhkan tempat ini, sayang. Anak-anak akan semakin besar, dan mungkin beberapa lagi akan hadir menyusul Ben dan Lily, aku ingin kita mempersiapkan semuanya mulai dari sekarang." Sean menggenggam lembut kedua tanganku. "Aku tahu kau keberatan dengan ideku, tapi coba pikirkan ke depannya. Kita tetap membutuhkan rumah yang lebih besar."
"Kemarin Dhea meneleponku dan dia mengatakan pamanku sudah bisa kembali ke Indonesia. Aku ingin mereka menempati rumah kita yang sekarang. Sebenarnya pamanku bisa saja tinggal di tempat lain tapi aku tidak mungkin membiarkannya berada di tempat yang jauh dari kantor. Dia gila kerja, dan kondisinya belum terlalu kuat untuk menempuh perjalanan pulang-pergi ke kantor. Rumah kita yang sekarang berada di gedung yang sama dengan kantor dan itu akan sangat membantu kondisinya. Apa kau mengerti, sayang?" dengkurnya panjang menjelaskan dengan sorot yang sangat memohon pengertianku.
Oh, aku merasa lebih buruk sekarang.
"Okay, aku akan mengikutimu jika memang itu alasannya." kataku menyerah.
Mulut Sean melengkung tinggi. "Bagus!" Dia mencium bibirku sekilas. "Sekarang, katakan padaku apa kau benar-benar menyukai tempat ini? Kita bisa melihat yang lain kalau kau mau."
"Bagaimana aku memutuskannya jika belum melihat ruang pertempuran kita?" balasku genit sambil mengedip nakal.
Sean membulatkan mata. "Franda, kau..." Aku langsung berbalik dan melangkah meninggalkannya. Aku bisa menebak dia sedang menggelengkan kepala sekarang. "Hei, tunggu aku, peri seksiku!"
__ADS_1
"Cepatlah sebelum kau kehilangan menu makan malammu, Warner!"
Pria ini benar-benar tidak bisa di tebak. Dia memintaku mengenakan pakaian santai, alih-alih ingin melakukan sesuatu yang berhubungan dengan olahraga, dia justru memikirkannya agar aku bisa berjalan mengelilingi seluruh ruangan tanpa merasa tersiksa dengan sepatu seperti yang di gunakan Sierra.