
No comment \= No update!😆
Kalo mau crazy up, komen yang banyakðŸ¤
***
Kakiku yang masih lemas dan sedikit gemetar beranjak turun dari ranjang dan berderap ke kamar mandi. Aku melangkah dengan perasaan bahagia yang membuncah, meninggalkan suamiku yang masih tersengal di ranjang. Aku baru saja memberinya pelayanan tambahan dengan mulutku yang mungil di kejantanannya. Bibirku melengkung mengingat wajahnya yang menggemaskan saat aku meng-oralnya, suamiku yang tampan itu merintih dan mengggeram keras ketika aku mengalahkannya dengan bibirku yang kecil. Aku menyiksanya dengan kenikmatan yang takkan habis, sama seperti dia menyiksaku dengan tubuhnya yang jantan.
Suamiku benar-benar merubahku, dia bahkan membuatku liar dan sekarang aku seperti seorang maniak. Ya Tuhan, aku benar-benar dibuat gila olehnya.
Kupenuhi bak mandi dengan air hangat lalu melemparkan bath bomb seakan-akan aku sedang mencetak skor dengan bola basket. Hati dan mulutku bersorak gembira. Aku bersenandung dan meliuk-liukkan tubuhku didepan cermin sembari menunggu bath bomb yang kulempar ke bak mandi bereaksi. Tak ada yang lebih menggembirakan selain hari ini.
Suamiku yang begitu kucintai telah kembali padaku dan aku yakin dia akan menepati janjinya yang mengatakan akan membuatku menjadi wanita paling bahagia didunia. Sungguh, aku tidak meragukannya karena dia memang pria sejati. Suamiku pria yang sangat menyayangiku, tidak ada bantahan lagi. Bahkan ketika keluargaku pernah menyakiti hatinya dimasa lalu, dia memaafkan dan memilih menyingkirkan dendamnya agar dapat hidup tenang bersamaku.
Tak banyak pria yang memiliki hati sepertinya, nyaris secuil dari sekian juta pria didunia, dan aku wanita paling beruntung mendapatkannya. Pria yang saat mengucapkan namanya saja sudah membuatku bergetar, saat melihat wajahnya membuatku berdesir, dan saat mendengar suaranya membuatku linglung itu adalah suamiku. Ya, dia suamiku yang paling baik hati.
Masih dengan bunga-bunga yang melimpah di hatiku, aku masuk kedalam bak mandi dan berendam disana untuk mengembalikan energiku yang terkuras habis sejak tadi malam. Astaga... bahkan aku pingsan semalam! Aku memang menikahi Samson rupanya.
"Hahahaha..." aku tertawa kencang didalam kamar mandi. Memuntahkan segenap rasa bahagia di hatiku. Diriku tak sanggup untuk menahan semua kebahagiaan yang meluap kurang ajar di hati dan sekujur tubuhku. Aku ingin membagikan kebahagiaanku pada setiap sudut dinding dan semua benda di dalam kamar mandi yang menyaksikanku setengah berbaring polos di air hangat, supaya mereka tahu dan menjadi saksi betapa hidupku sangat sempurna.
Belum cukup aku menikmati hangatnya air dan wanginya aroma mangga dari bath bomb, suamiku yang gagah sudah berdiri didepan wastafel. Bibirnya tersenyum menggoda padaku, dan Ya Tuhan, tubuhnya yang keras membuatku ingin menerkamnya kembali. "Kau telihat bahagia, Mrs. Warner." sapanya sambil melipat kedua tangannya didada.
Aku menelan liurku yang membanjiri mulut, mataku menatap panas pada bagian tengah tubuhnya yang menantang, "Ya," desahku. "Aku bahagia, Sir!" ucapku lembut seraya menggigit bibir. Tatapanku menjalari seluruh tubuhnya yang mempertontonkan keindahan melalui lekukan otot-ototnya yang menakjubkan, dan bulu-bulu kasar di tangan dan kakinya.
Dia menahan tawa, membuat wajahnya yang memerah terlihat semakin menggemaskan. Dengan tangan yang kini bertumpu dikedua sisi pinggangnya, dia menggodaku lagi, "Sepertinya kau masih lapar, Mam."
__ADS_1
Aku menyambut senang godaannya, dengan berani kuangkat tubuhku dan duduk berlutut menghadapnya dari bak mandi, menunjukkan tubuh bagian atasku yang tertutup busa sabun, "Kau benar, Sir. Makan malam kemarin ditambah sarapanku tadi belum cukup untuk memulai hari. Tapi..." aku mengusap naik lengan kiriku dengan telunjukku yang seksi hingga ke pundak, lalu menari turun di dadaku, menyingkirkan busa-busa yang mengganggu pemandangannya.
"Juru masakku harus bekerja ditempat lain." sambungku seraya mengedipkan mata. Belum puas, aku menambah seranganku dengan meremas pelan kedua dadaku, sampai bibirku mendesah pelan.
Dia tertawa halus, lalu membalasku, "Kau bisa menaikkan bayarannya kalau cara kerjanya bagus, Mam."
"Hm, ya... dia bekerja dengan baik. Sangat baik. Sampai aku ingin mengikatnya di ranjangku." Dengan lebih liar lagi, memasukkan telunjukku ke mulut dan menghisapnya sampai pipiku cekung, lalu mengeluarkannya cepat, hingga mengeluarkan bunyi yang semakin membuatnya frustasi.
Suamiku menggeram, "Franda..." gumamnya berat, "Kau benar-benar... Ya Tuhan, kau sungguh menyiksaku."
Aku tertawa puas karena mengalahkannya, suamiku tak berkutik lagi. "Tangkap!" seruku sambil melempar sponge mandi padanya. Dia dengan sigap menangkapnya, "Bantu aku menggosok punggung."
Dia menyipitkan mata, dan aku bersuara lagi, "Bukan undangan untuk bercinta, Samson!" dengusku, lalu tertawa halus.
Dengan tangannya yang besar dan kuat, dia menggosok lembut punggungku. Aku terpejam menikmatinya, "Kulitmu sangat halus, Sayang." katanya.
"Oh, ya?" lirihku.
"Ya, aku khawatir kau akan terluka jika aku menggosokmu terlalu lama."
Wajahku bertopang pada kedua lututku dengan mata terpejam, aku begitu menikmati perlakuan suamiku yang memanjakanku dengan tangannya yang ahli. Pria yang biasa mencoret kertas bernilai ratusan juta itu kini tengah turun jabatan menjadi pelayanku, dia melayaniku dengan sepenuh hati. Membuatku semakin mencintainya.
"Sayang, apa yang kau lakukan hari ini?" tanya suamiku, tangannya masih menggosok punggungku.
Aku membuka mata, meraih kedua tangannya dan menyandarkan punggungku di dadanya. "Hm... mungkin aku akan ke butik sebentar. Kenapa?" mataku beralih ke tangannya yang terluka, membuatku ingin menangis lagi. Suamiku yang lembut harus merasakan sakit yang di sebabkan keluargaku. Yang lebih menyesakkan lagi, tak seorangpun yang memberitahuku tentang itu.
__ADS_1
Sambil menggosok bagian depan tubuhku, dia menciumi kepalaku, "Tidak apa-apa," lirihnya.
"Sean..." panggilku pelan dan penuh kasih sayang.
"Hm?"
Aku menghela napas, ragu untuk mengutarakan isi kepalaku, "Apakah aku boleh melihat ruangan itu?" tanyaku hati-hati. Aku tidak ingin suamiku merasa tersinggung, tapi juga tak mau dia menyimpan rasa sedihnya sendiri.
Sean menghembuskan napas berat. Aku tahu ini akan membangkitkan kembali kenangan tentang Ibunya. Benar yang dikatakan Dave, tidak mudah menghadapi kenyataan akan kehilangan seseorang yang kita sayangi. "Ya, kau boleh."
Aku sontak berbalik dan menatapnya. Suami yang kukasihi itu terpejam, dadanya terlihat memburu, dia pasti merasakan sesak disana. Dengan pelan aku meletakkan tanganku di dadanya, mengusapnya pelan. "Aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak mengijinkan."
Dia diam beberapa saat, kemudian matanya terbuka dan bibirnya melengkung tinggi, "Kau berhak melihatnya, Sayang. Lagi pula, kupikir sudah waktunya aku merelakan Mommy, dia juga tidak akan senang melihatku bersedih setiap hari." Sean terlihat tenang, namun aku tahu dia sedang rapuh. Bibirnya bisa berbohong, tapi matanya mengatakan hal lain. Aku tahu hatinya masih terluka.
Aku memutar badan dan berlutut menghadapnya. Kutangkup kedua pipinya yang halus dengan tanganku, "Sean, maafkan keluargaku. Aku tahu kami terlalu jahat, apapun yang kami lakukan tidak akan bisa menyembuhkan luka di hatimu. Keluargaku dengan kejam mem..."
"Ssshh.." desisnya, telujuknya menempel di bibirku. Senyumnya kembali menyungging, dan kali ini dia terlihat benar-benar tenang. "Aku sudah melupakannya, Franda. Jangan membahasnya lagi. "Sean mencium keningku beberapa kali, lalu berdiri. "Ayo!" katanya sambil mengulurkan tangan padaku.
Aku menatapnya lesu, namun tetap menerima uluran tangannya. Selanjutnya dia membantuku mencuci rambut di bawah pancuran shower. Aku sungguh terpana dengan kelembutannya. Kami tertawa geli dengan tangan yang saling menggoda, saling merayu, dan saling memanjakan. Oh, Tuhan! Kenapa hidup bisa seindah ini?
***
Yok ramaikan!
Komen rame langsung up!🔥
__ADS_1