Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 62


__ADS_3

Franda mendaratkan bokongnya pada bean bag berwarna biru di kamar Ben, Ia butuh waktu untuk menenangkan diri dari semuanya. Ingin sekali rasanya berlari sekencang mungkin untuk membuang rasa sesak yang terus menggerogoti dadanya, namun Franda teringat akan Ben yang membutuhkannya.


Pikirannya kembali merangkai semua peristiwa yang pernah dilaluinya bersama Nino, perjalanan kehidupan pernikahan yang indah dari sisinya, namun kebalikannya pada sisi Nino. Franda belum menemukan alasan tepat yang membuat Nino sanggup melakukan hal seperti itu, bahkan berulang kali.


Franda berbaring malas, sebelah tangannya terlihat menutupi kedua matanya. Masalah yang dihadapinya kali ini benar-benar membuat kepalanya serasa akan meledak. Ini bukan yang pertama, namun kenapa lebih berat dari sebelumnya. Harusnya Ia sudah terbiasa dan mampu melewatinya dengan mudah berbekal pengalamannya tempo lalu, tapi ternyata tidak. Rasanya tetap menyakitkan, bahkan lebih sakit lagi ketika mengingat adanya Ben.


Tangisan Ben yang menggema dari kamar atas mengagetkan anggota keluarga yang berkumpul dibawah, Mia, yang termuda mengambil inisiatif untuk mengecek ke kamar Ben.


"Oh, my god! Panda! What are you doing? Kau tidak mendengar anakmu meraung?" dengan sigap Mia meraih tubuh Ben yang sudah duduk dan menjerit di baby crib. Franda tidak merespon, justru berbalik membelakangi Mia.


Mia menggelengkan kepala dan menatap tak percaya pada kakaknya, tentu Ia saja kesal dengan sikap Franda yang mengabaikan tangisan Ben, padahal Ia sedang setengah berbaring tepat dibawah baby crib milik Ben. Masa bodoh dengan Franda, Mia membawa Ben turun untuk memberinya susu dari freezer.


Diruang keluarga, Nino tertunduk lesu, tidak berani mengangkat wajahnya, Ia sangat malu pada semua anggota keluarga, dan juga ada ketakutan yang sangat jelas terlihat dari matanya saat bertatapan dengan Edward sesekali.


"Aku akan menceraikan Franda." kata Nino memecah keheningan.


Edward mendengus, tersenyum sinis mendengar ucapan Nino. "Memangnya apa lagi yang bisa kau lakukan? Adikku terlalu berharga untuk seorang bajingan sepertimu!" ejek Edward. "Kau, dengar ini baik-baik! Panda mungkin bisa memaafkan dan melupakan perbuatanmu, tapi aku tidak akan melepasmu begitu saja. Ada harga yang harus kau bayar untuk waktu yang terbuang sia-sia dalam hidupnya." ancam Edward, lalu pergi meninggalkan mereka di ruang keluarga.


Kini hanya ada Ibu Marissa, Mama Rossa, Papa Azka, dan Nino. Nino bergerak mendekati Ibu Marissa dan duduk bersimpuh dihadapannya. "Maafkan aku, Bu. Aku menyakiti Franda, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuknya." Nino terisak, menyesali perbuatannya.


Hening. Tak ada respon dari Ibu Marissa. Tak lama Ibu berdiri, menepuk bahu Nino beberapa kali, lalu ikut beranjak pergi dari sana, meninggalkan Nino, Mama, dan Papanya.


Franda masih bergelut dengan pikirannya, bayang-bayang kehidupan setelah bercerai dengan Nino mulai merasuki kepalanya. Satu persatu muncul begitu saja tanpa diminta. Franda tidak siap dengan ini, tidak akan pernah siap, namun tidak ada jalan lain. Kembali bersama hanya akan menyakiti mereka berdua, Franda yakin Nino tidak bahagia bersamanya.

__ADS_1


Franda menghembuskan napasnya kasar, menatap langit-langit kamar, disekanya air mata yang lolos di pelupuknya. Dalam hati Ia berjanji pada dirinya agar tidak meratapi apa yang menjadi jalan hidupnya, semua harus diterima dengan hati yang rela. Franda yakin Tuhan pasti akan memberinya kebahagiaan lain, bukankah ada Ben yang akan selalu menemaninya. Setidaknya putranya tidak akan berkhianat dan meninggalkannya sampai kapanpun, Ben akan selalu bersamanya. Dan juga masih ada keluarga yang selalu mendukungnya selama ini, itu sudah cukup untuknya.


Franda berjalan masuk ke kamarnya, terlihat Nino sedang duduk bersandar di sofa, sebelah tangannya terlihat menutup kedua matanya. Franda mendekati ranjang, duduk bersandar pada kepala ranjang, menarik selimut hingga sebatas pinggang.


Keduanya diam cukup lama, belum ada yang berusaha memulai percakapan. Situasi begitu canggung untuk berbicara, terutama bagi Nino. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada istrinya.


"Apa kau akan duduk disitu terus?" ucap Franda pada akhirnya, Ia terpaksa memulai, mereka harus membicarakan ini, lebih cepat lebih baik.


Nino menatap Franda, dengan perlahan mendekat dan berbaring disamping Franda, pandangannya tertuju pada plafon putih dengan tangan yang terlipat di dada.


"Apakah ini akhirnya?" tanya Nino.


"Hmm, sepertinya begitu. Lucu, bukan? Sembilan tahun pernikahan harus berakhir tepat saat kita baru saja menikmati hangatnya keluarga bersama Ben." Franda tertawa getir mengingat semua perjalanan mereka yang dulunya begitu indah.


Franda melirik sekilas suaminya melalui ujung matanya, "Tidak ada yang perlu dimaafkan, semuanya sudah terjadi."


"Apakah tidak ada kesempatan lagi untukku?" Nino berharap Franda masih bisa memaafkannya, sungguh egois sekali.


"Aku sudah cukup banyak memberimu kesempatan, tapi kau selalu melewatkannya. Tidak usah membuang waktumu untuk membuat kita kembali bersama, aku tidak mau melakukannya lagi. Pernikahan kita memang harus berakhir disini, hancur sudah semua pertahananku untukmu."


"Aku dan Jenny..."


"Cukup, jangan membahas itu. Aku tidak ingin mendengar kisahmu dengannya." potong Franda, Ia tidak ingin bersedih dan merasa kasihan pada suaminya. Hubungan Nino dengan Jenny bukan lagi urusannya sekarang.

__ADS_1


"Tapi, kau harus mendengar penjelasanku, beri aku kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya." ucap Nino putus asa, Ia berharap Franda masih mau memaafkannya sekali lagi.


Franda menggeleng, "Sudahlah, apapun yang kau ucapkan tidak akan mengubah keputusanku, kita akan tetap bercerai. Tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan, semuanya sudah jelas, kita hanya perlu melewatinya dengan baik." kata Franda dengan tenang, Ia tidak ingin ada pertengkaran yang hanya akan membuatnya semakin pusing.


Nino menoleh Franda yang tampak biasa saja, seakan perpisahan bukanlah masalah besar. "Bagaimana dengan Ben? Apa yang akan terjadi padanya jika kita berpisah? Ben masih membutuhkan kita berdua..." Ben, trik terakhir yang bisa digunakan Nino. Harapannya besar disini, Franda pasti akan melunak jika mengingat putra mereka.


Franda tersenyum getir, mengarahkan wajahnya untuk menatap suaminya, "Kenapa kau tidak memikirkannya sebelum kembali bersama wanita itu?" sindir Franda. Nino langsung menundukkan kepala, Franda benar meskipun tidak sepenuhnya.


"Aku khawatir padanya,"


"Ben pasti baik-baik saja, aku tidak akan menghalagimu jika ingin bertemu dengannya, kau tetap Daddynya sampai kapanpun." Franda menatap foto keluarga yang beberapa bulan lalu menempel di tembok kamar mereka, foto yang memperlihatkan kebahagiaan orang-orang didalamnya.


"Baiklah, sepertinya memang tidak ada lagi kesempatan untukku. Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya." Nino menyerah, pasrah pada keputusan Franda.


"Hmm." Franda mengangguk. Rasanya berat, tapi Ia harus mampu.


"Boleh aku memelukmu?" pinta Nino.


Franda tersenyum, Ia langsung memperkecil jarak diantara mereka dan memeluk erat suaminya. "Terimakasih sudah memberiku banyak sekali kebahagiaan, aku bersyukur pernah hidup bersamamu meskipun harus berakhir seperti ini. Maaf, aku juga bukan istri yang sempurna, kesalahanku sangat banyak dalam pernikahan kita. Aku berharap kita bisa berteman baik demi Ben, kau tetap Daddy terbaik baginya." ucap Franda tenang, tidak ada airmata sedikitpun yang tertumpah, Ia sendiri tidak percaya dirinya bisa begitu santai mengucapkannya.


Nino terisak, kalimat terakhir Franda sangat menusuknya. Franda, wanita yang menemaninya selama ini dan terus disakitinya, dengan bijak mengatakan bahwa Ia Daddy yang baik bagi Ben, Nino tidak sanggup menahan sesak yang menghujam dadanya. Pelukannya semakin erat, tidak rela melepaskan istrinya dan mengakhiri momen ini. Bisakah waktu berhenti berputar sekarang? Andai saja waktu bisa diputar kembali, tidak mungkin! Jangan bermimpi Nino. Hadapilah kenyataan. Kau yang menghancurkan segalanya.


"Tidurlah, kau bisa melanjutkan tangismu besok."

__ADS_1


__ADS_2